The forgotten snow dust…

Princess’ Curse – part 3

Sementara itu, di bagian lainnya dalam hutan yang lebih dekat ke kerajaan, Romeo berjalan-jalan sambil merutuk dirinya yang datang (sangat) terlambat.

“Hh… Kenapa aku bisa terlambat tadi? Romeo bodoh, lihatlah sekarang, Juliet membencimu!” lalu sesutau terdengar dari dalam hutan, membuat Romeo waspada, “Hah? Suara apa itu?”

Terdenganrnya suara nyaring khas anak-anak dari baliknya, “Kakak bodoh! Kalau kakak tidak tahu arah kenapa kakak asal berlari saja? Bagaimana kalau kita tersesat!”
“Aah! Diam sajalah, toh kamu juga tidak tahu jalannya kan?”

Romeo bernapas lega, dia lalu menyimpan pisaunya kembali, “Siapa” kalian?”

Tanpa mengindahkan pertanyaan Romeo, Gretel bertanya, “Kebetulan! Maaf, apa anda tahu jalan menuju istana?”
“Tentu saja. Kenapa?” jawab Romeo heran.
Sekali lagi, pertanyaan Romeo tak dipedulikan, “”Tolong antarkan kami ke sana!”
Romeo bingung, tapi melihat wajah mereka yang jelas-jelas terlihat panik, Romeo mengantar mereka.

*****

Sesampainya di istana

Romeo memasuki ruang bersinggasana, sang raja dan ratu ada di sana, senga berbicara dengan Juliet, ia lalu berlutut memberi hormat, dan berkata, “Yang mulia raja, ratu, saya membawakan tamu untuk anda.”
“Siapa kah mereka, Romeo?” tanya sang raja.
“Saya juga tidak tahu, tetapi mereka terlihat amat panik, dan sepertinya mereka membawa sesuatu.”
“Bawa mereka kemari,” suara lembut sang ratu memerintahkan.

Hansel dan Gretel masuk, mereka mengagumi keindahan dan kemegahan istana tersebut, tapi mencoba untuk tetap bersikap sopan.

Gretel memulai pembicaraan, “Paduka, kami datang untuk memberikan ini dari seseorang yang kami temui di hutan, ia lalu maju mendekati sang raja dan ratu, lalu menunjukkan loket perak yang diberikan Penyihir Yodiks padanya.

Sang watu langsung panik melihat loket itu, “Tidak! Apa yang terjadi pada Salju?” sang ratu terjatuh, Juliet menahannya sambil menangkan sang ratu, tetapi ia memandang Romeo dengan pandangan benci.

Hansel kembali menjelaskan, “Putri Salju diculik oleh Phoenix dan anak buahnya, kami mencoba menolongnya tapi kami tak bisa melawan mereka.”
“Lalu orang yang meminta kami membawakan ini menolong kami dan meminta kami membawakan benda tersebut untuk anda, yang mulia raja, ratu,” sambung Gretel.

Sang raja bangkit dari singgasananya, “Kita harus melakukan sesuatu! Juliet, kamu adalah salah satu prajurit andalan kami, tolong kumpulkan pasukan dan selamatkan tuan puteri.”

Juliet membungkuk dan menyanggupi perintah sang raja, “Baiklah, paduka ra—”
Tetapi Romeo memotong perkataannya, “Tunggu sebentar, yang mulai raja, anda meminta seorang perempuan untuk menolongnya? Apa anda yakin dia bisa melakukannya?”
Juliet makin terbakar amarah pada Romeo, kembali ia berkata sinis padanya, “Setidaknya aku lebih baik daripada seseorang yang membuat seorang wanita menunggu berjam-jam di bawah terik matahari!”
Tetapi Romeo tidak kehilangan akal, “Walau begitu, apa dengan membawa begitu banyak pasukan akan menjamin kemenangan kalian? Bukankah itu hanya akan menambah banyak kor—”
“Aku lebih baik daripada kamu! Jangan remehkan aku!

Hansel, Gretel, raja, ratu, dan semua orang yang sedang berada di ruangan itu terdiam melihat mereka berdua, semua kecuali Hansel dan Gretel tahu bahwa mereka berdua termasuk orang-orang yang dianggap kuat di kerajaan itu.

Dengan polosnya Hansel menyela, “Maaf menyela, tapi mungkin lebih baik apabila hanya sedikit orang yang ikut menyelamatkannya. Benar kata tuan ini,” Hansel menunjuk Romeo dengan sopan.

Juliet kembali marah mendengar pendapat Hansel, “Jadi, kalian membela orang tak tahu diri yang bahkan tak kalian kenal ini?

Gretel yang memahami situasi mencoba menenangkan Juliet, “Bukan maksud kami berlaku seperti itu. Tapi sepanjang perjalanan kamu menemukan puluhan jebakan dan sihir yang pastinya akan sulit dilewati. Karena itulah…”

Semua orang kembali terdiam, tak seorang pengawalpun berani berkata-kata. Ratu Meriva akhirnya memecahkan keheningan, “Begitu? Bagaimana kalian bisa tahu?”

“Kami tinggal di rumah kue di hutan itu selama bertahun-tahun, tentu saja kami mengerti bagaimana cara menghindari jebakan yang biasa dipasang di hutan,” jawab Hansel.

Sang raja menimpali sambil mengelus jenggotnya, berpikir, “Hmm… masuk akal, keadaan terlalu berbahaya untuk kita saat ini.”

Romeo tersenyum, ia lalu menawarkan diri, “Bagaimana kalau kalian biarkan aku mencoba menolong tuan puteri?”
“Romeo, lupakah kau pada siapa pemenang turnamen tahun lalu? Aku!” papar Juliet, “Karena itu, jangan banyak basa basi dan biarkan aku berangkat!”
“Juliet, kamu adalah seorang wanita. Jangan paksakan dirimu, lagipula yang mulia ratu juga sudah menganggapmu seperti anaknya, akan seperti apa perasaannya apabila kamu juga meninggal saat ini? Lagipula, kau tak tahu jalannya kan?” Romeo tersenyum licik.

Gretel kembali menyahut, “Ka… kami tahu dimana kediaman mereka.”
“Lihat! Mereka bisa menunjukkan jalan padaku!” teriak Juliet lagi.
Tetapi perkataan Romeo tidak salah, sang Ratu sudah menganggp Juliet sebagai anaknya dan tak mau kehilangan dirinya, “Juliet, tenanglah, kau juga bagian dari kami. Aku tidak mau kehilangan dirimu juga.”
” Ta… tapi…”

“Baiklah, Romeo, kami mohon bantuanmu. Kalian berdua, bersediakah kalian menunjukkan jalan ke kediaman Phoenix tersebut pada Romeo?” sang Raja pun memutuskan, disambut dengan dengusan Juliet.

“Ya, paduka,” jawab Hansel dan Gretel bersamaan.

*****

Hansel dan Gretel mengantarkan Romeo ke hutan. Sesampainya di depan kediaman penyihir Phoenix dan anak buahnya.

Romeo yang Gretel dan Hansel menyuruh mereka kembali dengan nada meremehkan. Lantas Hansel dan Gretel kesal, mereka lalu kembali ke kerajaan setelah meminta burung-burung hutan memberi tahu mereka apa yang terjadi.

“Nah,” dengan sombong, Romeo menghadap ke kediaman para penyihir hitam, memperhatikan seseorang berjubah hitam di depannya, “sekarang, siapa lawan pertamaku?”

Desria membuka kacamata dan jubah hitamnya, dengan tatapan tajam ia memandang Romeo, “Desria adalah lawa…n mu…!” dia mencoba terteriak, walau dalam hati ia terpesona dan berkata, “dia keren sekali!”

Desria menggelengkan kepala, dalam hati ia kembali berkata, “Tidak, aku tidak boleh terpengaruh!”
Romeo menyadari Desria terpesona padanya, ia mulai meremehkan keadaan.

Desria mengacungkan tongkat sihirnya, dengan tangkas Romeo menangkat tangan kanannya yang memegang tongkat, dan mengarahkannya ke tanah dengan tangan kirinya, tangan kanan Romeo mengelus pipi Desria, lalu ia mendekatkam mukanya, “Aduh, mana mungkin aku bisa melukai seorang wanita semanis kamu?”

“Ja… jangan bercanda! Pembohong! Tak seorangpun mengatakan aku manis! Salju bodoh itu lebih manis daripada aku!”

“Ya, maafkan kebohonganku, kamu memang tidak manis,” Romeo mencium tangan Desria, “tapi kamu begitu cantik, bahkan melebihi sang Salju tersebut.”

Wajah Desria memerah, “A… di… diam!” Ia lalu melarikan diri dair hadapan Romeo sambil menutupi muka.

Romeo kembali berbesak kepala, “Hahahaha, semudah itu? Sekarang, mana si Phoenix yang bodoh itu?”

Phoenix tersinggung dikatai bodoh, ia maju melawan Romeo. Dengan pedangnya, Romeo mencoba melawan sang penyihir, tetapi ia kalah.

“Tamat riwayatmu, anak muda!”

“Wait!” Romeo mengacungkan tangan, “Maaf, tunggu sebentar,” ia mengambil sarung pedangnya, “Ok! Kita mulai!” dan mulai menggelitik Penyihir hitam Phoenix.

Phoenix yang tak tahan geli tertawa dan berusaha menghindari tusukan Romeo, “Hahaha… tunggu! Hahaha… tung… ahahahaha… Kh… Kaauu!,” hingga akhirnya Phoenix terdesak.

Romeo pun mengambil kembali pedang dan menusukkannya ke penyihir Phoenix, penyihir Phoenix pun lenyap.

*****

Sementara itu, di tempat puteri di sekap

“Tuan puteri!” teriak Penyihir Yodiks ketika menemukan putri dalam sebuah ruangan, ia lalu memberinya obat untuk membangunkannya dengan ciuman. (catetan pengarang : hoekkkkssssss :-&)

Putri Salju akhirnya sadar, penyihir Yodiks pun menjelaskan padanya apa yang terjadi, lalu ia membantu sang putri untuk berkemas meninggalkan tempat tersebut.

Sementara di lorong, Desria berjalan dengan riang sambil memikirkan cara untuk mendekati Romeo, ia lalu melongo ke dalam ruangan itu dan melihat sang putri yang sudah sadar bersama seseorang yang dikenalnya sebagai penyihir putih yang masih belajar itu.

Desria lalu mendapat ide, dibiarkannya Putri Salju dan Penyihir Yodiks pergi dari tempat itu, dan ia menempati kasur tempat Putri Salju tertidur sebelumnya.

Tak lama kemudian, Romeo datang memasuki ruangan, “Itu dia! Apa kataku, Juliet, aku bisa menolongnya!” dengan langkah besar ia mendekati tempat tidur itu. Ia sedikit ragu melihat sosok yang ada di atasnya, membuatnya berpikir sejenak.

Tetapi Desria yang sudah tidak sabar, langsung merangkul Romeo dan berkata menggoda dengan suara melangkingnya, “Aaaah, lama banget siiiiih!”

“Waaaaaa! Kamu! Anak buah penyihir ituu!”
“Aah, senengnya, kamu inget aku!”
“Le… lepasiin! Dimana puteri?”
“Ah, untuk apa mencarinya? Kau sendiri kan yang bilang aku lebih cantik daripada si Salju bodoh itu? Ayolaaah”
“Ti… tidaaaaaaak!!”

*****

Kembali ke istana Lumpaucow.

Ratu menangis menunggu anaknya kembali, Juliet dan Gretel berusaha menenangkannya, sementara Hansel sedang bersama sang raja, membicarakan hal yang sama.

“Ratu, tenanglah, Romeo MUNGKIN bisa membawanya kembali,” ujar Juliet dengan ragu, “Apa aku harus menyusulnya?”

Ratu sontak menentangnya, sang raja lalu ikut menenangkannya, dan kembali berdoa agar mereka (Putri Salju, Yodiks dan Romeo) selamat.

Juliet kembali berkata, “Semoga PUTRI SALJU selamat, siapa peduli dengan si bodoh Romeo itu?”

Lalu lingkaran sihir tampah di depan mereka. Perlahan, sosok Puteri Salju dan Penyihir Yodiks pun semakin jelas. Sang putri langsung memeluk mereka.

“Kami kembali,” ujar Yodiks sambil tersenyum.

Puteri salju berhasil diselamatkan dan kembali ke istana, penyihir jahat Phoenix pun telah tiada. Kerajaan kembali aman dan tentram, raja, ratu, Juliet, Hansel, Gretel dan seluruh penghuni kerajaan Lumpaucow pun berbahagia.

Tetapi, ada satu orang yang protes tidak puas.

“Tunggu sebentar! Bagaimana denganku?!” Romeo berusaha berlari dari pelukan Desria.

Kamu? Siapa kamu?

“Aku! Romeo!”

Oh, iya. Lupa maaf ya, hahaha.

“Ya sudah! Katakan bagaimana tentangku! Buat yang bagus ya!” lagi-lagi dengan angkuh ia berkata.

Dan… ehm… dengan Desria pun, Romeo lived happily NEVER after.

“Hah?! Woooy!” Romeo mengejar sang narator yang memberikan ending untuknya. Sementara sambil memeluk Romeo, Desria berkata manja, “Aaah, Romeokuu…”

* – end – *

7 responses

  1. @ Arm :
    tanya Julietnya langsung gih😛

    @ Andyan :
    dasorr!!

    @ Nada :
    makasiii
    xD

    11 April 2009 at 3:17 pm

  2. ini gimana cara mbacanyaaaa?
    banyak😥

    dasar kamu~

    11 April 2009 at 9:00 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s