The forgotten snow dust…

Blood-Sucking Doll?

Rambut panjang yang terurai rapih.

Baju rumit nan indah yang ditata dengan sempurna.

Mata kaca yang menatap ke arah kamera.

Mereka sempurna, tapi tidaklah sempurna.

Walau begitu, aku menyukai mereka. Amat menyukai mereka.

Dengan lincah tanganku memilih beberapa bagian boneka-boneka itu, memasukkannya ke keranjang belanjaan di dunia maya, ku ketik rekening bankku dan menyetujui segala macam persetujuannya.

Dengan ini, sekitar seminggu lagi koleksi bonekaku akan bertambah. Aku tersenyum puas.
Aku suka boneka. Sangat suka. Lebih daripada aku menyukai manusia, atau apapun. Boneka-bonekaku tidak akan menyakitiku, dan mereka pasti menyukaiku, aku selalu merawat mereka dengan baik.

Aku berdiri dan mengambil salah satu boneka favoritku, dengan perlahan kutekuk sendi-sendinya, memainkan rambutnya. Teman-temanku bilang aku seperti anak kecil, tapi peduli apa? Aku menikmatinya.

Sambil membawa boneka itu, ku kembali duduk di depan komputer, mengamati satu demi satu post yang ada di forum boneka yang kuikuti. Hingga kulihat salah satu judul yang menarik perhatianku.

Boneka Penghisap Darah?

Boneka ini benar-benar hidup! Aku melihatnya sendiri di rumah temanku. Dia bergerak tanpa aku menyentuhnya, dan dia juga berbicara! Sayangnya, temanku tidak mau memberitahuku darimana dia mendapatkannya. Dia bilang itu boneka kutukan, padahal boneka itu benar-benar lucu! Aaah. Aku menginginkannya. Pasti menyenangkan kalau bisa memiliki boneka seperti itu.

Tapi temanku bilang, boneka itu bergerak menggunakan darah. Darah? Aku tidak yakin. Bagaimana darah bisa menggerakkan boneka?

Aku bingung. Apa kalian ada yang pernah melihat hal ini sebelumnya?

Aku terpaku membaca post itu. Apa benar boneka itu ada?
Dan rasa penasaranku mendorongku untuk lanjut membaca comment-comment yang ada.

HanaHana wrote :

Keren!
Tapi apa benar boneka itu ada?

Chie wrote :

Wah, boneka penghisap darah? Pasti serem. Aku gak suka, aku lebih suka yang biasa aja.

Sakura wrote :

Aku pernah dengar. Tapi katanya itu hanya isu saja.
Aaa… Padahal pasti menarik kalau punya boneka yang benar-benar bisa bergerak.

Comment-comment selanjutnya masih setipe dengan yang sebelumnya, tidak ada informasi yang bisa didapat. Semua comment kebanyakan menyatakan keraguan, atau ketakutan. Dan comment terakhir tertulis…

Sheara wrote :

Hah…
Bohong. Itu hanya iklan dari perusahaan permainan yang menggunakan robot. Maksud dari ‘darah’ yang digunakan itu adalah cairan merah yang digunakan untuk bahan bakarnya.
Tapi robot itu tidak jadi dipasarkan karena bahan-bahan yang digunakan untuk membuat satu saja sulit, dan harganya tak terjangkau.
Lagipula, robot itu hanya bisa berjalan dan berbicara beberapa kalimat yang sama. Mungkin prototype dari robot itulah yang temanmu punya.

Aku kecewa.
Padahal aku sudah berharap bisa memilikinya…

*****

Seminggu sudah sejak aku memesan boneka itu, dan juga seminggu sejak aku menemukan post “Boneka Penghisap Darah?” itu. Dan aku masih kecewa karenanya.

Aku mendengar bel apartemenku berbunyi, dengan segera aku berlari membuka pintu.

“Permisi, nona Vienn Asha?” Seorang dengan tas besar terselempang di bahunya bertanya padaku, “Ya, saya sendiri.”
“Saya dari Dollishn, mengantar pesanan anda. Kami sudah menerima pembayarannya, tolong tanda tangan di sini,” Orang itu menyerahkan selembar kertas. Cepat-cepat kutanda tangani kertas itu dan kubawa kotak yang diserahkannya ke dalam kamarku.

Di kamar, kubuka kotak itu bagian demi bagian, hingga kutemukan bonekanya.

Tapi aneh…

Kulit boneka itu pucat, padahal aku memesan kulit berwarna kecoklatan. Matanya juga tertutup rapat, seolah sedang tidur. Rambutnya coklat muda, seperti coklat susu, padahal aku memesan yang berwarna hitam. Aneh…
Apa salah kirim?

Aku memandangi kumpulan boneka yang berderet di sepanjang dinding kamarku. Menerawang, hingga akhirnya aku merasakan rasa nyeri di tanganku. Kuangkat tanganku dan kulihat boneka itu ada di sana, berpegangan erat pada tanganku.

Saat aku memperhatikannya, matanya terbuka. Membuatku tenggelam dalam mata birunya.

Dia mengigit lenganku, aku menahan rasa sakit yang kalah oleh rasa penasaranku dan terus memperhatikan boneka itu. Apa boneka itu benar-benar menggigitku?

Sampai akhirnya boneka itu melepaskan kepalanya dariku, kuamati dia yang mundur perlahan, kemudian memandangku, sedikit cairan kemerahan masih tersisa di sekitar mulutnya. Dan terdapat luka di tanganku, apa dia… benar-benar meminum darah?

“Greeting, Mistress,” Boneka itu membungkuk memberi hormat padaku. Apa maksudnya? Dia lalu berdiri tegak lagi, “My name’s Fretiz.”

Ok, kuakui aku tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik, dan apabila diteruskan, sepertinya dia akan berbicara dengan bahasa yang bahkan tidak kumengerti, “Vienn, it’s a pleasure to meet you. Umm… Can you speak… use the same… err… language as me?”

Dia tersenyum, “Sure, you have given me the ability to do so after all. Salam kenal, Nona Vienn.”
“Panggil saja Vienn. Err… bisa tolong jelaskan padaku? Kamu ini… apa?”

Dia hanya tersenyum, “Hanya sebuah boneka bernama yang hidup dari darah manusia,” lalu dia naik ke kotak di sebelahnya hingga matanya sejajar dengan mataku, “Hmm… Apa kalian menyebutnya? Boneka vampir?” senyum terkembang di wajahnya.

Aku terdiam mencerna kata-kata itu. Jadi, itu benar-benar ada?

“Kenapa? Takut?” Kini ia mendorongku dengan tangan kecilnya, yang entah bagaimana berhasil mendorongku terlentang di kasur, matanya masih menatapku, mengintimidasi.

Aku mencoba untuk lari, pergi dari kamarku, tapi dia berhasil mencegahku, “Jangan takut,” Dia naik ke pundakku, mengelus pipiku, “Aku tidak akan melukaimu.”
Tiba-tiba mataku terasa berat, dan aku tertidur.

*****

Mimpi?

Ya, itu pasti mimpi…
Bagaimana mungkin boneka bisa bergerak?
Berbicara… Meminum darah…?

“Selamat pagi,” sosok mungil itu tiba-tiba muncul dari atas kepalaku, spontan aku terduduk menjauhinya, “Sarapan sudah kusiapkan, silakan,” Dia naik lagi ke pundakku, jadi ini benar-benar bukan mimpi?

Kulangkahkan kakiku ke ruang makan dan mencoba makanan di atasnya, enak… lebih enak daripada buatanku sendiri.

Aku menyantap sarapanku dengan lahap, sementara Fretiz –kalau tidak salah itu namanya– mengamatiku dari depanku, dan memulai pembicaraan, “Apa kamu selalu sarapan sendiri seperti ini?”
“Ya, papa dan mama sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Mereka hanya menganggap aku akan senang bila dapat uang. Hah…” Aku lanjut menyuap sup ke mulutku dan Fretiz terus memperhatikanku.

“Kalau begitu, mulai hari ini aku yang akan menemanimu,” dia tersenyum lebar.

Awalnya aku tidak terlalu percaya kalimatnya yang satu itu. Kupikir dia akan menghilang suatu hari nanti. Tapi ternyata dugaanku salah. Dia tidak berbohong. Dia masih terus bersamaku setiap hari, menyiapkan berbagai hal untukku dan menemaniku belajar, membantuku membereskan kamar dan melakukan berbagai hal lainnya.

Fretiz tidak keberatan dianggap robot oleh orang lain, walaupun dia meminta sedikit darahku setiap harinya. Aku tidak keberatan. Setidaknya aku tidak kesepian lagi di apartemen mewah itu. Lagipula, sepertinya aku… menyukainya, padahal… dia hanya boneka?

Kini aku termenung memperhatikan buku perlajaran di depanku.
Bahasa Inggris, aku tidak pernah bisa berbahasa Inggris. Aku menghela napas, dan setengah berteriak, “Fretiiiiiz, tolooooong.”

“Sebentaar,” suaranya yang seperti nyanyian terdengar dari balik pintu, aku juga dapat mendengar suara dari buku-buku yang berjatuhan ke lantai–Fretiz pasti sedang membaca lagi– tak lama kemudian, langkah kakinya sedikit terdengar mendekat ke kamarku.

Eh? Tunggu dulu? Langkah kakinya terdengar?

Pintu kamarku terbuka, dan aku mendapati Fretiz berdiri di sana, lebih tinggi dariku.

Aku terpana melihatnya, dadaku berdebar keras, dia juga terlihat bingung. Ada apa ini?

“Fretiz, kamu… agak besar sekarang,” Aku masih mencoba menyadarkan diriku, apa aku hanya salah lihat?
“Eh? Memangnya apa yang berubah?”

Aku menunjuk ke arah cermin, dan dia mengikuti arah jariku, dan kaget melihat bayangannya sendiri di dalam cermin. Tubuhnya tak lagi eukuran boneka, menjdi seukuran dengan manusia, bahkan lebih tinggi dariku, “Mustahil… Bagaimana mungkin?”

Aku semakin tidak mengerti, tapi yang kutahu, kalau seperti ini, aku bisa lebih dekat dengannya… kan?
Kuperhatikan dia lagi, di menggeleng memandangi dirinya dalam cermin, “Yah… Aku juga tidak mengerti kenapa, tapi…,” Dia memojokkanku ke kasur, “Kalau begini, aku bisa lebih mendekatimu,” Dia menyeringai, membuat perasaanku tak karuan.

Lembut dia kecup dahiku, lalu bibirnya mendekati leherku.

“Ting tong”
Tetapi bel yang berbunyi nyaring membuat Fretiz beranjak, dia mengeluh sedikit dan berjalan keluar. Sementara aku masih di kamar, mukaku terasa panas, kupandangi cermin yang memantulkan wajahku yang memerah. Cepat-cepat aku mengontrol wajahku dan bergegas keluar.

“Nona Vienn Asha?” Aku mengangguk, “Maaf, sepertinya telah terjadi salah kirim, Fretiz… anda tahu dia kan? Seharusnya dia tidak dialamatkan ke sini, karena anda memesan seri Havn, bukan?” Orang itu mengeluarkan selembar kertas, pada saat bersamaan Fretiz keluar dari apartemenku, “Karena itu saya kemari untuk menukarnya.”

Aku syok. Apa katanya? Salah kirim? Fretiz tidak seharusnya dialamatkan ke sini? Bohong…
“Umm… boleh aku menukar yang kubeli dengan Fretiz? Aku akan membayar kekurangannya.”
“Sayang sekali, tidak bisa. Fretiz tidak seharusnya diperdagangkan,” Dia melihat ke arah Fretiz, “Lagipula Fretiz… bukan benar-benar boneka.”

“Apa maksudmu?”

Dia menghela napas, sementara aku dengan khawatir melihat Fretiz, air mukanya menegang, “Fretiz adalah salah satu proyek percobaan kloning di…”
“Kloning? Fretiz itu hasil kloning?”
“Ehm… sepertinya saya berbicara terlalu banyak. Nah, langsung saja, saya akan mengambil kembali Fretiz dan menukarnya dengan pesanan anda.”

Dia mengeluarkan sesuatu dan menepelkannya di pergelangan tangan Fretiz, membuatnya kembali mengecil, dan tak sadarkan diri. Membuatnya sama persis seperti boneka-boneka lainnya.

Orang itu menyerahkan sebuah kotak lain, dan melangkah pergi, “Permisi,” sementara aku terlalu kaku untuk mengejarnya. Ketika aku bisa kembali mengontrol tubuhku, orang itu sudah menghilang dari pandangan.

Dengan lemas ku bawa kotak itu ke kamarku, dan membukanya. Itu adalah boneka yang kupesan, aku menghela napas. Kuajak bicara boneka-boneka di kamarku –meninggalkan tugas sekolahku tergeletak begitu saja di atas meja– tidak ada jawaban, tentu saja. Tidak seperti berbicara dengan Fretiz.

Belum juga satu jam berlalu, aku sudah merindukannya. Dadaku terasa sesak, membuatku menangis, sendiri.

Besoknya aku terbangun karena hangatnya cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui jendela kamarku.

“Selamat pagi, Vienn,” Seseorang berjalan ke arahku, eh? suara itu?

Kubuka mataku lebar-lebar, kutarik napas dalam-dalam dan berteriak, “FRETIZ!!! Untunglah kamu kembali!” Aku memeluknya erat, melingkarkan tangaku di lehernya.

Tapi dia terlihat bingung, “Kembali? Kembali dari mana?”

“Orang itu bilang dia akan mengambilmu, aku peduli kamu ini hasil kloning, vampir, ataupun hanya boneka, aku menyukaimu, aku tidak mau berpisah denganmu, aku…”
“Tunggu sebentar! Sebenarnya kita ini sedang berbicara tentang apa ya?” Fretiz menggaruk kepalanya, “Sejak kapan aku menjadi hasil kloning, vampir, apalagi boneka?” Dia tertawa, dan sekarang giliranku yang kebingungan, “Apa ini ada hubungannya dengan mimpimu? Tadi kamu mengigau, kalau tidak salah kau berulang kali mengucapkan kata ‘boneka’…”

Eh?

Fretiz mengecup keningku lembut, “Nah, sekarang, apa yang dipikirkan oleh istriku tercinta? Sepertinya kamu tidak rela kalau harus menyumbangkan boneka-bonekamu ke panti asuhan, bahkan kamu sampai bermimpi tentang boneka-bonekamu itu,” Fretiz tertawa lagi, “Aku tidak keberatan kok kalau kamu mau menyimpan semuanya.”

Eh? Istri?
Wajahku bertambah bingung, Fretiz menyadari kebingunganku dan tertawa makin keras, “Sepertinya kamu belum sadar, hahaha. Sudah, kumpulkan dulu kesadaranmu, dan kita akan membicarakan hal ini lagi nanti, aku akan menyiapkan sarapan.”

Aku mengangkat tanganku, sebuah cincin melingkar di jari manisku. Demikian pula di jari Fretiz. Oiya, kami baru saja menikah sekitar seminggu yang lalu. Dan… Dan…

Ini bukan mimpi kan?

Aku cepat beranjak dari kasur, berlari ke arah Fretiz, dan berteriak, “Fretiiiiiiiiiiiiiizzzzzzzz!!! Selamat pagiiiiii!!” Dan memeluknya tiba-tiba. Membuatnya kaget dan hampir menjatuhkan piring di tangannya.

Fretiz sedikit menegurku, memintaku untuk sedikit berhati-hati, tapi sambil tertawa. Aku tidak peduli.
Yang penting Fretiz ada di sini dan semua yang tadi hanya mimpi!

Hanya mimpi…!

23 responses

  1. wna

    Bagus nyaaa *jadi iri sama meong yg bisa buat cerpen bagus*
    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    ahahaha, ga juga
    tapi makasi :Da

    26 January 2009 at 10:48 am

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s