The forgotten snow dust…

The Green-Haired Girl – part 2

Suara itu terdengar makin keras, cukup untuk membuat seseorang tak sadarkan diri. Tapi tak akan ada yang menyadarinya, mungkin.

Sejak awal Ersh memasuki hutan itu, tak satupun suara lain selain teriakan itu terdengar olehnya. Binatang-binatang hutan mungkin sudah sejak lama menghilang, menghindari teriakan itu. Ersh membuat perkiraan-perkiraan yang mungkin terjadi antara Irish, desa, dan Lilith.

“Yak, di sini,” Ersh berhenti di depan sosok seseorang bersayap kelelawar. Ular melilit tubuh orang itu, tapi tak meremukkannya. Orang itu lalu berbalik ke arah Ersh, “oh, aku kedatangan seorang tamu?” Orang itu menjilati jari-jarinya yang berlumuran darah, lalu mengedip liar pada Ersh. Menunjukkan pose menggoda.

“Selamat malam, nona,” Ersh tersenyum, “Atau… harus kukatakan selamat pagi khusus untukmu?”
“Aaah,” masih dengan tangannya yang berlumuran darah, orang itu mendekati Ersh, meninggalkan seonggok daging dan ularnya di belakangnya, “Ada yang mengenalku selain gadis polos itu rupanya?” Tangannya mengelus lembut pipi Ersh, meninggalkan jejak darah di pipinya, lalu ditempelkannya jari telunjuknya ke bibir Ersh, badannya didekatkan pada Ersh hingga keduanya beradu, “Hmmm, lumayan juga, siapa namamu?”
 “Ersh, Ersh Bevod,” Sahut Ersh seraya memegang tangan yang ada di depan mukanya dan menciuminya hingga naik ke leher, membuat orang itu mendesah menggoda. 
“Vampire?” tanyanya lagi sambil dilingkarkan tangan kirinya yang bebas ke pinggang Ersh.
“Bukan, hanya manusia biasa.” 
“Hmmmmm?” Gumamnya sebagai balasan, perlahan ia merobek baju Ersh dan menciumi lehernya, Ersh balas memeluknya, “Manusia biasa yang tak terkejut melihat sosokku?”
“Tentu saja tidak,” Ersh meraba tubuhnya, “Fallen Lilith… Yang digolongkan menjadi salah satu Succubus”

Orang itu, Lilith, tertawa nyaring, yang juga memekakan telinga, “Ya,” lalu ia kembali meraba dan menjelajahi badan Ersh, “Dan kau… seorang ‘manusia biasa’ yang kemari untuk menyerahkan nyawanya? untuk menjadi makananku?” dengan sihirnya, Lilith menghilangkan secarik kecil kain yang menutupi bagian tubuhnya, hingga kulitnya bergesekan dengan bagian atas tubuh Ersh. 
“Aku hanya ingin tahu,” sahut Ersh.
“Aku lebih suka menyantap anak-anak tentu, tapi sekali-sekali diselingi hidangan lain tak ada salahnya kan? Lagipula…” tangannya mulai memasuki celana Ersh, “kau bergizi tinggi. Hahaha.”

Lilith mendekati muka Ersh, mencoba mencium bibirnya, Ersh balas memeluk Lilith, tetapi dari bagian dalam lengan bajunya yang tersisa ia mengeluarkan pisau kecil dan menusukknya, Lilith menghilang.

“Kau pikir bisa menipuku dengan cara itu?” Katanya seraya memeluk Ersh dari belakang.
“Tentu saja tidak, hanya percobaan, hahaha,” dihunuskannya pedang yang disembunyikannya dan mulai melawan Lilith, yang dengan gesit terbang menghindari serangan-serangan Ersh.

Lilith, yang tak mau kalah, juga mulai menyerang Ersh dengan sihir-sihirnya, membuatnya kesulitan. Sulur-sulur tanaman membelit kaki dan tangannya, membuatnya tak akab bisa bergerak apabila terlambat memotongnya. Tanah yang diinjaknya menjadi lumpur, memperlambat gerakannya. Sementara bulatan-bulatan hitam dari sang Lilith melepuhkan kulitnya.

Ersh menyeka darahnya yang mulai menetes, tak pernah sekalipun ia melawan makhluk selain manusia, jarang pula ia menemukannya. 

Kini ia hanya dapat terduduk bersandar salah satu pohon yang sulurnya mulai mencekiknya, tak dapat bergerak, ia tak melakukan apa-apa.

“Bagaimana, tuan?” Lilith itu kembali menjejakkan kakinya di tanah, mendekati pohon dimana Ersh terikat, “Menyerah?”
 Ersh berpura-pura tersenyum, “Kau hebat.”
“Memang,” pandangan Lilith bertambah liar, tangannya mulai mengelus paha Ersh, dan naik ke atas, menikmati ketidakberdayaan Ersh atas hal ini.

“He…!”
“Hentikan!!” 

Ersh dan Lilith menoleh ke arah suara nyaring itu berasal. Irish, dengan tangan tersilang di depannya, mengeluarkan serangan sihir yang dia tak tahu dia bisa,” e… eeh? a… apa itu tadi?”

“Ah, kamu lagi,” Lilith menjauh dan melepas sulur yang menjerat Ersh saat yakin ia tak bisa bergerak lagi. Irish mendekati Ersh, mengobati luka-lukanya. Lilith melihatnya dengan pandangan tidak suka, “Kuberi kalian waktu sampai aku selesai memakan yang ini,” lalu dia berbalik, melanjutkan santapan berdarahnya yang terganggu karena kedatangan Ersh.

Ersh masih tak sadarkan diri ketika Lilith kembali dan mulai menyerang Irish, yang langsung meloncat menjauhi Ersh. Seperti yang ia duga, tak satupun serangan Lilith itu mampu mengenai tubuhnya. Irish membiarkan tangannya melakukan hal-hal yang tidak diketahuinya, berbagai sihir serangan, kutukan, perlindungan, ia lakukan dengan mudah seolah itu sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari.

Lilith tersebut menjadi kesal, seluruh serangan Irish mengenainya sementara tidak sebaliknya. 

Terpintas sesuatu di benak Lilith, ia lalu diam dan tertawa di udara. Membuat Irish makin waspada. Lilith mengarahkan tangannya ke sebuah pohon, dimana Ersh berada di bawahnya. 

“Sial!” Irish mencoba memindahkan Ersh, namun gagal, sementara Lilith makin cepat merapal mantranya, hingga selesai, dan Irish hanya dapat diam, menjadikan tubuhnnya tameng bagi Ersh.

Ersh tersadar dan mendapati kondisi itu, tubuhnya bergetar hebat, dia memaksakan dirinya untuk berdiri, melingkarkan tangannya pada Irish dan berguling ke kiri. Irish yang kaget hanya terdiam saat Ersh berteriak, “Sylvia bodoh! Kau pikir apa yang kau lakukan hah! Kenapa kau kesini! Harusnya aku melarang kepala desa tolol itu untuk melarangmu pergi! Ka…” Serangan lanjutan Lilith menghentikan kalimatnya,  dibawanya Irish bersembunyi.

Beberapa saat setelah meninggalkan Irish, ia berbalik, memandangi Irish, berpikir. Tak berapa lama, dia kembali mendekatinya, menggores lengan Irish agak dalam dan meminum darahnya.

“A… apa yang kau lakukan!?”

Ersh, tidak menjawab, dia kembali menghadapi Lilith yang sedang menunggu, “Sudah?”
Ersh mengangguk, tapi tidak bergerak, Irish memandanginya dari belakang. Lilith heran melihatnya, pandangannya lalu tertuju ke arah Irish, “Mantra apa yang kauberikan padanya?”
“A… aku tidak melakukan apa-apa! A… aku…!”
“Saya menyerah,” Ersh mengangkat kepalanya, berjalan mendekati Lilith dan berlutut. Irish dan Lilith keduanya tak menyangka ia akan berlaku begitu. Lilith tertawa lantang sementara Irish berusaha menerobos penghalang sihir yang dibuat Ersh sebelum ia pergi.

“Hahahahaha! Menyerah? Semudah itu? Manusia memang lemah! Atas alasan apa kali ini? Melindungi dia yang kau cintai?” ia menunjuk Irish, “Kekasihmu? Keluargamu? Hahahaha!”

Lilith menuntun Ersh berdiri, memeluknya dan mengelus wajahnya, “Boleh aku mencium bibirmu?”
“Mengapa tidak?” Ersh balas memeluknya mesra, sementara Irish meneriakkan namanya berulang-ulang dibalik penghalang Ersh.
“Hmmm?” Lilith mencium leher Ersh sekali lagi, melingkarkan tangannya di tempat yang sama, “kau tahu kan apa yang akan terjadi bila aku melakukannya?”
“Tentu saja, itu caramu mengambil jiwa seseorang, kan?”
“Begitulah,” Lilith kembali mengelus wajahnya, “Kau bersedia melakukannya asal dia selamat, kah? Sungguh alasan yang menggugah hati, hahaha”
“Kuharap kau benar-benar melakukannya,” Ersh menatap mata Lilith dalam-dalam, hingga akhirnya tak ada batas dalam bibir mereka berdua.

Irish menghitung detik demi detik yang berlalu hingga akhirnya Ersh ambruk dan penghalang yang dibuatnya hancur, didekatinya Ersh yang tak sedikit pun bergerak, bahkan untuk bernapas.

“Nah, sekarang, kamu,” Lilith menunjuk Irish, “Berhubung aku sedang berbaik hati, lebih baik kau cepat pergi, terserah saja kau mau bawa orang ini atau tidak, aku mau tidur,” Lilith merenggangkan tangannya dan menguap lebar.

Irish mengguncangkan badan Ersh, tak ada reaksi, tentu. Air mata menetes di pipinya, “Ersh…,” Dibalikkannya badan Ersh hingga terlentang, tetapi Irish terkejut saat melihat mata Ersh yang menatap kosong mengedipkan sebelah matanya.

Pada saat yang sama, terdengar lengkingan kesakitan dari Lilith, Irish melihat ke arahnya, mengerjapkan mata, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sayap Lilith keduanya tegang mengarah ke langit sementara ia meringkuk, memeluk tubuhnya menahan sakit. Teriakan-teriakannya masih terdengar, memberi teror tersendiri bagi Irish.

“Apa… yang terjadi…?” Ersh bangkit dan membersihkan tanah yang menempel di badannya, membuat Irish kaget, “Ersh! Jelaskan padaku!”

Ersh tersenyum penuh kemenangan, “Pinjam sedikit sihirmu,” dengan tangan kirinya digenggamnya tangan Irish, sementara tangan kanannya melempar sesuatu ke udara setinggi-tingginya dan membuat segel.

Lagu sihir yang tak pernah Irish dengar mengalun, langit hitam malam menampakkan sorotan cahaya merah, Lilith masih di sana, melolong kesakitan dalam posisinya, hingga cahaya merah itu berubah menjadi cahaya putih menyilaukan, dan malam kembali gelap, seperti sediakala. Membiarkan Irish masih dalam keadaan bingung.

Ersh menangkap kembali benda, yang merupakan sebuah kartu, yang tadi dilemparnya. Irish melihat ke arah dimana Lilith tadi berada. Kosong. Tak ada apapun di sana.

“Nah,” ujar Ersh kemudian, “Mari pulang?” tanya Ersh, tersenyum lembut pada Irish yang hanya mengangguk patuh, “Mau jalan saja? Atau terbang?” Irish lagi-lagi melongo bingung ke arah Ersh, “Te… terserah saja…”

Kembali dengan senyum kemenangannya, Ersh meremas kartu itu dan membuka telapak tangannya, sedikit cahaya-cahaya kecil seperti kunang-kunang melayang keluar, melingkari Ersh, membuatnya memiliki sayap kelelawar yang sama persis dengan Lilith tadi.

Ersh kemudian mengangkat Irish dengan mudah, dan mulai melayang menuju desa.

“Ba… bagaimana kau bisa melakukannya?” tanya Irish.
“Hmmm,” Ersh berpikir sejenak, “Bisa dibilang aku mengurung sedikit kekuatannya yang tersisa di kartu tadi, daripada sia-sia begitu saja? Lagipula desa itu tak akan membayarku untuk memberantas Lilith konyol itu, berarti kalau aku tidak melakukan hal ini, aku tak akan mendapat keuntungan apa-apa setelah mati-matian begini,” dengan nada ringan Ersh menjawab.
Irish tertawa kecil, dibalas Ersh dengan senyuman. Hingga akhirnya mereka turun di pinggiran hutan dan kembali ke ‘kediaman’ Irish.

Ersh mengubah sayapnya kembali menjadi kartu dan menyimpannya. Ia lalu meletakkan Irish di kasurnya. Saat akan pergi, Irish menahannya, “Temani aku.”

Ersh duduk di pinggiran kasur kecil Irish.

“Kenapa kau bisa melukaiku tadi? Kenapa kau mengambil darahku?”
“Oh, kau mau menginterogasiku rupanya,” Ersh terkekeh, “Karena aku tak berniat melukaimu, darah orang sepertimu, yang tak ada dalam takdir atau apalah, bisa melukai, melindungi, ataupun menyembuhkan seseorang, tergantung pikiranmu terhadap orang itu.”

Irish menatap Ersh dengan pandangan tidak mengerti, sekali lagi Ersh tertawa, “Jadi, kalau kau menganggap si A sebuah ancaman, maka darahmu akan melukai si A. Kalau kamu menganggap si B dalam bahaya, darahmu akan melindungi si B. Kalau kamu menganggap si C butuh pertolongan, darahmu akan menyembuhkan si C. Dan begitu selanjutnya,” Ersh menghela napas, “Yah, sebenarnya tadi juga aku hanya bertaruh sih, aku tidak tahu apa yang kaupikirkan terhadapku, tapi ya…,” Ersh menggaruk-garuk kepalanya, “Aku tidak tahu lagi harus bagaimana.”

Irish mengangguk mengerti, ia menarik selimut yang diberikan Ersh padanya hingga menutupi kepalanya, lalu berkata lagi, “Ersh… Sylvia itu… siapa?”

 

–to be continued to part 3 *kok sepanjang ini sih* =_=a – 

13 responses

  1. *pelukpelukgeje semua yang ngecomment* >,<
    saya bingung mau gimana sih :D

    aku? uidah dewasa? *ngakak guling2*
    Dan saya merinding sendiri baca cerita ini –a
    Ga percaya ah kalo ini aku yang nulis…………………..

    terlalu… 'terbuka' –a
    *bakar diri*

    18 August 2009 at 6:53 am

  2. taree

    keren! –a *merinding beneran*
    berasa gimanaa gitu, jadi pengen bikin cerita2 fantasi kyk gini juga~ kau jago yah! ^^ saya tunggu part 3 nya xD

    18 August 2009 at 8:44 pm

  3. err…
    seingetku part 3nyaudah ada sejak entah kapan de..
    ^^a

    18 August 2009 at 10:36 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 275 other followers