The forgotten snow dust…

Searching for A Follower

Ina duduk terpaku di pojokan, memandangi mobil-mobil yang berlalu lalang di bawahnya.

Dia menikmati keberadaannya di atap gedung itu, menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya. Hanya saja, dia membenci saat-saat itu, saat kamera-kamera yang diarahkan padanya memancarkan cahaya, menangkap sosoknya diantara 39 anak lainnya.

Tak sekalipun dia suka difoto, atau memandangi sosoknya dalam selembar kertas yang membekukan memori saat itu. Tak sekalipun dia suka saat sang fotografer menyuruhnya mengulang-ulang pose, lagi, lagi, dan lagi.

Saat istirahat, Ina menggantungkan tangannya melewati pembatas gedung itu. Matanya masih menatap satu per satu kendaraan yang melintas di bawahnya. 

Teman-temannya mulai menanyakan keadaannya, tapi Ina bilang ia hanya bosan, dan teman-temannya pun kembali ke kegiatan mereka atas permintaan Ina.

Ina lalu menyembunyikan wajahnya dibalik tangannya yang terlipat, tetap memperhatikan kendaraan berlalu lalang di bawahnya melewati celah kecil di pembatas gedung itu. Hingga Ina menyadari, mobil-mobil di tempat itu tak lagi berjalan seperti sebelumnya, angin sepoi yang menerpa tubuhnya pun berhenti. Seketika suasana menjadi sunyi. Tak sedikitpun celoteh tawa anak-anak lainnya dapat terdengar oleh Ina.

Ina mengangkat wajahnya dan menangkap sesosok lelaki ‘hinggap’ di salah satu papan promosi yang setinggi atap bangunan tepat ia berada. Wajah lelaki itu memperlihatkan ketertarikan yang jelas pada Ina. Lelaki itu tersenyum lebar, memiringkan kepalanya, dan menyapa Ina, “Selamat siang, nona.”

Ina lekas bangkit dari posisi duduknya. Dia menyadari orang tersebut bukanlah orang biasa. Ditambah lagi dengan keadaan teman-temannya yang diam membeku bagai patung, hanya Ina sendiri, dan lelaki itu yang masih bebas bergerak seperti tak ada apapun yang terjadi.

“Aku tak mau hidup…,” lelaki itu memecah keheningan yang datang kembali setelah ia mengucap salam yang tak dibalas oleh Ina, “Aku yang mati, atau orang itu yang harus mati…”

Ina terbelalak kaget, dia melangkah menjauh dari lelaki berwajah indah tersebut, sementara laki-laki itu terus menggumamkan kata-kata, yang tak lain adalah pikiran Ina sendiri.

Hingga akhirnya punggung Ina membentur sesuatu dan lelaki itu menghilang dari pandangan Ina, Ina bernafas lega, tapi kembali panik ketika mengetahui punggungnya menabrak seseorang yang tak lain adalah lelaki itu.

“Siapa kamu?” Tanya Ina.
Lelaki itu tersenyum, senyum yang terlihat menakutkan bagi Ina, “Hanya seseorang yang mencari orang lain untuk melanjutkan kemampuanku,” dia menahan tangan Ina, membuatnya tak bisa bergerak.

“Kenapa aku?”
“Karena kamu sama denganku dulu, dan aku menggunakan cara yang sama dengan guruku untuk menemukan seorang murid,” lelaki itu berbisik tepat di sebelah telinga Ina. Ina berusaha melawan, tapi lelaki itu jauh lebih kuat dibanding dirinya.

“Ina Oura,” dia berkata lagi, “kuharap kamu bersedia mengikuti tesku.”
Ina yang tak sanggup melawan, mengangguk lemah. Lelaki itu spontan membawanya dengan mudah, ke satu tempat yang jelas-jelas Ina kenali.

Itu ‘rumah’nya sendiri. Tempat yang ia gunakan untuk tidur, kamarnya. Ina menatap mata lelaki itu dengan bingung, lelaki itu tertawa kecil dan melemparkannya sebilah pedang. Bagian tajamnya berkilauan terkena cahaya matahari yang merambat masuk melalui jendelanya.

“Bukankah ada seseorang yang kau ingin dia tiada?” ujar lelaki itu, “yang karenanya kamu berharap kamu tak pernah ada?”

Sekali lagi Ina terpaku kaget, bagamana bisa lelaki itu membaca pikirannya?

Lelaki itu lagi-lagi tersenyum mengerikan saat Ina tak bisa mengalihkan pandangan dari matanya, meminta penjelasan, “Tak ada yang perlu dijelaskan,” lelaki itu menepuk bahu Ina, “kamu boleh melakukan apa pun yang kamu inginkan pada orang itu saat ini, tak akan ada seorangpun yang melihatmu, tak akan ada seorangpun yang tahu,” ia masih menatap mata Ina lekat, “terserah padamu.”

Perlahan, Ina berjalan maju. Bergerak menjauhi kamarnya, ke tempat yang selalu ada orang yang dibencinya berada.

Dari jauh pun terdengar teriakannya yang memanggil-manggil nama adiknya, teriakan yang menyuruh adik kesayangan Ina melakukan ini dan itu, karena Ina sedang tidak ada di rumah.

Amarah Ina bangkit, terbakar mendengar teriakan yang penuh nada memaksa itu. Dihunusnya pedang yang diberi lelaki yang sekarang entah berada di mana itu, dan Ina berjalan secepat mungkin ke arah datangnya suara.

Pintu menuju ruangan itu terbuka dengan suara nyaring, membuat orang yang dibencinya menoleh dan berkata, “Ah, Inaku sayang. Kamu sudah pulang? Kenapa aku tak dapat mendengar kedatanganmu? Ah lupakan itu,” katanya dengan nada ramah yang dipaksakan, “sekarang, yang penting, bagaimana kalau kau pijitkan punggungku saja? Dan, mana uang penghasilanmu hari ini?” orang itu mengulurkan tangannya, wajahnya yang tidak menarik memancarkan paksaan, Ina menunduk.

Orang itu melihat pedang yang dipegang Ina, “Oho, itu pendapatanmu hari ini? Bagus, sangat bagus, darimana kau mencurinya? Dari toko antik mana?” orang itu berkata penuh nafsu.

Ina mendengus jengkel dan mengangkat pedang itu, “Hari ini, semuanya akan berakhir,” dengan satu gerakan yang ia sering lihat di film, Ina menghentikan kehidupan orang dihadapannya, lelaki yang memberinya pedang tersenyum dari kejauhan.

Ina gemetaran, baru kali ini dia membunuh seseorang dalam hidupnya, rasa bersalah, puas, dan takut berbaur menjadi satu, hingga akhirnya dia berhasil menenangkan hatinya.

Hanya saja Ina kembali terpaku melihat seseorang yang berdiri kaget di ambang pintu. Seorang anak lelaki mungil berdiri dengan mata terbelalak melihat Ina yang berlumuran darah orang yang dipanggilnya ‘ayah’.

Mata Ina panik mencari-cari orang yang memberinya pedang itu, tapi Ina tak dapat menemukannya. Adiknya yang sebelumnya masih diam di ambang pintu berlari, menjatuhkan nampan berserta isinya begitu saja. Ina berusaha mengejarnya, dengan pedang berlumuran darah itu masih di tangannya, “Reo! Tunggu!”

Adiknya berbalik dengan takut, “A… apa yang kakak lakukan?” tubuhnya gemetar hebat, “kakak… kakak pembunuh!”

Ina syok mendengar perkataan itu dari adiknya sendiri, matanya kembali mencari-cari keberadaan lelaki yang membuatnya melakukan hal tersebut, bukankah dia berkata kalau tak akan ada seorangpun yang melihatku?! Lalu, Reo dia anggap apa!

“Apa aku pernah bilang kalau aku tidak akan berbohong?”

Suara lelaki itu datang dari sofa di sebelahnya, Ina kembali melihat ke arah Reo, yang juga tiba-tiba membeku seperti teman-temannya sebelumnya, seolah waktu berhenti. Ina mendekati lelaki itu dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, menusukkannya ke orang yang sedang duduk santai di sofa sebelahnya. Tetapi…

“Kakak! Apa yang kakak lakukan!”
Reo kembali berteriak melihat kakaknya yang menancapkan pedang di tangannya ke sofa. Ina juga kaget, tak menyangka lelaki itu bisa melarikan diri semudah itu, “Kakak gila!”

Waktu terhenti lagi, lelaki itu kembali menampakkan diri di depan Reo, “Ina,” ujarnya, “Apa kau tahu apa yang akan terjadi apabila adikmu tersayang ini memberitahu orang-orang?”

Wajah Ina pucat pasi, tak terpikir olehnya apa yang akan terjadi setelah melakukan ini. Lelaki itu menghilang lagi, hingga Ina kembali berhadapan dengan Reo.

Ina menjatuhkan diri, bertumpu pada lututnya, terdiam. Reo juga ikut diam, memperhatikan kakaknya.
Lalu Ina tertawa kecil, membuat adiknya bergidik ngeri.

Ina berdiri, mengambil kembali pedangnya yang masih tertancap di sofa, dan berjalan ke arah adiknya yang terus mundur, hingga akhirnya ia terpojok.

Ina mengulurkan tangannya ke arah adiknya yang pasrah tak bergerak hingga menutup matanya erat, tapi tangan Ina melingkarinya.
“Aku hanya tak ingin, lelaki tua itu menyiksamu terus,” isak Ina pelan sambil memeluk Reo, “aku ingin, kamu senang seperti anak-anak lainnya.”

Dengan tangannya di punggung Reo, Ina mengangkat pedangnya, lelaki yang memberinya pedang itu menontonnya dengan sabar, apa yang akan terjadi selanjutnya, mengharapkan sesuatu yang menarik akan terjadi.

Dengan tangan kanan Ina, pedang itu diarahkan ke arahnya, dan dia tusukkan melalui adiknya, hingga mengenai dirinya sendiri, Ina melepas pelukannya, dan berkata pada adiknya, “Berbahagialah…”

Lelaki yang menonton dari kejauhan itu mendengus kecewa melihat Ina terjatuh dengan pedangnya yang menembus dirinya, melalui sela-sela tangan adiknya yang masih terpaku melihat kakaknya yang telah tiada. Reo, dalam keadaan tak terluka sedikitpun.

Lelaki itu kembali menjentikkan tangannya, menghentikan waktu, diiringi tawa seorang lainnya yang tiba-tiba berada di dekatnya.

Orang itu menghentikan tawanya, “Gagal ya, Ersh?”
Lelaki itu, Ersh Bevod, yang memberikan pedang pada Ina, tersenyum kecut, “Kau sudah lihat sendiri hasilnya, untuk apa bertanya?” lalu ia mendekati Ina dan mengambil kembali pedangnya yang tertanam dalam tubuh Ina, diikuti oleh gurunya yang masih tertawa terbahak-bahak, Shurral Polgare.

Lalu Ersh kembali menjentikkan tangannya, kembali ke atap gedung yang bersebrangan dengan tempat Ina berada sebelumnya, memandangi Ina yang menyembunyikan wajahnya dalam lipatan tangannya.

Ina tersentak, mengangkat wajahnya, membuat teman-temannya kaget karena gerakannya yang tiba-tiba, “Ada apa. Ina? Wajahmu pucat, kamu sakit?”

Ina tidak menjawab pertanyaan temannya, tangannya gemetar mengingat apa yang ia ingat. Ia bergumam, “Apa itu… mimpi?”

Ersh yang masih kesal beranjak dari tempatnya memperhatikan calon muridnya yang gagal melalui tesnya. Ina melihatnya berbalik dan Ersh menyadari Ina melihatnya.
Ersh lalu berbalik kembali ke arah Ina dan melambaikan tangan, berkata, “Selamat, anda masih beruntung,” lalu menghilang dari pandangan.

Keringat dingin membasahi tubuh Ina, dia melihat tangannya, didapatinya gelangnya yang berlumuran darah. Cepat-cepat ia meraih saku celananya, mengambil ponselnya dan memencet nomor yang telah ia hapal di luar kepala.

“Halo?”
“Halo.”
“Re… Reo?”
“Iya, tentu saja ini Reo, ada apa, kak?”
“Kamu… ada di mana?”
“Di dapur, ayah minta dibuatkan kopi.”
”Kamu tidak apa-apa? Tidak ada yang terluka? Ayah masih ada kan?”
“Tentu saja!” Kata Reo penuh semangat, “kakak ini kenapa sih?”

Ina menghela napas lega, lemas, terjatuh, dan tak sadarkan diri. Membuat teman-temannya panik dan memanggil guru mereka.

Dari gedung lainnya, Shurral dan Ersh masih memperhatikan anak itu, keramaian yang ditimbulkannya, “Tadi kau bilang anak itu beruntung?” Tanya Shurral.
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena dia tak perlu kehilangan orang yang disayanginya, dan tak perlu menjadi seperti aku dulu, seperti kita.” Ersh menyembunyikan wajahnya.
“Tak perlu menjadi seperti kita. Hahaha, ternyata masih ada sisi kemanusiaan dalam dirimu, Ersh!” Shurral kembali tertawa keras, diikuti oleh tawa Ersh, yang baru saja selesai membunuh kembali sisi kemanusiaannya.

9 responses

  1. Eru

    *bisik2*
    Aku juga nyari folower ni Ina..

    bikin eroge yuk?
    *berlalu*

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    *bergelayut manja*
    Follower buat apa nih kaka~?
    *disepak*

    ayo bikin eroge :devil:
    tapi gatau caranya =3=

    26 March 2009 at 1:03 am

  2. Arm

    *hening*
    ..
    ..
    kalo lulus si Ina bakal dikasih Geass ya?:mrgreen:
    *kabur diam2*

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    errr…..
    bakal dikasih apa ya?😀 *gatau*

    *lempar bata ke yang kabur diem2*

    26 March 2009 at 5:21 am

  3. wah tambah jago aja nih.🙂

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    Makasiiii~
    xD

    26 March 2009 at 12:36 pm

  4. hmm.. ada sih
    tapi tenang aja, aku nggak bakal aneh2 pakek tanda tangan kamu
    lagian aku juga nggak doyan sama kamu *ditampar*

    ~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~**~~~
    *timpuk sendal butut setumpuk*

    27 March 2009 at 9:40 am

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s