The forgotten snow dust…

A Slight Thought

Komunitas ini… entah kenapa terasa begitu menyakitkan bagiku.

Rasa iri ini selalu mendatangiku tiap kali aku melihatnya, menemukan tanda-tanda keberadaannya yang mulai meluas menjalari ruang lingkupku.

Memang salahku juga yang terlalu tertutup, tapi aku tidak terbiasa bicara, aku tidak bisa semudah itu masuk ke dalam tiap percakapan dan tetap mempertahankan diri dalam percakapan itu untuk waktu yang lama.
Aku tidak bisa melakukan itu, hanya kepada beberapa orang, dan dia mulai mengenali orang-orang yang berada dialam ruang lingkupku.

Aku tidak bisa menyalahkannya, memang komunitas ini ada untuk saling mengenal, tapi apa yang bisa seseorang seperti ‘aku’ lakukan di sini? Tidak ada!

Tapi aku menyukai komunitas ini, aku tidak ingin meninggalkannya, dan sebenarnya aku juga ingin berada di dekat dia

Tapi aku tak mau dia menyadarinya.

Memang aku pernah dekat dengannya, tetapi saat ini kami sudah tidak seperti dulu. Dan aku membuat batasan-batasan sendiri untukku, karena aku tidak berharap untuk kembali dekat dengannya.
Karena aku tidak cukup baik untuknya.

Sudah berkali-kali aku mencoba untuk membunuh perasaan ini. Dia hanya menyusahkanku, menyakitiku.
Tapi aku tak pernah berhasil, dia selalu menang dariku. Aku heran.

Pertahanan dirikuyang biasanya muncul menghilang entah kemana, aku yang lainnya lagi, kamu ada dimana? Padahal kamu pertahananku satu-satunya, kenapa kamu pergi? Padahal mungkin kamu bisa menggantikanku membunuhnya.

Dia
Entah bagaimana caranya untuk selalu memasuki pikiranku. Sebagian diriku ingin melupakannya, tapi sebagian lainnya ingin dia kembali.
Kedua bagian itu terus berselisih, tanpa mengerti perasaanku.

Dan, dia juga…
Apa dia sengaja melakukannya?
Apa membuatku merasa kacau seperti ini termasuk bagian dari rencananya?
Kalau itu benar, kenapa? Apa salahku? 

Aku tidak mengerti.
Aku sudah berusaha bersikap seperti dulu, seperti seolah tak pernah ada yang terjadi di antara kami. Tetapi kata-katanya terus menyihirku, menyuntikkan kekuatan pada bagian diriku yang ingin kutiadakan sehingga dia makin kuat, lebih dari apa yang bisa kubayangkan.

Kenapa hanya gara-gara seorang saja bisa begitu menyakitkan? Bisa membuatku kacau? Seingatku dulu aku tidak selemah ini.

Tapi, aku tidak bisa menyangkal bahwa sebenarnya keberadaannya membuatku merasa begitu tenang, membuat kedua bagian diriku yang berselisih berdamai dan merasa damai.

Dan setelah lama, aku mulai terbiasa dengan kadaan seperti ini. Tapi apakah aku akan membiarkan diriku terbiasa?

Aku sendiri sudah mengerti betapa kuatnya sebuah “kebiasaan” yang sudah biasa dilakukan, yang sudah biasa terjadi. Karena itulah aku ragu.
Aku ingin terbiasa, tapi juga tidak ingin terbiasa.

Aku takut apabila keadaan berubah, aku akan terbagi lagi menjadi bagian-bagian lainnya, yang juga akan saling berselisih. Aku tak berani memikirkan keadaanku di saat itu. Aku tidak mau itu terjadi.

Aku juga tidak mau dia terluka karenaku, aku tidak ingin membuatnya menyesal, tidak ingin membuatnya terluka, apa yang harus kulakukan?

Sejenak aku berhenti berpikir.
Aku lelah.

Ingin sehari saja aku diam.
Beristirahat dari drama melelahkan yang bernama kehidupan.

Kurebahkan tubuhku di atas kasurku.

Kembali kulayangkan pikiranku, melintasi alam-alam lain dimana semua yang kuinginkan akan terjadi, dimana drama di tempat itu sepenuhnya berada dalam kontrolku. Satu-satunya shelter-ku yang teraman, dimana semua kejadian dapat kutentukan.

Tapi dia lagi-lagi muncul ke dalam pikiranku dan mengaburkan bayangan tentang shelter-ku. Aku ingin melepasnya, karena aku tahu aku tak akan bisa membunuh aku yang lain yang terus mendukungnya.

Eh? Melepasnya?
Kenapa itu tak pernah terpikirkan olehku?

Kupejamkan mataku perlahan, melepas semua perasaan yang telah meluap hingga tak lagi bisa dibendung. Kulemaskan setiap senti tubuhku, hingga kedamaian yang terasa aneh ini memasuki tiap syarafku, mengalir bersama darahku.

Mungkin, aku akan mencoba untuk melepasnya, membiarkan dia melakukan yang dia inginkan. Aku tidak mau peduli lagi, aku tidak mau peduli walaupun aku akan hancur.
Karena memang tak ada yang peduli.
Tak ada yang akan peduli.
(kuenyahkan pikiranku yang berkata bahwa, dia MUNGKIN peduli)

Sudah, aku tidak mau berpikir lagi!
Aku tidak mau berharap lagi.
Kali ini saja, kali ini saja, biarkan aku tenang.

Kali ini saja…

Biarkan kesadaranku melayang ke tempat lainnya, melewati batasan kamarku yang sempit.

Biarkan aku istirahat,
Biarkan aku tidur,
Biarkan aku tidak memikirkan apa-apa, 

Kali ini saja…

Kumohon…

Biarkan aku…

 

Tenang…

13 responses

  1. Geuleuh, maen rahasian ih…
    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    LoL…
    Karna sepertinya..
    Anda mengerti ^^a

    17 February 2009 at 5:43 pm

  2. saya sih suram dengan default, haha
    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    He? Default gimana?

    18 February 2009 at 10:16 am

  3. ya setting otomatis sudah suram
    tapi dalam perjalanan menuju pencerahan
    jadi klo baca cerita suram, bergerak perlahan kembali ke setting awal
    wkwkwk
    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    yah…
    setidaknya kalo yang ini terinspirasi dari keadaan nyata ^^;;

    3 March 2009 at 1:51 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s