The forgotten snow dust…

Waktu Terakhir – another story

Cepat-cepat aku turun dari kereta, dan berjalan cepat menuju apartemen’nya’.

Sudah sekitar tiga minggu kami tidak bertemu. Masalah keluarga’nya’ cukup rumit untuk bisa cepat diselesaikan. Sehingga ‘dia’ terpaksa pindah ke kota ini, jauh dari tempat tinggal’nya’ dulu.

Sebelum berjalan menuju gedung apartemen’nya’, aku mampir sebentar ke sebuah toko 24 jam untuk membeli bahan-bahan untuk membuat hot chocolate, minuman kesukaan’nya’.

Hari sudah malam, jalan-jalan pun dipenuhi oleh terangnya lampu dari bangunan-bangunan sekitar. Cahaya yang tidak begitu ‘dia’ sukai.

Aku melihat ke langit, tak ada satupun bintang yang tampak. Hanya bulan yang termenung sendiri di langit gelap.

Aku kembali fokus pada jalan tempatku berada. Aku harus cepat. Apartemen’nya’ memang tidak terlalu jauh, tapi ‘dia’ sering berkata bahwa jalan menuju ke sana cukup berbahaya. Banyak berandalan-berandalan di sekitar jalan ini, dan mereka tidak pandang bulu, perempuan ataupun laki-laki, siapa pun bisa saja menjadi korbannya.

Secara fisik, ‘dia’ memang kuat, keluarga’nya’ mengajarkan kemampuan bela diri pada’nya’ sejak ‘dia’ masih kecil. Begitu pula denganku, kami sempat belajar di tempat yang sama pada saat kami smp dulu. Dan itu adalah pertemuan pertamaku dengan’nya’. Dengan orang yang kucintai.

Akhirnya aku sampai di gedung apartemen’nya’, kutekan tombol bertuliskan angka 28 tempat apartemen’nya’ berada. ‘Dia’ sengaja memilih apartemen yang berada di lantai atas, lantai 28 dari 30 lantai yang ada, karena ‘dia’ memang sangat menyukai ketinggian, sangat menyukai langit.

‘Tapi bukankan akan merepotkan kalau tempat tinggal kita jauh dari tanah, karena akan menyusahkan kita saat ingin pergi?’ ketika aku bertanya seperti itu, ‘dia’ hanya mejawab, ‘memangnya aku mau pergi ke mana? Pekerjaanku cukup diam di rumah dan menulis cerita, editor pun akan datang kesini saat deadline, kalau mau makan tinggal masak sendiri dan apabila bahan-bahannya habis, kita bisa meminta jasa pelayan di gedung untuk membelikannya.’

Haha… Sebagai penulis, ‘dia’ memang lebih suka tinggal di tempat tinggal’nya’ daripada harus pergi ke luar. Ada saja alasa’nya’ saat aku mengajak’nya’ pergi.

Karena terlalu asik dalam pikiranku sendiri, aku tidak menyadari bahwa aku sudah berada di depan apartemen’nya’. Tapi satu hal yang kulupa, aku lupa untuk memberitahu’nya’ bahwa aku akan datang hari ini, jangan-jangan ‘dia’ sudah tidur? Aku memang pelupa.

Ku raih telepon genggamku dari saku celanaku dan mulai menekan nomor telepon apartemen’nya’. Terdengar suara telepon berdering dari balik pintu yang berada tepat di depanku. Dan suara itu berhenti, tanda teleponnya sudah diangkat.

“Halo?” Ah, ‘dia’ mengangkatnya.
“Halo. Ini aku,”
“Oh, iya. Ada apa?”
“Boleh aku ke apartemenmu sekarang?” Aku bertanya, padahal aku sedang berada tepat di depan pintu apartemen’nya’.
“Boleh saja, sudah cukup lama kita tidak bertemu, aku merindukanmu.”
“Ya, aku juga,” aku tertawa kecil, “sebenarnya aku sudah ada di depan apartemenmu sekarang.”
‘Dia’ ikut tertawa, lalu telepon ditutup dan pintunya terbuka perlahan.

‘Dia’ mempersilakanku masuk, dan aku langsung memeluk’nya’, setelah sekian lama kami berpisah.

‘Dia’ sama sekali tak berubah, tetap tenang dan teratur, tapi pemalas seperti biasa. Hanya saja ‘dia’ menjadi agak kurus, mungkin ‘dia’ terlalu lelah memikirkan masalah keluarga’nya’ itu. Walaupun begitu, masakannya selalu enak, ‘dia’ memasakkan sepiring makanan hasil karya’nya’ saat aku membuatkan hot chocolate untuk’nya’.
Sungguh sangat menyenangkan menghabiskan malam bersama’nya’.

Saat aku membereskan peralatan makan’nya’, aku memperhatikan cerita yang telah diketik di laptop’nya’, cerita yang harus diserahkan pada editor’nya’ besok. Dan aku menyadari, bahwa cerita itu belum selesai.

“Ah, ceritamu belum selesai?” Aku bertanya, “kamu tidak ada ide? Atau kamu memang sedang malas mengerjakannya.”
‘Dia’ tertawa, “yah… Perasaanku mengatakan bahwa aku tidak perlu mengerjakannya, entah kenapa,” haha… alasan-alasan jitu seperti biasa.
“Pasti kamu lelah, sudah hampir dua minggu kamu kurang tidur kan? Masalah keluargamu memang rumit, aku juga pasti akan kacau kalau itu terjadi padaku,” lalu aku mencari kertas-kertas rencana cerita’nya’ dan duduk di depan laptop’nya’, “kamu tidur saja, aku akan melanjutkannya untukmu. Lagipula, kamu sudah janji untuk membiarkanku menulis bagian ending-nya, kan? Percayalah padaku. Kamu istirahat saja.”

Untunglah ‘dia’ sering membiarkanku untuk menulis bagian akhir cerita-cerita’nya’, sehingga aku menjadi sangat mengenal gaya menulis’nya’ dan mulai bisa meniru’nya’. Jari-jariku mulai menari-nari di atas keyboard.

“Baiklah, terimakasih ya,” ‘dia’ memelukku dari belakang, kemudian berjalan gontai menuju kamar’nya’. Tapi langkah’nya’ terhenti di tengah jalan, dan ‘dia’ berkata, “o, iya.”

“Ada apa?”
“Aku menyayangimu, dan aku akan selalu mencintaimu. Karena itu, tolong maafkan aku apabila aku pernah membuatmu tersinggung atau sedih, aku minta maaf kalau aku ada salah padamu,” ‘dia’ berhenti sejenak, mengambil napas, aku sangat kaget mendengar kalimat’nya’, kenapa ‘dia’ berkata seperti itu? Apa ‘dia’ ingin kita untuk berpisah? Aku tidak mau! “Dan terimakasih, untuk semua hal yang telah kaulakukan, aku menyayangimu, selamat malam.”

Pintu kamar’nya’ terbuka dan ‘dia’ bersiap masuk, tapi reflek tanganku menarik pakaian yang dikenakan’nya’.
“Apa maksudmu berkata begitu?”
‘Dia’ tersenyum dan memelukku lagi, “hanya ingin mengatakannya, tidak ada maksud apa-apa.”
“Sungguh?”
“Sungguh,” dengan erat ‘dia’ genggam tanganku, “selamat malam.”
“Tunggu,” tapi aku masih penasaran, “boleh aku menemanimu sampai kamu tertidur?” Ujarku dengan penuh keragu-raguan. Berharap agar ‘dia’ mengizinkanku masuk.

“Kenapa tidak?”

Aku tersenyum lega dan mengikuti’nya’ masuk ke kamar. Aku terus duduk di sebelah’nya’, menunggui’nya’ yang berbaring di ranjang sampai ‘dia’ benar-benar tidur.

“Selamat tidur, mimpi indah ya.”
“Ya, terimakasih.”

Setelah kata-kata itu, ‘dia’ terlihat benar-benar tidur, aku berdiri dan berjalan keluar kamar, tapi sebelum mencapai pintunya aku berhenti dan kembali mendekati’nya’. Perlahan kukecup kening’nya’ seraya berkata, “aku juga selalu mencintaimu,” sebagai balasan kata-kata’nya’ tadi. Lalu aku berjalan keluar dan melanjutkan ketikan cerita’nya’.

******

Pagi harinya, ‘dia’ tidak bangun cepat. Seperti biasa, dia tidak suka bangun pagi.

Aku memandang puas hasil kerjaku di laptop’nya’. Kemudian kuambil sepotong roti dan memakannya sebagai sarapan. Editor’nya’ akan datang sekitar jam 10, sekarang sudah jam 8.30, aku harus membangunkan’nya’.

Aku memasuki kamar’nya’ yang tidak terkunci, dan mulai mengguncang tubuh’nya’ sambil memanggil-manggil nama’nya’, sebenarnya aku tidak tega melihat wajah’nya’ yang terlihat sangat damai dalam tidur’nya’, tapi apa boleh buat.

Sudah cukup lama aku berusaha membangunkan’nya’, tapi tidak berhasil juga. Padahal biasanya ‘dia’ bisa dengan mudah dibangunkan. Aku terdiam sejenak, dan menyadari bahwa ‘dia’ tidak bergerak sedikitpun. Walau hanya untuk bernapas.

Dengan panik kugenggam tangan’nya’, dingin. Kutekan sedikit pergelangan tangan’nya’ untuk mengecek denyut nadi’nya’, yang tidak sedikitpun terasa.

Aku shock. Hampir menangis, aku mendekatkan telingaku ke dada’nya’, tidak terdengar apa-apa. Apa… ‘dia’ benar-benar… sudah…

Ini tidak mungkin terjadi! Kemarin ‘dia’ masih baik-baik saja! Kenapa ‘dia’ bisa…

Aku menenangkan diriku, kemudian duduk di sebelah’nya’, menggenggam tangan’nya’ dan mulai berduka. Dan sedikit berharap bahwa ‘dia’ akan bangun dan berkata, “hahaha… tertipuu!!”

Sudah cukup lama aku duduk terdiam disamping’nya’, menggengam tangan’nya’ sambil menopang kepalaku. Perlahan kuturunkan kembali tangan’nya’ yang dingin, kupandangi wajah damai’nya’. Sepertinya kemarin ‘dia’ sudah merasa ini akan terjadi, sehingga ‘dia’ mengatakan kalimat itu.

Masih kupandangi wajah damai’nya’ sambil mengingat-ingat saat-saat kami bersama. Sejak bertahun-tahun lalu sampai kemarin, sejak pertama kali kami bertemu hingga kemarin.

Aku berdiri, sambil masih tetap memandangi wajah’nya’, kudekatkan wajahku dengan wajah’nya’, dan sekali lagi kukecup kening’nya’. “Sayonara.”

Kemudian aku ke kamar mandi untuk mencuci muka, beberapa saat sebelum editor’nya’ datang.
Kuserahkan hasil cerita karangan’nya’ dan editor’nya’ langsung pulang setelah bertanya, “‘dia’ kemana?”, yang kujawab dengan kebohongan.

Aku terdiam lagi di depan laptop’nya’. Dimana semua file-file berharga’nya’ ‘dia’ simpan. Aku membuka tiap file yang ada, cerita-cerita’nya’ yang dahulu, foto-fotoku dan ‘dia’, foto-foto keluarga’nya’, gambar-gambar dan lagu-lagu buatan’nya’, dan banyak lagi. Sampai aku menemukan sebuah file yang bernama sama dengan namaku.

Aku tidak mengerti kenapa aku menulis pesan ini. Tapi ada sesuatu yang mendesak dalam pikiranku untuk menuliskannya untuk semua.

Tapi pesan pertama yang kutulis adalah ini, pesan untukmu, untuk orang yang paling kucintai.

Mungkin kamu akan membaca ini pada saat deadline-ku yang bersamaan dengan ulang tahunmu. Karena itu kuucapkan selamat ulang tahun! ^_^

Aku berharap untuk yang terbaik untukmu!

Haha… Konyol ya?

Padahal aku akan mengatakannya sendiri kepadamu, tapi aku malah menuliskannya di sini, padahal belum tentu kamu akan membukannya bersamaan dengan hari ulangtahunmu.

Haha…

Tapi manusia tidak akan pernah mengetahui kapan waktunya habis, tapi aku ingin kamu tahu, aku sangat menyayangimu.

Hmm… Tapi siapa tahu kamu membukanya pada saat ulang tahunmu, berarti aku sangat beruntung! Karena aku hanya akan memberitahumu di mana kado ulang tahunmu melalui pesan ini.

Hadiahmu kuletakkan dalam kotak berwarna biru, warna kesukaan mu^^, kotak itu kuletakkan di sebuah lemari tempat ingatan tersimpan. Selamat mencari!

Dan sekali lagi, selamat ulang tahun!
Love you.

Aku bangkit setelah membaca pesan itu, ‘lemari tempat ingatan tersimpan’ adalah tempat yang mudah kutemukan. Itu adalah lemari dimana foto-foto’nya’ sejak kecil disimpan. Dan itu ada persis di sebelah kasur’nya’.

Aku memasuki kamarnya dan mendekati lemari itu, diatas lemari itu kulihat sebuah boneka beruang dengan sebuah cincin yang dipasangi tali dan dikalungkan di lehernya, boneka beruang yang kemarin masih kumainkan bersama’nya’, hadiah dariku pada saat ulang tahun’nya’.

Dengan mudah kutemukan sebuah kotak berwarna biru diantara album-album foto’nya’. Kubuka kotak itu, dan kutemukan sebuah boneka beruang lainnya yang juga disertai sebuah cincin, yang ukurannya pas dengan jariku.

Selamat ulang tahun!
Ini hadiah balasanku untukmu, aku menerima tawaranmu waktu itu. ^0^

Kesedihan mulai menyerangku lagi, aku menelpon keluarga’nya’, mengatakan bahwa ‘dia’ membutuhkan mereka. Setelah menelpon keluarga’nya’, aku mengemasi barang-barangku dan berangkat pergi.

Sekali lagi kuucapkan “sayonara” pada’nya’, dan pergi sambil membawa boneka beruang dan cincin yang dia berikan kepadaku.

Aku berjalan cepat agar bisa cepat sampai di stasiun kereta terdekat, aku melewati jalan pintas agar cepat sampai di sana. Tapi berandalan-berandalan yang dikatakan ‘dia’ benar-benar ada, mereka mencoba mengeroyokku dan mengambil barang-barangku. Jumlah mereka terlalu banyak untuk kulawan seorang diri.

Jadi aku memutuskan untuk lari. Lari secepat mungkin untuk keluar dari jalan pintas di gang kecil ini.
Dan akhirnya jalan keluarnya sudah terlihat, aku terus berlari melewatinya.

Sayangnya ketika aku sudah berada di luar, aku terlambat menyadari bahwa aku berada di tengah jalan raya dan sebuah mobil melaju kencang ke arahku.
Tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Lari pun tidak sempat. Walaupun ada seorang anak yang mencoba mendorongku keluar dari jalan. Tapi itu sudah tidak sempat.

Akhirnya, ‘itu’ terjadi tanpa bisa terelakkan.
Dengan ‘itu’ aku mengakhiri hari terakhirku.

14 responses

  1. Dasar Ute!!😄

    Ha?
    Helap?
    Gelap napa?
    Kau kena kutukan kak Zhao, Ut?

    17 October 2008 at 10:25 pm

  2. hah?? kutunggu jandamu ?

    eh..
    kutukan ka zhao?? apaan tuh??

    19 October 2008 at 3:01 pm

  3. Kan gelap-gelap geje…😀

    Lah? Kamu yuri Ut?

    19 October 2008 at 10:31 pm

  4. Pingback: Happy birthday… to us? « Reina Lunarrune

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s