The forgotten snow dust…

Waktu Terakhir – a story

Aku terdiam didepan layar laptopku yang sedari tadi kubiarkan menyala.

Kubaca ulang cerita karanganku yang belum terselesaikan. Walaupun entah kenapa ku merasa ku tak perlu menyelesaikannya, dan tidak akan pernah bisa menyelesaikannya. Padahal catatan dari editorku telah tergantung di pintu kulkas sejak enam hari yang lalu, ‘deadline 1 minggu lagi.’.

Aku meneguk sedikit hot chocolate yang baru saja dikirim oleh ‘dia’ dan ku berjalan ke balkon, seraya mengamati langit malam yang gelap dan polos tanpa bintang.

Menyedihkan, padahal dulu, bintang-bintang bertaburan begitu banyak di langit. Seolah tak kan habis walau dibagikan pada seluruh manusia di bumi. Dan sekarang, bulan pun terasa begitu kesepian di atas sana.

Ganti ku pandang pemandangan kota dari apartemenku di gedung tinggi ini. Warna-warni lampu saling berkelap-kelip bagai mutiara yang menghiasi malam, mengambil alih tugas bintang-bintang.

Apa karena kota ini telah memiliki ‘bintang-bintang’ mereka sendiri, maka bintang di langit enggan menampakkan diri?

Mungkin saja…

Tapi apa boleh buat, manusia menjadi semakin kuat seiring waktu berlalu. Tapi sayangnya, semakin kuat mereka, mereka juga akan menjadi semakin lemah.

Mereka mungkin sangat maju dalam hal ilmu pengetahuan, mereka mungkin bisa saja menambah ‘waktu hidup’ seseorang, mereka mungkin bisa saja mengontrol semuanya dalam satu tombol. Tapi karena semua hal itulah, mereka juga semakin lemah. Karena semua hal itulah, mereka menjadi tidak bisa hidup tanpa listrik. Mereka menjadi tidak bisa melakukan apa-apa tanpa listrik.

Pernah pada suatu saat, listrik di kota ini putus selama beberapa jam, di saat malam dan siang hari.

Pada saat itu di siang hari, orang-orang banyak yang kepanasan tanpa listrik, banyak juga di antara mereka yang tidak tahu harus melakukan apa pada saat itu. Mereka tidak bisa mendengarkan lagu kesukaan mereka, mereka tidak bisa menonton acara favorit mereka, mereka tidak bisa memainkan game kesayangan mereka, bahkan alat-alat elektronik yang sehari-hari mereka banggakan pun menjadi tidak berguna. Mereka akhirnya hanya terdiam menunggu listrik normal kembali.

Dan di malam hari ketika listrik padam, sering kudengar jerit tangis ketakutan dari bangunan-bangunan di luar sana, bahkan ada juga yang merasa kepanasan di malam itu dan mereka hanya bisa tidur untuk menunggu listrik menyala kembali.

Sungguh konyol, bukan?

Manusia terlalu bergantung pada listrik. Karena itulah manusia menjadi lemah.

Angin berhembus perlahan, menerpa tubuhku dengan lembut. Tak pernah kurasakan angin seperti ini sebelumnya. Gedung-gedung tinggi pencakar langit selalu menghalangi mereka.

Aku memandangi kota di bawahku sekali lagi. Jarang kulihat ada pohon-pohon hijau di kota ini, aspal dan bebatuan telah menutupi tanah mereka. Tidak pernah kulihat ada satu hari tanpa asap di kota ini, ribuan kendaraan berlalu-lalang di jalan-jalan setiap harinya.

Juga berbagai bencana alam yang datang silih berganti, jalan-jalan retak digoyang gempa, rumah-rumah tenggelam ditelan banjir, benda-benda melayang diterpa angin topan.

Apa jadinya tempat ini?

Tidak, maksudku, apa jadinya bumi ini?

Tampaknya bumi ini sudah tua. Hanya tinggal menunggu saatnya untuk mati. Mati, bersama manusia-manusia manja yang berada di dalamnya.

Sepertinya bumi ini sudah terlalu tua untuk memenuhi semua keinginan manusia yang tidak pernah peduli kepadanya.

Sepertinya bintang-bintang menjadi merasa tidak dibutuhkan ketika mereka melihat warna-warni lampu yang berkelap-kelip indah setiap malam.

Dan sepertinya bulan yang kesepian mulai mendekati bumi untuk mencari teman. Dia terlihat makin besar akhir-akhir ini.

. . .

Hah… Sudahlah. Aku pusing memikirkan semuanya. Lagipula aku belum menyelesaikan pekerjaanku untuk membuat cerita yang harus kuserahkan kepada editorku besok.

Tapi tetap saja, sampai sekarang, aku merasa bahwa aku tidak perlu berusaha untuk menyelesaikannya. Dan perasaan itu seolah memaksaku untuk menurutinya.

Jadi, aku menurutinya. Kutinggalkan semua rencana dan pemikiranku untuk ceritaku. Tapi aku tetap terduduk di depan laptopku. Dan, entah kenapa, mulai menulis sedikit pesan untuk orang-orang sekitarku. Aku tidak tahu kenapa, hanya ada dorongan dari pikiranku untuk melakukannya.

Kuketik pesan-pesan itu untuk keluargaku, untuk teman-temanku, dan untuk ‘dia’, juga untuk kuletakkan di blog ku dan semua halaman-halaman di internet yang berhubungan denganku.

Setiap pesan kutulis berbeda, hanya saja, ada beberapa kalimat yang sama, yang selalu kuulang di setiap pesan yang kutulis, “Manusia tidak akan pernah mengetahui kapan waktunya habis, tapi aku ingin kalian tahu, aku menyayangi kalian,” aku benar-benar tidak mengetahui kenapa aku melakukannya.

Aku benar-benar tidak mengerti. Tapi, sudahlah…

Telepon berdering beberapa saat setelah aku selesai mengirim pesan-pesan itu.

“Halo?”
“Halo. Ini aku,” ah, ‘dia’ menelponku, aku benar-benar merindukan suara’nya’.
“Oh, iya. Ada apa?” aku bertanya, dari suaranya, aku tahu bahwa ‘dia’ tersenyum. Senyuman yang kurindukan.
“Boleh aku ke apartemenmu sekarang?”
“Boleh saja, sudah cukup lama kita tidak bertemu, aku merindukanmu.”
“Ya, aku juga,” ‘dia’ tertawa kecil, “sebenarnya aku sudah ada di depan apartemenmu sekarang.”
Aku ikut tertawa, kemudian menutup telepon dan membukakan pintu untuk’nya’.

Suara’nya’ yang khas kembali terdengar ramah di telingaku. ‘Dia’ memelukku dan aku balik memeluk’nya’. Kami menghabiskan malam itu bersama, dengan segelas hot chocolate buatan’nya’ yang merupakan minuman favoritku.

“Ah, ceritamu belum selesai?” ‘Dia’ bertanya, “kamu tidak ada ide? Atau kamu memang sedang malas mengerjakannya.”
Aku tertawa, “yah… Perasaanku mengatakan bahwa aku tidak perlu mengerjakannya, entah kenapa,” ‘dia’ ikut tertawa mendengar jawabanku.
“Pasti kamu lelah, sudah hampir dua minggu kamu kurang tidur kan? Masalah keluargamu memang rumit, aku juga pasti akan kacau kalau itu terjadi padaku,” lalu ‘dia’ mengambil kertas-kertas rencanaku untuk cerita itu dan duduk di depan laptopku, “kamu tidur saja, aku akan melanjutkannya untukmu. Lagipula, kamu sudah janji untuk membiarkanku menulis bagian ending-nya, kan? Percayalah padaku. Kamu istirahat saja.”

Ya, aku memang sudah berjanji seperti itu pada’nya’. Dan tanpa kusadari, rasa kantuk mulai menyerangku. Sudahlah, lagipula, ‘dia’ juga seorang penulis yang hebat. ‘Dia’ selalu membantuku menyelesaikan pekerjaanku saat ‘dia’ memiliki waktu luang.

“Baiklah, terimakasih ya,” aku memeluk’nya’, kemudian berjalan menuju kamarku. Tapi sebelum masuk ke dalam kamar, langkahku terhenti dan aku memanggil’nya’, “o, iya.”

“Ada apa?”
“Aku menyayangimu, dan aku akan selalu mencintaimu. Karena itu, tolong maafkan aku apabila aku pernah membuatmu tersinggung atau sedih, aku minta maaf kalau aku ada salah padamu,” aku berhenti untuk mengambil napas, sementara ‘dia’ terlihat kaget mendengar kata-kataku, “dan terimakasih, untuk semua hal yang telah kaulakukan, aku menyayangimu, selamat malam.”

Aku membuka pintu kamarku, tapi ‘dia’ menahanku sebelum aku memasuki kamarku.
“Apa maksudmu berkata begitu?”
Aku tersenyum dan memeluk’nya’ lagi, “hanya ingin mengatakannya, tidak ada maksud apa-apa.”
“Sungguh?”
“Sungguh,” aku mengenggam tangan’nya’, “selamat malam.”
“Tunggu,” ‘dia’ menahanku lagi, “boleh aku menemanimu sampai kamu tertidur?”

Tampak jelas keragu-raguan yang tergambar di wajah’nya’, yang bercampur dengan harapan yang terpancar di mata’nya’, “kenapa tidak?”

‘Dia’ kembali tersenyum, dan mengikutiku masuk ke kamarku, dan kami sejenak memainkan boneka beruang yang dia berikan pada ulang tahunku sebelumnya. Dan ketika aku berbaring di ranjang, ‘dia’ terus berada di sampingku. Sampai mataku benar-benar tidak bisa kubuka lagi saking lelahnya.

“Selamat tidur, mimpi indah ya.”
“Ya, terimakasih.”

Aku menutup mataku dan kudengar langkah kaki’nya’ menjauh, tapi kemudian berhenti, dan kembali lagi mendekatiku. Kurasakah bibir’nya’ dengan lembut mengecup keningku dan ‘dia’ berkata, “aku juga selalu mencintaimu,” kemudian ‘dia’ berjalan lagi keluar kamar, dan menutup pintu’nya’.

Aku tertidur dalam kedamaian.
Tanpa mengerti bahwa waktuku telah habis.
Tanpa merasa bahwa itu adalah saat terakhirku untuk bertemu dengan’nya’.
Tanpa menyadari bahwa tidak akan ada lagi hari esok untukku.
Tanpa mengetahui bahwa aku tidak akan pernah bangun lagi.

Selamanya.

16 responses

  1. Rian Xavier

    wah ndak mudeng baca ceritanya.. ==a

    7 December 2008 at 10:31 pm

  2. @Rian Xavier :
    Lah?
    Kenapa?
    (LOL)

    7 December 2008 at 10:57 pm

  3. selesaikan semua pekerjaan ….
    jangan sampe di tinggal tinggal..

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    hah?

    27 March 2009 at 9:39 am

  4. Pingback: Happy birthday… to us? « Reina Lunarrune

  5. (doh) cerita lagi.

    5 September 2010 at 4:36 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s