The forgotten snow dust…

A Bloody Day?

Dengan ragu aku melangkah ke dalam gedung itu. Tidak biasanya teman-temanku menyuruhku datang mendadak seperti ini. Gugup, tentu, sepanjang perjalanan aku bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan, biasanya mereka akan memberi tahuku beberapa hari sebelum harinya.

Aku menggelengkan kepala, menghapus semua pikiran negatif yang memenuhi kepalaku dan mencoba menggantinya dengan pikiran-pikiran lain yang lebih menyenangkan tapi gagal. Kyo, ehm…pacarku, baru saja berkata dia tidak tahan lagi denganku dan meminta untuk memutuskan hubungannya denganku, aku ingin dia bahagia sehingga aku memutuskan untuk melepasnya, walaupun aku tahu itu hanya menyiksa diriku…

Aku menghela napas sejenak sebelum membunyikan bel kamar Lain, salah seorang temanku, dan dalam selang waktu singkat, pintu dibuka bersamaan dengan suara riuh dari dalam, “Selamat datang, Cyrila”.

Cherie dan Naomi sedang berdebat heboh sambil memperebutkan makanan kecil yang tercecer di meja, Arwen membaca buku yang baru-baru ini dia tunjukkan pada yang lainnya, Lain membukakan pintu sementara Eidel melambaikan satu tangan sambil membawa tas kertas besar di tangan lainnya, dengan sepotong besar roti di mulutnya.

Tapi, ada yang kurang, ada seorang yang tak hadir di sana, spontan aku bertanya, “Loh? Dimana Lia?”

Seluruh pasang mata tertuju padaku, membuatku bingung bercampur takut, “Err… Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” tanyaku lagi.

“Entahlah, Lia bilang dia tidak bisa ikut, sedang asik berdua dengan Shin,” Arwen berbicara cepat.

“Eh? Dengan Shin? Bukannya dia… bersamamu, Arwen?” Ya, Shin sendiri yang berkata kalau dia menyukai Arwen, di depan kami semua!

“Mana kutahu, baru kemarin dia bilang dia ingin putus dan pagi ini dia mengumumkan sudah jalan dengan Lia,” dari nada bicaranya tersirat kebencian Arwen saat membicarakan mereka berdua, sehingga aku memutuskan untuk diam.

“Nah, sekarang kami di sini untuk menghibur Arwen,” bisik Lain sambil mengedipkan mata dan membawakan tasku. Aku memandangi ruangan yang kumasuki saat berjalan ke sofa depan televisi, tumpukan buku milik Arwen yang di’titip’kan di sana, remah-remah makanan yang tercecer di mana-mana, tas-tas kertas besar lainnya yang satu per satu dibawa Eidel ke ruangan lain, dan… jari? bukan, tangan? Potongan tangan di dalam salah satu tas itu? Apa aku tidak salah lihat?

Bulu kudukku berdiri, reflek aku memalingkan muka. Aku pasti hanya salah lihat, tidak mungkin ada potongan tangan di sana.

“Ada apa, Cy?” tanya Cherie yang menyadari perubahan ekspresiku, aku menggeleng, “tidak, bukan apa-apa.”

Cherie dan Naomi memandangku bingung, “kamu yakin?” aku mengangguk, “ya sudah, ayo minum dulu!”

Mereka berdua beranjak dari tempat duduk mereka, Naomi mengantarku ke sofa dan Cherie memberiku segelas air berwarna merah.

Eh? Merah? Apa ini sirup? Kenapa warnanya seperti ini? Seperti… darah…

Aku melirik Lain yang meletakkan cemilan lain di atas meja, dan gelas-gelas lain yang berisi minuman yang sama. Dia lalu menyadari aku memperhatikannya, diangkatnya satu gelas sambil tersenyum kepadaku, “cheers!”

Yang lainnya pun ikut melakukan hal yang sama, lalu meminum air yang menurutku mencurigakan itu, mau tak mau aku mengikuti mereka.

Mataku kembali menjelajahi ruangan saat aku meneguk minumanku sedikit demi sedikit, dan mataku menangkap sesuatu yang mengerikan.

Apa itu? Rambut?

Sekali lagi aku tercengang, ‘rambut’ itu berada di antara cemilan-cemilan di meja dekat Lain. Tubuhku membeku, terdengar olehku sebuah suara memelas entah dari mana.

“Tolong…”

Kulirik teman-temanku, mereka tidak bereaksi, mereka masih melanjutkan kegiatan masing-masing dengan tenang sementara aku terpaku di sini.

Mataku bergerak-gerak panik, ke kanan dan kiri, berulang-ulang sampai aku menangkap sekelebat bayangan putih dari lorong seberang ruangan ini yang menghubungkan ruangan-ruangan lainnya.

Aku mengalihkan  pandangan, antara takut dan penasaran, hatiku berdebat, apakah aku harus benar-benar memastikan keberadaan bayangan itu atau berpura-pura tidak melihatnya saja?

Kuatur napasku perlahan dan kembali kuperhatikan teman-temanku, mereka tidak menyadari ketakutanku. Arwen masih asik membaca dengan Cherie di belakangnya, kadang mereka berbisik, lalu tertawa keras hingga Naomi yang sedang membereskan remah-remah cemilan yang berjatuhan bersama Lain menyuruh mereka diam. Sementara Eidel masih membawa bungkusan-bungkusan kertas itu, entah sudah berapa banyak yang ia bawa entah ke mana, yang kutahu sejak aku datang, dia sudah bolak-balik melewati satu-satunya lorong yang menghubungkan ruangan ini, dan dia sepertinya tidak menyadari keberadaan bayangan putih itu.

Takut-takut, kulirik sedikit lorong itu, bayangan itu sudah tak ada, kuhela napas lega. Aku berdiri untuk meletakkan gelasku ke meja di sebelah Lain, mengambil sedikit cemilan dari meja itu, dan berbalik.

Kembali aku terkesiap melihat sebuah wajah yang tepat berada di depan hidungku, rambut merahnya yang kusut seolah menutupi sebuah gari yang memanjang yang menghiasi wajahnya, dari garis itu, cairan merah mengalir seolah tanpa henti menuju ke bawah, menetes melewati lehernya yang terpotong, dan dengan pilu ia berkata, “tolong…”

Kepala! Aku makin gemetar. Aku kenal wajah ini! Ini wajah Lia! Kepala Lia! Apa yang sebenarnya terjadi?!

Aku menahan napas dan reflek melompat mundur ke belakang, dan lupa bahwa ada meja di belakangku, hingga aku terjatuh, aku tidak peduli, aku takut! Kututup mataku rapat-rapat.

“Cy? Cy! Ada apa?” Lain yang berada tepat di sampingku langsung menangkapku yang hampir terjatuh, dan mendudukkanku di lantai, yang lainnya pun dapat kudengar langsung berlari mengikutiku, “Minum! Ambilkan minum!” teriaknya. Salah satu dari mereka berlari menjauh, kembali dengan segelas air di tangannya dan memberikan gelas itu padaku, kuambil gelas itu dan mendekatkannya ke mulutku. Ukh… Ini minuman yang tadi!

Aku merasa ada sesuatu yang menyentuh bibirku. Dari dalam gelas? Apa yang ada dalam minuman aneh ini? Sekali lagi aku memberanikan diri untuk melihatnya. Perutku terasa makin mual, ada sesuatu seperti bola di dalam gelasku, dan itu mata! Sebuah mata!? Mata hitam Lia yang sangat kukenal! Kulempar gelas itu jauh-jauh dan kembali kututup mataku.

“Loh? Cy? Ada apa? Cy?” Cherie mengguncang tubuhku, aku melihat lagi ke arah aku melempar gelas itu, pecahan-pecahan kaca diantara air berwarna merah benar-benar memberi suasana mengerikan untukku. Tapi, mata itu tidak ada! Apa aku memang hanya berhalusinasi?

Tapi aku melihat sepasang kaki berdiri di sana, pakaian berwarna abu-abu muda menutupi sedikit kakinya, aku memperhatikannya, dan mencoba melihat ke atas kaki itu, itu Lia! Dimiringkannya kepalanya, membuat rambut merahnya menyingkir dan memperlihatkan wajahnya cantiknya, mata hitamnya memandang memelas ke arahku.

“Cy… Tolong…”

Aku terpaku memandangi ‘bayangan’ Lia, sampai akhirnya Eidel berpindah ke depanku, menghalangi pandanganku.

“Cy? Kamu mau tiduran saja?” tanyanya.

Aku mengangguk lemah dan seketika merasa melayang. Ah, Eidel menggendongku, pantas saja. Tubuhku memang lebih kecil dibanding orang-orang seumuranku, tapi tak kusangka Eidel bisa membawaku semudah ini.

Eidel berjalan melewati lorong itu, aku agak bergidik saat melewatinya, sampai di depan kamar Lain, dia menurunkanku di kasur Lain dengan lembut, dan meletakkan dua botol air mineral di meja kesil sebelahnya, Arwen mengelus rambutku, “cepat baikan ya,” aku mengangguk dan mereka meninggalkanku di kamar ini sendiri.

Berulang-ulang aku membalikkan badanku di atas kasur Lain yang empuk. Resah. Aku ingin tahu apa maksud kata ‘tolong’ yang dikatakan oleh ‘bayangan’ Lia. Tapi… aku takut.

Kubalikkan badanku lagi ke kiri, memandangi bantal lain di double bed ini, kuraih bantal itu dan memelukannya ke mukaku, tanganku menemukan sesuatu saat aku menyelipkannya ke balik bantal.

Apa ini?

Kudekatkan sesuatu yang melilit di tangaku itu ke mukaku.

Liontin? Milik… Lia?

Kuteliti lagi tiap bagian liontin itu, hingga aku yakin ini benar-benar milik Lia.

Tapi kenapa liontin ini ada di sini? Lia tak pernah melepas liontin ini, ini satu-satunya peninggalan ibunya yang telah tiada.

Eh? Kenapa tanganku basah?

Walaupun kamar ini remang-remang, aku bisa merasakan cairan berwarna merah menetes dari liontin ini, merembes ke tanganku. Darah?

Kusingkirkan tanganku dari depan mataku dan kukembalikan liontin ini dari tempatnya, lalu aku masuk ke selimut Lain, merasakan kehangatannya dan mendekap guling yang ada di dekatku, memendam kepalaku pada guling itu.

Kurasakan sesuatu yang dingin mengusap pipiku. Apa ini? Sebuah tangan, haha, aneh, aku tak merasakan ada siapapun memasuki kamar ini sebelumnya. Tapi aku berteriak begitu menyadari tangan itu hanya sebatas pergelangan tangan saja.

Aku sudah tidak tahan lagi! Aku bangkit dari tempat tidur ini dan berlari ke luar, memeluk orang terdekat yang kutemui di ruang depan. Dapat kudengar suara panik dari yang lainnya, tapi saat semuanya berhenti bersuara, Naomi bertanya.

“Cy… Kamu sedang apa? Memeluk udara kosong?”

Kubuka mataku, memandang Naomi dengan kaget. Padahal jelas-jelas aku memeluk… eh, siapa ini? Tak seorang pun kuingat memakai baju terusan putih saat aku datang tadi.

Kuberanikan diriku memandang wajah orang yang kupeluk, dalam sekejap kurasa mual mulai menjalari tubuhku, aku berlari ke kamar mandi untuk berjaga-jaga kalau aku akan muntah. Itu Lia!

Arwen menyadari kemana aku akan pergi dan berteriak, “Cy! Jangan ke kamar ma…!” Tapi terlambat, dengan kasar kubuka pintu kamar mandi.
Dan menemukan satu “kejutan” lainnya.

Tirai yang menghalangi bath tub berlumuran cipratan cairan berwarna merah, begitu pula dengan kaca di sana, perlahan kusibak tirai itu dan kutemukan potongan-potongan tubuh mengerikan yang kukenal sebagai… Lia!

“Ah, sudah kubilang jangan ke kamar mandi…” Arwen tiba-tiba datang dari belakangku.
“Apa yang kalian lakukan!?” teriakku.
Seolah aku tidak ada, Lain tidak menggubris pertanyaanku dan berkata pada Arwen, “Hhh… sudah kubilang kan, Cy pasti akan menemukannya!”
Aku tidak terima! Apa yang sebenarnya mereka lakukan!
Cherrie dan Eidel pun datang, Cherrie berkata “Nah, Cy, kamu sudah melihatnya kan?  Kamu tahu itu siapa kan?” aku mengangguk pelan dan berkata, “Itu Lia kan? Apa yang kalian lakukan padanya?!”
“Kami membunuhnya, sudah jelas kan?” Eidel berkata, Arwen menambahkan, “Aku benci dia, dia merebut Shin dariku. Beberapa saat sebelumnya aku membaca buku tentang mutilasi, dan sepertinya itu menarik, jadi sekalian saja.”

Lain lalu berjalan mendekatiku, tangannya mengelus pipiku dan mengintimidasiku dengan tatapannya, “Cy, kamu ada di pihak kami, kan?”

Kembali kulihat ”bayangan” Lia di sudut kamar mandi, “Cy… tolong,” sementara Lain masih ada di depan mataku, didepanku, yang terdiam. Tak tahu harus melakukan apa.

Melihatku tidak menjawab, Lain meletakkan kepalanya ke sebelah kepalaku, berbisik di telingaku, “Ada apa? Kau keberatan dengan kami, Cy?” tangan kanannya masih mengelus pipiku yang gemetaran. Sementara yang lain juga memandangku dengan tatapan tajam yang mengerikan.

“Sepertinya dia tidak setuju dengan apa yang kita lakukan,” Cherrie berkata kemudian, ditimpali oleh Naomi, “Yah, Cy memang begitu kan?” Arwen mencela, dengan intonasi penuh kebencian, “Tidak setia kawan…”

Eidel maju dan melepas tangan Lain dari pipiku, “Apapun itu…,” Lain berbalik menatapnya, “Saksi harus dilenyapkan kan?”

Lain tersenyum, aku menatap sekeliling dengan panik, Eidel mencegahku berlari pergi sementara Lain tiba-tiba ada di belakangku, dengan gesit meletakkan sebilah pisau beberapa senti dari depan leherku.

“Nah, Cyrila,” lagi-lagi dengan nada mengintimidasi dia berbisik di telingaku, “Kami akan mengakhiri semuanya hari ini.”
Kakiku bergetar, aku belum mau mati!

“Aku akan menghitung sampai tiga,” kata Lain lagi. Kututup mataku erat-erat, berdoa agar Lain menyadari apa yang dia lakukan.

“Satu…”
Napasku tertahan.
“Dua…”
Kaki dan tanganku melemas.
“Tiga…”
Kurapatkan mataku lebih erat.
“Nah…”

. . .

Semua menjadi sunyi. Aku tak bisa mendengar apapun. Apa aku sudah mati? Rasanya… cepat sekali, dan begitu nyaman…

Kuberanikan diriuk untuk membuka mata, dan kudengar teriakan yang membuat telingaku sakit.

“HAPPY BIRTHDAY, CY!! APRIL MOOOOP~!”

Dan semua tertawa, aku tak bisa menyembunyikan kekagetanku. Jadi… ini ulah mereka? Tapi, bagaimana dengan Lia?

Seperti dikomando, suara merdu Lia terdengar dari luar kamar mandi, “Sudah kubilang rencana ini akan berhasil!” dan ia tertawa, yang lain membawaku kembali ke ruang utama sementara aku masih terbengong-bengong melihat Lia.

“Tapi aku kaget juga waktu Cy tiba-tiba keluar kamar dan memelukku, kukira rencana ini akan gagal saat itu, untung Shin dan Kyo sigap untuk kembali bersembunyi di dapur.”
“Shin dan Kyo? Mereka ada di sini?”
Dengan wajah puas, semuanya mengangguk.

Benar saja, Shin dan Kyo ada di ruang utama, “Bagaimana? Berhasil?” Tanya Shin, Cherrie dan Naomi kompak mengacungkan jempol dan mengedipkan mata, dan mereka semua kembali tertawa.

“Maaf ya, dear,” Kyo memelukku erat, “Sebenarnya aku agak keberatan melakukan ini, tapi karena mereka… yah, begitu mengerikan, aku takut akan benar-benar dimutilasi oleh para cewek ganas ini,” dia tertawa.

“Umm… Bagaimana degan potongan-potongan tubuh itu?” tanyaku ragu-ragu.

“Itu hanya  boneka, Cy!” dan tawa mereka kembali meledak.

Kyo kemudian membawakan kue coklat kesukaanku, dan meletakannya di atas meja, memberikan pisaunya padaku, “Anggap saja valentine yang tertunda, saat itu pekerjaanku sedang sibuk-sibuknya sih. Hahaha.”

Aku memotong kue itu, yang lain menyanyikan lagu-lagu ulang tahun untukku, kupeluk mereka semua dan berkata,

“Terimakasih teman-teman. Tapi…”

Semua diam menanti kata-kataku…
Aku menarik napas dan berteriak,

“KEJAAAAAAAMM!!! AKU SUDAH NYARIS MATI KARENA TAKUT TAHUUUUU!!!!!”

Kupukul mereka satu per satu dengan bantal di sofa Lain, dan kami kembali terlarut dalam tawa.

“April mop…!”

3 responses

  1. wew
    nice

    12 April 2009 at 2:20 pm

  2. Arm

    asem…

    padahal dah takut2 tegang duluan = =’

    14 April 2009 at 6:49 pm

  3. nyahahahahah xD

    21 July 2010 at 1:51 am

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s