The forgotten snow dust…

Beneath the Sakura Tree

Dengan susah payah, aku berjalan menuju kamarku.

Sebenarnya tidak bisa dikatakan ‘berjalan’, sebab aku hanya duduk di kursi roda dan menjalankannya. Ya, sudah beberapa hari sejak kecelakaan itu terjadi. Aku melihat seseorang yang tiba-tiba menerobos ke tengah jalan dan berhenti di sana pada saat mobil-mobil melaju kencang. Aku mencoba menyelamatkannya, tetapi gagal. Dia malah meninggal karena terdorong olehku ke depan sebuah truk sementara aku kehilangan kemampuanku untuk berdiri. Aku benar-benar merasa bersalah karenanya.

Hancur sudah cita-citaku, aku tak bisa lagi meluncur di atas es yang membeku. Menggoreskan gambar-gambar tak berbetuk di permukaannya dengan sepatuku. Hilang sudah, harapanku untuk hiking bersama’nya’ dan teman-temanku yang lainnya. Bahkan untuk memasak okonomiyaki kesukaankupun aku tak bisa!

Kalau saja saat itu aku tidak berusaha menolong orang yang bahkan tidak kukenal itu. Nasibku pasti tidak akan menjadi seperti ini!

Hari ini hari Sabtu, biasanya aku bersepeda menuju lapangan basket dekat sekolah. Tapi kali ini? Berdiri saja sulit, apalagi bersepeda?!

Dari luar, terdengar teman-temanku memanggil namaku. Dan aku hanya melihat dari jendela kamarku yang berada di lantai dua. Mereka bertujuh datang dengan sepeda, seperti biasa. Satu-satunya hal yang tidak biasa adalah,’dia’ tidak ikut bersama mereka.

Dengan susah payah, aku memindahkan diriku ke kasur dan merebahkan diri di atasnya.

Rasanya aneh, minggu lalu, aku dan teman-temanku yang menginap di sini masih bisa berloncatan di atas kasur raksasa ini. Tapi sekarang?

Dari jendela di belakang kasur, kulihat wajah teman-temanku yang terlihat shock setelah kakakku datang dan berbicara dengan mereka. Bahkan pasangan centil yang biasanya berteriak-teriak heboh melihat kakakku pun terdiam. Mereka lalu pamit, dan mengayuh sepeda mereka menjauh.

Kupendam wajahku di bantal. Mereka bahkan tidak berniat mengunjungiku. Sudah beberapa hari aku tidak masuk sekolah karena aku berada di rumah sakit. Memang tidak sendirian. Ibu, dan kakakku bergantian menungguiku. Tapi tetap saja, rasanya sepi.

Aku juga masih harus datang lagi ke rumah sakit secara rutin beberapa kali seminggu. Padahal aku paling benci rumah sakit, membayangkan dinding putihnya yang suram, orang-orangnya yang tidak ramah, bau obat yang menyengat dan wajah muram orang-orang di sana saja sudah membuatku mual.

Hari ini hari Sabtu, berarti aku harus menginap lagi di sana. Ah! Tidak seru!

Samar-samar terdengar suara ibuku yang penuh kekhawatiran memanggilku, sebagai isyarat agar aku bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Dengan malas aku menyahut dan kakakku memasuki kamarku, membereskan baju-bajuku yang akan dibawa ke rumah sakit.

“Kak… Sampai kapan aku harus datang ke rumah sakit bodoh itu?” Tanyaku. Kakakku menghentikan kegiatannya dan mendekatiku, meletakkan tangannya di atas kepalaku, “sampai lukamu benar-benar sembuh, kalau sampai infeksi, bisa bahaya. Aku tidak mau kehilangan adikku lagi,” lalu dia lanjut membereskan pakaianku.

Kata-katanya masuk akal. Tahun lalu, keluarga kami sudah kehilangan salah satu anggotanya. Adikku, anak bungsu di keluarga kami meninggal karena leukimia. Nilai-nilai kakakku langsung turun drastis sampai hampir dikeluarkan dari kuliahnya, untung saja dia bisa memperbaikinya lagi setelah adanya peringatan pertama.

Lalu aku, kakakku, dan ibuku pergi ke rumah sakit.

Seperti yang sudah kubayangkan, suasana rumah sakit yang kubenci ini benar-benar membuatku mual. Kakakku yang menyadari hal ini membawaku ke taman sementara ibu sibuk bercakap-cakap dengan suster dan membereskan administrasinya.

Di taman, kakakku membiarkanku menjalankan sendiri kursi rodaku dan hanya mengamati dari bangku taman. Aku cukup kesulitan mengendalikan kursi rodaku di taman yang berbatu-batu ini, tapi aku tetap menggunakannya, menjauh, menjauh, menjauh dari kakakku dan rumah sakit di belakangku. Sampai akhirnya aku menemukan pohon sakura yang sangat besar, terlihat sudah tua.

Karena terlalu asik memandangi pohon itu, akirnya aku kehilangan keseimbangan kursi rodaku dan hampir terjatuh. Untung saja ada yang menolongku sebelum aku menghantam tanah dan membuat luka yang lebih parah lagi, “kamu tidak apa-apa?”

Dengan lembut, dia membantuku kembali ke kursi rodaku,  dia tersenyum, “ah, pipimu terluka,”perlahan, dia mengusap pipiku, “mau kembali ke rumah sakit?” Aku mengangguk. Kemudian dia mendorong kursi rodaku sampai ke depan kakakku, yang langsung histeris melihat luka di wajahku, dan cepat-cepat membawaku ke dalam tanpa sempat berterimakasih padanya.

Sesampainya di dalam, mereka langsung membawaku ke kamar setelah mengobati lukaku. Sayangnya, hari ini kakak ada janji dengan temannya sementara ibu harus melanjutkan pekerjaanya, sehingga aku harus bersabar sendirian di rumah sakit ini.

Saat masuk ke kamar, aku melihat ada dua kasur di tempat itu, ibu sengaja mengatur agar setidaknya ada teman biacara di kamarku, tapi kasur itu kosong, suster bilang, orang yang menempatinya sedang menjalani pengecekan. Setelah suster memastikan bahwa semuanya ok, dia meninggalkanku sendirian di kamar ini.

Tak lama kemudian, pintu kamar dibuka kembali, teman-teman olahragaku menyeruak memasuki kamar dan langsung memelukku.
“Tidak kusangka kamu tidak masuk karena kecelakaan, kenapa kamu tidak bilang?”
“Huwaa… kami merindukanmu!”
“Tenang saja, selama kamu tidak masuk, kami telah membuat catatan untukmu!”

Aku memandangi mereka satu per satu, ‘dia’ tidak ada di sini, jadi agak sedih, tapi tak apalah. Kami menghabiskan waktu dengan mengobrol dan bermain, sampai akhirnya pintu kamar dibuka kembali,  salah satu temanku masuk, diikuti oleh ‘dia’. ‘Dia’ datang!

Sayangnya, saat ‘dia’ datang, efek samping obat yang diberikan oleh suster itu baru terasa, sehingga aku menjadi sangat mengantuk dan nyaris tertidur, tapi teman-teman sudah menganggapku tertidur, padahal belum, aku mendengarkan pembicaraan mereka.

“Kami pergi membeli minum dulu ya, kalian mau?” Lima orang anak meninggalkan ruangan bersama-sama, sehingga hanya tinggal empat orang dan aku di ruangan ini.

Salah satu dari mereka memulai “Bagaimana? Kamu tau dia menyukaimu kan?”
“Aku tahu, aku juga tertarik padanya,” ‘dia’ menjawab. Betapa senang diriku mendengar jawabannya, “tapi,” aku tertegun, “dia sekarang cacat. Sudah tidak menarik lagi. Lebih baik cari yang lain saja,” lalu dia tertawa.

Perasaanku serasa tercabik-cabik mendengarnya, diam-diam aku menangis, agar ‘dia’ dan yang lainnya tidak tahu. Sampai aku benar-benar tertidur.

Saat bangun, hari sudah malam, dan kasur di depanku sudah ada yang menempati. Dia anak yang menolongku tadi!
“Ah, kamu yang tadi.”

Dia, yang sedang membaca buku, mendongak, “iya,” dan tesenyum lagi. Lalu dia turun dari kasurnya dan berjalan medekatiku, “kamu tidak apa-apa? Lukamu masih sakit?”
“Sudah tidak apa-apa”
“Syukurlah…”

Dia terdiam sebentar, memikirkan sesuatu, “temanmu…,” dia bergumam, “jahat….”

Aku teringat lagi kata-kata’nya’ tadi. Dan mulai menangis lagi, dia panik, mencoba menenangkanku, tapi gagal. Sampai akhirnya, dia hanya diam saja menungguku tenang dengan sendirnya.
“Sudah baikan?” Dia menawarkan tisu untukku, yang langsung kuterima dan kugunakan.

“Mau kubantu ke kamar mandi? Untuk mencuci muka, mungkin?” aku mengangguk. Diangkatnya badanku dengan perlahan, dan didudukkannya ke kursi roda yang dia duduki sebelumnya, dan mengantarku ke kamar mandi, membantuku mencuci muka dan menjaga agar pakaianku tidak basah, kemudian mengantarku kembali ke kasurku.

Hari makin larut, tapi aku tidak bisa tidur, kata-kata’nya’ tadi siang masih terngiang-ngiang di telingaku, membuatku hampir mengangis lagi. Dan dia, seseorang yang sampai saat ini masih membaca bukunya di kasur di depanku, menyadarinya.

Tapi aku tak pernah menyangka dia akan mulai bernyanyi, suaranya merdu dan lembut, seolah membelaiku yang menyembunyikan mukaku di balik bantal. Dan akhirnya aku dapat tertidur.

Keesokan paginya saat aku terbangun, kakakku sudah berada di sini, sementara kasur di depanku kembali kosong. Aku tidak menceritakan apapun kepadanya, dan dia tidak curiga ketika aku menjawab pertanyaan ‘bagaimana kemarin’-nya dengan kata ‘membosankan.’

Suster masuk membawa sarapanku sementara aku menarik selimutku lagi, kemudian dia memberitahu kakakku jadwalku hari ini. Aku tidak akan bisa bebas kemana-mana sampai jam 12, dan jam 5 nanti aku boleh pulang setelah melakukan pengecekan terakhir hari ini.

Aku menjalani pagiku dengan berbagai pengecekan yang menurutku tidak penting, lalu terapi dan olahraga tangan. Haaah… Membosankan. Untuk apa juga semua ini? Toh kakiku tidak akan berfungsi lagi seperti dulu. Bodoh…

Jam makan siang akhirnya tiba, aku kembali ke kamar dan naik ke kasurku. Kuintip sedikit kasur di hadapanku yang terhalang tirai. Ada beberapa orang di sana, anak yang kemarin juga pasti sudah kembali, dengan seorang dokter dan suster yang berbicara dengannya. Sebenarnya, hanya dokternya yang terus berbicara, sementara anak itu hanya diam saja, entah dia mendengarkan atau tidak, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas dari sini.

Kemudian ibuku masuk bersama kakakku, mengajakku untuk makan di kantin rumah sakit. Kakakku membantuku turun ke kursi rodaku dan mendorongnya keluar, sementara dokter masih terus menceramahi anak di kasur depanku.

Kembalinya dari kantin, aku membawa okonomiyaki yang sengaja dibuat ibuku ke taman. Cukup banyak juga dia membuatnya, sampai pangkuanku penuh oleh kotak-kotak bekal berisikannya. Hal ini cukup merepotkanku, karena aku berjalan-jalan hanya sendiri, kakak harus segera mendatangi tempat kerjanya dan ibu asik mengobrol dengan salah seorang tetanggaku yang kebetulan ditemuinya di kantin.

Aku bingung sendiri melihat beberapa anak tangga yang menghubungkan gedung rumah sakit ini dengan tamannya. Selama ini aku tidak pernah berhasil menuruni tangga tanpa bantuan, walaupun itu hanya sedikit tangga-tangga kecil.

“Nona mau kemana?” Seseorang mengangkat kursi rodaku sedikit dan membawaku menuruni tangga. Ah, itu anak di kasur di depanku!

Diapun mendorongkan kursi rodaku ke kursi terdekat, dan dia duduk di sana setelah meletakkan berbungkus-bungkus okonomiyaki yang kubawa ke meja taman.

“Wah, okonomiyaki!” Wajahnya terlihat senang ketika membuka salah satu kotak bekal di meja, “makanan kesukaanku, boleh minta satu?” aku mengagguk, dan kami makan bersama.

“Enaak” ujarnya ketika kami sudah menghabiskan semuanya.
“Tidak juga, ini ibuku yang membuatnya, aku bisa membuat yang lebih baik…,” aku terdiam sebentar, “…dulu.”

Suasana menjadi hening sejenak, aku mengingat saat-saat dulu dimana aku masih bisa membuat okonomiyaki ini sendirian. Sekarang? Kompor di rumahku saja tingginya hampir sama dengan kepalaku saat barada di kursi roda. Bagaimana aku bisa membuatnya? Apalagi ibuku sering histeris kalau aku yang sekarang memasuki dapur, padahal dulu dia sering meminta bantuanku untuk mengajarkannya memasak.

“Trrrt…”
Handphoneku berbunyi, panggilan dari ibu. Dia memintaku agar kembali ke kamar, untuk mengecek kalau-kalau aku meletakkan beberapa barang di tempat yang tidak diketahuinya.

“Aku harus kembali ke kamar,” ujarku padanya.
“Biar kubantu menaiki tangganya lagi, tapi maaf, aku tidak bisa mengantarmu sampai kamar, ada suatu hal yang harus kulakukan.”
“Tidak apa.”

Dia membantuku menaiki tangga, kemudian pergi. Dan aku membawa kursi rodaku ke arah lift, begitu keluar dari lift, aku mengarahkan kursi rodaku untuk melewati tangga, tapi ada yang tidak sengaja menyenggolku dan aku terjatuh menuruni tangga, untungnya ada yang menahanku di bawah dan menepis kursi rodaku yang menyusul terjatuh ke arahku, “ah kita bertemu lagi, lain kali hati-hati. Maaf aku harus buru-buru,” orang itu lalu pergi, orang yang sekamar denganku.

Seorang anak perempuan berambut panjang berlari turun mendekatiku, “kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?”

Aku menggeleng lemas, kupandangi kursi rodaku yang terjungkal di dekatku, aku benar-benar bersyukur dia menolongku tadi. Kalau tidak, mungkin aku harus tinggal lebih lama lagi di rumah sakit ini, dan keadaanku bisa memburuk lagi. Setidaknya, aku akan pulang sekarang, itu harapanku.

Tapi anak perempuan itu kaget, dia memperbaiki susunan kursi rodaku, mendudukkanku di sana, dan membawaku naik menuju salah satu ruangan dokter yang ada.
Aku yang menyadari akan dibawa ke dokter, berusaha menolak, “a… Aku tidak apa-apa!”
“Kepalamu berdarah, apa kamu pikir itu tidak apa-apa?”

Kepalaku? Berdarah? Baru kusadari rasa perih yang datang dari kepalaku. Pandangan mata kananku memerah lagi, seperti saat kecelakaan waktu itu.

Begitu membuka pintu salah satu ruangan dokter, dokter itu langsung mengobatiku tanpa aku harus mengantri ataupun membayar, aneh.

“Tumben kamu mau menolong orang lain, Rika,” dokter itu bicara.
Anak perempuan itu, Rika, diam saja, dia malah memandangi taman dari jendela, “karena dia bahkan menolongnya, masa aku membiarkannya begitu saja? Sudah, aku mau kembali ke kamar,” dia berjalan menuju pintu, “permisi,” dan pergi.

Dia? Siapa?

“Kamu beruntung, Rika mau menolongmu. Padahal biasanya kalaupun ada orang yang dikeroyok bahkan diancam menggunakan pisau, dia bahkan hanya diam saja menontonnya,” dokter itu berkata, “sudah, tapi sepertinya kamu harus tinggal di sini beberapa hari. Aku hanya bisa memberikan pertolongan pertama. Apa kamu sedang dirawat di sini?”

Aku mengangguk, dia mengantarku ke kamar. Ibuku langsung histeris dan pucat ketika melihatku. Dia sudah mendengar kabar tentang jatuhnya seorang anak berkusi roda yang menyebar di antara para suster. Dia langsung memelukku erat-erat dan langsung menyetujui usul dokter itu untuk membuatku tetap tinggal di sini untuk beberapa hari lagi.

Hah?! Jadi aku masih harus tinggal di sini!? Membosankan!

Jadilah, sore ini aku tidak jadi pulang. Bahkan gantungan infus di sebelah kasurku malah bertambah.
Hhh…

Hari ini kakak kerja sampai malam, dan ibu kupaksa pulang, karena kujamin rumah pasti dia tinggal dalam keadaan berantakan. Kalau ayah? Jangan ditanya, dia hanya peduli soal pekerjaannya, siang maupun malam, bahkan dalam liburan panjang, atapun saat kematian adikku sekalipun, jarang sekali aku bisa melihat sosoknya.

“Kamu tidak apa-apa?” Seseorang masuk ke ruangan, “untung saja aku sedang berada di sana tadi, tapi, kamu terluka ya?” Dia menyentuh lukaku.

Aku diam saja, entah kenapa. Mungkin aku masih lemas karena kekurangan darah, atau karena hal lainnya. Entahlah, aku tidak peduli.

Aku memperhatikan sekitar, baru saja kusadari bahwa aku tidak mengetahui namanya, kutelusuri kasur di depanku, tidak tertulis.

Aku memberanikan diri untuk bertanya, “Umm… Namamu siapa?”
“Ren”

Selesai.

Kami tetap terdiam sampai beberapa saat setelah itu. Bahkan sampai malam tiba dan aku mulai tertidur.

Esok harinya sampai siang, aku tidak bertemu lagi dengan Ren, dan siang harinya, aku pulang. Dirumah, kujelajahi tiap-tiap bagian dirumahku seolah aku tidak pernah memasukinya sebelumnya. Dan aku memasuki dapur, kupandangi kompor yang tingginya hampir sama dengan kepalaku karena aku duduk di kursi roda ini. Lalu perhatianku teralih ke arah lemari penyimpanan yang bahkan lebih tinggi lagi.

Tapi kulihat sekantung tepung terigu tegeletak begitu saja di atas meja. Pasti ibu lupa mengembalikannya. Aku mengambilnya, dan berniat mengembalikannya ke lemari di bagian yang bisa kugapai.

Gerakanku terhenti di tengah jalan menuju lemari. Ren bilang, dia suka okonomiyaki kan? Bagaimana kalau kali ini kucoba buatkan untuknya?

Kugerakkan kursi rodaku menuju kulkas untuk mengambil beberapa butir telur, tapi, “Hei! Apa yang kau pikir kau lakukan?” Kakak memprotesku.

“Bersiap-siap untuk memasak,” jawabku santai. Yang ditanggapi kakakku dengan mengembalikan bahan-bahan yang sudah kuambil ke tempatnya, “KAK! Sudah lama aku tidak memasak! Setidaknya ijinkan aku! Hari ini saja…”

Kakakku terdiam sebentar, berpikir. Dia tahu aku suka memasak, selain juga berolahraga. Hampir setiap hari aku memasak makan malam untuk aku, kakak, dan ibuku. Dan kakakku selalu memintaku untuk memasak setiap hari-hari spesial.

“Baiklah, tapi hanya hari ini,” dia memberikan bahan-bahan yang dia ambil kepadaku, “dan aku harus berada di sini.”

Dia membantuku mengambilkan alat dan berbagai bahan yang kubutuhkan, lalu dia hanya diam memandangiku mencampur bahan-bahannya.

“Trrrrrrt…”
Telepon rumah berdering, kakakku bangkit ke ruang keluarga untuk mengangkatnya, meninggalkanku sendiri di dapur setelah aku menyalakan kompor, saat yang paling membuatku tegang karena aku bahkan tidak bisa melihat permukaan kompor tersebut.

Perlahan kutuangkan sebagian adonan ke penggorengan, kubiarkan beberapa menit dan kubaliknya. Okonomiyaki yang pertama kuselesaikan dengan baik. Dan terus sampai dengan okonomiyaki ke 4.

Tapi saat membuat okonomiyaki ke 5, peganganku terlepas dan aku menjatuhkan penggorengannya. Aku yang panik tak sengaja menyenggol piring okonomiyaki yang sudah jadi hingga piring itu terjatuh, walaupun aku bisa menyelamatkan satu okonomiyaki di antaranya. Dapur menjadi berantakan dalam sekejap setelah sebuah suara berisik terjadi.

Kakak langsung datang begitu mendengar suara-suara itu. Dan dia begitu terkejut melihatku menangis karena tanganku yang terkena penggorengan panas, dan karena apa yang dia takutkan terjadi.

Kakakku segera mengambilkan obat luka bakar dan mengoleskannya, dan membawaku kembali ke kamarku. Dan mungkin, setelah itu membereskan dapur yang hancur karenaku.

“Halo~”
Sebuah suara memanggilku dari jendela kamarku, aku membuka jendela yang berada tepat di belakang kasurku dan Ren dengan santai memasuki kamarku.

“Kenapa kamu ada di sini?”
“Lukamu tidak apa-apa?” dia mendekatiku, “loh? Malah bertambah?”
“Gara-gara ini,” aku menunjukkan padanya satu-satunya okonomiyaki yang berhasil kuselamatkan dari kejadian tadi, dan dia malah tertawa.

“Kejam!” Aku setengah berteriak, walau hanya bercanda, dia tetap tertawa dan aku melemparnya dengan bantal.

Setelah berhasil meredakan tawanya, dia memungut bantal itu dan mengembalikannya padaku. Kemudian mengambil garpu yang kubawa dan siap memotong okonomiyaki yang terselamatkan itu, “wah, gothic okonomiyaki~”

Aku bingung, bercampur kaget dan geli, setelah menyadari bahwa satu-satunya okonomiyaki yang berhasil kuselamatkan ternyata gosong.

Tapi dia menusuk potongan yang dia buat dengan garpunya dan siap memasukkannya ke mulut, yang otomatis kutahan sebelum dia memakannya.

“Kenapa?”
“I… itu tidak enak! Warnanya saja…” aku berusaha melarangnya memakan gothic okonomiyaki itu. Tapi dia tetap memakanya.

“Enak kok.”
“Bohong!”
“Coba saja,” dia memotong sedikit, dan menawarkannya padaku. Aku menggigitnya.

Enak. Padahal warnanya sangat meyakinkan bahwa ini akan terasa pahit. Tapi rasanya lebih baik dari apa yang kubuat sebelumnya. Bagaimana bisa?

Ren hanya tersenyum, kami menghabiskannya berdua, sebelum akhirnya dia berkata, “aku harus pergi sekarang.”

Lalu dia memberikan sebuah kalung padaku, mengalungkannya di leherku, “kenang-kenangan dariku,” dia tersenyum, dan berdiri diam di depan jendela lainnya, “sayonara, waktuku sudah habis.”

Dia yang sebelumnya menghadap ke arah jendela berbalik melihatku, dan perlahan, tubuhnya makin transparan, seolah menghilang, lenyap begitu saja.

“REN!” Aku langsung turun dari kasur, tapi aku lupa bahwa kakiku sudah tidak bisa membantuku berdiri lagi. Sehingga aku jatuh begitu saja disamping kasur.

Ren mendekatiku dan memelukku, terasa hangat, padahal badannya sudah menghilang separuhnya. Dia sempat membisikkan sesuatu, sebelum dia benar-benar menghilang, “REEEEN!!”

Pintu kamarku tiba-tiba dibuka, “ada apa?!” Kakakku yang terlihat panik seger menghampiriku, “kamu terjatuh?”

Dia lalu membantuku naik kembali ke kasurku, lalu bertanya, “ada apa?”

Perlahan aku menangis, dan mulai bercerita, “Ren… Ren menghilang, anak lelaki yang waktu itu menolongku saat aku terjatuh di taman, anak yang satu kamar denganku saat di rumah sakit.”

Tapi penjelasanku malah membuatnya bertambah bingung, “anak lelaki? Yang menolongmu di taman? Sekamar denganmu?”

Aku mengangguk.

“Tapi saat itu, tak ada seorangpun di taman, dan yang sekamar denganmu saat di rumah sakit waktu itu anak perempuan, dan dia sedang berada di ICU.”

Kami berdua terdiam, sama-sama kaget dan bingung. Ren itu laki-laki, kenapa kakak berpikir dia perempuan, dan dirawat di ICU pula. Dan jelas-jelas mereka bertemu saat di taman, karena Ren mengantarku sampai ke depan kakak. Masa kakak tidak melihatnya?

“Sudah, daripada tetap bingung seperti ini, lebih baik besok kita tanya saja pada suster, besok kamu ada check up kan? Nah, sekarang kamu tidur saja. Sudah malam. Selamat tidur.” Kakak mengecup keningku dan berjalan keluar kamar.

Kami pergi berdua ke rumah sakit itu keesokan harinya. Kakak langsung mengecek siapa yang sekamar denganku sementara aku menjalani check up ku. Dan sesuatu yang kuketahui sangat mengagetkanku.

Yang sebenarnya sekamar denganku adalah seorang anak perempuan berusia 10 tahun yang sering bolak-balik antara kamar itu dan ruang ICU.

Aku terkaget-kaget mendengarnya, “itu karena Ren bukan benar-benar manusia,” kata suara yang berasal dari belakangku dan kakakku, “dia adalah seseorang yang meninggal karena kangkernya beberapa tahun lalu,” dia adalah Rika, anak perempuan yang menolongku saat aku terjatuh di tangga, kemudian dia berbisik dengan suara yang sangat pelan, akupun kesulitan mendengarnya, “adik kembarku…”

“Tunggu sebentar, jadi kamu mau berkata bahwa adikku ini bisa melihat… hantu?”

Anak itu menggeleng, “aku tidak berkata begitu, bukan adikmu yang bisa melihatnya, tapi dialah yang menampakkan dirinya,” dia mendekatiku dan berbisik, “terimakasih telah menenangkan adikku,” lalu pergi.

“Tunggu!” Aku menahannya, “dimana dia sekarang? Umm… maksudku…”

“Di pohon sakura tertua di taman rumah sakit ini.”

Aku segera membawa kursi rodaku ke sana, diikuti oleh kakakku yang akhirnya membantuku mendorong kursi rodaku. Sampai akhirnya aku tiba di depan pohon itu. Tempatku terjatuh dan pertama kali bertemu dengannya waktu itu.

Kukatupkan tanganku di depannya, dan berdoa.

Beberapa menit kemudian, aku dan kakakku pergi, samar-samar aku mendengar suaranya, “terimakasih, Sakurano…”

10 responses

  1. douzo, Gha-chan ^^

    Ehehe…
    Arigatou ne~

    27 September 2008 at 10:36 pm

  2. Yoruna Nagisa

    Ketebak Mi klo Ren tuh hantu.. ^_^
    Ami t’inspired Jepang bgt y ampe setting ma nama ny jg?!
    Oh y Na bs nangkep ciri khas Ami, penggunaan kt “dia”.

    Lbh bagus yg sebelum ny, yg ni awal nya rada nanggung cz msh bingung antara mw pke bahasa baku kaya murni komik atau teenlit pd umum ny yg pke bahasa sehari-hari.
    Tp adegan penyelesaian ny ckp oke..!

    27 September 2008 at 10:59 pm

  3. Ahahaha…
    Kalo namanya itu sih karena ga ada ide😀

    Dan kebanyakan cerita yang kubuat ini buru2 gara2 adekku yang terus2an teriak minta kompu…

    =__=”

    28 September 2008 at 12:00 am

  4. nacchan-hime

    bagus sanngadh~ **mari kita applaus**
    mata aku berkaca2 loh,pas bagian ren nya ngilang trs sakurano teriak2..
    tanggung jawab lo ya klw ak mpe nangis~! xD

    6 February 2009 at 7:51 pm

  5. nyahaha
    tanggung jawab? ok

    Kamu tanggung, aku jawab😉

    6 February 2009 at 9:20 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s