The forgotten snow dust…

The Blue Wishing Butterfly

Seekor kupu-kupu berwarna biru memasuki kamarku


Dan hinggap di jeruji jendelaku…

Baru pertama kali aku melihatnya sedekat ini.
Seekor kupu-kupu cantik yang berasal dari ‘luar’ kamarku.
Sayap birunya seolah berpendar terang.

Apakah semua kupu-kupu seperti ini?

Kuamati lebih dekat sepasang sayapnya yang seolah terkoyak.

Apa kamu sama sepertiku?
Apa kamu juga tak bisa terbang sepertiku?

Aku menyentuhnya, dah kupu-kupu itu tidak bergerak. Dengan jariku kutelusuri sayapnya yang lembut. Sungguh cantik.

Aku masih terbuai dengan serangga yang memasuki kamarku, entah dari mana, itu. Ketika tak lama kemudian, ayah dengan kasar membuka pintu kamarku.

Dia kaget begitu melihat kupu-kupu yang ada di depanku, “Apa itu?!” Bentaknya.
Aku tidak takut, ayah sudah biasa seperti ini. Dia juga lah yang mengurungku di kamarku yang kecil ini.

Sekali lagi dia berteriak, “Jawab!”
“Ini kupu-kupu, yah…,”
“Bagaimana makhluk itu bisa masuk ke kamarmu? Hah?!”
“Aku tidak tahu… Aku…”
“Pembohong!”

Ayah memukulku dengan tongkat yang dibawanya, kemudian dia keluar, membanting pintu dengan keras. Hhh… sepertinya hari ini juga aku tidak akan dapat makan malam.
Aku kembali memandangi kupu-kupu yang bergerak pergi. Sayang sekali, padahal aku masih ingin memandanginya…

Aku bangkit dari kasurku yang keras dan berjalan mengikuti kupu-kupu itu, yang hinggap di sebuah cermin besar di kamarku yang gelap.

Aku mencoba menggapai kupu-kupu itu, tapi dia hinggap di permukaan cermin tinggi di atas kepalaku sehingga aku tidak bisa mencapainya.

Aku menyerah. Dan memandangi sesosok berkulit pucat yang ada di depanku.

Bayangan itu seolah berbicara, “Apa kamu tidak apa-apa? Ayahmu memukulimu lagi kan?”
“Aku tidak apa-apa. Lagipula, aku menyayangi ayahku.”
Bayanganku pun terdiam. Tampak di atasnya sang kupu-kupu biru terbang dan hinggap di pundaknya, padahal kupu-kupu itu masih berada di atas kepalaku.

Bayanganku mendekatkan tangannya, jari telunjuknya pada kupu-kupu itu, dan dia hinggap di jari bayanganku yang membawanya ke hadapannya. Lalu ia bergumam, “sciu nakyafx sitlth’ujwcq. Hanya beberapa orang beruntung yang bisa melihatnya.”

Aku terdiam kebingungan, jelas-jelas bayanganku dalam cermin menggumamkan sesuatu yang tidak kumengerti. Dia menyadari raut wajahku yang kebingungan dan tertawa kecil.
“Itu adalah panggilan untuk kupu-kupu seperti ini. Artinya merupakan sebuah ambigu,” jelasnya, “Ada yang bilang ‘kupu-kupu biru yang memohon, atau kupu-kupu biru permohonan.'”
“Memohon? Kupu-kupu itu?”
“Iya,” dia menjawab singkat, dan memainkan kupu-kupu di tangannya, “kupu-kupu biru yang memohon, aneh bukan? Aku lebih setuju yang kedua, karena dialah yang mengabulkan ‘permohonan’…”

Aku semakin terpaku, mengabulkan… permohonan…? Apa itu benar?

“Iya, itu benar,” sosok bermata perak di hadapanku kembali berkata, “Kalau kupu-kupu ini mati di hadapanmu, tak peduli siapapun yang membunuhnya, maka permohonanmu akan terkabul,” Bayanganku menyodorkan kupu-kupu itu padaku, pada saat yang sama, kupu-kupu diatasku terbang mendekatiku, “Mau bukti?”

Aku mengangguk ragu, apa bayanganku ini hanya bercanda? Dan baru kusadari bahwa sekarang aku berbicara dengan bayanganku sendiri di cermin.

“Iya, aku juga bisa berbicara padamu karena sebagian kecil kemampuan kupu-kupu ini,” Seolah membaca pikiranku, sekali lagi dia menjawab, “Nah, aku akan membuktikannya padamu…”

Bayanganku meletakkan kupu-kupu itu di telapak tangannya, dan meremas makhluk mungil itu tanpa perasaan, membuatku kaget melihatnya. Lalu dia menatapku lekat, dan berjalan mendekati batas cermin.

“Lihat? Aku benar-benar bisa menyentuhmu sekarang,” dia mengusap pipiku dan tersenyum mengerikan. Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku? Ya… sepertinya begitu. Tapi apa? Dan kenapa?

“Jangan takut seperti itu, walaupun begini aku tetap bayanganmu. Hahaha,” dia tertawa, dan melemparkan bangkai kupu-kupu di tangannya, “Nah… Bukankah sekarang giliranmu?”
Bayanganku memandangku lekat-lekat, kemudian beralih ke kupu-kupu di tanganku, kemulian kembali ke mataku.

“Aku… ingin ibu kembali…”
Bayanganku terkaget mendengarnya dan tertawa keras, “Hahahahaha. Aku tidak pernah menyangka ‘diriku’ yang asli sebodoh ini…,” dia terus tertawa, rambut ivory-nya bergerak-gerak mengikuti tiap pergerakan kepalanya.
“Dengarkan aku baik-baik, tuanku yang manis…,” ujarnya setelah puas tertawa, “Sekuat apapun suatu hal, sesuatu yang sudah mati tidak akan pernah kembali… Ingat itu…”

Aku kecewa…
Padahal aku benar-benar ingin ibuku kembali. Sehingga keluargaku bisa damai seperti dulu.
Sejak kematian ibu, ayah berubah. Dia bahkan mengurungku di kamar yang sempit dan gelap ini karena menganggapku pembawa sial. Yah, mungkin itu benar, karena aku lah yang membunuh ibu…
Kalau saat itu aku tidak nekat menyebrang, ibu tidak akan meninggal…

Padahal… Lebih baik kalau aku yang mati…

Aku menundukkan kepala, terdengar jelas olehku suara bayanganku yang menghela napas. Lalu dia mendekatiku, dan mengusap kepalaku, “Tapi mungkin saja dia bisa menghidupkan kembali seseorang. Tapi aku sama sekali tidak menyarankannya ya?”

Aku mengangkat mukaku, apa aku tidak salah dengar? Aku bisa bertemu ibuku kembali?

“Tapi ingat, aku tidak tahu apa resiko dari menghidupkan kembali sesorang… Dan aku tidak mau tahu apabila terjadi apa-apa… Mengerti?” Dia terdiam sebentar, sementara aku memandangnya penuh harap.

Sekali lagi dia menghela napas. Tapi seolah menyadari sesuatu, dia melihatku dengan panik. Aku mencoba mencari tahu apa yang aneh dengan diriku. Kupandangi tanganku, dan kusadari, kupu-kupu itu tak lagi berada di sana.

Hancur sudah harapanku untuk kembali bertemu kembali dengan ibu. Menyebalkan!
Aku ingin bertemu dengannya! Aku ingin dia kembali ada di hadapan aku dan ayah! Aku ingin…

“Eh… lihat…,” bayanganku menunjukkan salah satu pojok kamarku. Di sana, kupu-kupu biru yang sebelumnya berada dalam tanganku telah menjadi santapan nikmat seekor laba-laba yang bersarang di sana.

Dengan muka amat terkejut, bayanganku menatap laba-laba yang sedang asik menggerogoti kupu-kupu itu, “Laba-laba…,” dia terus mengambil langkah mundur, seraya berkata, “Apabila laba-laba yang membunuhnya… keinginanmu akan terkabul… dengan cara yang mengerikan…” Bayanganku cepat-cepat berlari ke arah jendela, menghancurkannya hingga jerujinya lepas, dan pergi entah kemana.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”

Aku mendengar banyak teriakan dari luar, apa yang terjadi?

“BRAKKKK”

“Tolong… Tolong ayah!”

Ayah tiba-tiba membuka pintu dan berlari ke arahku, “Tolong… toloong!” Wajahnya begitu ketakutan seolah baru saja melihat hantu. Dari jendela, aku melihat ke bawah, orang-orang mengerubuni rumahku, ada yang berteriak panik minta tolong, bahkan dari kejauhan aku dapat mendengar suara sirene, entah ambulan, entah polisi, entah pemadan kebakaran. Apa yang sebenarnya terjadi?

Dan kulihat sebuah sosok mendekati pintu kamarku, “Aduh, kenapa semua lari?”

Itu suara ibu! Dia benar-benar kembali!

Aku berlari ke arah pintu, mengacuhkan suara ayah yang menyuruhku kembali. Ketika aku tinggal eberapa langkah lagi dari pintu, ibu sudah berada di sana. Tapi begitu aku melihatnya, aku tercengang.

Bajunya lusuh dan bernoda tanah. Tangannya hanya tulang berbalut sedikit daging, bahkan di sebagian tempat aku dapat melihat tulangnya dengan jelas, dengan sedikit balutan daging yang… membusuk. Wajahnya tak lagi terlihat cantik seperti dulu, terdapat sebuah lubang menganga dari tempat yang seharusnya adalah mata kirinya. Rambutnya tipis, hanya tinggal sebagian, di beberapa bagian bahkan aku hanya dapat melihat tengkorak kepalanya.

Aku mengambil langkah mundur…
Apa ini?
Kenapa jadi begini?

Terbesit di benakku kata-kata bayanganku tadi,

Apabila laba-laba yang membunuhnya… keinginanmu akan terkabul… dengan cara yang mengerikan…

Apa ini… yang dimaksud olah bayanganku?

Dengan gemetar kupandangi sosok yang seharusnya adalah ibuku. Kemudian ke pojok ruangan, melihat laba-laba yang kenyang memakan kupu-kupu biru itu, menjatuhkan sayapnya yang berkilauan ke lantai.
Sementara ayah melarikan diri jauh-jauh saat “ibu” mendekatiku. Tiap kali aku melangkah mundur, dia melangkah maju.

Hingga akhirnya aku terpojok di atas kasurku, sementara “ibu”ku makin mendekat, “Kenapa kamu menjauhi ibu, sayang?”

Tidak…

Tidak!

Dia bukan ibuku!

Aku tidak kenal dia!

Sepintas kulihat kupu-kupu biru yang lainnya terbang ke arah jendela. Aku berusaha menangkapnya, dan saat aku sudah menggenggamnya…

Baru kusadari, bahwa aku melayang jatuh, dari kamarku di lantai 3.

Dari kejauhan, bayanganku yang sedari tadi hanya menonton berkata dengan cuek dan tersenyum kecil, “Bukankah sudah kubilang, lebih baik jangan berharap untuk menghidupkan kembali mereka yang sudah mati?”

28 responses

  1. inderagaara

    mprissssssssssssssssssssssss………….

    24 November 2008 at 2:44 pm

  2. sudah malam memang tetapi aku senang banget lihat sang kupu kupunya.
    salam hangat selalu untuk semua yang menyayangimu

    24 November 2008 at 5:58 pm

  3. kupu-kupu menghampiri kamarmu…
    wah…asyik ya…

    Kupu-kupu yang indah,,,saya belum pernah lihat yang warna biru.iNi pertama kali ,itupun hanya gambar aja…

    Thanks sudah berbagi!😀

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Hmm…
    Sayangnya itu hanya kupu-kupu hiasan.
    Padahal kalau bener ada….
    *nepsu pengen miara*

    10 December 2008 at 6:07 pm

  4. shafa azzahra

    aneh sekali kupu kupu biru itu kok bisa di makan laba laba kan kupu kupu bisa terbang

    21 December 2009 at 5:13 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s