Tulisan yang di bold + italic adalah lirik lagu Synchronicity. Ost OP Tsubasa Tokyo revalation. Tulisan a.k.a. cerita ini ga ada hubungan apa-apa sama cerita asli Tsubasa Reservoir Chronicle, atopun sodaranya, Tsubasa Tokyo Revalation, cuma lagunya aja yang dipake
Synchronicity,
by Yui Makino
I can see you in my life, here with me
I can feel you in my arms again
Aku masih dapat mengingat saat-saat itu, saat kau merengkuhku dengan kedua tanganmu yang kuat namun lembut. Aku masih dapat melihat kejadian itu seperti itu baru terjadi beberapa detik yang lalu. Saat kau mendatangiku yang sendiri di tengah hujan, mengusir rasa sakit dan dingin yang ada.
Sejak saat itu, aku selalu bersamamu, mengikutimu kemana-mana, tanpa mengetahui apapun tentang dirimu, tanpa mengetahui sedikitpun.
Hingga saat ini…
Where is this warmth going?
When it’s tomorrow, it’ll vanish
Aku memandang keberadaanmu yang berjalan menjauh, tak mengetahui kemana, kenapa kamu akan pergi. Tanganku menggapai-gapai meraihmu, tapi apa daya, mereka tak bisa menyentuhmu, walau hanya sedikit.
Aku tak mengerti, kemana kamu pergi? Kenapa? Membawa serta kehangatan yang kau suntikkan padaku hingga membuatku kecanduan, dan kini, ketika kau pergi, aku kehilangan kehangatan itu sementara aku membutuhkannya untuk tetap hidup.
Aku berlari mengejarmu.
If I synchronized the heartbeats of our chests
Would I be able to fall to the same depth as you?
Aku tahu aku tak pernah berhasil untuk mengetahui lebih banyak tentangmu, tentang dirimu, tentang pikiranmu, tentang perasaanmu. Tak juga kamu mau menceritakan sedikitpun masa lalumu padaku. Walau begitu, aku tahu, aku mengerti, kita berdua mirip, sama, kan?
Aku bertanya-tanya dalam hatiku, kalau kita semirip itu, kenapa aku masih tidak bisa mengerti pikiranmu?
I’m always, always by your side
No matter how far your heart strays
Tak tahukah kamu? Tak sadarkah kamu? Aku ada di sini, selalu di sini, sejak saat itu, mencoba mengerti dirimu. Tapi kenapa kamu tak pernah melihatku sebagai ‘aku’?
Tapi, mungkin dulu aku tak peduli. Aku ingin berada di dekatmu, berusaha menolongmu yang terjebak dalam kegelapan. Dan aku tak pernah menyangka kamu akan pernah benar-benar menyadari diriku ada di sini, pikiranmu selalu berjalan, berlari, melayang, entah kemana. Yang pasti bukan disini, tidak berada di sini.
Tapi kali ini, walau hanya sesaat, kau melihatku.
While we drift inside the darkness
Like innocent little birds, we huddled our wings together
Kita bersama-sama berada dalam kegelapan, sama-sama mencari jalan keluar dari kegelapan tak berujung ini. Aku tak pernah mengerti alasan kenapa saat itu kau bisa ‘melihat’ku, tapi aku senang, sejak saat itu kau membiarkanmu dekat denganku, membiarkanku mendukungmu.
Saling bergantung, seolah tak ada orang lain lagi, hanya kita berdua.
You, who hide behind your smile when you’re lonely
Are a blade of unmelting ice
Tapi sepertinya aku tidak pernah bisa benar-benar membuka hatimu, perasaanmu. Kau memang selalu tersenyum padaku, dengan senyum yang menahan rasa sakit, kepedihan dari masa lalu yang terus menghantuimu.
Atau, itu karena ada aku di sini?
I bare my heart
And embrace you
Forever…
Aku mencoba bertahan. Merengkuhmu dengan tangan kecilku yang lemah, yang tidak bisa melakukan apa-apa. Mencoba menghiburmu selalu.
Tapi apakah itu berguna untukmu? Rasanya, aku tak pernah bisa melakukan apapun dengan benar, dan karena itulah mereka tidak membutuhkanku, membuangku begitu saja. Apa keberadaanku di sini baik untukmu?
Where are you going alone?
I’m just scared of looking back
The figure in my chest and the sad color
Even though I’m sure that they’re actually very similar
Tahukah kamu, kenapa aku selalu mengikutimu?
Tahukah kamu betapa kita mirip dalam suatu hal? Walau aku tak tahu mengapa dan dalam hal apa.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, yang kuinginkan hanya mengikutimu, mencoba membantumu, tak bolehkah? Aku hanya merasa itulah yang harus kulakukan saat ini, saat aku telah kehilangan semuanya kecuali kamu, yang sedang kuberusaha untuk kupertahankan.
Aku tahu masa lalu selalu menghantui kita, mendatangi kita setiap malam. Tak bisakah aku membantumu walau hanya sedikit?
Aku tahu, warna kesedihan yang selalu di sekitarmu, bukankah sama denganku?
With the same evanescence, we are gazing
At the place that we’ll surely return to someday
Akhirnya kau berenti, membuatku hampir menabrak dirimu. Aku memeluk lenganmu, mencoba menahanmu agar kau tidak pergi lagi, lalu kulihat wajahmu.
Kamu tersenyum. Pertama kalinya aku melihatmu benar-benar tersenyum.
Aku mengikuti arah pandangmu sambil tetap memeluk lenganmu erat-erat, hingga kumelihat sebuah padang rumput luas, dengan kunang-kunang berterbangan bagaikan bintang. Dikelilingi hutan luas, tempat ini benar-benar tersembunyi, dari siapapun.
Sebuah pondok kecil berdiri terselip di antara pepohonan yang melingkari padang ini, “Tempat yang kucari,” kamu berkata seolah kamu pernah berada di sini, dan entah mengapa aku merasakan hal yang sama. Bagaimana mungkin?
“Aku pulang,” kita berdua berkata bersamaan, tertawa, lalu menjawab bersamaan, ”Selamat datang kembali.”
No matter how we’re separated inside this darkness
Our hearts call for each other with a bond stronger than anything
Even if you’re laughing when you’re lonely, I know it
Aku tahu aku ingat tempat ini walaupun aku tak tahu mengapa. Aku ingat rasanya berlarian di sini, terjatuh, dan bangkit lagi, dan… bersamamu. Kenapa?
Kau tak lagi bicara sepatah katapun, matamu terpejam dalam kedamaian, tak pernah kumelihatmu seperti ini sebelumnya. Eh? Apa pernah?
Entahlah, aku tak bisa mengingat ingatanku sendiri sejak aku berusia delapan tahun. Kurebahkan diriku disampingmu, memandangimu yang sedang berada dalam kedamaian, hingga kilasan ingatan berkelebat dalam pikiranku.
Ya, aku mengenalmu sejak dulu, aku mencari tempat ini dan juga dirimu, karena itulah aku mengikutimu, kamu tahu itu, kan?
I want to warm
Your cold fingers with my tears
Kugenggam salah satu tanganmu dengan kedua tanganku. Perlahan, tanpa sadar air mata menetes dari pelupuk mataku, membasahi tanganku, kenapa?
I’m by your side…
Menyadari tanganmu basah, kamu membuka matamu, mengusap mataku perlahan, ”Jangan menangis,” dan memelukku erat.
While we drift inside the darkness
Like innocent little birds, we huddled our wings together
Kau mengusap kepalaku, menenangkanku tanpa kata-kata.
Membuatku tak tahu lagi, apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya?
Kau sudah melakukan begitu banyak hal untukku.
You, who hide behind your smile when you’re lonely
Are a blade of unmelting ice
I bare my heart and embrace you
Dia melepas pelukannya dan tersenyum lagi, senyum kesedihan yang dulu. Aku mengaitkan tanganku di belakang lehernya, “kamu juga jangan menangis,” aku berpikir sebentar, “eh, maksudku, menangis juga tidak apa-apa.”
Dia tertawa kecil, meletakkan tangannya di atas kepalaku dan kembali memelukku.
I’m by your side
“Tetaplah begini,” katamu tanpa melepaskan pelukanmu, “jangan pergi lagi.”
Forever…
Selamanya…





yak, harap maklum kalo ancur…
dibuat saat sedang sekarat menghadapi perut sendiri a.k.a. sakit
nya nya nya nya
dalem
~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
Cepet amat!
*bengong*
kan bau post terbarunya nyampe ke blog ku
~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
emang ada baunya ya?
*ndus ndus*
gaada tuh
Somehow, i feel lonely after read this…
~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
Kenapa?
errrr…speechless…
its the same situation i got here..not exactly the same..
but u describe it well..
make me want to keep go on
to see his “smile”
~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
Thanks
*hug*
hayooo~
e..to..kenapa pas baca ini otak ku yg ga normal inget si baka,ya.. hampir nangis pula… haah,lupakan~ nabila memang tidak normal~