03
Feb
09

Synchronicity

Tulisan yang di bold + italic adalah lirik lagu Synchronicity. Ost OP Tsubasa Tokyo revalation. Tulisan a.k.a. cerita ini ga ada hubungan apa-apa sama cerita asli Tsubasa Reservoir Chronicle, atopun sodaranya, Tsubasa Tokyo Revalation, cuma lagunya aja yang dipake :P

 

Synchronicity,
by Yui Makino 

 

I can see you in my life, here with me
I can feel you in my arms again

Aku masih dapat mengingat saat-saat itu, saat kau merengkuhku dengan kedua tanganmu yang kuat namun lembut. Aku masih dapat melihat kejadian itu seperti itu baru terjadi beberapa detik yang lalu. Saat kau mendatangiku yang sendiri di tengah hujan, mengusir rasa sakit dan dingin yang ada.
Sejak saat itu, aku selalu bersamamu, mengikutimu kemana-mana, tanpa mengetahui apapun tentang dirimu, tanpa mengetahui sedikitpun.
Hingga saat ini… 

Where is this warmth going?
When it’s tomorrow, it’ll vanish

Aku memandang keberadaanmu yang berjalan menjauh, tak mengetahui kemana, kenapa kamu akan pergi. Tanganku menggapai-gapai meraihmu, tapi apa daya, mereka tak bisa menyentuhmu, walau hanya sedikit.
Aku tak mengerti, kemana kamu pergi? Kenapa? Membawa serta kehangatan yang kau suntikkan padaku hingga membuatku kecanduan, dan kini, ketika kau pergi, aku kehilangan kehangatan itu sementara aku membutuhkannya untuk tetap hidup.
Aku berlari mengejarmu. 

If I synchronized the heartbeats of our chests
Would I be able to fall to the same depth as you?

Aku tahu aku tak pernah berhasil untuk mengetahui lebih banyak tentangmu, tentang dirimu, tentang pikiranmu, tentang perasaanmu. Tak juga kamu mau menceritakan sedikitpun masa lalumu padaku. Walau begitu, aku tahu, aku mengerti, kita berdua mirip, sama, kan?
Aku bertanya-tanya dalam hatiku, kalau kita semirip itu, kenapa aku masih tidak bisa mengerti pikiranmu? 

I’m always, always by your side
No matter how far your heart strays

Tak tahukah kamu? Tak sadarkah kamu? Aku ada di sini, selalu di sini, sejak saat itu, mencoba mengerti dirimu. Tapi kenapa kamu tak pernah melihatku sebagai ‘aku’?
Tapi, mungkin dulu aku tak peduli. Aku ingin berada di dekatmu, berusaha menolongmu yang terjebak dalam kegelapan. Dan aku  tak pernah menyangka kamu akan pernah benar-benar menyadari diriku ada di sini, pikiranmu selalu berjalan, berlari, melayang, entah kemana. Yang pasti bukan disini, tidak berada di sini.
Tapi kali ini, walau hanya sesaat, kau melihatku. 

While we drift inside the darkness
Like innocent little birds, we huddled our wings together

Kita bersama-sama berada dalam kegelapan, sama-sama mencari jalan keluar dari kegelapan tak berujung ini. Aku tak pernah mengerti alasan kenapa saat itu kau bisa ‘melihat’ku, tapi aku senang, sejak saat itu kau membiarkanmu dekat denganku, membiarkanku mendukungmu.
Saling bergantung, seolah tak ada orang lain lagi, hanya kita berdua. 

You, who hide behind your smile when you’re lonely
Are a blade of unmelting ice

Tapi sepertinya aku tidak pernah bisa benar-benar membuka hatimu, perasaanmu. Kau memang selalu tersenyum padaku, dengan senyum yang menahan rasa sakit, kepedihan dari masa lalu yang terus menghantuimu.
Atau, itu karena ada aku di sini? 

I bare my heart
And embrace you
Forever…

Aku mencoba bertahan. Merengkuhmu dengan tangan kecilku yang lemah, yang tidak bisa melakukan apa-apa. Mencoba menghiburmu selalu.
Tapi apakah itu berguna untukmu? Rasanya, aku tak pernah bisa melakukan apapun dengan benar, dan karena itulah mereka tidak membutuhkanku,  membuangku begitu saja. Apa keberadaanku di sini baik untukmu?

Where are you going alone?
I’m just scared of looking back
The figure in my chest and the sad color

Even though I’m sure that they’re actually very similar 

Tahukah kamu, kenapa aku selalu mengikutimu?
Tahukah kamu betapa kita mirip dalam suatu hal? Walau aku tak tahu mengapa dan dalam hal apa.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, yang kuinginkan hanya mengikutimu, mencoba membantumu, tak bolehkah? Aku hanya merasa itulah yang harus kulakukan saat ini, saat aku telah kehilangan semuanya kecuali kamu, yang sedang kuberusaha untuk kupertahankan.
Aku tahu masa lalu selalu menghantui kita, mendatangi kita setiap malam. Tak bisakah aku membantumu walau hanya sedikit?
Aku tahu, warna kesedihan yang selalu di sekitarmu, bukankah sama denganku? 

With the same evanescence, we are gazing
At the place that we’ll surely return to someday

Akhirnya kau berenti, membuatku hampir menabrak dirimu. Aku memeluk lenganmu, mencoba menahanmu agar kau tidak pergi lagi, lalu kulihat wajahmu.
Kamu tersenyum. Pertama kalinya aku melihatmu benar-benar tersenyum.
Aku mengikuti arah pandangmu sambil tetap memeluk lenganmu erat-erat, hingga kumelihat sebuah padang rumput luas, dengan kunang-kunang berterbangan bagaikan bintang. Dikelilingi hutan luas, tempat ini benar-benar tersembunyi, dari siapapun.
Sebuah pondok kecil berdiri terselip di antara pepohonan yang melingkari padang ini, “Tempat yang kucari,” kamu berkata seolah kamu pernah berada di sini, dan entah mengapa aku merasakan hal yang sama. Bagaimana mungkin?
“Aku pulang,” kita berdua berkata bersamaan, tertawa, lalu menjawab bersamaan, ”Selamat datang kembali.” 

No matter how we’re separated inside this darkness
Our hearts call for each other with a bond stronger than anything
Even if you’re laughing when you’re lonely, I know it 

Aku tahu aku ingat tempat ini walaupun aku tak tahu mengapa. Aku ingat rasanya berlarian di sini, terjatuh, dan bangkit lagi, dan… bersamamu. Kenapa?
Kau tak lagi bicara sepatah katapun, matamu terpejam dalam kedamaian, tak pernah kumelihatmu seperti ini sebelumnya. Eh? Apa pernah?
Entahlah, aku tak bisa mengingat ingatanku sendiri sejak aku berusia delapan tahun. Kurebahkan diriku disampingmu, memandangimu yang sedang berada dalam kedamaian, hingga kilasan ingatan berkelebat dalam pikiranku.
Ya, aku mengenalmu sejak dulu, aku mencari tempat ini dan juga dirimu, karena itulah aku mengikutimu, kamu tahu itu, kan?

I want to warm
Your cold fingers with my tears

Kugenggam salah satu tanganmu dengan kedua tanganku. Perlahan, tanpa sadar air mata menetes dari pelupuk mataku, membasahi tanganku, kenapa?

I’m by your side…

Menyadari tanganmu basah, kamu membuka matamu, mengusap mataku perlahan,  ”Jangan menangis,” dan memelukku erat.

While we drift inside the darkness
Like innocent little birds, we huddled our wings together

Kau mengusap kepalaku, menenangkanku tanpa kata-kata.
Membuatku tak tahu lagi, apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya? 
Kau sudah melakukan begitu banyak hal untukku. 

You, who hide behind your smile when you’re lonely
Are a blade of unmelting ice
I bare my heart and embrace you 

Dia melepas pelukannya dan tersenyum lagi, senyum kesedihan yang dulu. Aku mengaitkan tanganku di belakang lehernya, “kamu juga jangan menangis,” aku berpikir sebentar, “eh, maksudku, menangis juga tidak apa-apa.”
Dia tertawa kecil, meletakkan tangannya di atas kepalaku dan kembali memelukku. 

I’m by your side

“Tetaplah begini,” katamu tanpa melepaskan pelukanmu, “jangan pergi lagi.”

Forever…

Selamanya…


7 Responses to “Synchronicity”


  1. February 3, 2009 at 12:32 pm

    yak, harap maklum kalo ancur…
    dibuat saat sedang sekarat menghadapi perut sendiri a.k.a. sakit

  2. February 3, 2009 at 12:34 pm

    nya nya nya nya
    dalem

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Cepet amat!
    *bengong*

  3. February 4, 2009 at 1:23 pm

    kan bau post terbarunya nyampe ke blog ku :D
    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    emang ada baunya ya?
    *ndus ndus*
    gaada tuh :P

  4. February 8, 2009 at 1:04 am

    Somehow, i feel lonely after read this…
    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Kenapa?

  5. February 8, 2009 at 7:59 am

    errrr…speechless…

    its the same situation i got here..not exactly the same..

    but u describe it well..

    make me want to keep go on :)

    to see his “smile”

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Thanks :)
    *hug*

  6. 7 nacchan-hime
    April 16, 2009 at 7:59 pm

    e..to..kenapa pas baca ini otak ku yg ga normal inget si baka,ya.. hampir nangis pula… haah,lupakan~ nabila memang tidak normal~

    yah, ku juga nulisnya sambil mikirin seseorang :P


Leave a Reply




Intro :


- : 零名 ルナッルーン : -
Status : Back to the Death

**~~~~**~~~****~~~**~~~~**
Sebuah blog tempat corat-coretan seorang Reina Lunarrune. Yang kadang ditinggalkan dengan tragis, berdebu, dan lumutan. :p Silakan klik di sini untuk melihat daftar post yang ada
**~~~~**~~~****~~~**~~~~**

An Addition…

Beberapa dari post di blog ini menggunakan password, silakan hubungi yang bersangkutan di e-mail, YM, plurk, atau message facebooknya. Hal-hal untuk menemukan alamat-alamat diatas tersebut dapat dilihat di halaman awal
Dan komentar-komentar yang masuk akan dimoderasi. Terima kasih. (_ _")

Yahoo Messenger




YM : reinalunarrune

Time those have passed

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

When the Winds Fly Away

The Photoghraps

What I Am


You Scored as 0 - The Fool

The Fool is the most complex and most contradictory of all the Tarot cards. "I am not a number, I am a free man". The Fool represents naivety and childlike innocence - yet the Fool is wise. He carries only what possessions he really needs. He journeys through life, tasting everything. It has to offer then letting it go and moving on. The Fool is a risk taker, often shown with one foot over a cliff showing us every new beginning has a risk. Whether the Fool represents opportunity or danger one thing is clear: this world needs more fools.

0 - The Fool
81%
VI: The Lovers
75%
XV: The Devil
69%
III - The Empress
63%
XIII: Death
56%
I - Magician
56%
X - Wheel of Fortune
50%
XVI: The Tower
50%
VIII - Strength
44%
IV - The Emperor
44%
XIX: The Sun
38%
II - The High Priestess
38%
XI: Justice
38%

Otherz


Brighter Planet's 350 Challenge

For Those Who Are Alive