Apa salahnya menjadi “orang ketiga”?
Kadang aku bertanya2, apa aku juga manusia?
Kenapa aku ga bisa berbaur dengan kalian kalo iya?
Kenapa wadah yang membuat aku bertemu kalian harus ada?
Jadi “sudut pandang orang ketiga” ngga berarti gaada kan?
Cerita itu gaakan ada kalo si “sudut pandang orang ketiga” ngga mau cerita kan?
Walau mungkin bisa kalo pake “sudut pandang orang pertama”, tapi aku yakin para “orang pertama” terlalu sibuk dengan naskah dan dialognya sendiri, sampe dia ga meratiin satu2nya “orang ketiga” yang ngeliatin sambil senyum2 liat tingkah mereka di ujung, jauh dari keramaian, bahkan ga disadari
Jadi satu2nya “orang ketiga” emang berat, pasti kalah suara sama “orang pertama” yang sampe 38 orang
Tapi kalo lama2, apa ga muak terus sendiri?
Masih ada 1 tahun lebih lagi, sanggupkah aku?
Taukah kalian kalo kadang aku terganggu?
Ah ya… mana mungkin kalian peduli… para “orang pertama” memang paling penting…
Aku cuma bayangan (yang dicari kalo ada kewajiban) aja buat kalian, cuma pelengkap yang ga perlu ada
Kenapa aku ga sekalian ga ada aja?
Apa kamu tau?
Apa kamu tahu rasanya menjalani hal yang paling kamu benci, berada di tempat dimana tubuh dan pikiranmu mati-matian menolaknya, dimana tak ada yang menanggapimu berbicara tapi tanggung jawabmu dituntut, dimana kau ditempatkan di posisi paling jauh padahal kau tak dapat melihat dan mendengar, dan sendirian, tanpa harapan dan kemungkinan untuk terhubung dengan dunia luar.
Apa kamu masih dapat melakukan hal yang paling kamu benci dengan keadaan seperti itu?
Berapa lama kamu akan dapat bertahan dengan keadaan seperti itu?

_hari ke-7 di kelas XI_
26 Januari 2010, 02:00
Malam tenang. Pembicaraan setelah konflik. Konflik yang pergi. Aku yang sendiri. Lagu ancaman. Seorang penyerang. Penghiburan. Ramalan mematikan. Alat penghubung yang tiada. Penyerang yang meminta datang bila hubungan dengan konflik telah selesai. Kasur yang bukan untuk tidur. Bantal yang menolakku memasuki dunianya. Telepon dari konflik sebelum konflik terjadi. Telepon dari penyerang setelah konflik terjadi. Rectoverso. Hitomi Code Geass. Memojok. Terpojok. Dipojokkan. Kembali. Berkumpul. Pertemuan. Perkenalan. Tidak penting. Tidak berkesan. Kesalahan’ku’. Konflik terjadi. Penyerang menenangkan. Penyerang mengerikan. Penyerang tanpa perasaan. Berbaur. Tidak ingin tak sadarkan diri. Tak ingin memejamkan mata. Topeng penjemput. Masa hidup habis. Malam tenang.
Aku dan Tulisanku
Tugas mencari dan membaca puisi.
Cukup membosankan sepertinya bagi anak2 di kelasku. Beberapa dari mereka bahkan meminjam puisi salah seorang lainnya, bahkan mengambil sebuah lagu untuk puisinya (yang sangat ketara peniruannya dan dengan sukses ngebuat anak sekelas ngakak kuadrat)
Tapi jujur aku tak terlalu membencinya.
-untitled-
Kutatap langit hitam diatasku yang menjatuhkan tetes demi tetes air, membasahiku. Aku tak peduli.
Jutaan dimensi telah kulalui.
Tak ada yang menarik. Tak ada yang aman.
Kemana lagi ku harus mencari?
Jutaan dimensi telah kulalui.
Telah kutinggalkan.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Yang kuinginkan hanyalah sebuah tempat dimana aku bisa tenang, beristirahat.
Tanpa ada serangan mendadak dari luar.
Pelindungku tak cukup kuat untuk itu.
Jutaan dimensi telah kulalui.
Kepada siapa ku harus bertanya?
Seorang demi seorang melangkah pergi.
Aku tahu aku memang mudah dilupakan.
Karena itu aku belajar untuk melupakan.
Tapi bagaimanapun, yang kucari hanya satu.
Tempat dimana aku bisa benar-benar beristirahat.
Benar-benar tenang.
Tapi aku tak tahu lagi.
Dimana dimensi yang belum kusinggahi?
Jutaan dimensi telah kulalui.
Kemana lagi kuharus melangkah?
Farewell Poem
Matahari sudah tenggelam di ufuk barat,
Hari kian petang,
tapi mengapa bintang tak menampakkan sinarnya?
Mengapa secepat ini teratai menguncupkan mahkotanya?
Andai kita tahu lebih dulu,
pasti akan kuukir lebih banyak kenangan indah bersamamu.
Lebih banyak lagi…
Lebih banyak lagi…
Walau kita tahu,
sebanyak apapun kenangan yang telah kita ukir.
Tak akan pernah cukup…
Tidak pernah cukup…
Ingin kuputar balikkan waktu,
dan bekukan saat itu.
Di saat kita mengukir senyuman di atas lara.
Merajut tawa bersama hilangnya duka.
Memetik kebahagiaan dalam kungkungan nestapa.
Menyebar benih kasih dan menuainya dengan tulus terimakasih.
Mengapa di saat kita mulai menyelami dalamnya hati satu, satu dengan yang lainnya,
waktu hadang kita untuk berhenti?
Mengapa dengan hanya satu kata perpisahan,
dapat merenggut semua kebahagiaan?
Ini bukanlah waktu yang tepat untuk berpisah, kawan.
Tapi bukankah memang tak ada waktu yang tepat untuk berpisah?
Hati kita takkan pernah siap untuk menghadapinya.
Karena setiap ada pertemuan,
Selalu ada perpisahan.
Tapi ini bukanlah suatu akhir dari pertemuan,
kita hanya tidak berjumpa sebentar, kawan.
Walau kita terpisah…
Hati kita tetap dalah satu jiwa.
Satu rasa.
Satu nama.
Satu kata.




Fire giving warmth... or burn...