The forgotten snow dust…

The Two Writers

Writer stuck…

Lagi dan lagi.

Sudah beberapa bulan ini berlangsung. Aku tak bisa menulis sepatah kata pun pada lembaran kertas di depanku. Padahal sudah lama aku berprofesi sebagai penulis cerita.

Cerita. Hanya cerita.
Jujur saja, aku tidak bisa menulis yang lainnya selain cerita, dan hal inilah yang membuatku kesulitan saat ini.

Pekerjaan utamaku sebagai penulis tertahan karenanya, sementara tabunganku sudah hampir habis. Kedua orangtuaku sudah meninggal, sementara hubungaku dengan keluargaku yang lain tidak berlangsung baik.

Aku mendengar suara pintu diketuk, bergegas aku membuka pintu dan temanku langsung menyerbu ke dalam, “Lyyyyynnnn!! Selamat yaaa!” Isa Clantnessa langsung memelukku tanpa aba-aba, “A… ada apa?”

Dia melepaskan pelukannya, dan menggenggam kedua tanganku, “Ceritamu mendapat hadiah utama untuk bertemu Rhel Schian! Aku iri…,” mukanya tampak begitu berseri-seri. Wajar saja, Rhel Schian! Siapa yang tidak mengenalnya? Seorang penulis terkemuka yang dikenal setiap orang. Sudah ratusan, bahkan ribuan judul buku dan cerita, artikel, dan karya sastra lainnya yang beredar di tiap negara di sini.

“Nah , aku akan mambantumu bersiap-siap,” dengan penuh semangat dia menggapai koperku, dan membantuku menyiapkan barang-barangku, walaupun  itu masih seminggu lagi, tidak ada salahnya kan bersiap-siap lebih awal?

Seminggu terasa berjalan begitu cepat. Tapi tetap saja, tak sepatah kata pun dapat kutulis, padahal aku akan dapat bertemu dengan Rhel Schian karena kemampuan menulisku.

Rhel Schian tinggal di tempat yang cukup terpencil, dia suka ketenangan, karena itulah dia tinggal di sebuah tempat jauh dari kota.

Dia tidak ingin bertemu banyak orang, karena itu hanya aku yang tinggal di sini, sementara orang-orang yang memberikan hadiah itu menginap di desa terdekat, yang jaraknya ratusan kilometer dari tempatnya tinggal.

“Lyn Drachi?” Tanyanya ketika membukakan pintu untukku, aku menggangguk, “Senang bertemu dengan anda, Schian.” Dia membantuku membawa koperku seraya menunjukkan jalan ke ruang tidur tamu.
“Di sini kamarmu, kamu boleh menggunakannya sesukamu, kamar mandi ada di ujung lorong, anggap saja rumah sendiri, Drachi.”

Aku menggeleng pelan, “Panggil saja Lyn, rasanya agak aneh apabila seseorang memanggilku Drachi,” dia mengangguk, sepertinya dia memang tidak suka berbicara, padahal kata-katanya di atas kertas sangat memukau.

Dia mengantarku berkeliling rumahnya setelah itu. Rumahnya besar, kira-kira cocok untuk dihuni satu keluarga besar sekaligus, tapi rumah itu begitu sepi, “Sepinya, yang lain ada di mana?”

Schian tidak berkata apa-apa. Dia malah membawaku ke halaman belakangnya, “Yang lainnya ada di sini.”

Beberapa tugu pendek berdiri berjajar, di hampir puncaknya tertulis beberapa nama, yang memiliki nama keluarga yang sama ‘Schian.’

“Maaf, aku tidak tahu kalau anda hidup… sendiri.”

“Tidak apa,” dia mendekati salah satu makam itu, “Tidak banyak yang tahu kalau aku hanya hidup sendiri.”

Memang benar, aku tahu dia tinggal di tempat yang terpencil, tapi tak sedikitpun terbesit di benakku bahwa dia hidup sendiri, sementara penampilannya begitu… tampan dan rumahnya sangat rapi, berkebalikan dengan keadaan rumahku.

“Adik dan sepupu-sepupuku, meninggal dalam perang,” Schian memulai ceritanya, “Sementara istri, orang tuaku, kakek dan nenekku, juga saudara-saudara dari orang tuaku, meninggal karena penyakit yang dulu mewabah di desa ini,” dia mengusap salah satu makamnya, penuh perasaan, “Dulu di tempat ini keluargaku bukan satu-satunya keluarga yang tinggal. Dulu tempat ini sama saja seperti desa-desa lainnya, tapi penyakit itu menghancurkan semuanya,” dia menunduk, “Hingga warga desa yang selamat dari penyakit itu memutuskan untuk memusnahkan penyakit itu… dengan cara membakar desa ini…”

Aku shock.
Sekejam itu?
Aku tidak pernah mendengar hal itu pernah terjadi.

“Aku selamat karena saat itu aku sedang bekerja di luar sana, tanpa mengetahui apa-apa, dan saat kembali, inilah yang kutemukan,” dia kembali berjalah ke dalam rumah dan aku mengikutinya, “Sejak saat itu, kuputuskan untuk tinggal di sini, berhenti menjadi pengusaha, dan memutuskan untuk menjadi penulis. Menghindar dari dunia luar.”

Kini aku baru tahu bagaimana karya-karyanya dapat begitu menyentuh, karena dia… ‘memasukkan’ sebagian dirinya ke dalam tulisannya, membagi perasaan yang tersimpan dalam hatinya.

Aku… tidak pernah seperti itu.

Saat makan malam tiba, suasana masih sepi seperti sebelumnya. Hingga akhirnya Schian angkat bicara, “Lyn, kupikir kamu tidak boleh tinggal di sini lebih lama lagi.”

Aku hampir tersedak mendengarnya. Tidak boleh tinggal di sini lebih lama? Kenapa? Apa dia menyadari betapa kotornya diriku? Apa dia tahu kalau aku hanya orang bodoh? Apa dia…

“Aku merasa kembali seperti dulu apabila aku bersamamu,” lanjutnya, “Yang lalu, biarlah berlalu, dan menjadi kenangan. Aku tidak berharap hal itu akan terulang lagi, tapi aki menghindari perpisahan seperti itu terulang lagi. Mungkin caraku salah, tapi hanya ini yang bisa kulakukan. Hal yang secara reflek kulakukan untuk melindungi diri. Maaf.”

Padahal… Aku sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri.

“Tidak apa-apa,” kemudian makan malam kembali berlanjut sunyi. Saat membereskan meja juga kami diselimuti kesunyian, hingga keesokan harinya.

Schian membuka pintu kamarku, membantuku membereskan kamar beserta barang-barangku, “Maaf ya?”

Aku hanya mengangguk sambil menunjukkan senyum terpaksa, aku ingin bersama dengannya lebih lama lagi.

Tapi, kalau dia tidak menginginkannya… aku tidak akan memaksa.

Sabar…

Sabar…

Selesai mengemasi barang-barang, Schian mengantarku hingga batas luar desa, dan sama seperti sebelumnya, kami berjalan dalam keheningan.

“Terimakasih ya, Schian. Maaf merepotkan.”
Schian menggeleng, “Jangan sungkan. Oya,” dia merogoh sakunya, mengeluarkan sesuatu, seperti gelang karet, “Anggap saja kenang-kenangan. Dan tolong, panggil saja aku Rhel, jangan Schian,” dia tersenyum, senyum pertama yang diperlihatkannya padaku, dan dia berlalu, kembali ke rumahnya.

Para penyelenggara lomba terkaget-kaget begitu melihatku di desa itu, tapi mereka tetap kembali tanpa bertanya apa-apa.

Sesampainya di rumah, Isa menyambutku dengan riang walaupun dia heran, kenapa aku pulang lebih cepat. Dan aku senang dia tidak menanyakannya.

Esoknya aku baru tersadar, ada begitu banyak hal yang dapat kutulis dari sekitarku. Dari setangkai bunga liar yang berjuang tumbuh diantara aspal dan semen, hingga seekor ular yang melingkar dalam hutan.

Baru kali ini aku merasa ide-ide ceritaku meluap-luap, berseliweran di sekitarku.

Kadang… kita terlalu melihat jauh ke luar, sementara kita lupa melihat diri kita sendiri…
Dan itulah yang dulu terjadi padaku.

Sudah sebulan berlalu, entah kenapa aku ingin bertemu dengan Rhel, setidaknya mengucapkan terimakasih padanya.

“Permisi, Lyn Drachi?” terdengar suara dari depan pintu rumah dan ketukan pintu yang beruntun, cepat-cepat aku membereskan ruang tamu –mana mungkin aku membiarkan seseorang masuk dengan ruangan yang seperti kapal pecah ini?– , dan membukakan pintu.

Dari sana, muncul sosok yang kukenal, sosok yang mulai kusukai… sejak pertama kali aku bertemu dengannya.

“Lyn, boleh aku tinggal di sini?”
Katanya sambil tersenyum lebar, ceria. Wajahnya lebih cerah daripada sebulan lalu.

“Aku ingin berganti suasana, membiarkan masa lalu tetap sebagai ingatan. Bukan sebagai hal untuk memperingati diri untuk membuat tameng dari orang-orang sekitar. Bukan sebagai alasan untuk melindungi diri.”

Dia menarik napas, dan tersenyum lagi, memperlihatkan aura kemudaannya, “Karena itu, boleh aku tinggal di sini? Aku ingin mencoba bersosialisasi, tapi kupikir karena aku terlalu lama menjauh, hal itu akan menjadi agak sulit. Dan setidaknya, aku ingin meminta bantuanu walau hanya sedikit. Boleh?”

“Tentu saja!”

10 responses

  1. Dua orang penulis sebatang kara tinggal serumah? Bakal tetep sunyi senyap tu rumah!:mrgreen:

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Ngek?
    Ah…
    Bener juga yah?

    *ngakak*

    20 December 2008 at 11:22 pm

  2. wah jadi malu nih dibilang tulisan saya keren2 padahal yang disini lebih bagus lagi…
    nyuri nyuri ilmu disini sekalian deh…🙂

    dunianyawira

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Ahaha…
    Ku masi pemula kok
    Masi harus banyak belajar ^^

    23 December 2008 at 9:54 am

  3. *baca2*

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Makasi dah baca (worship)

    23 December 2008 at 11:52 am

  4. wow terpana aku ini…

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Ehehe…
    *blush*

    24 December 2008 at 10:34 am

  5. Rei。

    Tumben critanya ga berdarah2.
    Apa q yg jarang bc2 cerpenmu?
    Fufufu

    7 January 2009 at 11:58 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s