The forgotten snow dust…

Behind the Sakura Tree

Anak kembar…
Apabila yang satu “pergi”..
Yang lainnya pun akan segera mengikuti

Sayangnya mitos itu tidak benar…
Mungkin…

Sekali lagi aku datang ke sini.
Untuk menjenguk adik kembarku, yang entah sejak kapan jadi terlihat lebih tua dariku.

Tinggi badannya bahkan sudah melebihiku, entah kenapa, dia terlihat gagah seperti itu, padahal makin lama dia terlihat makin pucat.

Sayangnya, dia tak akan pernah keluar dari area rumah sakit ini.

Aku merindukannya.
Sudah sekitar lima tahun lalu dia meninggalkan rumah. Dan selama lima tahun itu, aku selalu datang dengan rutin ke rumah sakit ini.

Walaupun… dia tak pernah tahu… kalau aku datang ke sini untuknya.

Bahkan sejak kejadian sekitar 2 tahun lalu.
Saat dimana semua orang memutuskan, dia tidak akan pernah bangun lagi dari tidurnya.
Sejak tubuhnya sudah tidak lagi berfungsi.
Sejak dia sudah tidak lagi bernapas.

Tapi dia masih ada di sini.
Dia masih ada di taman rumah sakit ini.
Mendorong sebuah kursi roda yang diduduki oleh seorang gadis.

Pipi gadis itu terluka, aku sempat melihatnya terjatuh dekat pohon sakura di taman ini, dan Ren menolongnya.

Eh?
Menolongnya?

Tapi…
Apa gadis itu bisa melihatnya?
Ren kan sudah… sejak beberapa tahun lalu… 2 tahun lalu…
Dan, manusia biasa tidak akan bisa melihatnya berkeliaran di rumah sakit ini.

Apa? Aku?
Ahahaha… Aku memang bisa melihat hal-hal seperti itu sejak aku kecil. Dan kemampuan ini juga lah yang membuatku selalu sendiri di sekolah.

Ya. Sendiri.
Lalu kenapa? Aku suka dengan kesendirianku.
Tapi Ren selalu menunjukkan muka sedih ketika aku berkata seperti itu. Kenapa?

“Rika?”
Aku menoleh, seseorang berjas putih berdiri di sebelahku, pamanku yang bekerja sebagai dokter di sini.
“Ada apa?”

“Hari ini kamu bisa pulang agak cepat. Pekerjaanku hanya sampai sore,” aku mengangguk, “Kamu mau mengunjungi Ren dulu kan? Sesudah itu langsung ke tempatku ya!” Dan dia berlalu, kembali ke ruangan tempatku dan dia bekerja.

Aku ke rumah sakit ini bukan hanya untuk megamati Ren dari kejauhan, aku juga berkerja sambilan di tempat ini dan sekalian check up rutin setiap 2 minggu sekali.

Perlahan ku berjalan mendekati pohon sakura di taman, tempat kesukaan Ren. Aku tidak tahu kenapa dia begitu menyukai tempat ini, tapi dia memang berada di sini.

Aku melihat dirinya yang sedang duduk santai di cabang batang pohon yang tertanam di depanku ini. Dan aku tahu dia melihatku, sementara aku berdoa untuknya.

Dia lalu melompat turun dari pohon itu, dan berjalan santai mendekati sungai kecil buatan yang berada di belakangku, sementara aku tetap berada di tempatku.

“Kakak,” dia bergumam, “Tidak usah mencemaskanku, aku baik-baik saja disini.”
“Justru karena kamu ada di sini.”
Aku menjawab dan dia tidak terlihat kaget. Dia sudah biasa kalau aku membalas kata-katanya, tapi dia tidak tahu aku bisa melihatnya.

“Sudah, Ren, aku mau kerja dulu, hati-hati.”
“Ya.”

Percakapan kami tidak pernah lebih dari ini. Dia merasa kalau aku tidak akan bisa mendengarnya.

Aku merasakan sesuatu bergetar di saku celanaku, handphone-ku bergetar. Dari paman, dia pasti protes karena aku terlalu lama. Hhh…

Cepat-cepat aku melangkahkan kakiku menuju ruang kerja pamanku, dan begitu sampai di sana, aku melihat seorang suster yang sedang menggoda pamanku dengan ganasnya.

Seperti biasa, aku mengusirnya dengan kata-kataku. Ini adalah salah satu alasan mengapa paman mau memperkerjakanku di sini sebagai asistennya. Karena dia ingin menghindari suster gila itu. Padahal, apa bagusnya pamanku? (Gajiku langsung dipotong setelah aku berkata seperti ini padanya).

Aku memulai pekerjaanku dengan malas, menghadapi pasien-pasien rewel dan tidak bisa diam. Sampai akhirnya, jam kerjaku selesai. Kini giliranku melakukan check-up rutin seperti biasanya.

“Bagaimana kabar kakak?” Pamanku itu bertanya. Pertanyaan bodoh. Dia tahu aku tak kan bisa menjawabnya, dan aku pun hanya diam.

Orang yang melahirkanku tidak mau lagi berbicara denganku setelah kematian Ren. Dan sekali lagi kukatakan, aku tidak keberatan.

Life must go on.
Waktu tidak akan berhanti hanya karena aku bersedih.

“Rika,” paman memegang pundakku, “Kematian Ren bukan salahmu, kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab atas kematiannya.”

Aku masih diam. Topik itu lagi….

“Ren juga akan sedih kalau melihatmu seperti ini. Dia kan…”
“DARIMANA PAMAN TAHU!?”

Aku menjauh darinya, “Darimana paman tahu dia sedih melihatku seperti ini?! Darimana?! Paman tidak pernah lagi berbicara dengannya! Dia membenciku! Aku yang membunuhnya! Karena itu dia bahkan tidak sudi lagi berbicara denganku! Dia bahkan…”

“Rika,” pamanku memegang tanganku, mengukur tensi darahku, “Tenanglah…”

Aku terdiam. Perlahan pipiku basah.

Aku tidak mengerti, kenapa harus Ren?
Kenapa bukan aku saja?

Padahal Ren begitu baik…

Setelah memeriksaku, paman juga bersiap-siap pulang, tapi dia membiarkanku di ruang kerjanya sementara dia mengambil hasil tes kesehatanku.

Dan sepertinya, apa yang kuharapkan terjadi…

Wajah paman terlihat begitu sedih saat dia kembali. Wajahnya yang tampan dan muda jadi terlihat bertahun-tahun lebih tua, “Rika… Kamu…,” dia tidak meneruskan kata-katanya.

“Ya, aku tahu…”

Kami terdiam.
Aku tahu hal ini akan terjadi.
Aku tahu…

Dan aku berharap hal ini cepat terjadi.

“Kalau begini, sepertinya kamu harus tinggal juga di rumah sakit ini, Rika. Kalau tidak, aku bisa kehilangan anggota keluargaku lagi…”

Aku menggeleng, sudah lama aku berharap agar penyakitku menunjukkan serangannya, “Tidak. Perempuan itu tidak akan suka. Bagiya hal itu hanya akan membuang waktu dan uangnya saja,” wajah paman menjadi makin sedih, “Kamu benar-benar tidak pernah memanggil kakak dengan ‘ibu’ lagi ya?”

“Untuk apa memanggil ‘ibu’ pada seseorang yang bahkan berharap diriku tak pernah ada? Dia membenciku sejak kematian Ren. Wajar saja, aku yang membunuhnya, padahal dia menyayangi Ren lebih dari apapun, sedangkan aku?” Aku tersenyum kecut sementara pamanku menghela napas lagi.

“Terserah apa katamu, tapi aku sudah mendaftarkanmu di salah satu kamar di sini. Walaupun kecil kemungkinan untuk sembuh dari kangkermu, setidaknya kamu harus berusaha.

Aku terdiam lagi, tidak ingin membuatnya sedih lebih dari ini, “Baiklah.”

Aku diantarnya ke kamarku, kamar yang dulu digunakan Ren saat dia masih berada di sini, karena alasan yang sama denganku, kangker…

Tapi, kematiannya bukan karena penyakit itu.

Sekali lagi aku menangis.

Esok paginya, aku kembali melihat taman dari kamarku. Ren berada di situ, bersama anak perempuan yang duduk di kursi roda sebelumnya.

Okonomiyaki… Sepertinya enak.
Makanan kesukaanku…

Aku menghela napas dan memutuskan untuk mandi setelah dokter –yang diminta oleh pamanku yang mudah panik– memberiku beberapa pil obat. Setelah itu aku memutuskan untuk berjalan-jalan.

Kulangkahkan kakiku keluar kamar dan pergi tanpa tujuan.
Hhh… Sepertinya aku juga akan menjadi penghuni tetap rumah sakit ini.

Sampai di sekitar tangga, aku mendengar suara berdebum yang sangat keras. Cepat-cepat aku mendatanginya.

Ren ada di sana –walau tak terlihat oleh orang lain–, menahan si gadis kursi roda itu yang sepertinya terjatuh dari tangga. Kursi rodanya terletak tak jauh darinya. Kalau Ren sampai memperhatikannya seperti itu, berarti dia orang yang penting baginya…

Aku bergegas menuruni tangga, “Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?”

Gadis itu menggeleng lemas dan memandangi kursi rodanya, untung saja dia tidak tertimpa kursi rodanya sendiri, kalau itu terjadi, bagaimana reaksi Ren?

Tapi aku shock melihat cairan merah segar yang menetes dari kepalanya. Darah! Cepat-cepat aku mendirikan kursi rodanya, mendudukkannya di sana, dan membawanya ke ruangan paman.

“A… Aku tidak apa-apa!” sanggah gadis itu.
“Kepalamu berdarah, apa kamu pikir itu tidak apa-apa?”

Gadis itu memegang kepalanya, sepertinya dia baru menyadari rasa sakitnya. Darahnya menetes begitu banyak hingga membuat sebelah matanya terlihat begitu merah. Dia terduduk lemas di kursi rodanya.

Aku membuka pintu ruang kerja pamanku, dan dia langsung paham apa yang harus di lakukan. Tanpa berkata apa-apa dia mengobati gadis itu.

“Tumben kamu mau menolong orang lain, Rika,” ujarnya.
Aku diam sejenak, memandangi pohon sakura di taman tempat Ren berada di sana. Wajahnya melihat ke arahku, sangat cemas, “Karena dia bahkan menolongnya, masa aku membiarkannya begitu saja? Sudah, aku mau kembali ke kamar,” aku melangkah keluar, “Permisi.”

Cepat-cepat aku berjalan ke kamarku. Membosankan.

Tapi ada sebuah kejutan menunggu saat aku memasukinya, Ren ada di sana.

“Kakak…,” ucapnya seraya aku mendekati kasurku, “Terima kasih,” dia menunduk. Apa dia menangis?

Aku melihat wajahnya dari dekat, dia benar-benar menangis. Tidak pernah aku melihatnya seperti ini. Aku berjalan mendekatinya dan memeluknya.

“Jangan memangis. Adikku yang kutahu tidak selemah ini…”

Tapi aku juga mulai terisak, baru kali ini Ren mengucapkan terimakasih sejak dua tahun yang lalu.

Beberapa lama, dia memecahkan keheningan yang ada saat kami berpelukan, “Kak, aku harus pergi.”
“Ke kamarnya?” di mengangguk, aku membiarkannya pergi dengan senyuman, yang dibalasnya dengan senyuman khasnya.

Paginya, Ren kembali berada di kamarku.

Aku yang baru bangun bingung, “Ada apa?”
“Kak… sepertinya. Aku benar-benar harus pergi.”
“Ke mana?”
Dia terdiam, tempat yang tidak kuketahui, dari dalam hatinya perkataan itu tersampaikan padaku.

“Kamu… akan mengucapkan perpisahan padanya, kan?”
Dia mengangguk perlahan. Aku tahu Ren tidak ingin meninggalkan gadis itu, tapi Ren juga tahu apabila dia tinggal lebih lama lagi di dunia ini, dirinya akan hancur, menjadi sesosok makhluk yang menyakiti orang lain.

“Besok, aku akan pergi,” Ren merogoh sakunya, dan mengalungkan sesuatu padaku, “Ini kalung yang dulu kuambil darimu. Maaf ya, saat itu aku hanya ingin membuatmu tertawa walau hanya sedikit, sehingga aku mengambil kalungmu dan memanjat pohon sakura itu, padahal aku punya kalungku sendiri.”

Aku memandangi kalung yang diberikannya, dan kalung yang saat ini ia pakai. Kalung kami berpasangan, seperti yin dan yang.

“Maaf, aku tidak menyangka bahwa aku akan membuatmu lebih murung karena kepergianku. Dan aku tetap di sini, menjauh darimu untuk menghukum diriku sendiri. Tapi aku terjatuh dari pohon itu bukan karena kamu, bukan karena kakak, aku tidak mau kakak sedih seperti ini… Aku…”

“Sudahlah,” aku tersenyum, “Sekarang, lebih baik kamu bersamanya saja. Kamu suka gadis itu kan?” Wajah Ren memerah, tapi dia tersenyum, “Siapa namanya?”

“Sakurano Ayasaka,” mukanya memerah, Ren salah tingkah dan itu membuatku tertawa.

“Hahaha. Yasudah, kamu buatlah kenangan bersamanya,” aku tersenyum, mencoba menahan air mataku, “Semoga semuanya akan baik-baik saja.”

“Terima kasih,” perlahan tubuhnya menjadi makin transparan, dan menghilang.

Setelah dia pergi, aku menangis sejadi-jadinya.
Kurasa… Aku takkan pernah lagi bisa bertemu dengannya…
Dan aku tertidur.

Paginya, aku melihat gadis itu lagi di lorong rumah sakit, wajahnya terlihat kaget. Di lehernya melingkar sebuah kalung, pasangan dari kalungku. Samar-samar aku bisa mendengarnya membisikkan nama ‘Ren’ pada seseorang yang sepertinya adalah kakaknya.

Dan tak jauh dari situ, Ren masih berdiri di rumah sakit ini, memandangi Sakurano dengan sedih.

“Itu karena Ren bukan benar-benar manusia,” aku masuk ke dalam pembicaraan mereka, dan Ren tersenyum, sepertinya dia ingin aku menjelaskannya. Ok, aku menyanggupi permintaannya, “Dia adalah seseorang yang meninggal karena kangkernya beberapa tahun lalu…,” aku menurunkan volume suaraku, hingga hampir berbisik, “Adik kembarku.”

Tapi orang yang terlihat seperti kakak Sakurano langsung menyangkal, “Tunggu sebentar, jadi kamu mau berkata bahwa adikku ini bisa melihat… hantu?”

Aku menggeleng, “Aku tidak berkata begitu, bukan adikmu yang bisa melihatnya, tapi dialah yang menampakkan dirinya,” aku mendekati Sakurano dan berbisik, “Terimakasih telah menenangkan adikku,” lalu pergi, dengan berat hati, kulihat Ren juga pergi ke arah taman.

“Tunggu!” Sakurano menahanku, “Dimana dia sekarang? Umm… maksudku…”

Aku mengerti, “Di pohon sakura tertua di taman rumah sakit ini.”

Dia buru-buru mengendarai kursi rodanya ke taman, kakaknya membantunya. Di depan pohon Sakura itu dia mengatupkan kedua tangannya, berdoa.

Beberapa menit kemudian, Sakurano pergi menjauh, dengan wajah sedih, tapi setelah mendengar Ren berkata, “Terimakasih, Sakurano…” Senyum kembali terselip di bibirnya, walaupun dia menangis.

Kini aku yang mendekati pohon sakura itu, dan kulihat Ren melambaikan tangan padaku, “Sayonara,” dan dia menghilang dalam hitungan detik.

BRUK…

Semua menjadi gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa. Tapi entah kenapa, terasa begitu damai.

“Rika? Kenapa kamu di sini?” Kembali suara Ren bertanya dari sampingku.

Bagai menggema di kepalaku, aku mendengar sebuah mitos yang selalu kugumamkan.

Anak kembar…
Apabila yang satu “pergi”…
Yang lainnya pun akan segera mengikuti…

11 responses

  1. 😦 *tak mampu berkata2 legi dari sorot terharu menatap tulisan di layar monitorku*
    😦
    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    *hug*

    26 January 2009 at 5:17 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s