The forgotten snow dust…

Someone in the Tower

“Carrie! Bantu dong! Anak-anak ini tidak mau tidur!” Seorang anak perempuan berteriak kepada temannya yang sedang duduk memandang ke luar jendela, “Carrie! Aduuh. Kenapa juga kita harus mengurus anak-anak ini?!”

Carrie yang sedari tadi dipanggil akhirnya bergerak, dia membantu Anna memberikan selimut pada anak-anak di ruangan itu, “Apa boleh buat, Ann, kita tidak punya rencana khusus selama liburan, dan nyonya Kenneth meminta kita untuk membantu di panti asuhan ini,” katanya dengan tenang.

“Tapi tetap saja! Kan masih ada anak lain di asrama! Kenapa haru…” Kata-kata Anna terhenti ketika sebuah bantal mendarat tepat di wajahnya, Carrie hanya tertawa bersama anak-anak lainnya, sementara Anna mengambil bantal itu dan mengejar seorang anak yang melemparnya, “Ayo tiduuuurrr!!!”

Sementara Anna sibuk mengejar anak itu, Carrie dengan tenang berkata pada anak-anak lainnya, “Kalian tidur ya? Besok kita akan pergi ke air terjun Evadnessa.”
“Tapi kami belum mengantuk.” “Kakak, ayo cerita saja ya!”
Anak-anak langsung ramai meminta Carrie bercerita, yang dengan tenang ditanggapi Carrie yang meminta anak-anak untuk kembali ke kasurnya masing-masing selama dia bercerita.

Dulu, di Avadinette, terdapat sebuah menara yang sangat tinggi tepat di sebelah istana. Tak ada yang tahu sejak kapan menara itu berdiri, dan ada apa di dalam menara itu. Tak seorangpun dapat menaiki menara itu hingga puncak, atau walau hanya menentuh dinding menara itu. Seolah menara itu dilindungi oleh sesuatu yang tak terlihat.

Setiap malam saat bulan menampakkan sinarnya, selalu terdengar nyanyian indah dari puncak menara itu, nyanyian yang terdengar hingga ujung Avadinette, nyanyian yang menidurkan semua yang mendengarnya, kecuali satu.

Satu-satunya orang yang justru tidak bisa tidur apabila mendengar nyanyian itu adalah tuan puteri yang tinggal di istana tersebut, Isaura Avadinette.

Tiap terdengar nyanyian itu, dia selalu terjaga, mendengar nyanyian itu hingga selesai. Nyanyian bulan, begitulah orang-orang menyebutnya. Tak pernah sekalipun Isaura tertidur saat mendengarnya.

Tiap bulan muncul, Isaura selalu bertanya-tanya, “Siapa gerangan yang menyanyikan nyanyian ini? Apakah benar nyanyian ini berasal dari menara itu? Apa yang berada di sana? Apa aku bisa menemuinya?”

Sudah berkali-kali Isaura mencoba mendekati menara itu di siang hari, tapi dia tak pernah sekalipun dia berhasil, lagi dan lagi dia terlempar oleh sesuatu yang melindungi menara itu. Tapi…, pikirnya, tak pernah sekalipun aku mencoba datang pada malam hari….

Sehingga dia memilih untuk nekat, saat semua tertidur karenya nyanyian bulan, dia mendatangi menara itu. Dengan perlahan melangkahkan kakinya melewati tempat dimana dia selalu terlempar saat mencoba memasuki menara itu.

Selangkah demi selangkah dia berjalan, sampai akhirnya dia berhasil menyentuh dinding menara itu. “Berhasil!!” pekiknya dalam hati saat dia mulai menapakkan kakinya ke dalam menara.

Dia melihat ke atas. Tangga, tangga, dan tangga. Hanya itu yang bisa dilihatnya sejauh apapun dia memandang. Tapi dia sudah memperkirakan hal ini. Dengan lincah dia melewati satu per satu anak tangga yang ada, gaung suara sepatunya yang menyentuh lantai berbatu terdengar nyaring dalam menara itu.

Dia berlari, berlari dan terus berlari, tak sekalipun melihat ke belakang. Dia memutari tangga menara yang seolah tak berujung itu sepanjang malam.

Sampai akhirnya, dia menginjakkan kaki di anak tangga teratas. Anak tangga terakhir di menara itu. Dilihatnya lorong yang tidak begitu luas dengan berbagai tanaman menjalar yang masuk dari jendela-jendela besar di lorong itu. Tempat itu begitu terang, cahaya bulan tak segan masuk ke tempat itu, membuat dinding dan lantai batu di sana seolah bercahaya.

Tapi di ujung lorong, dia menemukan hal yang menarik.

Sebuah pintu tua dengan ukiran-ukiran cantik memenuhi permukaannya. Pintu itu juga terbuat dari batu, tapi Isaura tidak yakin dari batu apa pintu itu terbuat. Nyanyian bulan terdengar makin jelas ketika dia berada di sana. Membuatnya yakin, bahwa siapapun yang menyanyikan nyanyian ini, dia berada di balik pintu besar ini.

Isaura mencoba mendorong pintu itu, tidak bergerak. Lalu ditariknya, dan tak ada perubahan. Dia terus mendorong dan menarik pintu itu, makin lama makin cepat, dengan harapan agar pintu itu terbuka, dengan menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga.

“Siapa itu?” ujar sebuah suara mengagetkan Isaura.
Isaura melihat sekeliling
, tak ada seorangpun di sana, ah, mungkin cuma khayalahku saja, dia lanjut berusaha untuk membuka pintu itu.

“Siapa itu?!” sekali lagi terdengar suara itu, kali ini dengan agak membentak. Suasana tiba-tiba menjadi sunyi, nyanyian malam tak terdengar lagi, “Katakan, siapa itu!”

Menyadari bahwa dialah yang ditanya, Isaura menjawab dengan sopan, “Saya Isaura Avadinette, puteri di negara Avadinette ini, salam kenal.”
“Kau… bisa memasuki tempat ini?” suara ini tedengar kaget, “Padahal, aku saja tidak pernah bisa mengeluarkan tanganku dari jendela. Bagaimana kau bisa memasuki tempat ini?”
Isaura tak kalah terkejut, “Eh? Kamu tidak bisa mengeluarkan tanganmu dari sini? Lalu kenapa kamu memasang pelindung di tempat ini?”
“Mana kutahu, aku berada di sini bukan karena keinginanku!”

Keduanya terdiam, perlahan, seseorang di balik pintu itu bernyanyi lagi. Isaura duduk bersandar di pintu itu, sambil mendengarkan lagu yang ia sukai dengan lebih jelas, dia bertanya, “Apa kamu bisa membuka pintu ini? Akan lebih mudah untuk berbicara apabila tak ada yang menghalangi kita.”

Orang itu sekali lagi berhenti bernyanyi, “tidak, aku tidak bisa membukanya.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu bagaimana cara membukanya, pintu ini sudah terkunci sejak pertama kali aku bisa mengingat, aku tak tahu dimana kuncinya berada, dan kamu adalah satu-satunya orang yang pernah datang kemari.”

“Hmm… Siapa namamu?”
“Apa itu ‘nama’?”
“Umm… ‘Nama’ itu adalah sesuatu yang kita gunakan untuk memanggil seseorang, umm…”
“Maaf, aku tidak tahu, tidak pernah ada seorangpun yang dapat mengajariku.”
“Tapi kamu bisa berbicara dengan lancar! Itu hebat!”
“Aku hanya mendengar orang-orang di bawah berbicara, dan belajar mengikuti cara mereka membuat suara. Tapi… Aku masih tak bisa mengerti beberapa kata-kata,” suaranya jadi terdengar sedih, “Termasuk ‘nama’”. Kesunyian kembali menyayat di antara mereka.

Tapi Isaura bangun dan berkata dengan semangat, “Kalau begitu, biar aku yang memberimu nama! Islean, mirip dengan namaku, mulai sekarang aku akan memanggilmu begitu, ya?”
“Silakan,” Islean bernyanyi lagi, dan Isaura memejamkan matanya, menikmati nyanyian seseorang yang dia kagumi sejak kecil, seseorang yang kini berada tepan dibalik punggungnya, seseorang yang hanya terpisah oleh dinding dan pintu batu darinya.

Dalam benaknya terpikir cara untuk membuka pintu ini. Sampai akhirnya teringat olehnya, satu kunci kuno tak dikenal yang ada di istananya. Yang bahkan orang tuanya pun tidak mengetahui kunci apa itu. Kunci itu terlalu besar ukurannya untuk pintu mana pun di istananya, sehingga keluarganya berpikir bahwa kunci itu hanya pajangan biasa.

Tapi di mana kunci itu sekarang?

“Ette… Avadinette…” terdengar Islean memanggil Isaura dengan suara merdunya.
“Ya? Panggil saja aku Isaura!”
“Ava… Isaura, apa tidak apa-apa kalau kau berada di sini seharian? Ini sudah hampir pagi, apa orang-orang istana tidak akan mencarimu?”

Isaura terpaku mendengarnya, beru terbayang olehnya kepanikan orang-orang apabila dia tidak ada. Dulu, walau hanya tertidur saat memanjat pohon apel hingga larut, ayah dan ibunya memerintahkan seisi kota untuk mencarinya.

“Huaaaaaaaaaaa!! Maaf! Aku harus pergi!!” Isaura cepat-cepat berlari menuruni anak-anak tangga satu per satu. “Hati-hati.”

Keesokan sorenya, Isaura dengan mudah menemukan kunci besar yang dianggapnya sebagai kunci pintu di menara itu, karena memang kunci itu dipajang di dalam kamarnya. Dan memutuskan untuk mendatangi Islean lagi malam ini.

Malam pun tiba, sesaat setelah suara nyanyian terdengar, Isaura langsung melesat menuju menara itu, kembali menaiki anak-anak tangganya satu per satu.

Pada akhirnya dia sampai ke puncak menara, “Halo,” Islean langsung menyapanya ketika Isaura menginjakkan kaki di lantai teratas. “Iya,” jawabnya.

“Islean…, kalau pintu ini dapat kubuka, apa kamu mau keluar?”
“…,” Islean berpikir sejenak, “Mungkin. Ada apa?”
“Karena… Ada satu kunci di rumahku yang tak cocok dengan pintu manapun. Mungkin… itu kunci pintu ini…”

Keduanya terdiam, terbayang dalam benak Islean apa yang akan ia alami saat ia keluar. Kota yang ramai, taman-taman yang indah dan penuh bunga, orang-orang yang ramah, atau juga yang jahat.

“Coba saja,” ujar Islean setelah keluar dari fantasinya. Dia tidak terlalu banyak berharap, dia sudah terbiasa berada di dalam tempat itu, terkurung sendiri, hanya bisa melihat dan mendengar sesuatu terjadi tanpa melakukan apa-apa.

“Klek”

Terdengar bunyi lemah dari pintu yang menghalangi mereka. Isaura berhasil memutar kunci itu. “Berhasil…,” gumamnya. Dengan semangat dia mendorong pintu itu, tapi tetap tidak ada reaksi, “Eh…?”

“Ada apa?”
“Pintu ini… tetap tidak terbuka…”

Hening. Perlahan terdengar isak tangis dari Isaura, dia sudah senang mengira akan dapat bertemu dengan Islean, dipukullah pintu di depannya.
“Isaura… Sudahlah,” Islean sudah menduga hal ini sebelumnya, sehingga dia tidak terlalu kecewa. Walaupun perlahan, dia juga menangis.

Tangan kanan Isaura tergores duri dari tanaman menjalar di pintu itu hingga darahnya menetes perlahan, tapi dia tidak peduli. Tanpa disadarinya, pintu itu menghisap darahnya.

Tak lama, saat Isaura masih memukul dan mendorong pintu itu, ia jatuh terjungkal ke depannya, menabrak Islean yang berada tak jauh dari pintu hingga mereka berdua jatuh bersamaan, menimpa satu sama lain.

“Aa… maaf!” Isaura segera berdiri dan memandangi seseorang di depannya, seseorang dengan wajah yag sama dengannya.

Keduanya kaget, tak mengira bahwa mereka akan melihat wajah yang sama. Hanya warna rambut, mata, dan kulit yang membedakan mereka. Isaura dengan mata semerah batu ruby dengan rambut emas, serta kulit sedikit kecoklatan terbakar matahari. Sementara Islean dengan rambut perak dan kulit pucatnya, terus memandang balik dengan mata birunya.

Isaura membantu Islean berdiri dan mengalungkannya sebuah liontin berwarna keemasan, lalu memandangi pintu yang tiba-tiba terbuka. Tapi Islean memikirkan hal lain.

Sesuatu mengganjal dalam pikiran Islean, dorongan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Manusia…”

Gumamnya pelan, tanpa disadari oleh Isaura yang masih memperhatikan pintu itu. Sementara Isaura begitu,  mata Islean yang berubah menjadi kuning mengarah ke tangan Isaura yang masih meneteskan darah.

“Darah…”

Perlahan Islean mendekati Isaura, tangannya menggapai bahu Isaura dan mulutnya mendekati lehernya.

“Islean? Apa yang kamu laku… ukh…” kata-katanya terhenti karena menahan rasa sakit di lehernya. Bisa dirasakan olehnya darahnya yang berkurang, sedikit demi sedikit, mengalir dari lehernya.

“Isle…an…,” Isaura menjadi lemah, tidak bisa menolak Islean yang tiba-tiba menggigit lehernya dan menyedot darahnya. Sampai akhirnya Islean tersadar, dan lansung melompat ke belakang menjauhi Isaura.
Dengan tangannya dia menghapus tetesan darah Isaura dari mulutnya dengan kaget, “apa… yang kulakukan…?”

Isaura juga terdiam, dia mencoba berdiri, tapi sulit. Badannya menolak untuk melakukan apa yang dia inginkan.

Sementara dari jendela, terlihat langit yang mulai terang.

“Islean… aku… harus kembali… maaf…,” terus Isaura mencoba untuk berdiri, walaupun tidak pernah sekalipun dia berhasil.

Dengan ragu Islean mendekati Isaura, dan perlahan membawanya keluar ruangan itu, menuruni tangga satu per satu.

“Islean?”
“Ma… af… aku tidak mengerti kenapa aku melakukannya aku…”
“Tidak apa-apa. Tapi kenapa kamu menggendongku? Aku kan tidak ringan,” Isaura melingkarkan tangannya pada leher Islean, berpegangan dengan erat.
Islean terdiam, “maaf,” dan terus mereka menuruni menara itu dalam kesunyian.

Baru sampai di depan pintu menara itu Islean bicara, “Sebagai permintaan maafku, aku akan membawamu ke kamarmu,” dia terus berjalan menuju luar menara yang mulai terang.
“Jangan! Bisa-bisa para pengawal menangkapmu!,” Isaura turun dari punggung Islean, “Lagipula aku sudah tidak a…,” tapi ia langsung terjatuh, untungnya Islean menangkapnya
“Apa ini kau katakan ‘tidak apa-apa’? Apapun yang kamu katakan, aku akan membawamu ke sana,” Islean menggendong Isaura kembali.
“Tapi kamu vampir kan?”

Langkah Islean terhenti dan Isaura terus berbicara, “Dari apa yang kubaca, vampir bisa terbakar kalau terkena cahaya matahari, jadi…”

Islean menghela napas, “Setidaknya kalau kamu berada di luar, akan ada seseorang yang menolongmu, tapi di sini?” dia lanjut berjalan, “tak seorangpun bisa memasuki menara ini, kan?”
“Jadi kamu mau membunuh dirimu sendiri!?”

Tapi terlambat, angin sejuk menerpa mereka berdua, mereka sudah ada di luar.

Sepanjang jalan, Isaura berdoa agar Islean tidak apa-apa. Hari masih pagi sehingga matahari belum terlalu terasa. Tapi perjalanan menuju istana akan memakan waktu cukup lama dengan kecepatan berjalan Islean, belum lagi kalau ada para pengawal yang menghambat mereka. Kalau begini, bagaimana cara Islean kembali nanti?

Perlahan, Isaura mulai kehilangan kesadaran, sehingga dia tertidur di punggung Islean.

Tibalah mereka di gerbang utama istana. Sesuai perkiraan, dua orang penjaga langsung mencegat Islean.

“Ada urusan apa kamu kemari, nak?”
“Saya akan mengantar nona Isaura ke kamarnya, permisi,” dengan sembarangan Islean melewati dua orang penjaga tersebut dan terus berjalan memasuki istana.
“Hey! Apa-apaan kamu!” Kedua pengawal itu mengejar Islean dan memperhatikannya.

Terlihat oleh mereka baju Islean dan Isaura yang terdapat noda darah, dan daerah sekitar bibir Islean yang berwarna sama. Mereka terkejut, tapi tidak takut. Diacungkannya pedang mereka  dan menyerang Islean, yang dapat mengelak dengan mudah.
“Maaf, tapi aku sedang buru-buru.”

Islean berlari cepat, kedua pengawal yang tidak bisa mngejarnya itu mengirim pesan bahwa ada seseorang yang menyusup ke dalam istana.

Pesan itu tentu membuat panik seisi istana. Apalagi dengan kabar, ‘Orang itu membawa tuan puteri di punggungnya,’ yang membuat orang mengira tuan puteri diculik.

Tapi Islean kini sudah berada di depan kamar Isaura, sementara di luar matahari sudah meninggi. Setelah meletakkan Isaura di atas ranjang mewahnya, dia segera berjalan menuju pintu, dimana para pengawal, raja, ratu, dan pendeta istana sudah siap menunggunya.

Islean hanya diam menuruti kata-kata sang raja, sementara ratu dan dokter kerajaan merawat Isaura yang masih tertidur.

Dan pendeta istana dengan mudah menyimpulkan bahwa Islean adalah vampir, di depan raja dan ratu, yang pada akhirnya meminta agar hal ini di rahasiakan. Islean tidak berkata apapun saat raja dan ratu bertanya padanya. Pada akhirnya, hukuman untuk Islean terlah diputuskan, seharian berada di bawah sinar matahari yang akan sama saja dengan hukuman mati baginya.

Setelah mereka selesai menginterogasi Islean, Islean dengan santai berdiri dan berjalan keluar ruangan, “Mau ke mana kamu!?” teriak sang ratu.

“Menjalani hukuman,” lalu Islean dengan cuek berjalan keluar, diikuti oleh pendeta istana, meninggalkan raja dan ratu yang kebingungan.
Pendeta istana juga bingung dengan sikap Islean. Baru kali ini dia melihat bangsa lain selain manusia yang dengan mudah menuruti perintah mereka.

Tiba di perbatasan antara taman dan bangunan, Islean masih berada dalam bayang-bayang bangunan. Beberapa senti di depannya, cahaya matahari membuat garis-garis yang hampir menyentuh kaki Islean.

Islean menarik napas panjang, dan melangkahkan kaki kanannya ke arah cahaya ketika pendeta istana menahannya, “Tunggu sebentar!”
Dengan malas Islean menengok, “Sebenarnya, kenapa nona Isaura bisa berada bersamamu? Kalau kamu menjawab, hukuman untukmu bisa saja dipermudah.”

Islean melepas tangan sang pendeta yang menahan bahunya dan menghela napas, “Bukankah aku sudah bilang?” Islean menyerang sang pendeta dengan tatapan tajamnya, “Itu bukan urusanmu.” Ditepisnya tangan sang pendeta, dan dia berlari menuju taman. Raja dan ratu datang dari dalam bangunan.

Perlahan, Islean mulai bernyanyi, lagu yang sama seperti nyanyian malam yang biasanya, tapi dengan suara yang seolah menyayat dengan suara pilunya, lain dengan lagu yang biasanya menenangkan. Walau begitu, nyanyiannya tetap saja begitu merdu untuk didengar. Menarik perhatian banyak orang di sana.

Semakin lama semakin banyak orang berkumpul untuk mendengarnya bernyanyi, bahkan rakyat biasa pun ikut memasuki halaman istana. Walau begitu, tubuh dari pemilik suara merdu tersebut makin lama makin transparan, seolah bersatu dengan udara.

Kemudian, kaki Islean perlahan menghilang bagai terbawa angin, terus menjalar ke atas. Di saat yang sama, Isaura berlari ke arahnya.

“Islean!” Isaura berteriak lantang, “Apa yang kau pikir kamu lakukan! Sudah kubilang jangan!” dia menyeruak melewati kerumunan dan memeluk Islean.

“Jangan pergi…” Isaura menangis di punggung Islean, menyembunyikan wajahnya, Islean berbalik, mengusap kepala Isaura dan mengecup keningnya.
“Tidak apa, setidaknya kau selamat,” tubuhnya makin menghilang, “Sayonara, Isaura…,” hingga akhirnya lenyap meninggalkan sebuah pisau perak kecil dan Isaura yang jatuh terduduk dan menyembunyikan wajahnya, menangis.

Tapi kemudian, dia bangkit dan melihat ke arah orang tuanya.
“Gara-gara kalian…,” gumamnya, “Gara-gara kalian… Islean lenyap…,” rasa marah dan sedih bercampur aduk dalam dirinya, “Tak akan kumaafkan….”

Isaura mengambil pisau perak kecil milik Islean, dan mencoba menyerang orang tuanya sendiri. Raja dan ratu yang kaget otomatis memerintah para pengawal untuk melindungi mereka, dan menahan Isaura. Isaura menguasai bela diri, dia adalah salah satu yang tebaik di sana. Tapi sendiri lawan banyak tentu tidak seimbang, beberapa luka tergores di badannya.

Raja dan ratu yang berhasil menghindar segera mendekati pendeta untuk meminta pertolongan, mereka tidak mau satu-satunya puteri kesayangan mereka berlanjut seperti itu.

Pendeta itupun mencoba ‘memanggil kembali’ Islean, walaupun dengan konsekuensi, “Seorang Vampir akan menjadi abadi apabila dia pernah ‘dipanggil kembali’ oleh seorang pendeta”. Tepat pada saat Isaura berhasil mengalahkan rakyat dan para pengawal, usaha pendeta tersebut membuahkan hasil. Islean muncul, tepat di depannya.

Isaura yang melihatnya langsung menubruk dan memeluknya hingga terjatuh. Islean balas memeluknya, tapi kemudian dia melihat luka-luka di tubuh Isaura.

“Siapa… yang melukaimu?”
“Ah, itu para pengawal. Ayah dan ibu memerintahkan mereka untuk itu, tapi tidak apa-apa. Aku…”

“Tidak bisa begitu…,” Islean berdiri dan menggenggam pisau perak kecil miliknya, dan mengarahkannya ke raja dan ratu, yang panik karena tak ada lagi seorangpun di sama kecuali mereka dan pendeta.

Kedua mata biru Islean yang berubah menjadi kuning memperhatikan raja dan ratu dengan tatapan membunuhnya. Kemudian dia berlari ke arah mereka.

Pendeta berusaha menahannya, tapi karena tubuhnya yang memang lemah, dengan mudah ia dijatuhkan oleh Islean.Lalu raja mencoba melawannya, dengan hasil Islean terlempar menjauh, dan bersama ratu, raja mencoba untuk lari.

Tapi Islean tidak selemah itu, dia kembali mengejar mereka, dan saat sudah dekat, dia menghunus pisaunya yang berubah menjadi pedang, dan menusuknya.

Tapi…

“Jangan… sakiti mereka… Isle…an….”

Tanpa diduga, Isaura menyeruak masuk di antara mereka, membuat dirinya sendiri tertusuk pedang yang digenggam Islean, dan terjatuh.
Pedang perak Islean menembus dadanya, membuatnya tak lagi bisa bertahan.

Islean terpaku melihat Isaura, orang pertama yang penting baginya, yang terbunuh oleh tangannya sendiri.

Dipandanginya sejenak pedang yang mencabut nyawa Isaura. Dan dengan gemetar, ditusukkannya pada dirinya sendiri.

“Maaf… Isaura…,” dan dia pun terjatuh.

Raja dan ratu berniat mendekati mereka berdua, tapi pendeta istana melarangnya. Mereka membiarkan pendeta itu memeriksa keadaan mereka berdua. Dan hasilnya, mereka sudah tidak ada lagi di sana.

Perlahan hujan turun, para pengawal istana dan beberapa orang rakyat yang berada di sana mulai sadarkan diri. Dan melihat Islean dan Isaura, yang telah tiada.

Sementara hujan turun makin deras, seolah turut bersedih akan tragedi hari itu.

Carrie berdiri dan merenggangkan badannya yang pegal karena duduk cukup lama untuk menyelesaikan ceritanya. Membuat Anna protes, “Eh? Sudah selesai?”
“Iya, sudah selesai.”
“Akhirnya kurang jelas!”
“Kalau memang diceritakan begitu mau bagaimana lagi? Lagipula…,” Carrie melihat sekitar, “semua anak yang ada di sini sudah tidur sejak pertengahan cerita, yang tersisa hanya kamu.”

Anna yang baru menyadari hal itu tertawa bersama Carrie, lalu mereka memberesakan bantal-bantal dan selimut yang berserakan tak terpakai kembali ke tempatnya.

“Tapi Carrie, ada yang aneh…,” tanya Anna saat mereka sedang membereskan ruangan, “Tadi di katakan, ‘ Seorang Vampir akan menjadi abadi apabila dia pernah dipanggil kembali oleh seorang pendeta’, tapi Islean yang telah berhasil di’panggil kembali’ bisa mati. Kenapa begitu?”

“Hmmm… Kenapa ya?” Carrie balas bertanya dengan suara menggodanya yang merdu, di antara bibirnya yang tersenyum jahil terselip sepasang taring kecil yang luput dari perhatian.

“Fiuh, selesai,” kata Anna, “aaah… sudahlah! O iya, Carrie!”
“Ya?” Carrie tersenyum sambil memperbaiki kuncir kuda yang mengikat rambut peraknya di depan cermin, memandangi sepasang mata biru yang balas memandangnya dan sebuah liontin berwarna keemasan yang menggantung di lehernya, pemberian dari seorang tuan puteri yang penting baginya, seorang puteri yang kini telah tiada. Kemudian mereka berdua berjalan keluar kamar, berjalan menyusuri lorong.

“Nanti sebelum aku tidur, kamu bernyanyi ya?”
“Enak saja! Memangnya aku pengantar tidur? Bercerita atau benyanyi untuk menidurkan orang lain?”
“Iya! Makanya!”
“Dasar seenaknya!”

Mereka berdua tertawa, dan hilang dari pandangan dalam gelapnya lorong bangunan kayu itu di tengah malam.

19 responses

  1. reiiinnn !! aku suka headernya !! *OOT*

    27 October 2008 at 7:07 pm

  2. @hawa_1610 :
    ahahahha…
    Udah ku link kok😉

    @irmey :
    ahahah
    iya =D
    *gubrakkkk*

    @andyan :
    sendiri…
    Dari perencanaan, penulisan, ampe pengeditan jg sendiri (nasib…)

    @saKuZo :
    dasar makhluk OOT!!😄
    Thx~!
    =3

    28 October 2008 at 2:00 am

  3. ya ya
    bagus bagus
    hmhm
    hmmm

    28 October 2008 at 9:09 am

  4. @andyan :
    jaaah~!!
    Malah “bagus bagus”

    >=p

    31 October 2008 at 11:23 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s