The forgotten snow dust…

The Bloody Show

Ersh mengerjapkan mata, melihat langit-langit kayu di atasnya. Otaknya mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Dengan lemas dia bangkit dan duduk, masih di kasurnya, hingga seseorang membuka pintu ruangan itu dengan kasar, membuat debu-debu berterbangan dari tempatnya.

Orang itu mengangkat kerah baju Ersh dan melemparkannya ke dinding, membuat suara berdebum nyaring. Ersh tidak melawan, dibiarkannya orang itu membanting dirinya sementara dia masih mencoba menyadarkan diri.

“Kau masih sama seperti dulu, Ersh Bevod, kau bahkan tak bisa melawanku,” ujarnya, tangannya masih mengangkat Ersh tinggi-tinggi, tapi kata-katanya menyadarkan Ersh.

Ersh yang tersadar mulai melawan. Geraknya gesit mengambil sebilah pedang yang tersembunyi di pojok ruangan saat orang itu juga menghunuskan pedang yang mirip. Tak lama berselang, suara hantaman keras antara dua logam yang panjang dan tajam itu terdengar dengan jelas di antara keheningan.

Hingga Ersh menjatuhkan orang itu dan menghunuskan pedangnya pada tubuh yang tergeletak kalah itu. Sepi.

Tak lama, tawa mereka meledak, “Sayangnya aku tidak sama lagi, karena setidaknya aku bisa mengalahkanmu hari ini, Shurral,” Ersh menyeringai lebar dan menarik kembali pedang yang dipegangnya, membantu Shurral berdiri sambil tertawa.

“Nah, apa yang membawa seorang Shurral Polgare kesini?” Tanyanya kemudian, “Ada hal menarik apa?”
“Aku melihat sebuah pertunjukkan menarik, mau menonton?”
“Lagi-lagi kau mau memperingatkanku sesuatu dengan ‘hal menarik’ itu? Ramalanmu tentang ‘hal-hal-menarik-yang-bisa-jadi-pelajaran’mu itu memang selalu benar, tapi aku bukan lagi anak kecil, Shurral.”
Mereka berdua tertawa lagi, “Kau selalu terlihat kecil di mataku, wahai bocah Ersh yang ‘baik hati’, seorang sadistis yang malah memilih pekerjaan di jalan yang kotor ini karena kesenangannya menyiksa seseorang.” Shurral menyindir, dan tawa renyah mereka kembali terdengar.

“Baiklah, baiklah, aku menyerah,” Ersh mengambil kembali pedangnya dan bersama Shurral keluar ruangan itu, dimana tumpukan mayat yang berdarah-darah adalah pagar penghias bagi jalanan di halaman gubuk kecil tenpat mereka keluar, dan mereka tertawa-tawa melihatnya.

Pesta tahunan sudah dekat, tentu saja semua orang di tempat itu tertarik, termasuk Cheoh yang sedang berada di rumah Illya, meminta izin pada ibunya, Irene, untuk membawa Illya ke pesta itu.

Semua orang tahu Irene adalah seorang yang iseng, tapi menyenangkan. Walau kadang keisengannya membuatnya berada dalam keadaan bahaya kalau saja Illya tidak menolongnya. Dan saat melihat Cheoh yang berada di depannya, meminta izin untuk membawa anak tunggalnya ke pesta itu, membuat Irene ingin menjahilinya walau sedikit.

Irene TIDAK memperbolehkan Cheoh membawa Illya, walaupun dalam hatinya ia berkata lain, Irene hanya ingin sedikit mengetes Cheoh, yang juga dikenal iseng, dan wajah ngambek Illya terlihat lucu bagi Irene.

“Nah, aku mau ambil minuman sebentar,” Irene beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan ke arah dapur di belakang Cheoh, yang sedang menunduk kaku di tempatnya duduk.

Senyum kecil tampak di bibir Cheoh setelah berpikir beberapa lama, yang tahu bahwa Irene sedang mengujinya. Diambilnya pisau buah yang terletak di depannya dan memainkannya di tangannya.

Lalu dengan suara yang cukup keras, dia berkata, “Kalau anda tidak menginjikannya…,” sambil mengangkat pisau itu tinggi-tinggi di atas kepalanya, dengan mata pisau yang tajam mengarah tepat ke tengah-tengan kedua matanya, membuat Illya melotot histeris.

“Hmmm?” Irene menunggu ‘jawaban’ Cheoh.

Cheoh lalu melepaskan pegangannya dari pisau itu, membuat pisau tajam itu meluncur mulus dengan iringan suara Illya. Tapi dengan tangkas Cheoh menangkap pisau itu tepat sebelum ujungnya mendarat di kulitnya, dan melemparkannya ke belakangnya. Membuat pisau itu terjatuh entah di mana, tanpa membuat suara. Dan membuat Illya mendesah lega, walau hanya untuk sesaat.

Karena ada satu hal…

Satu hal yang terlupakan oleh Cheoh…

Yang membuat Illya kembali histeris…

Bahwa Irene berada tepat di belakang Cheoh…

Suara Illya tertahan, membuat Cheoh bingung dan menatap ke arah belakang, dan melihat sebuah hal yang tidak pernah diperkirakannya.

Pisau kecil yang cukup panjang itu menembus leher Irene, tertanam dalam di kusen jendela, menciptakan jejak darah dari leher yang ditembusnya.

Cheoh terpaku, kaget, sementara Illya pingsan. Cheoh tidak pernah menyangka kalau hal yang sering ia lakukan, bermain-main dengan pisau seperti itu, akan membuahkan hasil seperti ini.

Klek!

Entah bagaimana, kepala Irene tiba-tiba tertekuk ke sebelah, lalu belakang, terpisah dari lehernya dan terjatuh dari jendela. Membuat keributan saat para pejalan kaki melihat tetesan darah dari kepala Irene yang tersangkut di pohon.

Sementara di gedung yang berada tepat di depan ruangan itu terjadi, dua orang terkekeh sambil memperhatikan mereka dengan teleskop.

“Dengan kata lain, kau memintaku untuk berhenti bermain-main dengan senjata tajam?” Ujar Ersh dengan nada mengejek pada Shurral, “Bagaimana aku bisa hidup? Apa kau mau membunuhku pelan-pelan? Membuatku tidak mendapatkan honorku hingga aku mati?”

Mereka berdua kembali tertawa lebar, Shurral tahu pekerjaan Ersh yang akan selalu berhubungan dengan senjata tajam, atau senjata api, lantas dia masih memperlihatkan hal ini kepadanya.

“Bukan maksudku mengganggu kesenganganmu dalam pekerjaan jahatmu itu, aku hanya mengingatkan tidak baik berbuat iseng dengan senjata tajam,” Shurral kembali tertawa.

“Bukankah anda sendiri, seorang Shurral Polgare, yang mengajarku untuk bermain-main dengan mereka selama ini? Kau bahkan sudah ‘berpacaran’ dengan pedangmu tercinta itu, kutebak kamu pasti membawanya mandi bersamamu,” Mereka kembali tertawa lebar, menghunus pedang masing-masing untuk kembali ‘memainkan’ permainan yang selalu mereka lakukan, sementara suara sirine ambulan meraung-raung dari kejauhan.

9 responses

  1. nice story like the usual…
    hhay….

    rei,,,,
    bole minta kode buat yg salju turun itu loh.. hehe..😀
    lwt YM aja yak kodenya..😀

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Sedihnya, itu dari wpnya. Ngga pake kode
    Dan cuma bisa sampe 5 Januari (kalo ga salah)
    =_=

    25 December 2008 at 8:32 am

  2. Rei。

    Hha..
    Dasar Rein.

    Kembangin bakatmu. Percaya ma aku. Jadiin sebuah pekerjaan sampingan.
    Buat novel sekeren Harry Potter dan novel2 best seller lainnya.

    Aku percaya Rein. Bahasamu uda enak banget. Cara membawakan ceritanya pas.

    Ide2mu aneh2. Pertahankan Rein.
    Buat 1 novel aja. Tapi bikinnya yg serius. Fokus ma novel itu. Pasti keren

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Kyaa… Aku dibilang aneh-aneh~!
    xD

    Aku dah pernah bikin novel, tapi hasilnya gawat
    Alurnya ga fokus =_=
    *maklum, tanpa rencana ceritanya bakal berkembang jadi gimana. Langsung beraksi tanpa mikir :p*

    Thx ^_^

    29 December 2008 at 2:16 am

  3. soalnya beberapa kali bikin cerita, terhadang pada penamaan, lalu otomatis pencet Ctrl+a, Backspace…

    8 January 2009 at 5:41 pm

  4. Ceritanya keren. . .
    Gimana caranya bisa mimpi kaya gitu? (error mode:on)
    ahaha ^^

    13 January 2009 at 8:00 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s