The forgotten snow dust…

The End of Year

Akhir tahun…

Apa ini akan menjadi akhirku juga?

Belasan tahun sudah kulalui.
Tapi, apakah aku sudah melakukan satu hal… satu hal saja yang berarti?

Aku hanya bisa diam di sini, terbaring lemah di atas ranjang putih rumah sakit yang dipenuhi aroma obat.
Tiang infus adalah pendampingku, obat adalah teman sehari-hariku.

Membosankan…

Para dokter selalu memvonis hidupku, mereka berkata, aku tak akan bisa hidup lebih dari tiga tahun lagi.
Ya sudah, untuk apa hidup?

Untuk apa?

Aku jadi teringat pada dua saudara kembar yang meninggal di tempat yang sama, walaupun dalam waktu yang berbeda. Di bawah pohon sakura itu. Dan karena hal yang sama, penyakit mereka.

Apa aku juga akan berakhir seperti itu? Kalah dari penyakitku sendiri?

Sudahlah…
Hidupku memang tak akan lama, lalu kenapa?
Peduli apa?

. . .

Bosan…

Kupandangi kalender yang sudah menunjukkan bulan Desember. Apa sampai tahun depan aku masih akan di sini? Atau sampai seumur hidup? Kalau begitu, untuk apa aku lahir? Untuk menghabiskan uang keluarga hanya untuk tinggal disini, seumur hidup? Tanpa ada kemungkinan untuk normal seperti yang lainnya? TIDAK!

Aku akan mati…
Tak lama lagi aku akan mati…
Tapi kenapa sampai sekarang aku masih hidup?
Di akhir tahun ini, dan akhir tahunku.

“Yo!”

Aku mendongak mendengar suara itu, “Apa kabar?” tanyanya.
“Buruk,” jawabku, Ia tertawa, seperti biasa.
“Tidak bisakah kau menjawab ‘baik’, walau cuma sekali saja?”
“Baik.”
Dia tertawa lagi.

Saudara sepupuku memang seperti ini, santai, mengalir dengan waktu, seolah dia tidak pernah memiliki masalah apapun. Orang yang bahagia, aku iri dengannya.

“Oi, ngapain ngeliatin kayak gitu? Nge-fans ya?” Dia terkekeh lagi. Reflek, kulempar bantalku ke arahnya, dan dia kembali tertawa. Curang…

Kembali kurebahkan diriku di kasur tanpa bantal, miring ke arah jendela sehingga aku tidak akan melihat dia, hening sejenak.
Tapi kemudian, tanpa ampun dia menekan bantal ke arah mukaku.
Sesak!

Mati-matian aku berontak, tapi sekali lagi, dia hanya tertawa, “Kau mau membunuhku?” Tayaku sinis.
“Mungkin,” dijawabnya pertanyaanku dengan riang, tanpa beban.
Aku iri… Iri padanya…, “Kalau begitu, kenapa tidak kau bunuh saja aku sekalian?”
Dia tidak kaget, sudah sering kutanyakan pertanyaan seperti itu padanya, “Kenapa ya?” dan kembali tertawa.

“Curang…,” gumamku pelan.

Dia mendengar gumamanku, “Curang? Kenapa?” dan duduk di kasur kecil ini, mengacak-acak rambutku.

“Kau curang, kau punya semua yang kuinginkan, hidupmu bisa lama, kau orang yang beruntung, berbahagia, kau bisa tertawa lepas seperti itu, kau tak punya beban yang kau tanggung, kau…”
Kembali dia tertawa lantang, membuatku makin jengkel.

Tawanya mereda, lalu ia menatap mataku tajam, “Hidupku bisa lama? Tak ada beban yang kutanggung? Beruntung? Bahagia? Apa kau bercanda?” dipojokkannya aku ke ujung ranjangku, “Kau pikir, orang yang tertawa itu selalu bahagia? Kau pikir orang yang sehat akan selalu hidup lebih lama daripada mereka yang sakit?”

Aku tercengang, apa maksudnya?
Bukannya kata-kataku benar?

Dia menghela napas, dan menjauh kembali duduk di sofa seberang, bersiap-siap memulai ceramahnya, “Orang yang sehat belum tentu hidup lebih lama daripada kalian yang tidak sehat, kenapa?” Retoris, tidak membutuhkan jawaban, sekali lagi dia menghela napas dan melanjutkan ceramahnya, “Mereka yang memiliki penyakit kebanyakan pergi karena penyakitnya, sedangkan bagi yang sehat? Kecelakaan, bencana alam, bunuh diri, dibunuh, dan bisa saja karena hal lainnya.”

“Setiap orang memiliki waktu mereka masing-masing, bisa saja waktuku lebih singkat daripada waktumu, tidak ada yang tahu. Karena takdir tidak hanya satu.”

Aku makin bingung, tidak hanya satu?

Melihatku yang kebingungan, dia tersenyum, “Takdir, adalah sesuatu yang akan terjadi karena suatu hal, suatu langkah yang kau pilih… menurutku sih,” dia tergelak pelan.

Masuk akal.

“Ada banyak hal yang tidak hanya memiliki satu definisi, tergantung dari sudut pandang mana kau melihat hal itu, tak ada salahnya kan mempunyai pendapat sendiri?”

Aku mengangguk. Memang, hanya akan ada segelintir orang yang memiliki pandangan yang benar-benar sama, atau bahkan mungkin tidak ada sama sekali.

Dia berjalan menuju jendela, sambil terus berbicara, “Setiap orang memiliki beban hidup mereka masing-masing. Kamu, misalnya, penyakitmu itu. Kamu bisa menganggap beban itu sebagai ‘berkah’ atau ‘cobaan’, lagi-lagi, terserah kamu,” dipandanginya pohon sakura yang kering, ranting-ranting kecilnya yang menahan salju, “Bisa jadi kamu berpikir, karena kamu di sini karena penyakitmu, kamu terlindungi dari orang-orang jahat di luar sana. atau kau berpikir, karena penyakitmu kau di sini, terkurung dari dunia luar. Terserah kamu mau berpikir seperti apa.”

Disembunyikannya mukanya dalam lipatan tangannya, menyudahi ceramahnya.
Hei… bukannya masih ada lagi?

Aku memberanikan diri untuk bertanya, “Bukankah tertawa itu karena orang senang? Karena mereka bahagia?”

Sunyi…
Tidak ada jawaban, bahkan tidak gelak tawanya yang seperti biasa.
Apa dia baik-baik saja?

Dia berdiri, memandangi jam tangannya dan menepuk lembut kepalaku sekali.

“Itu… adalah tugasmu untuk menyimpulkan, dah! Aku pulang dulu. Besok mungkin aku tidak bisa datang, karena itu aku bilang sekarang saja, walau terlalu cepat sehari. Selamat ulang tahun!”

Dia tersenyum, melemparkan bungkusan biru dari tasnya, dan berlalu.
Meninggalkanku kembali sendiri di kamar ini.

5 responses

  1. Ara…
    Udah nongol ^^;;a

    Ini pasangan post sesudahnya

    31 December 2008 at 12:31 am

  2. ari

    semoga tahun depan lebih baik dr tahun kemarin, hiks…hiks……jd ingat saudara kembar ari😦

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Amiin🙂

    Eh? Ari punya saudara kembar?

    31 December 2008 at 1:33 am

  3. Ini kisah nyata?

    BTW, happy new year dua2nya

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Tidak, ini fiksi karangan saya🙂
    Hepi nyu yer juga~!

    31 December 2008 at 7:54 am

  4. Curiga ada lanjutannya😛

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Wakh… Ketauan😛
    Ada lanjutannya taun depan~

    31 December 2008 at 7:01 pm

  5. WAH, CERITANYA gak sempat aku baca nih…
    kepanjangan bo’…

    tp sebagai gantinya, aku ucapkan:
    happy new year !!

    Wishing U a warm 365 days !!

    ~emien

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Ahaha, gapapa🙂
    Yep, you too~

    31 December 2008 at 7:21 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s