The forgotten snow dust…

The Beginning of Year

Hmm… Sudah tahun baru lagi…
“Hari ini hari ulang tahunnya”, gumamku pelan.

Apa dia sudah membuka hadiah dariku ya?
Bagaimana reaksinya ya?
Ah, harusnya aku tinggal sebentar lagi di kamarnya kemarin.

Teringat lagi wajah bingungnya saat dia bertanya, “Bukankah tertawa itu karena orang senang? Karena mereka bahagia?,” sungguh membuatku tertawa.

Belasan tahun di rumah sakit sepertinya membuatnya tetap sama polosnya seperti dulu, kembali ku tergelak memikirkannya. Tapi kasihan juga, dia entah kenapa begitu pesimis akan bertahan hidup, berpikir akan segera mati, secepatnya. Pasti gara-gara para dokter-dokter bodoh (eh, dokter itu bodoh? Kalau bodoh tidak mungkin mereka jadi dokter dong?) yang seenaknya mem”vonis”nya tidak akan hidup lama!

Aaah…
O iya, harusnya kemarin kuceritakan tentang dia ya, seorang penulis yang tinggal sendiri di apartemennya yang meninggal entah kenapa, padahal dia masih muda, tapi yah… kalau waktunya memang sudah habis, mau bagaimana lagi?
Penulis itu, yah… bisa dikatakan, pamanku. Dia saudara termuda ayahku, tetapi dia jugalah yang paling dewasa. Dia sendirian mengatur saudara-saudaranya yang berebut harta warisan, juga saling menuduh akan siapa yang telah membunuh kakekku.
Juga tentang kekasihnya yang meninggal karena kecelakaan, sehari setelah kematiannya. Dia berada di apartemen yang sama pada saat pamanku itu meninggal, tak bisa kubayangkan bagaimana perasaannya.

Eh? Begitu banyak kematian terjadi dalam waktu yang tidak bisa dibilang jauh, apa ada yang mengutuk keluarga ini ya? Aku tertawa lagi, membuat orang-orang disekitarku melirik aneh.

Aku tidak keberatan dikatakan gila, tapi tertawa sudah merupakan kebiasaanku, untuk menyembunyikan berbagai hal yang ingin kusembunyikan, yang aku tidak ingin orang lain tahu, tentu saja, karena itulah suatu hal disembunyikan kan? Lagi-lagi aku tertawa.

Hhh…
Saat ini sepupuku yang sangat polos itu sedang apa ya?
Dia selalu membuatku khawatir, pernah dia hampir menelan sebotol penuh obat, dan dia sudah akan tiada di dunia ini kalau saat itu aku tidak datang. Tak jarang pula dia memintaku untuk membunuhnya–walau aku tahu dia mengatakan itu hanya untuk bercanda.

Aku terkekeh mengingat kemarin, saat aku menjenguknya seperti biasa, saat ia menuduhku curang, beruntung, bahagia, tidak memiliki beban, saat ia jelas-jelas menyatakan iri padaku yang bisa tertawa lepas seperti ini, dan dia menganggapku bahagia karena aku selalu tertawa.
Sungguh anak yang polos, dia itu.

Kembali ku mengingat caraku menceramahinya kemarin, wah… tak kusangka aku bisa jadi penceramah ulung! Apa aku mendaftarkan diri untuk pekerjaan itu saja ya? Lagi-lagi aku tertawa, lebih keras saat aku melihat seorang ibu yang menjauhkan anaknya dariku.

Dia tidak tahu, aku tidak seberuntung dia, aku tidak sebahagia yang dia kira, aku tidak habis pikir kenapa dia iri padaku.

Kadang aku bertanya-tanya, apa “keberuntungan” itu benar-benar ada?

Entahlah…

Entah kenapa, kadang aku berpikir, aku tertawa seperti ini untuk menghibur diriku sendiri, untuk lari dari kenyataan, untuk menghiburnya.
Eh? Menghiburnya? Siapa yang kumaksud?

Aaah…

Makhluk yang paling sulit di mengerti adalah manusia, sepertinya aku (sangat) setuju dengan pendapat itu.

Kini aku berada di depan apartemen kecilku lusuh dan (agak) tidak terawat ini, cepat-cepat ku buka pintu, setengah berlari ke kamar dan melompat ‘menerkam’ kasur.

“AWW!!”

Terdengar desahan (teriakan, tepatnya) dari kasurku, sejak kapan kasur bisa bicara?
“BERAAAAT!” Ah, itu bukan kasur, ada seseorang di kasurku!

“Siapa suruh tiba-tiba masuk ke apartemen orang, dan tidur di kasurnya tanpa izin, wahai sang Goldilocks!”
“Jangan Goldilocks dong! Sejak kapan aku punya rambut emas, tuan beruang?”

Aku tertawa lagi, diikuti tatapan sinis matanya–reaksi yang selalu sama apabila aku bercanda, dan perlahan menyingkir dari atas tubuhnya (harap jangan berpikir yang aneh-aneh), “Nah, kalau begitu, kenapa sang dia-yang-berulang-tahun ada di tempat ini? Harusnya sekalian saja kau bawa kasurmu dari rumah sakit, di sini kan hanya ada satu kasur,” aku terkekeh–lagi.

“Jahat! Sudah capek-capek aku mendatangimu ke sini!” dikibarkan selembar kertas di tangannya, izin untuk keluar dari rumah sakit selama seminggu, salah satu hadiah ulang tahun dariku, ekspresi wajahnya masih sama seperti biasa jika aku mengejeknya sedikit, aku tertawa lagi dan mengangguk, bertanya padanya, “Nah, anda mau ke mana sekarang?”

Dia tersenyum, lama aku tidak melihat senyumnya, kuelus lembut kepalanya dan sekali lagi bertanya, “Haloooo… Hari ini kamu mau ke mana?”

Pertanyaan itu dijawabnya dengan seabrek buku panduan wisata–entah kapan dia membelinya–yang tentu saja membuatku panik. Bisa-bisa dia menghabiskan seluruh tabunganku!

Yah…
Biarlah…
Sepertinya aku mengerti untuk siapa aku tertawa seperti ini.

Selamat “tahun baru”…
Untuk dirimu yang tak kulupa.
Tak kan pernah kulupa…

8 responses

  1. 😀

    19 January 2009 at 5:56 pm

  2. ga ngerti sama ceritanya….. -_____-

    btw, salam kenal ! X)

    16 May 2010 at 10:06 am

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s