The forgotten snow dust…

In the Hill of the Village

“Jangan pernah pergi ke bukit di belakang rumah kita, berbahaya!”

Itulah kata-kata yang sering Seishou dengar, hampir setiap hari. Lagi dan lagi, orang tuanya terus memperingatinya hal yang sama. Padahal kapanpun dilihat, bukit itu selalu sama indahnya. Begitu menyejukkan mata. Seishou tak habis pikir kenapa orang tuanya selalu melarangnya seperti itu.

Keluarga Seishou adalah keluarga yang cukup disegani di desa kecil itu. Tak ada yang tak mengenal Seishou Orie, anak kedua Tuan dan Nyonya Orie. Lagipula, di desa kecil itu, semua warga saling mengenal dan saling membantu. Wajar saja kalau tak akan ada seorang yang tak dikenal, kecuali pendatang baru atau wisatawan yang berkunjung atau beristirahat di sana.

Keluarga Orie adalah salah satu dari tiga keluarga yang membangun desa kecil itu, dan terkenal akan anggota-anggota keluarganya yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Hanya saja Seishou agak berbeda dengan para Orie lainnya, karena dia sangat cuek terhadap lingkungan sekitar, dan sedikit pemberontak.

Walaupun cuek, Seishou tetaplah seorang Orie yang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Hingga suatu hari, dia dengan gagah berani menapakkan kaki di bukit yang selalu membuatnya penasaran itu.

Di kaki bukit itu, pohon-pohon tumbuh dengan teratur. Berbaris rapi bersama bunga-bunga beraneka warna. Tapi makin menanjak, pohon-pohon itu semakin rapat, bahkan sampai di suatu tempat dimana cahaya matahari tidak dapat mencapai tanah.

Dan disanalah Seishou berada sekarang, dia memandang belakangnya, yang ada hanyalah jejeran rapat pepohonan yang semuanya tampak sama. Panik. Dia tidak bisa kembali. Dan dapat pula didengar olehnya suara-suara mengancam dari semak-semak di sekitarnya.

Seishou mengenal suara itu, sekawanan kecil serigala.
“Satu… dua… tiga…”
Dengan pendengarannya yang cukup tajam, dia menghitung jumlah serigala-serigala kelaparan yang siap memangsanya.

Sebelas!
Ada sebelas serigala, bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan mereka sekaligus?

Perlahan Seishou mengeluarkan pisau lipatnya yang selalu ia bawa kemana-mana dan menggenggamnya erat, lalu mempercepat langkahnya.

Tapi begitu ia berjalan lebih cepat, dia menyadari bahwa dia tidak bisa berjalan maju lagi. Persis di depan hidungnya, dia melihat kilatan-kilatan benang-benang tipis yang memanjang.
Sarang laba-laba! Untung saja dia cepat menyadarinya.

Tapi tidak terlalu beruntung, saat dia bernapas lega karena berhasil menyadari benang-benang tak terlihat itu, sebelas ekor serigala telah mengepungnya.

Wajah Seishou pucat pasi. Dia hanya sendiri, seorang lelaki kecil dan melawan sebelas ekor serigala-serigala dewasa yang berpengalaman, dengan pemimpin serigala berwajah garang dengan bekas luka yang memanjang melewati matanya. Bagaimana mungkin dia bisa menang?

Tapi Seishou tidak putus aja, dihunuskannya pisau kecil panjangnya itu di hadapannya, dan perlahan berjalan ke samping, berusaha menghindari kepungan kawanan serigala yang bersembunyi itu.

Setelah merasa cukup aman, Seishou berbalik dan berlari sekencang yang ia bisa. Dan sebelas ekor serigala pun keluar dari tempat persembunyiannya mengejar Seishou.

Sishou mempercepat larinya, menajamkan penglihatan dan pendengarannya. Dalam hutan lebat yang tidak dia kenal ini, tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi. Rombongan serigala itu semakin ribut mengejarnya, dan dia seolah melihat sebuah horor saat ia mencoba menengok ke belakang.

BRUKK

Dia menabrak sesuatu saat sedang mengalihkan pandangannya ke kawanan pemangsa itu, dan jatuh terjembab. Seishou menutup matanya rapat-rapat, pasrah akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ditunggunya saat ketika taring-taring tajam itu mengoyak kulitnya, merobek dagingnya, saat-saat terakhirnya.

Tapi… 30 detik sudah dia menunggu…
35 detik…
40 detik…
1 menit…

Apa serigala memang menunggu sedemikian lama dulu untuk membunuh mangsanya?

Seishou memberanikan diri untuk membuka matanya, terlihat olehnya kawanan serigala itu mundur perlahan, ekor mereka disembunyikan tanda takut, lalu mereka menghilang di kegelapan hutan.

Dia bangun dan menggaruk-garuk kepala bingung. Dan mencoba menyelidiki apa yang dia tabrak sebelumnya, dia menengok ke belakang.

“Kamu tidak apa-apa?”
Suara indah itu bertanya, diikuti dengan tangan lembut yang mengusap pelan kepala Seishou, membersihkannya dari rerumputan iseng yang menempel.

Seishou tidak berkata apa-apa. Seolah tersihir, dia hanya memandangi perempuan di depannya dengan kaget bercampur takjub. Seishou terpesona pada rambutnya yang agak ikal dan panjang. Pada kulitnya yang putih. Pada matanya yang hitam, memantulkan bayangan dirinya sendiri yang sedang takjub.

“Kenapa kamu ada di sini?” Tanya mereka berdua bersamaan.
Gadis itu sedikit kaget, lalu tertawa kecil membantu Seishou berdiri. Sementara Seishou menyambut uluran tangan gadis itu, berdiri sambil menunduk menyembunyikan mukanya yang memerah.

Seishou tenggelam dalam perasaannya sendiri, jantungnya berdegup kencang seolah akan copot dari tempatnya. Tak pernah Seishou merasa seperti ini sebelumnya.

“A… aku tersesat,” gumam Seishou pelan, dan gadis itu tertawa kecil lagi lalu berkata, “Tersesat? Bukankah orang-orang di desa yang terletak di bawah sana melarangmu untuk mendekati bukit ini?”
“Bagaimana kamu tahu?”

Ditanya seperti itu, gadis itu terdiam sebentar, “Karena setiap orang di desa itu akan saling mengingatkan untuk tidak memasuki bukit ini,” dia tersenyum lagi sementara Seishou terdiam dengan wajah tenang, berkebalikan dengan keadaan hatinya saat itu.

“Siapa namamu?” Tanya gadis itu, “Orang tuamu mungkin akan panik mencarimu, dibutuhkan waktu hampir seharian untuk mencapai tempat ini dari desa itu,” Lalu gadis itu menarik tangan Seishou menuruni bukit, “Mari kuantar kembali ke desamu, bukit ini berbahaya untuk seseorang sepertimu.”

Seishou menuruti kata-kata gadis itu, dia sudah mengerti kenapa orang-orang di desanya melarangnya untuk mendekati bukit ini. Tapi kenapa gadis ini bisa berada di bukit ini? “Namaku Seishou Orie, kamu?”

“Aihana Koukami,” Dia tersenyum, senyuman yang meluluhkan hati Seishou. Membuatnya terdiam seribu bahasa, walaupun jutaan pertanyaan tersimpan dalam benaknya.

Jalan menuruni bukit terasa lebih indah dibandingkan jalan mendaki sebelumnya, padahal mereka berada dalam kegelapan hutan yang sama seperti dalam perjalanan Seishou mendaki bukit itu tadi.

Akhirnya mereka tiba di depan gerbang desa. Seishou mengajak Ai-nama panggilannya- ke rumahnya, tapi Ai menolak, “Aku tidak boleh berada di sini.”

“Jauh-jauh dari dia! Tuan Seishou!” Teriak salah seorang warga tiba-tiba. Seishou kaget, “Kenapa?”
“Dia adalah siluman yang tinggal di bukit itu! Jangan dekati dia.”

Wajah Ai berubah sendu, tapi kemudian dia kembali tersenyum, “Saya akan segera kembali, permisi,” Ai membungkuk sedikit memberi hormat, tapi orang-orang yang melihatnya hanya mencercanya.

Tapi Seishou menahan tangan Ai dan berkata lantang, “Tunggu sebentar! Kenapa kalian seperti itu?” Membuat orang-orang di sekitarnya menoleh padanya, “Setidaknya dia sudah menolongku, tidak bisakah kalian berterima…,” Ai menutup mulut Seishou dengan lembut, memotong kalimatnya.
“Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa,” dan dia tersenyum, lembut, seraya menggenggam kedua tangan Seishou.

“Tapi…,” Seishou mencoba menyangkal, tetapi Ai perlahan mengecup pipinya, membuatnya tak bisa berkata-kata, “Terima kasih sudah membelaku,” Ai berjalan kembali menuju bukit, kemudian menghilang ditelan kabut.

Sudah lebih dari seminggu sejak kejadian itu dan nilai-nilai pelajaran Seishou menurun drastis. Dia terlalu memikirkan Ai, entah kenapa. Teman-temannya bercanda dengan mengatakan bahwa Seishou menyukai siluman yang dikatakan menghuni bukit itu. Tapi Seishou tidak peduli, dia merasa candaan temannya tidaklah salah.

Sampai pada akhirnya Seishou nekat memutuskan untuk kembali ke bukit itu menemui Ai. Dengan mudah Seishou kembali “menemukan” Ai, dan berjanji akan kembali lagi.

Tiap minggu dia diam-diam mendatangi bukit itu, makin lama makin sering, hingga hampir tiap hari Ai kedatangan tamu di bukitnya. Tiap kali Seishou datang menemuinya, Ai menyambutnya dengan senyuman lebar, begitu pula dengan Seishou.

Tapi sayangnya, ada yang melihat tingakah laku Seishou, dan melaporkan hal itu pada orang tuanya, yang langsung mendengus geram mendengarnya.

Pada hari Minggunya, seperti biasa Seishou mengendap-endap memasuki area bukit itu, tetapi dia tidak menyadari serombongan “pasukan” yang mengikuti di belakangnya. Yang pada akhirnya baru dia saradi ketika Ai melihat kaget ke arah gerombolan itu. Seishou juga kaget, tak menyangka akan diikuti seperti itu.

“Siluman itu telah menyihir tuan muda kita! Serang!,” Dua orang menahan Seishou sementara yang lainnya maju merapalkan sesuatu, entah apa. Seishou mencoba melepaskan diri, tapi dia tak berdaya melawan dua orang berotot yang menahannya. Dia hanya bisa berteriak ketika gerombolan tersebut mulai membakar gubuk kecil milik Ai.

Seishou semakin berontak. Ai tidak lagi berada di sana karena orang-orang itu menyeretnya ke dalam gubuk yang terbakar itu. Pada akhirnya Seishou berhasil melepaskan diri dan segera berlari menyusul Ai.

Dia berhasil menangkap Ai sesaat sebelum orang-orang itu mendorong Ai ke gubuknya yang terbakar. Dengan pandangan benci, Seishou menatap orang-orang yang dikenalnya sebagai suruhan ayahnya itu.

“Tuan muda, anda hanya terpengaruh sihir siluman ini! Setelah kami membasminya, anda akan normal seperti sediakala.”
“Dasar bodoh! Aku tidak terkena sihir! Ai bukan siluman! Dia hanya tinggal di tempat ini karena kalian yang berpikir seperti itu! Pergi!”
“Tidak, dialah yang mengirim binatang-binatang liar yang menggagalkan panen desa kita delapan tahun yang lalu, dan dia juga…”
“DIAM!”

Terjadi perang mulut yang hebat andata Seishou dan ketua dari orang-orang itu. Dilatar belakangi si jago merah yang berkobar tinggi, menggambarkan suasana yang sama dengan apa yang terjadi di depannya.

“Anoo…,” Ai angkat bicara, tangan kanannya diletakkan di depan mulutnya, menyatakan keragu-raguan yang amat sangat. Kedua orang yang tadinya sedang berdebat itu terdiam, memberikan kesempatan pada Ai untuk mulai berbicara, “Kalau aku tiada, maukah kalian memaafkan Seishou?”

Reflek salah seorang dari kelompok itu merespon, “Beraninya kamu memanggil tuan muda dengan nama kecilnya!” Tapi ketua kelompok itu menghentikannya, “Dengan senang hati.”

Ai terdiam, Seishou menatapnya tidak percaya. Ai kemudian memeluk Seishou, dan memberikan kalungnya pada Seishou, “Sayonara…”
Setetes air mata mengalir di pipinya seraya Ai berjalan menuju api yang makin berkobar. Seishou berusaha menghentikannya, tapi Ai sudah membuat sejenis tembok tak terlihat, sehingga Seishou tidak bisa menahannya. Di menit berikutnya, Ai sudah lenyap dalam kobaran api.

Tak lama, api itu mulai padam tanpa menyisakan apapun di tempat gubuk itu seharusnya berada. Tak ada sesosok mayat yang dikira Seishou akan dilihatnya, tak ada pecahan-pecahan kecil kaca dari jendelanya, tak ada satupun, bahkan setitik abu pun tiada.

“Sekarang, kamu lihat kan? Dia bukan manusia,” Ujar ketua gerombolan itu, “Ayo kita pulang, tuan muda.”

Dengan lemas Seishou menurutinya. Dia mendapat sedikit perawatan di rumah sakit desa itu. Hingga sekitar seminggu kemudian.

Sebuah teriakan nyaring dari arah pinggir desa membuyarkan lamunan Seishou. Beserta orang-orang suruhan ayahnya dia mendatangi suara itu. Dan ditemukannya rombongan serigala, lebih banyak daripada yang ia temui sebelumnya menyerang desa itu, dengan serigala bermata satu yang sama memimpin serigala lainnya.

Spontan kengerian merambat cepat ke seluruh bagian desa itu, para serigala-serigala kelaparan menyantap hewan ternak dan orang-orang yang menghalangi mereka dengan nikmat. Belum lagi dengan binatang-binatang hutan lainnya yang juga ikut memasuki desa itu.

Penduduk desa berlarian mendatangi shelter terdekat, seluruh pasukan bersenjata diturunkan untuk mengusir binatang-binatang itu pergi, semua cara sudah dilakukan tapi tak satupun membuahkan hasil. Hingga salah seorang yang sudah putus asa mulai berteriak, “Ini gara-gara siluman itu! Dia pasti dendam pada kita!”

Di tengah pertarungan yang berdarah itu, tetua desa yang baru saja tiba terkaget-kaget. Baru sepuluh hari ditinggalnya desa itu, dan apa yang terjadi? Chaos.
Dia sudah merasakan sesuatu yang aneh dari awal dia memasuki desa itu, walaupun dia tidak yakin apa. Dia semakin tua dan kemampuan shaman-nya sudah tidak sebaik sulu. Tapi dia tahu, bahwa orang-orang desa ini telah melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan.

Tetua desa itu meminta pada ayah Seishou untuk menarik mundur pasukan, setidaknya mereka harus merundingkan terlebih dahulu rencana untuk mengusir pergi pengacau dari hutan itu, dan ayah Seishou menurutinya.

Saat semua sudah berkumpul, tetua desa menanyakan sesuatu tentang gadis di bukit itu, Aihana Koukami, yang dijawab dengan bangga oleh ketua kelompok yang sebelumnya bahwa mereka telah membasmi siluman itu.

Mata tetua desa langsung melotot, seolah kedua bola mata berlomba-lomba keluar dari lubangnya. Dengan suara lantang ia berteriak, “Kalian membasminya? Siluman? Apa kalian punya otak hah?!”

Semua orang di ruangan itu terkaget, termasuk Seishou, apa yang dimaksud oleh tetua? Tak sedikitpun ia mengerti, dan semua orang di tempat itu berpikiran sama.

Tetua desa itu menenangkan dirinya, lalu berkata lagi, “Kalian panggil dia siluman… Apa kalian tahu apa yang dia lakukan di sana?” Serempak suasana hening, kebanyakan orang menggeleng atau mengangkat bahu, dan sang tetua desa kemudian menjelaskan, “Dia di sana untuk memasang pelindung desa ini dari binatang-binatang hutan yang ganas dan liar itu. Dan sekarang dia tiada, kalian lihat apa yang terjadi?”

Semua orang terkaget, apalagi ketua dari kelompok yang sebelumnya membakar gubuk di bukit itu. Tak pernah ada yang menyangka bahwa sosok seseorang yang mereka anggap siluman justru adalah orang yang selama ini melindungi desa itu. Tetua desa melanjutkan ceritanya, “Aku meminta kalian untuk tidak mendekati bukit itu karena hawan-hewan liar itu, bukan karena Aihana,” wajahnya berubah menjadi sedih, “Padahal dia muridku yang paling baik.”

Sunyi sebentar, tapi Seishou berdii, “Sekarang, apa yang harus kita lakukan untuk mengusir mereka. Setidaknya kita harus menyelamatkan penduduk desa, dan juga…”
“Bisa ku pinjam kalungmu?” Tanya sang tetua tiba-tiba. Seishou mendekat dan memberikan kalung Ai yang berbentuk seperti kantung kecil. Tetua desa membuka kantung itu, dan mengambil sedikit benda yang terlihat seperti pasir itu.

“Dengan ini aku bisa mengusir mereka untuk beberapa saat. Tetapi dalam waktu yang tidak akan lama itu, kita harus mencari orang lain yang bisa menggantikan tugas Aihana.” Tanpa berkata apa-apa lagi, tetua desa merapalkan sesuatu sambil menebar benda yang seperti pasir itu keluar jendela.

Sosok Aihana keluar dari tempat pasir itu ditebar, sosok yang transparan dan bercahaya. Dia mengangkat wajahnya dan tersenyum pada binatang-binatang itu, yang enatah kenapa langsung kabur ketakutan begitu melihatnya. Sosok Aihana tersebut kemudian berjalan menuju perbatasan desa dengan bukit asal hewan-hewan itu, dan berdiam di sana.

“Ini akan bertahan selama sekitar sebulan. Dalam waktu itu, kita harus segera mencari seseorang untuk menggantikan Aihana,” Tetua melihat sekitar, “Seseorang dengan kemampuan yang kira-kira setara dengannya,” dan matanya tertuju pada Seishou.

Seishou yang dipandangi seperti itu bingung, tapi kemudian dia mengerti.

“Biar aku yang menggantikannya.”

*****

Bertahun-tahun berlalu.

Kini Seishou tinggal di bukit itu, tempat yang sama dengan Ai dulu. Ditinggalkannya segala kemewahan yang biasa dia dapatkan, entah kenapa, dia sendiri juga tidak mengerti.

Tapi dia merasakan kedamaian di sana, berbeda dengan saat dia berada di rumah besarnya dulu. Suasana hening hutan, dan riak air danau di sebelahnya.

“Aaaaaaaaaaaaaaaa,” tapi dia mendengar sebuah teriakan membelah kesunyian.

Cepat-cepat dia keluar dari gubuk kecilnya dan melihat keluar, seorang anak perempuan berambut ikal panjang berlari secepat yang ia bisa, dan Seishou dapat mendengar suara serigala-serigala kelaparan yang mengejarnya.

Gadis itu terus berlari tanpa menyadari keberadaan Seishou, sehingga dia menambrak dan terjatuh, menutup mata seolah pasrah akan berakhir di mulut-mulut serigala itu. Seishou tersenyum kecil melihatnya, dan memandangi ketua serigala itu, serigala yang dulu mengejarnya, dan mereka-ketakutan-perlahan menjauh, dan pergi.

Gadis itu mengerjapkan mata bingung, mata hitam pekatnya berkaca-kaca melihat Seishou yang mengulurkan tangan padanya, “kamu tidak apa-apa?” Gadis itu mengangguk lemah.

“Kenapa kamu ada di sini?”
“Aku tersesat,” dia menjawab ragu-ragu, menyembunyikan kebohongan yang jelas tergambar di wajahnya. Seishou tahu ia berbohong, tapi dia malah tertawa kecil, mengulurkan tangan dan berkata padanya, “Mari kuantar kembali ke desamu, bukit ini berbahaya untuk seseorang sepertimu,” setelah yakin gadis itu mengikutinya, dia bertanya lagi, “Siapa namamu?”

Dan gadis itu menjawab dengan semangat, “Aizawa Oruya, panggil saja Ai.”

7 responses

  1. Jadi begadangnya gara2 bikin cerita ini???? *karena terlalu panjang jadi terpaksa disave as txt bwat dibaca dirumah*

    27 November 2008 at 8:11 pm

    • @devilkazuma :
      Salah satu alesannya itu😀

      Hehhe…

      5 December 2008 at 10:35 pm

  2. Bagus ceritanya…😀
    Endingnya jadi “Sejarah yg berulang polanya…” Hehehe

    4 December 2008 at 11:24 pm

    • @nirleka :
      hehehe…
      Makasi😀

      *tiba2 ja dapet ending gitu ^^a*

      5 December 2008 at 10:38 pm

  3. boleh juga yg ni
    *lagi2 digampar*

    __________________________
    Pengen digampar lagi pak?😀

    9 December 2008 at 9:44 am

  4. satu katanya~
    ngeseliin~! kok gitu doank trus ending sih!?
    lanjutiin doonk??
    *kabur sblum d lempar sndal yg punya karangan*

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    *lempar sendal*
    Dasar~!
    Ahahaha…

    Lagipula menurutku ending gitu dah lumayan ^^
    *gatau mo gimana lagi*

    Bagian tersusah dari satu cerita adalah endingnya
    ^^;;a

    17 December 2008 at 7:57 pm

  5. Pingback: Happy birthday… to us? « Reina Lunarrune

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s