Matahari sudah tenggelam di ufuk barat,
Hari kian petang,
tapi mengapa bintang tak menampakkan sinarnya?
Mengapa secepat ini teratai menguncupkan mahkotanya?
Andai kita tahu lebih dulu,
pasti akan kuukir lebih banyak kenangan indah bersamamu.
Lebih banyak lagi…
Lebih banyak lagi…
Walau kita tahu,
sebanyak apapun kenangan yang telah kita ukir.
Tak akan pernah cukup…
Tidak pernah cukup…
Ingin kuputar balikkan waktu,
dan bekukan saat itu.
Di saat kita mengukir senyuman di atas lara.
Merajut tawa bersama hilangnya duka.
Memetik kebahagiaan dalam kungkungan nestapa.
Menyebar benih kasih dan menuainya dengan tulus terimakasih.
Mengapa di saat kita mulai menyelami dalamnya hati satu, satu dengan yang lainnya,
waktu hadang kita untuk berhenti?
Mengapa dengan hanya satu kata perpisahan,
dapat merenggut semua kebahagiaan?
Ini bukanlah waktu yang tepat untuk berpisah, kawan.
Tapi bukankah memang tak ada waktu yang tepat untuk berpisah?
Hati kita takkan pernah siap untuk menghadapinya.
Karena setiap ada pertemuan,
Selalu ada perpisahan.
Tapi ini bukanlah suatu akhir dari pertemuan,
kita hanya tidak berjumpa sebentar, kawan.
Walau kita terpisah…
Hati kita tetap dalah satu jiwa.
Satu rasa.
Satu nama.
Satu kata.
Continue reading ‘Farewell Poem’
The words they've said