The forgotten snow dust…

Princess’ Curse – part 2

Sementara itu, di dalam hutan, sang Putri kebingungan, peta yang ia miliki sama sekali tak memberi petunjuk tentang hutan itu.

“Aaah! Peta ini sama sekali tidak membantu!” Teriak Putri salju seraya melemparkan peta di tangannya, lalu ia melirik kanan dan kirinya, “di sini ada orang yang bisa ditanya tidak ya?”

Suara ribut terdengar bersama aroma kue yang menggoda, Putri Salju mendekari sumber suara itu dan menemukan dua orang yang terlihat seperti kakak beradik yang sedang bertengkar di depan sebuah rum,ah kue.

“Aaah! Kak Hansel, jangan abil kueku!”

“Hahaha, siapa cepat dia dapat!”

“Kakaaak!”

“Err… permisi,” Putri Salju menyela.

“Ada apa?” tanya mereka berbarengan.”

“Anoo.. kalian tahu dimana untuk mendapatkan buah ini?” sang putri mengambil handphonenya dari tas kecilnya, dan menunjukkan gambar buah Water Lemon yang penyihir Yodiks berikan pada kakak beradik Hansel dan Gretel yang terkagum-kagum.

“Waaa, itu apa?” ujar Gretel.

“Kok bisa nyala?” Hansel pun ikut bertanya dengan nada antusias.

“Ih, gambarnya berubah!”

“Wah, keren!”

Putri Salju menepuk dahi, dan dengan sabar menjelaskan pada Hansel dan Gretel apa HP itu. Hansel dan Gretel manggut-manggut sambil ber-ooo. Tetapi mereka kembali bertanya…

“Jadi itu bisa dimakan, tidak?”

“Itu bisa dimakan kan?”

Putri Salju kembali menepuk dahi dan berteriak frustasi. Gretel lalu menenangkannya sambil meminjam HPnya, lalu memencetanya asal. Hansel kembali bertanya, “Ngomong-ngomong, tadi kamu bilang kamu sedang mencari apa?”

“Ini, aku sedang mencari…,” mengambil HPnya dari tangan Gretel dan melihat layarnya, “Hah? Delete itu artinya apa ya? Iya-iyain aja deh.”

#pip#

Gambar di HPnya pun terhapus. 

“Gyaaaaaaaa, gambarnya terhapus! Kok bisa?!”

Putri Salju panik, bahasa Inggrisnya yang hancur membuatnya mengira “delete” berarti “simpan”. Hansel dan Gretel kembali menawarkan bantuan, mereka menanyakan nama buah yang ia cari.

Dengan ragu Putri Salju mengatakan bahwa ia sedang mencari watermelon, yang tentu saja disambut dengan pandangan bingung dari Hansel dan Gretel.

“Bukannya watermelon selalu tersedia banyak di halaman belakang kita?”

“Eh? Kalian yakin?”

“Tentu saja! Gretel, coba ambil satu!”

“Ah, kakak selalu memerintahku!”

“Udah, ambil sana!”

“Kan berat, kak! Kakak saja ah!”

“Gretel saja!”

“Kakak saja!”

“Kamu!”

“Kakak!”

“Kamu!”

“Kaka—”

“Stoooooopppp! Kapan selesainya kalau begini terus?” Salju menengahi pertengkaran mereka.

“Iya, makanya, suruh Gretel ambil gih!”

“Kakak sajaa!”

“Kamu!”

Putri Salju kembali menghela napas menunggu pertengkaran mereka berakhir.

½ jam kemudian…

“Kakak aja!”

“Kamu aja!”

“Udaaaaaaaah! Aku yang ambil! Dimana?”

Akhirnya Putri Salju mengajukan diri untuk mengambilnya. Hansel dan Gretel pun mengentarnya ke kebun di belakang rumah kue tersebut dan menunjukkan buah bernama watermelon yang tak lain adalah buah semangka pada Salju.

Setelah menitipkan HPnya pada Gretel, ia mencoba mengangkat buah semangka itu, tetapi ia sadar, bentuk buah itu tidak sama dengan bentuk buah yang ditunjukkan Yodiks

“Apa maksudmu yang kau cari adalah water lemon?” Tanya Hansel kamudian, “kan tadi kau bilang, kau tidak mencari watermelon alias semangka, apa buah yang sebenarnya kau cari adalah water lemon? kalau benar begitu, bahasa Inggrismu sungguh-sungguh parah!”

Putri Salju meringis kecil sementara Gretel menegur kakaknya.

“Sayangnya, buah itu tidak bisa ditumbuhkan dimanapun kecuali di tempat itu,” ujar Gretel kemudian.

“Dimana?”

“In the heart of this forest,” jawab Hansel dengan wajah jahil.

“Aaaah! Kau kan sudah tahu aku tak bisa berbahasa Inggris!”

Sekali lagi Hansel tertawa terbahak-bahak, Gretel kembali menegurnya dan menjelaskan bahwa pohon itu tumbuh di jantung hutan itu.

Putri Salju pun bertrimakasih pada mereka dan melanjutkan perjalanannya.

“Ngomong-ngomong, kak,” ujar Gretel tak lama setelah Putri Salju pergi, “orang yang tadi itu mirip dengan putri di kerajaan ini, ya?”

“Hah? Masa? Aku tidak tahu, aku tidak ingat wajahnya, lagipula sebagian besar waktu kita habiskan di dalam hutan, mana mungkin aku ingat?”

“Iya juga ya, kak.”

“Lagipula, kalau dia memang benar-benar Saljud kerajaan ini, kenapa dia mau repot-repot berjalan di hutan seperti ini? Sendirian pula. Apalagi bahasa Inggrisnya itu, waahahhahaha.”

“Ah, Kakak ini!,” Gretel lalu menyadari ada sebuah benda dalam genggaman tangannya, itu adalah HP milik sang Putri, “ah! Ini miliknya kan? Apa namanya tadi? HP?”

“HP, harimau panggang… sepertinya enak…”

“Kakak! Ini milik orang lain! Kita harus mengembalikannya!”

” Iya deh,” Hansel dan Gretel pun ikut berjalan untuk mencari sang Putri.

*****

Sudah cukup lama Salju berjalan, ia lelah dan memutuskan untuk beristirahat.

Seorang nenek mendekati Putri Salju yang duduk di akar pepohonan dan menawarkannya jeruk-jeruknya yang tak laku di pasar pada hari itu. Suara dan wajah nenek yang memelas membuat Salju membeli satu jeruknya. Setelah nenek itu memberikan jeruknya, tanpa Salju sempat berterimakasih, nenek itu menghilang.

Salju tak menaruh curiga pada nenek itu, sang saat itu sedang bersembunyi dan memperhatikan Salju, tetapi, Yodiks yang sedari tadi mengikutinya menyadari ada yang aneh.

Penyihir Yodiks mendekati nenek itu, dan berkata, “Siapa ka—!” tetapi ia tak sengaja menginjak bebatuan berlumut yang membuatnya terjatuh dan tak sadarkan diri.

Sementara sang putri yang lelah setelah berdebat dengan Hansel dan Gretel mulai tergiur akan keranuman jeruk itu. Ia lalu mengupasnya, dan memakannya. Nenek yang memberinya jeruk itu menunggunya dengan waspada bercampur senang.

Hingga akhirnya Putri Salju benar-benar telah menelan jeruk itu, tak lama kemudian, ia jatuh tak sadarkan diri. Nenek itu keluar dari tempat persembunyiannya dan tertawa dengan suaranya yang melengking, “Hahahaha! Kau termakan jebakan kami, tuan puteri yang manis! Murid dari penyihir itu hebat juga, dia bisa mematahkan kutukan tuanku, sungguh mengganggu. Desria tidak suka!”

Satu orang lagi juga keluar dari tempat persembunyiannya, “Dan karena itulah kita harus mengutuknya kembali. Untuk membalaskan dendam kami yang diusir dari kerajaan. Bawa dia, Desria!”

“Baik, tuanku! Wingardium leviousa!” dengan sihirnya ia mengangkat sang putri. Dan bersiap-siap untuk membawanya ke kediamannya.

Dari balik semak-semak, Hansel dan Gretel melihat kejadian itu,

“Apa kataku! Dia memang benar-benar puteri kerajaan ini!” antara berteriak dan berbisik Gretel berkata.

Hansel memandangnya dengan tatapan tak percaya, ia dan Gretel sudah tahu bahwa penyihir Phoenix dan anak buahnya, Desria berdiam di hutan itu, tapi baru kali ini kakak beradik itu benar-benar melihat mereka, “A… apa yang terjadi? Mengapa Phoenix dan anak buahnya ada di sini?”

Gretel lalu berseru dengan suara tertahan, “Lihat! Mereka membawanya!”

Tanpa pikir panjang, Hansel menerobos semak-semak dan berusaha mengambil Putri Salju kembali, tentu saja itu tak banyak berpengaruh melawan penyihir Phoenix yang tegap dan terlindung oleh sihir.

“Siapa anak-anak ini?”

“Entahlah, Desria tidak tahu, anak-anak tidak penting, bolehkah Desria lenyapkan mereka?”

“Ya, aku akan membawa mangsa kecil ini ke kediaman kita. Kau, urus mereka.”

“Baik, tuan,” mata kejam Desria lalu melirik Hansel dan Gretel yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri, ia mengacungkan tongkatnya dan berseru, “Avada kedavra!”

Penyihir Yodiks baru saja sadar, spontan meneriakkan sihir khususnya sebagai tameng dan menyuruh Hansel dan Gretel untuk berpura-pura mati, Hansel dan Gretel menurutinya. Tak lama, Desria pun kembali mengikuti tuannya.

Setelah yakin keadaan telah aman, Penyihir Yodiks mendekati Hansel dan Gretel, “Kalian tidak apa-apa?”

Hansel menjawab, “Ya, kami tidak apa-apa. Tapi tuan puteri…”

“Aku tahu, mereka membawanya,” ujar Yodiks.

Hansel dan Gretel menunduk sedih, “maaf, kami tak bisa menolongnya.”

Yodiks lalu tersenyum menghadapin anak-anak di depannya, “Tidak apa-apa, itu bukan salah kalian,” lalu ia mengambil sebuah loket perak dari sakunya dan berkata, “Aku tidak tahu siapa kalian dan mengapa kalian berada di sini. Tapi, tolong kembalilah ke kerajaan, berikan ini pada raja dan ratu, tunjukkan ini pada para pengawal istana apabila mereka melarang kalian masuk. Segera!”

Tanpa buang waktu, Hansel dan Gretel segera berlari ke arah Barat, enuju kerajaan. Sementara Penyihir Yodiks bangkit dan dengan gagah berjalan ke arah Timur, menuju kediaman para menyihir hitam yang diusir dari kerajaan Lumpaucow beberapa abad yang lalu.

* – bersambung ke part 3 – *

3 responses

  1. pertamaxxx!!!!:mrgreen:

    30 March 2009 at 9:32 am

  2. hmm makin seru ceritanya
    *menuju bagian ketiga*

    30 March 2009 at 9:32 am

  3. douzodouzo~

    11 April 2009 at 3:07 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s