The forgotten snow dust…

Princess’ Curse – part 1

Di negeri Lumpaucow, hiduplah seorang raja bernama Alexander bin Abdullah dan seorang ratu yang bernama Meriva. Sang ratu sangat mengharapkan seorang puteri, dan setelah sekian lama, akhirnya impian ratu terkabul.

Sang raja lalu mengundang seisi istana, dan seorang penyihir putih legendaris bernama Harry Potter untuk merayakan kelahiran putrinya yang diberi nama Salju. Sayangnya, sang penyihir yang diundang tidak dapat datang, sehingga salah seorang muridnya menggantikannya, Yodiks.

Pesta tesebut berlangsung meriah, wajah-wajah bahagia terlihat dimana-mana. Tetapi, tiba-tiba petir bergemuruh, dua orang berjubah memasuki ruang pesta.

“Beraninya kalian tidak mengundangku!” Sebuah suara berat dari salah satu sosok berjubah bergema, menghentikan segala kegiatan. Seluruh tamu menyingkir, bersembunyi, tapi tak lari. Raja, ratu, dan penyihir Yodiks siaga, tak menyangka akan kedatangan seorang tamu tak diundang.

Suasana menjadi sening sejenak, hingga sang ratu memecahnya dengan suara datar namun lantangnya, berusaha menyembunyikan ketakutannya, “Siapa kalian?”

Suara melengking dari sosok lainnya menjawab, “Hah? Kalian tidak mengenal kami? Hahaha, dasar kampungan!” 

Sosok bersuara berat tersebut maju selangkah dan mulai berbicara, “Kami adala—”
Namun, si suara melengking memotong kata-katanya, “Kami adalah para penyihir hitam yang hebat!”

Ratu mengernyitkan wajah, tak percaya. Memang mereka terlihat mengerikan dalam balutan jubah hitam mereka, namun, ada sebuah keraguan di hati sang ratu, “Masa?”

Penyihir bersuara berat tidak terima, “Kalian tidak per—”
Namun, lagi-lagi percakapannya dipotong oleh partnernya, “Tentu saja! Kau tidak percaya?”

Serentak, raja dan ratu menggelengkan kepala sementara wajah penyihir Yodiks tegang, dia tahu siapa mereka.

Penyihir bersuara berat kembali angkat bicara, “Kalian ini ya, ka—”
“Kalian harus percaya, tuan saya ini—”
“Woy! Kapan gue ngomong, hah!”
Sebuah jitakan melayang ke kepala penyihir bersuara melengking, yang spontan berteriak nyaring memekakan teling. 

Sang raja menghela napas, dan bertanya dengan penuh wibawa, “Jadi kalian ini siapa?”

Penyihir bersuara besar tesenyum licik, dia kembali menghadap ke arah raja dan berkata, “Kami ini adala—”
“Kami adalah Phoenix dan Desria, penyihir hitam dari Timur. Kalian tidak mengundang kami, maka—”
Penyihir Phoenix yang bersuara berat berdehem pelan, membuat Desria, anak buahnya terdiam, lalu ia mulai berbicara kembali, “Karena kalian tidak mengundangku, aku akan mengutuk kalian!”

Wajah ratu memucat mendengarnya, “Jangan!”
“17 tahun yang akan datang, anakmu akan menjadi seorang lelaki! Dan kutukan ini tak akan pernah bisa dihancurkan sebelum aku tiada!” kedua penyihir hitam itu tertawa, disambut dengan suara petir dan guntur di luar istana. Mereka lalu menghilang, tanpa jejak.

Ratu berteriak, membuat perhatian seisi ruangan tertuju padanya, lalu terjatuh. Putri Salju menangis meraung-raung dalam dekapan sang ratu. Sang raja yang bingung mendekati sang ratu, mencoba menghiburnya.

“Tenanglah, aku akan mencoba membantu. Hanya saja, mungkin saja mantraku akan gagal, karena saya juga masih belajar. Apa tidak apa-apa?”

Mendengarnya, harapan sang ratu kembali, ” Tolong! Sembuhkan anak kami!”. Tetapi sang raja tidak terlalu yakin dengan Yodiks yang memang masih belajar, beliau memintanya untuk memanggil gurunya, Harry Potter yang agung ke tempat itu.

Yodiks mengambil handphonenya dan menelpon gurunya, dia menjelaskan keadaannya melalui handphonenya, tak berapa lama kemudian, dia menutupnya.

“Sayangnya tidak bisa, beliau sedang tidak bisa dihubungi untuk beberapa saat ini.”

Sang ratu yang mendengarnya berteriak histeris, “Tidak! Tolonglah! Sembuhkan dia!”

Yodiks tersenyum dan menyamakan pandangan matanya dengan sang ratu, “Anda benar-benar menginginkan anak perempuan ya? Raja dan ratu yang lain mungkin tidak akan sesedih ini apabila anak mereka mendapatkan kutukan yang sama.”

Yodiks mulai mencoba merapalkan mantranya, tetapi sang Raja menghentikannya, “Tunggu sebentar, sebelumnya kau berkata bahwa ada kemungkinan mantramu gagal? Apa yang akan terjadi?”

Yodiks terdiam, dan dengan terbata-bata, dia berkata, “Kalau gagal, 17 tahun lagi, dia… akan menjadi…”
“Menjadi…?”
“Err… bukan perempuan, dan bukan laki-laki…”

Raja dan ratu kaget mendengarnya, kembali dengan histeris ia bertanya, “Maksudmu, waria?!”

Yodiks yang sadar telah membuat sang ratu kembali panik mencoba menenangkannya, “Err… tapi itu kalau mantraku gagal, kalau berhasil ya, tidak…”

Dengan ragu, raja dan ratu saling berbisik, berdiskusi, sesekali mereka berhenti karena sang ratu menangis.

“Ba… baiklah, tolonglah anak kami…”

Yodiks mengankat tangan kanannya, mulai merapalkan mantra. Terlihat sesuatu yang samar-samar mengelilingi dirinya, membuat sang Raja dan ratu terkagum-kagum, seraya berdoa.

 Tak lama, mantra yang dirapalkannya pun selesai. Yodiks lalu memutuskan untuk tetap tinggal di kerajaan Lumpaucow untuk menemukan obat untuk kutukan sang puteri.

*****

16 tahun kemudian, dengan bantuan penyihir Yodiks, raja dan ratu akhirnya menemukan obat untuk mematahkan kutukan penyihir Phoenix.

Obat itu adalah buah water lemon yang pohonnya merupakan pohon tertua di hutan timur kerajaan, hutan Seiryuu, dan seseorang yang membutuhkannya harus mengambilnya sendiri. Raja dan ratu kembali ragu, mereka tak meragukan sarang penyihir Yodiks, tetapi mereka khawatir pada putri mereka yang harus berkelana di hutan itu sendirian. Apalagi setelah mengetahui bahwa penyihir hitam Phoenix berdiam di hutan itu.

Hingga akhirnya, raja dan ratu memanggil Puteri Salju untuk melakukannya. Dengan enggan Puteri Salju menurutinya, karena dia tak boleh membawa Juliet ikut serta. Raja dan ratu menghiburnya. Sang ratu lalu memakaikan tudung merah yang merupakan harta turun temurun kerajaan pada Puteri Salju, dan menyuruhnya untuk berkemas.

Sesudah sang puteri keluar, Yodiks berpikir sejenak, dan mengajukan diri untuk mengikuti sang putri.

“Bukankah kau berkata dia harus mengambilnya sendiri?” tanya sang raja.
“Hanya dari jauh, berjaga-jaga kalau kalau terjadi sesuatu. Kupikir, kalau hanya seperti itu tidak akan apa-apa. Lagipula aku tidak akan mendekatinya apabila tidak ada yang terjadi”

“…Baiklah.”

Sang ratu lalu memberikan sebuah loket perak pada Yodiks, “apabila terjadi apa-apa, kirimkanlah loket ini pada kami dan tolonglah Salju, kumohon…”

“Baiklah, yang mulia ratu.”

*****

Sang puteri pun bersiap-siap untuk melakukan tugasnya. Dan ketika ia siap berangkat…

“Saljuuuuu!!” dengan ceria Juliet datang dan memeluk Putri Salju. Putri Salju yang sudah terbiasa tertawa kecil dan bertanya, “Ahahaha, ada apa, Juliet?”

Masih dengan memeluk Salju, Juliet menjawab dengan riang, “Akhirnya Romeo ngajak aku jalan!”

Wajar, sudah beberapa lama Juliet tertarik pada Romeo, pemenang juara dua di turnamen tahun lalu. 

“Waaa.. akhirnyaa… kapan? Dimana?”
“Hari ini, jam 9, di taman Aoi dekat hutan Seiryuu di Timur,” Juliet lalu terdiam sebentar, dan dengan ragu dia kembali bertanya, “Umm…. Katanya kamu harus pergi ke hutan itu ya?”

“Iya, karena kutukanku ini,” Putri Salju tersenyum getir, disambut dengan wajah sedih Juliet.

“Sudahlah, kamu janjian dengannya di dekat hutan, kan? Ayo kita ke sana bareng.”
“Iya!”

Dan mereka pun pergi menuju hutan itu.

*****

Di taman Aoi dekat hutan Seiryuu.

“Sampai sini ya, Juliet, hati-hati!”
“Iya!”
“Cieee… yang lagi nunggu cowoknyaa!” goda Putri Salju seraya melambaikan tangan.
“Aah! Salju ini!”

Sang putri pun meninggalkan Juliet di taman, Juliet berdoa untuk keselamatan sahabat sejak kecilnya itu, dan duduk di salah satu kursi taman untuk menunggu Romeo.

1 Jam kemudian

Juliet melirik jam tangannya.

3 jam kemudian 

Juliet menghela napas, mencoba menahan amarah.

5 Jam kemudian

“LAMAAAAAAAAAAAA!!!”

Romeo pun akhirnya datang dengan santai, melenggang ke arah Juliet, “Maaf terlambat, Juliet,” lalu ia tersenyum menggoda.
Tetapi, Juliet terlanjur marah, dengan sinis ia berkata, “Ngga apa, aku juga BARU dateng kok”
“Ah, jangan ngambek gitu dong,” Romeo mengelus kepala Juliet. Seketika tangan Juliet mendarat di pipi Romeo, dan meninggalkannya, kembali ke kerajaan, sementara Romeo yang merasa tidak dihargai memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hutan.

* – bersambung ke part 2 – * 

14 responses

  1. ahahaha
    mana lanjutannya

    30 March 2009 at 9:28 am

  2. eh, itu udah ada:mrgreen:

    30 March 2009 at 9:28 am

  3. @ Rian Xavier :
    makasi😀

    @ Ute :
    itu dramanya hampir 30 menit xD

    @ Arm & Andyan :
    sepertinya sudah menemukan~

    11 April 2009 at 2:47 pm

  4. @ kau-tau-siapa :
    err… aku mo bikin gambarnya sendiri..
    tapi males juga :Da

    *dijitak*

    kalo pake gabar orang ga seru

    11 April 2009 at 2:49 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s