Aku dan Tulisanku
Tugas mencari dan membaca puisi.
Cukup membosankan sepertinya bagi anak2 di kelasku. Beberapa dari mereka bahkan meminjam puisi salah seorang lainnya, bahkan mengambil sebuah lagu untuk puisinya (yang sangat ketara peniruannya dan dengan sukses ngebuat anak sekelas ngakak kuadrat)
Tapi jujur aku tak terlalu membencinya.
-untitled-
Kutatap langit hitam diatasku yang menjatuhkan tetes demi tetes air, membasahiku. Aku tak peduli.
Jutaan dimensi telah kulalui.
Tak ada yang menarik. Tak ada yang aman.
Kemana lagi ku harus mencari?
Jutaan dimensi telah kulalui.
Telah kutinggalkan.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Yang kuinginkan hanyalah sebuah tempat dimana aku bisa tenang, beristirahat.
Tanpa ada serangan mendadak dari luar.
Pelindungku tak cukup kuat untuk itu.
Jutaan dimensi telah kulalui.
Kepada siapa ku harus bertanya?
Seorang demi seorang melangkah pergi.
Aku tahu aku memang mudah dilupakan.
Karena itu aku belajar untuk melupakan.
Tapi bagaimanapun, yang kucari hanya satu.
Tempat dimana aku bisa benar-benar beristirahat.
Benar-benar tenang.
Tapi aku tak tahu lagi.
Dimana dimensi yang belum kusinggahi?
Jutaan dimensi telah kulalui.
Kemana lagi kuharus melangkah?
Farewell Poem
Matahari sudah tenggelam di ufuk barat,
Hari kian petang,
tapi mengapa bintang tak menampakkan sinarnya?
Mengapa secepat ini teratai menguncupkan mahkotanya?
Andai kita tahu lebih dulu,
pasti akan kuukir lebih banyak kenangan indah bersamamu.
Lebih banyak lagi…
Lebih banyak lagi…
Walau kita tahu,
sebanyak apapun kenangan yang telah kita ukir.
Tak akan pernah cukup…
Tidak pernah cukup…
Ingin kuputar balikkan waktu,
dan bekukan saat itu.
Di saat kita mengukir senyuman di atas lara.
Merajut tawa bersama hilangnya duka.
Memetik kebahagiaan dalam kungkungan nestapa.
Menyebar benih kasih dan menuainya dengan tulus terimakasih.
Mengapa di saat kita mulai menyelami dalamnya hati satu, satu dengan yang lainnya,
waktu hadang kita untuk berhenti?
Mengapa dengan hanya satu kata perpisahan,
dapat merenggut semua kebahagiaan?
Ini bukanlah waktu yang tepat untuk berpisah, kawan.
Tapi bukankah memang tak ada waktu yang tepat untuk berpisah?
Hati kita takkan pernah siap untuk menghadapinya.
Karena setiap ada pertemuan,
Selalu ada perpisahan.
Tapi ini bukanlah suatu akhir dari pertemuan,
kita hanya tidak berjumpa sebentar, kawan.
Walau kita terpisah…
Hati kita tetap dalah satu jiwa.
Satu rasa.
Satu nama.
Satu kata.
Entah…
Sekali lagi…
Puisi isenge geje
(LOL)
*****
Lelah sudah ku berjalan
Jauh… Seraya mengenakan senyumku
Burung-burung kecil berkicau riang
Menyambut hari esok yang tak terlihat
Another poem
Hanya puisi lebay geje yg tiba2 nongol k pikiran.
Ahahahahaha
(more…)
Something
I miss the time that has gone past
Leaving me in this ‘present’
Knowing none bout the future
Lost and helpless
The One and My Only One
Because I haven’t met the right person…
Someone who makes me weak…
And I don’t want to feel the pain for the second time (more…)
Tovarishch
Do you remember, the first time we met each other?
The meeting in the time-thread knitting.
I know that it’s not something happened by random.
Because there’s nothing happened by randomness. (more…)




Fire giving warmth... or burn...