The forgotten snow dust…

Tidur

Erina terbangun beberapa detik setelah alarmnya berbunyi. Tercium olehnya bau amis darah, dengan sesosok tubuh tergeletak di pintu kamarnya. Diingat-ingat kembali olehnya apa yang telah terjadi.
Dan semuanya bermula pada saat itu.

Erina terpaku di meja kerjanya, dipaksakan kedua matanya untuk tetap terjaga. Jam mejanya berdetak nyaring memecah kesunyian kamar, menghitung detik demi detik yang telah berlalu.

Dengan perlahan tangannya menulis huruf demi huruf untuk laporan siang itu. Kopi? Kopi pun sia-sia, Erina tidak menyukai pahitnya kopi pada dini hari. Mengingatkannya pada kedua orang tuanya yang bertengkar hebat beberapa hari yang lalu, dan belum pulang hingga saat itu. Meninggalkan Erina dan adiknya, Kelia, di rumah yang sepi itu.

Dipandangnya jam meja kecil peninggalan Arran, kakaknya yang telah meninggal tiga tahun lalu. Andai Arran ada di sana, semua pasti akan lebih mudah, pikir Erina. Jam itu terus berdetak seolah menyemangati Erina, sambil perlahan menunjukkan angka lima dengan jarum pendeknya.

“Uuuh…,” keluh Erina. Sudah sejak jam sembilan malam dia mengerjakan laporannya. Pekerjaan rumah tangga dan mengurus adiknya yang masih enam tahun benar-benar sangat menyita waktunya, membuat tugas-tugasnya terbengkalai. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju kasur dan merebahkan diri di kamarnya, seraya bergumam, “Lima menit saja…”

Namun, baru saja ia menarik selimutnya, Kelia mengetuk pintu kamarnya dan masuk, “Kakak, kertas karton ada dimana?”
Erina bergumama pelan di balik selimutnya, “Di tempat biasa, lemari ruang tengah.”
“Tadi Kelly sudah cari, tapi gak ada,” kata Kelia lagi.

Dengan malas Erina bangkit dan mengambil gulungan besar karton cadangan yang ada di kamarnya, “Ini,” lalu kembali merebahkan diri di kasurnya sementara Kelia berlalu.

Hampir saja Erina memasuki alam mimpi ketika adiknya mengetuk pintu lagi dan bertanya, “Kak, gunting dimana?” dengan wajah polos.

Sekali lagi Erina bangkit dan berjalan keluar, mengambil sebuah gunting untuk adiknya, dan kembali ke kamarnya, melompat ke kasur setelah mengunci pintu kamarnya.

“Kakaaaak, kalau spidol?” kembali adiknya bertanya sambil terus mengetuk pintu kamarnya. Awalnya Erina berusaha untuk tidak mempedulikan Kelia, tetapi Kelia terus mengetuk pintu dan memanggilnya, makin lama semakin keras. Mau tidak mau dia bangkit lagi, berjalan keluar dan memberinya sekotak spidol. Diambilnya juga seplastik obat tidur berbentuk bubuk, sebuah apel, pisau buah dan piring.

Di kamarnya, apel itu dipotong menjadi enam bagian dan dibubuhkan olehnya sedikit obat tidur di permukaannya. Rasa kantuknya tak lagi tertahankan, membuatnya tak lagi bisa berpikir jernih dan dia tak mau terganggu lagi oleh adiknya.

Dihabiskannya apel itu sendirian, setelah beberapa saat, rasa lemas dan tak sadar mulai menjalari tubuhnya. Dari kursi meja kerjanya, dia menyeret kakinya perlahan ke kasurnya, dan saat itu juga adiknya memasuki kamarnya, “Kaka…,” tapi suara nyaring itu terhenti. Erina dengan reflek dan tanpa sadar melempar pisau di tangannya, yang lupa dia letakkan kembali, ke arah Kelia, menusuknya tepat di dadanya.

“Berisik! Aku ngantuk… Aku mau tidur, jangan ganggu…”

Lalu dia tertidur pulas, tanpa gangguan. Hingga terbangun saat ini

Dipandangnya dengan sedih dan sesal tubuh adiknya yang tak lagi bernyawa. Tubuh adiknya yang sangat ia sayangi, tangan kecilnya yang memegang sebuah kotak dengan selembar kartu di atasnya.

Selembar kartu bertuliskan…,

“Selamat ulang tahun, kak Erina!”

19 responses

  1. sblm minta ijin udah aku copas masukin ke milis temen2ku:mrgreen:
    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    DAAASAAAAR!!!

    26 February 2009 at 9:51 am

  2. sorry…. m(_ _)m
    dan mereka kebanyakan berkata klo itu adalah cerita yang menyedihkan

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Sori kenapa yah?😀
    emang ceritaku rada2 geje ^^a

    3 March 2009 at 1:48 pm

  3. Mustinya tu apel+obat tidur disuguhin ke Kelia…🙄

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    ciri2 orang ngatuk : gabisa mikir panjang
    dan saat menulis yang ini, sang penulis sedang tepar karena nahan ngantuk + menghayati(?) peran tokoh utamanya
    *alesan*
    =p

    14 March 2009 at 10:30 pm

  4. Pingback: Happy birthday… to us? « Reina Lunarrune

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s