The forgotten snow dust…

Just an Useless Fanfic

Hujan turun dengan deras, membasahi jalan-jalan besar yang sudah kering selama berhari-hari. Serangga-serangga kecil pun berlindung dari hujan. Seseorang berlari menuju sebuah tempat kecil dengan naungan atap untuk menunggu hujan reda. Di sana, sudah ada seorang lain yang terlebih dahulu tiba.

“Hujan, sudah lama tidak turun hujan ya?” Orang pertama memulai pembicaraan.

Orang yang sudah duduk sedari tadi mengangguk dan memperhatikan orang lainnya dengan seksama, “Akito, salam kenal,” dia memperkenalkan diri pada orang yang mendekatinya itu.

“Kureei, salam kenal,” mereka berjabat tangan, “Sedang menunggu hujan reda ya?”

“Iya, disini sangat membosankan,” ujar Akito, dengan mata suntuk dia memperhatikan tetesan hujan yang jatuh dengan cepat, kemudian dia teringat akan sesuatu dan memandang Kureei dengan wajah cerah, “Sambil menunggu, bagaimana kalau kuceritakan sesuatu?

Kureei sangat antusias mendengarnya, jujur saja, sepertinya hujan masih akan berlanjut begitu lama, dan akan sangat membosankan hanya duduk diam menunggu hujan reda. “Pada suatu hari, hiduplah tiga orang sabat di suatu kota,” Akito memulai ceritanya.

 

Mereka bernama Ran Kotobuki, Miyu Yamazaki, dan Aya Hoshino. Sekolah mereka baru saja usai dan mereka sudah berjanji untuk berjalan-jalan sepulang sekolah itu.

Tapi sayangnya, Miyu dan Aya tidak bisa ikut.

“Ran… Miyu… maaf ya, hari ini aku tidak bisa ikut… Aku mau belajar bersama Otohata…”

“Iya Ran, aku juga tidak bisa ikut hari ini. Sebentar lagi ada ujian beasiswa dan aku mau belajar bersama Yamato.

Wajah Ran yang semula ceria menjadi kusut mendengarnya, “Hoaaaaah…Membosankaaaan. Yasudah, kalau begitu kita ketemuan besok saja di depan hachipoli ya! Besok kan hari Minggu!” Aya dan Miyu mengangguk, “Ya sudah, selamat bermesra-mesraan yaa!” Ran berjalan menjauh, disambut dengan teriakan dari Miyu dan Aya, “RAAANN!!!” Ran pun berlari kecil sambil tersenyum iseng mendengarnya.

 

Kureei bingung mendengar sebuah istilah asing di telinganya, “Hachipoli?”

Akito yang menyadarinya menjelaskan, “Hachipoli itu patung Hachi si anjing di depan kantor polisi.”

 

Lalu Ran yang yang sendiri berjalan-jalan santai di sekitar Shibuya tanpa tujuan.

“Huaaaaah… bokeeeek bokeeeeeek! Padahal aku mau rok denim yang dijual di tempat biasa! Menyebalkaaaan!”

Seseorang berpostur tubuh besar mendatangi Ran, “Mau saya belikan?” dengan senyum dia menawarkan Ran, yang menerimanya dengan senang hari, “Waaaaaa Mau mau! Aku Kotobuki Ran, gals penguasa Shibuya, salam kenal!”

“Nama saya Fei Wong Reed, salam kenal, ayo ikuti saya…”

Ran yang tidak mau rugi langsung memanfaatkan kesempatan ini, “Tunggu sebentar! Kalau begitu, sekalian saja! Aku mau ramen di Ichiraku, cincin Slytherin yang ada di toko itu, T-shirt biru yang di sana, lalu…”

Fei Wong kewalahan menanggapinya, sehingga dia memutuskan untuk memotong pembicaraan Ran, “Iya… iya… tapi ikuti aku ya?” dia mengedipkan sebelah mata dan pergi, diikuti Ran yang dengan semangat berjalan di belakangnya.

*****

Keesokan harinya, Miyu dan Aya yang sudah hampir satu jam menunggu di depan Hachipoli bingung, karena tidak biasanya Ran terlambat. Mereka ragu, apakah perlu untuk memberi tahu Yamato tentang ini atau tidak, tapi mereka memutuskan untuk tidak memberi tahu apa-apa pada Yamato, kakak Ran, karena mereka yakin hal tersebut akan membawa masalah baru.

Lalu handphone Aya berbunyi, Aya mengangkatnya dan disambut dengan suara Sayo Kotobuki, adik Ran.

“Ini kak Aya kan-chuu? Kak Ran ada tidak-chuu? Dari kemarin dia belum pulang-chuu. Apa dia menginap di rumah kalian-chuu?”

Aya dan Miyu bertambah kaget mendengarnya, “Eh? Dia belum pulang sejak kemarin?” “Mustahil! Padahal kemarin dia bilang mau cepat-cepat pulang untuk mencoba baju barunya!”

“Eeeh? Jadi dia tidak bersama kalian-chuu? Aduuuh bagaimana inii? Kalo ketemu tolong lapor pada Sayo ya-chuu. Daaah” Sayo menutup teleponnya, meninggalkan Aya dan Miyu yang panik dan bingung.

Aya panik, “Aduuh… bagaimana ini? Jangan-jangan Ran diculik!”

Tapi Miyu menyanggah pendapat Aya, “Tidak mungkin! Memangnya mudah menculik Ran yang seperti itu?”

“Akhir-akhir ini keuangan Ran sedang sulit, jadi mudah saja menculiknya dengan meng-iming-imingi sesuatu,” Miyu terdiam mendengar penjelasan Aya, karena itu memang benar. Bahkan Ran sampai menjual baju-bajunya di sekolah (dan membuat guru-guru memarahinya karena itu) untuk mendapat tambahan uang.

“Aku tahu bagaimana cara mencari teman kalian,” seseorang berbaju terusan kuning dan membawa payung berkata, “Aku Ms. Valentine, lihatlah karya terbaruku, personal computer berbentuk manusia—alias humanoid persocon—tipe Chobits, namanya Chii, dengan ini kalian akan dapat melacak keberadaan seseorang dengan mudah. Mau?” dia berkata seraya meniru salah satu iklan yang cukup dikenal.

“Terimakasih, ayo kita cari Ran!” Miyu menggandeng tangan Chii dan bersiap pergi mencari Ran bersama Aya.

“Tunggu dulu,” Mrs. Valentine menahan tangan Chii, “Tidak semudah itu…” membuat susana perang diantara dirinya dan Miyu.

Miyu yang menyadari aura permusuhan dari Ms. Valentine berbalik menghadapi Ms. Valentine, Chii ditinggalkannya pada Aya.

Suasana mencengkam, sampai pada akhirnya Ms. Valentine angkat bicara, “Kamu melupakan bayaranmu…”

Semua menjadi lebih sepi, meninggalkan satu suara dibelakanya mereka (“Ahooo…… Ahoooooo……”), dan dengan tidak rela, Miyu menyerahkan uang yang dimilikiya untuk membayar Chii.

Sayangnya, Ms. Valentine yang tidak puas kembali menyerang mereka, “Ada apa lagi!?”

“Kurang…”

Kembali Miyu terbengong-bengong dilatar belakangi suara seekor burung (“Ahooo…Ahooooo…”), dan dengan sedih memberikan handphone yang baru beberapa hari menjadi miliknya. “Dasar rentenir!!”

Sementara itu, di tempat lain…

Seseorang lelaki berambut putih panjang bertanya, “Bagaimana keadaan gadis itu?”

Seorang gadis lain bermata merah menjawab, “Dia tertidur pulas, mau diapakan dia sekarang?” gadis itu berambut pendek dan sedang bermain-main dengan rambut panjang saudara kembarnya yang bermata biru.

“Bulu sayapnya memiliki kekuatan besar, kita harus menjaga gadis itu baik-baik sebelum bulu-bulu sayapnya terbang ke berbagai dimensi yang tidak dapat kita raih…” Fei Wong berkata, ditimpali oleh Xing Huo, “Bagaimana dengan teman-temannya?”

Kali ini Itachi yang menjawab, “Kalau anak berambut kuning itu memiliki kekuatan Jyubi…” dilanjutkan oleh anak yang rambut panjangnya dimainkan oleh saudaranya, “Oh, bijuu berekor sepuluh yang sedang kau cari itu ya? Kalau begitu, bagaimana cara kita mendapatkan mereka?” mata birunya berkilau liar di tempat yang remang-remang itu, begitu pula dengan mata merah milik saudaranya.

“Tenang saja, Diva, Saya, kedua anak itu telah kugiring ke tampat ini dengan Chii.”

Tetapi semua memandang Ms. Valentine dengan ragu, “Apa Chii-mu itu dapat dipercaya, Ms. Valentine?”

“Tentu saja! Apa anda tidak percaya pada saya, Sesshoumaru-sama?”

“Tidak, saya aku tidak percaya. Terakhir kalinya aku melihat hasil karyamu, hal yang kudapat adalah bencana,” Ms. Valentine menundukkan wajahnya, disambut oleh tawa kecil oleh yang lainnya.

Tapi Saya, gadis bermata merah memotong tawa mereka, “Lalu, bagaimana dengan dia yang berambut hitam?”

Dijawab oleh Fei Wong, “Kita maih belum tahu, tapi dia jelas memiliki sebuah kekuatan yang unik.” Dan Xing Huo memberi usul, “Bagaimana kalau kita selidiki dia?”

“Ide bagus,” Sesshoumaru, yang sedari tadi duduk dengan tenang, berdiri, dan memerintahkan Saya dan Diva untuk menyelidiki Aya. “Baiklah, Seisshirou-sama,” Saya dan Diva pun menghilang dalam hitungan detik.


Kureei terbelalak, tidak menyangka bahwa Ms. Valentine dan Fei Wong reed itu jahat. Sementara hujan mulai tidak terlalu deras, Akito melanjutkan ceritanya.

 

 

Miyu dan Aya terus berjalan mengikuti Chii, sampai seseorang dengan mata biru dan rambut panjang mendatangi mereka, “Tolong! Kumohon, tolonglah! Kakakku menghilang sejak beberapa hari lalu, aku tidak bisa menemukannya. Tolong carikan dia,” kata Diva pada Aya dan Miyu, sementara sepasang mata milik Saya memandangi mereka dari balik semak-semak.

“Pada siapa kita bertanya kalau tidak tahu jalan?” Tanya Miyu, dan dijawab oleh Aya, “Chii!”

“Tenang saja,” Chii berkata pada Diva setelah melakukan pencarian, “Saudaramu itu berada dekat dari sini.”

“Uwa… terimakasih telah membantu,” Diva menggenggam tangan Aya dan menyelipkan selembar kertas, “Aku sanga…”

“Aku merasakan aura jahat darimu, tunjukkan sosok aslimu, penjahat!” Muncullah sesosok bertubuh tinggi dan membawa pedang, “Hama Ryuuoujin!” teriaknya seraya melakukan gerakan-gerakan menyerang pada Diva.

Diva yang tidak siap hampir saja terkena tebasan orang itu, sayangnya Saya yang mengamati dari kejauhan membawanya pergi. Kurogane lalu mengambil kertas yang diselipkan Diva pada Aya, dan melemparnya jauh-jauh, tak lama kemudian, kertas mantra itu meledak.

“Kurogane, kereeeeen!” Teriak Chii, Kurogane bingung, bagaimana dia bisa mengetahui namanya dan Miyu menjelaskannya, “Chii bisa mendeteksi orang,” Kurogane mengangguk.

“Terimakasih ya… kalau kamu tidak ada kita pasti sudah terluka” ujar Aya. Kurogane mengangguk lagi dan bersiap pergi, Chii mengikutinya, “Chii mau ikut Kuro-riin!”

“Jangan panggil aku Kurorin dan jangan ikuti aku!”

“Kyaa… Kuro-tan sereeeem”

“Selamat menempuh hidup baru ya!” “Semoga bahagia!” Aya dan Miyu ikut menimpali.

Kurogane pun pergi sambil marah-marah karena diikuti oleh Chii, Aya dan Miyu melambaikan tangan pada mereka sampai akhirnya sadar bahwa mereka tidak bisa ke mana-mana tanpa Chii.

“AAAAAA!! UANGKU TERBUANG SIA-SIA!!”

Sementara Aya menenangkan Miyu yang marah-marah, seorang perempuan berambut oranye datang dan bersembunyi di belakang mereka, beberapa saat kemudian, datang juga seorang lelaki berambut pirang yang memakai jas mengejarnya, (“Namii… Namiiiii…”), dia mendekati Aya dan Miyu lalu bertanya, “Apa kalihat melihat Nami-ku sayang, wahai gadis-gadis cantik?”

Miyu dan Aya kebingungan, sementara dari jauh terdengar lagi sebuah suara dari seseorang bertopi jerami, “Sanjiiiii! Aku lapaar, buatkan aku makaaan!”

“Bagaimana bisa? Bahannya saja tidak ada!”

Aya dan Miyu makin kaget ketika melihat seekor rusa kecil bertopi merah lewat di depan mereka dan berjalan dengan dua kaki. Luffy dan Sanji yang sedang bertengkar melihatnya, dan berkata seraya mengejar rusa tersebut, “Daging rusaaaaaaa!!!”

“Waaaa!” Rusa itu berlari menyelamatkan diri, diikuti oleh dua orang kelaparan di belakangnya. Miyu dan Aya makin bingung.

“Biar kujelaskan,” seseorang datang lagi, “sebelumnya, namaku Robin. Kapal bajak laut kami karam dan terdampar di sini sejak dua hari lalu, dan semua bahan makanan kami hanyut terbawa ombak.”

“Begitulah sehingga kami sudah dua hari tidak makan, dan membuat kedua orang tersebut menjadi gila. Namaku Nami, orang bertopi jerami itu Luffy, yang berambut pirang itu Sanji, dan rusa itu bernama Chopper” Nami melanjutkan.

Tapi tak lama setelah itu, lelaki berambut hijau mendatangi mereka sambil membawa sebuah karung besar di punggungnya.

“Ini… upah part-time ku selama dua hari,” Sanji dan Luffy berhenti mengejar Chopper dan bersama menggotong karung yang berat itu.

“Makanaaaaaaaaaan!!” Luffy berteriak keras sambil menggotong karung itu, sementara Sanji mengedipkan mata dengan genit kepada keempat perempuan di sana, “Tenang saja, akan kubuatkan masakan terenak untuk kalian, Nami, Robin, dan errr…”

“Aya Hoshino,” “Miyu Yamazaki,” mereka memperkenalkan diri.

Robin menghela napas melihat kawan satu kapalnya yang begitu ribut, dan mengajak Aya dan Miyu, “Kalian berdua juga ikut saja, masakan Sanji enak lho…”

“Dan sepertinya kalian ada masalah, akan kami bantu sebisa kami,” ujar Chopper.

“Namiiiii… Zorooooo… Robiiiiiin… Chooppeeeeeer… Ayo makaaan!!” teriak Luffy. Dan mereka berjalan menuju kapal bajak laut itu.


“Wah wah waaaah… yang ikut Aya dan Miyu jadi banyak ya booo…” Kureei berceloteh dengan logat yang berbeda dengan sebelumnya. Akito menyadari hal itu, tapi dia menganggap itu hanya karena suara hujan yang mengaburkan pendengarannya.

 

 

Sementara Miyu dan lainnya sedang makan-makan, Sasuke duduk merenung di barang sebuah pohon, “Lihat saja, Itachi Uchiha… aku akan membalaskan dendamku padamu. Walaupun saat ini aku tidak tahu dimana kamu berada, Aku akan mencarimu, dan pada saat kita bertemu lagi, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, aku akan membu…” kata-kata Sasuke terhenti karena dia kaget dengan sebuah shuriken yang melayang ke arahnya, disusul dengan seorang perempuan berpakaian gothic dan berambut pirang sebahu.

“Sasuke-kuuuun! Dari mana saja? Misa mencarimu lho!”

Sasuke menghela napas, padahal sudah susah payah dia menghindari Misa Amane, fans beratnya yang selalu mengikuti dia kemana saja.

Dan seseorang mendekati mereka, seseorang dengan wajah yang sama seperti Chii, “Kau sedang mencari Itachi, kan? Aku bisa menunjukkannya padamu”

“Iya! Tunjukkan padaku!”

“Tapi ada bayarannya,” gadis itu berkata, “Hubunganmu dengan kakakmu.”

“Apa maksudmu? Siapa kamu?”

“Namaku Freya,” Freya memberi isyarat pada Sasuke untuk turun, dan Sasuke menurut, diikuti pula oleh Misa,“Jadi, kalaupun kau bertemu dengan kakakmu, Uchiha Itachi, hubungan kalian berdua tidak akan seperti dulu lagi…”

“Baiklah, aku setuju. Tunjukkan jalannya padaku!”

“Baiklah,” Freya memandangi Misa dengan tajam, “Pacarmu boleh ikut, tapi aku tidak akan bertanggung jawab apabila sesuatu terjadi padanya…”

“Eh? Pacar?!” Wajah Sasuke memerah.

“Kyaa… Sasuke malu-maluuu,” dan mereka bertiga berjalan pergi dari tempat itu.

Setelah makan, Aya dan Miyu melanjutkan perjalanan mereka diikuti pasukan bajak laut yang dipimpin Luffy tersebut. Dengan kemampuan melacak jejak yang dimiliki Nami, mereka sampai dengan cepat ke tempat para antagonis.

Miyu dan Aya memandangi dengan seksama tempat teman mereka disekap, dan seseorang keluar dari pintu tempat itu.

“Kami sudah menunggu kalian,” ujar Xing Huo, orang yang pertama keluar dari tempat itu, diikuti oleh Fei Wong, Ms. Valentine, Saya, Diva, dan Itachi. Mereka saling memandang dengan pandangan penuh permusuhan.

Perang pun terpecah. Nami dan Robin maju melawan Ms. Valentine yang terbang sehingga mereka tak dapat menggapainya. Luffy menyerang Seika yang menghindar dengan anggunnya. Sanji memasukkan tangannya ke dalam kantung celananya, bersiap untuk melawan Fei Wong. Zoro mengeluarkan ketiga pedangnya yang disambut dengan Saya yang melumurkan pedangnya dengan darahnya sendiri. Diva tersenyum manis di hadapan Miyu, berusaha membuatnya lengah. Dan Aya, berhadapan seorang diri dengan Itachi.

Perlawanan Nami dan Robin seolah sia-sia, tak satupun serangan mereka mengenai Ms. Valentine, sementara mereka terus terkena serangannya. Seika tetap menghindar dengan anggun dan terkadang menggunakan sihir yang sama dengan Fei Wong untuk menangkis serangan lawannya. Terbiasa bertarung, Saya terus menyerang Zoro dengan pedang dan mata merahnya yang menyala liar, membuat Zoro kewalahan menghadapinya. Sementara Miyu dan Diva bersaing ketat dengan mesin para-para dance yang entah kenapa berada di sana.

Chopper? Ah, aku lupa bilang, dia diminta oleh Luffy dan lainnya untuk menjaga kapal.

Tapi Aya yang berhadapan dengan Itachi, langsung lemas begitu melihat matanya.

Miyu menyadarinya, dia mendorong Aya dan menutup matanya, “Jangan lihat matanya!”

Otomatis Miyu keluar dari pertarungannya, sehingga Nami menggantikannya sambil mengedipkan mata seolah berkata, ‘Serahkan saja padaku!’

“Aya? Kamu tidak apa-apa?” Aya masih terkapar lemas, membuat Miyu marah dan kehilangan kendali, “Beraninya kamu melukai temanku!”

Aura berwarna merah menyelimuti Miyu, membentuk seperti bayangan ekor pada dirinya, “Wah, wah… Satu ekormu sudah keluar ya? Tapi sayang sekali,” dengan satu pukulan, Itachi menjatuhkan Miyu dan menangkapnya, “Hanya karena itu, bukan berarti kamu bisa menandingiku…”

“Jangan sakiti Miyu!” Teriak Aya, dan dia berubah.

“Dengan kekuatan bulan, aku akan menghukummu!”

“Itachi Uchiha!!”

Baru saja Aya hendak menyerang Itachi, Sasuke datang dan langsung menyerangnya, membuatnya melepaskan Miyu yang ada dalam tangannya. Pada saat yang sama, Nami berhasil mengalahkan Diva, dan kembali membantu Robin melawan Ms. Valentine.

Pertempuran berlangsung sengit, tapi tiba-tiba ada seseorang berambut merah dan membawa sebuah gentong berisi pasir datang mengganggu pertarungan.

“Permisi… Saya Sabaku no Gaara. Apa nona hokage ada?”

Semua mata tertuju padanya, dan semuanya menjawab, “Tidak… Tidak ada…”

“Oh, terimakasih, maaf mengganggu…” dan Gaara pun pergi berlalu.


Kureei tertawa lebar, “Hahahaha… Booo Cape deeeh, Cuma numpang lewat gitu loooh.”

Akito makin memandang orang yang duduk di sebelahnya dengan heran, tetapi dia tetap melanjutkan ceritanya.

 

 

Pertarungan kembali berlanjut seolah interupsi dari Gaara sebelumnya tidak ada. Tapi semua orang mulai lelah dan kecepatan mereka mulai melambat, kecuali Itachi yang dari tadi hanya diam, dan Sasuke yang baru saja datang.

“Rasakan Jurus andalanku, SARINGAN!” (perhatian, ini TIDAK salah tulis) Sasuke mengeluarkan sebuah saringan besar dari balik kantungnya. Disambut oleh tawa mengejek Itachi.

“Ooh… Kamu sudah hebat, Sasuke, kau sudah mempelajari jurus saringan dengan baik,” Itachi bertepuk tangan pelan. “Tapi tetap saja, milikku lebih baik daripada kamu, Mangekyo SARINGAN!!” (sekali lagi, ini TIDAK salah tulis) dan Itachi mengeluarkan sebuah saringan yang lebih besar. Uchiha bersaudara pun mulai berperang.

Saya pun kalah, Zoro dengan senyum kemenangannya membantu Sanji melawan Fei Wong. Sementara Misa menyemangati Sasuke dengan pom-pom-nya dan Freya hanya menonton pertarungan itu dari kejauhan dengan wajah dingin.

Tetapi Itachi tiba-tiba memuntahkan darah dari mulutnya dan jatuh tak sadarkan diri, membuat Sasuke yang berada di depannya terkaget-kaget, sementara Misa makin gencar meneriakkan yel-yelnya untuk Sasuke.

Robin terjatuh ketika melawan Ms. Valentine dan menciptakan suara berdebum yang sangat keras. Membuat Sanji otomatis menolongnya dan tidak konsentrasi saat melawan Fei Wong. Kesempatan ini dimanfaatkan Fei Wong untuk menyerang Sanji dan Robin sekaligus.

Pada saat Fei Wong menyerang Sanji, Zoro dengan sigap menusuk Fei Wong dan mengalahkannya. Seika yang khawatir mengalihkan perhatian pada atasannya itu, dan membuat Luffy dengan mudah mengalahkannya. Sementara Ms. Valentine yang panik berusaha melarikan diri, tapi dihadang oleh Nami, walaupun begitu, dia tetap dapat kabur menjauhi mereka, menuju pintu tempat dia datang sebelumnya..

Zoro, Luffy, dan Nami berdiri dengan gagah di samping Sasuke, menghadap ke arah pintu yang dituju oleh Ms. Valentine. Sementara Aya dan Miyu berusaha menolong Nami dan Sanji.

Tapi kemudian, Sesshoumaru keluar dan menebas Ms. Valentine, “Huh… Mereka memang tidak berguna…”

“Hah? Kamu membunuh anak buahmu sendiri!?” teriak Luffy kaget.

“Anak buah? Hahahaha… kau pasti bercanda,” Sesshoumaru tertawa, “Mereka tak lebih dari sekedar pion untuk mengabulkan keinginanku.”

Zoro menghunus ketiga pedangnya, “Cih… kita melawan orang gila…”

Serempak mereka maju melawan Sesshoumaru, tapi tak seorang pun dari mereka berhasil menyentuhnya, mereka terjatuh, bahkan tanpa Sesshoumaru menyentuh mereka seujung jaripun.

Misa yang menyadari bahwa keadaan bertambah bahaya melarikan diri setelah kebingungan mencari keberadaan Freya. Sementara Aya dan Miyu ditahan oleh Sesshoumaru.

“Sayang sekali, burung-burung kecil, tapi kalianlah incaranku sejak awal,” Sesshoumaru menyentuh pipi Aya yang gemetar ketakutan, menyegel mereka berdua dengan sihirnya, kemudian melihat ke arah Sasuke, “Sementara kamu… Mati saja!” Diangkatnya Sasuke dari tanah dan dicekik lehernya. Sasuke mencoba melepaskan dirinya, tetapi gagal.

Tapi ada yang menyerang Sesshoumaru dari belakangnya. Itachi, dengan seluruh sisa tenaganya, menusuk punggung Sesshoumaru, “Jangan pernah… kau sakiti… adik…ku…”

Sasuke yang berhasil melepaskan diri dari cengkraman Sesshoumaru berlari mendekati Itachi, “Kakak!!”

Sesshoumaru marah, dan siap menebas Uchiha bersaudara. Untungnya, Kurogane datang dan menyerangnya, mengalihkan perhatian Sesshoumaru dari kedua Uchiha.

“Aura jahat ini berasal dari kamu rupanya…,” Kurogane mengangkat pedangnya, “Kalau begitu, lawanmu adalah aku!”

Sesshoumaru tersenyum licik bercampur senang, “Menarik…buatlah aku senang, sobat…”

Sementara mereka bertarung, Sasuke membantu kakaknya duduk dan Chii menyembuhkan luka mereka. Tapi tak lama, Kurogane dikalahkan dengan mudah.

“Hanya dengan kemampuan segitu kau berniat melawanku? Butuh ribuan abad lagi bagimu untuk dapat mengalahkanku. Wahahahahahahahaha,” Sesshoumaru tertawa penuh kemenangan, tanpa menyadari serangan yang diluncurkan Itachi dari belakangnya.

“Katon Gokakyu no Jutsu!” Sesshoumaru berbalik, tapi terlambat, lidah-lidah api telah menjilat tubuhnya, sementara dari arah sebaliknya, terdengar suara Sasuke, “Chidori!!”

Sesshoumaru terjatuh setelah sebelumnya berteriak keras, “Akan kubalas perbuatan kalian!”

Semua menjadi hening, Chii berusaha menyelamatkan Kurogane, Aya dan Miyu berhasil keluar dari segel Sesshoumaru, semuanya terjadi seolah tanpa suara. Sasuke dan Itachi tetap berdiri berhadapan, di antara mereka, tergeletak tubuh Sesshoumaru.

Hingga kemudian, Itachi memuntahkan darah lagi, Sasuke yang khawatir berlari mendekatinya, “Kakak! Kau tidak apa-apa?”

“Ya, aku tidak apa-a… ukh…” Itachi terjatuh, Sasuke memanggil Chii untuk mengobati luka kakaknya, tapi Itachi menolak bantuannya, “Sudah… tidak apa-apa… aku permisi…”

“Kakak!” Sasuke membantu Itachi pergi. Chii, Aya dan Miyu lalu menyembukan semuanya dan akhirnya Sasuke dan Itachi hidup bahagia selamanya…


Kureei terbengong mendengar akhir dari cerita itu. Tapi Akito tersenyum, bagai membaca pikiran Kureei, dia masih melanjutkan ceritanya.

 

 

“TUNGGU SEBENTAR!!!! APA-APAAN INI!?” teriak Ran yang keluar dari pintu itu, “Kenapa kalian semua malah tidur-tiduran begini!? Mana ramenku? Aaaaah! Nyebeliiin!” Lalu dia melihat teman-temannya memandangnya dengan bingung bercampur kaget, “Loh? Miyu? Aya? Kalian di sini juga ya?”

Dengan terbata-bata Miyu bertanya pada sahabatnya itu, “Ran… kamu tidak apa-apa? Apa mereka menyakitimu?”

Tapi pertanyaan itu disambut Ran dengan wajah bingung, “’Nggak apa-apa’ apanya?”

Kini giliran Miyu yang bertanya, “Ran… Bukannya kamu… Diculik?”

Ran tetawa keras, membuat semua orang di tempat itu memandangnya dengan heran, “Diculik apanya? Kalian berdua ini benar-benar suka bercanda. Orang-orang ini berjanji akan memberikanku ramen, rok denim, cincin, gelang, T-shirt, make up, aaah pokoknya banyak~! Tapi kenapa kalian malah tidur-tiduran di sini?!”

Lalu Luffy bertanya pada teman-teman ajak lautnya, “Jadi… petualangan kita kali ini sia-sia?”

“Bukan begitu, kujamin pasti anak itu tidak sadar bahwa dirinya diculik…,” Zoro menjawab dengan bijak.

Tapi Ran mendengarnya dan berkata (atau tepatnya berteriak…) “Diculik apaan sih? Malah aku jadi tuan puteri di sini! Woy Xing Huo, peralatan menipedinya mana? Fei Wong, ramenku gimana? Lalu si kembar Diva dan Saya, Valentine, Itachi, Sesshoumaru… Aaaaaah! Tidak bertanggung jawaaaaaaab!”

Xing Huo, Fei Wong, Saya, Diva, dan Ms. Valentine bertatapan bingung. Sementara Sesshoumaru yang sudah sadar diam-diam berusaha melarikan diri.

“Hoaaaaa! Mana pesananku?! Oiya, Miyu, Aya, semuanya, kalau mau ikutan silakan, perintah aja mereka sepuasnya, gratis kok! Heh Sesshoumaru! Jangan kabur gitu dong!”

“Sa… Saya tidak berniat kabur, tuan puteri, saya hanya berniat membeli semua yang anda inginkan… Kalau begitu, permisi!!!” Sesshoumaru pun berlari sekencang-kencangnya. Meninggalkan anak buahnya yang panik.

“Makanaaaaaaaaaaaaaaaan!!” Teriak Luffy.

Sanji mendekati Ms. Valentine Saya, Diva, dan Xing Huo, “Bagaimana kalau kalian berdua temani aku bermain?” dan dengan cepat Saya dan Diva menjauh darinya.

“Hahaha, Ran! Ide bagus!” Sorak Nami dengan senang, “Bagaimana kalau kalian berikan aku uang satu milyar Berry?”

Zoro dengan semangat berkata pada Fei Wong, Ubah warna rambutku menjadi merah. Seperti Gaara!” pintanya yang memang fans berat Gaara, tadi saja dia sangat terpesona saat Gaara datang menanyakan nona hokage.

Robin menghela napas melihat teman-temannya yang menjadi gila, “Aku mau bertemu papa sebentar di Inggris. Permisi…,” Dikeluarkan olehnya sebuah benda bulat yang akan membawanya ke tempat lain, sebelum benda bulat itu membawanya, dapat terdengar teriakan Robin yang berkata dengan girang, “Papa Gerard ku sayang! Aku merindukanmuu!”

Kurogane dengan kasar berkata, “Kembalikan aku ke tempat Puteri Tomoyo!”

“Chii mau ikut Kuro-pyon!”

Aya dan Miyu mendekati Ran, Aya berkata, “Ayo kita belanja, Ran. Mereka mau bayarin kan?”

“Iya juga tuh, aku juga dah dapet uang en hape ku yang dirampas sama tu rentenir,” Miyu menimpali.

“Ada yang lihat Sasuke-kun? Aku ingin bersama Sasuke-kun!”

Suasana menjadi sangat crowded saat itu, membuat Saya, Diva, Ms. Valentine, Fei Wong, dan Xing Huo berteriak, “TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKK!!!!”


“Lalu Ms. Valentine, Saya, Diva, Xing Huo dan Fei Wong dikejar oleh semuanya. Dan Itachi dan Sasuke hidup bahagia selamanya…” Akito menyelesaikan ceritanya dan memandang langit yang sudah cerah, “Sepertinya hujan sudah reda, aku harus pergi. Sampai ju… huaaa…”

Kureei menarik pakaian Akito, “Sebentar… jadi maksud dari cerita itu apa?”

Akito tampak berpikir, setelah beberapa lama, dia menjawab, “Hm… Apa ya? Sepertinya tidak ada…”

#PLAKKKK#

Kureei memukul dahinya dengan keras, membuat Akito kaget, “Ow-em-jiii cape deh booooo. Ngabisin waktu eike aje seeeeeeh… Mana Eike ngga nongol di setu lageeeh…,” ujarnya bercucuran air mata sambil berputar-putar ala penari balet.

Akito tambah kaget, dan mulai sadar bahwa dia berada di dekat orang yang ‘berbahaya’ “Ja… jangan-jangan… kamu…”

“Ya iya lah boooo… Eike tuh Mister two gitu lo yaaa,” Kureei berkata sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan genit ke arah Akito.

Akito reflek berjalan mundur sejauh mungkin, “Ta… tapi angsanya…?”

“Aduh aduuuh… Susah deh ngomong sama yeiii, sekarang tuh flu burung dimana-mana gitchu looooh… Aih aiih, udah ajya dyeeeech. Eh, bo, mo nemenin eike belanja gak? Eike jadi suka nih sama yeii, tenang aja, eike yang bayarin kok booo…” Kureei berusaha merayu Akito, yang langsung mengambil langkah seribu.

“EMOOOOOOOOOOOOOOOOOOHHHHH!!!!!!”

“Aduh booo…. Tungguin eike duuunkz…”

 

 

*****


Pada awalnya, cerita ini dibuat untuk kabaret kelas.

Jadi, harap maklum kalau karakternya jadi begitu  banyak…

Huhuhuuuu… How I miss you, my lovely 8 – D

TTaTT

17 responses

  1. Moe_Musa

    luchu n’ kren…
    ad yel”nya Dora ^Peta^ lagi…

    3 February 2011 at 5:29 pm

    • Ini niatnya mau dijadiin drama kelas, tapi karena super ribet jadi ga jadi @@
      Makasih ~

      14 April 2011 at 12:25 am

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s