The forgotten snow dust…

The Green-Haired Girl – part 3

“Aku kembali,” ujar Ersh dengan malas sambil membuka pintu pondoknya.

Shurral berdiri dan merentangkan tangan lebar-lebar, memeluk Ersh, “Ah, sayangku sudah pulang? Selamat da…,” ia tak menyelesaikan kalimatnya. Ia melompat ke belakang melihat seseorang di belakang Ersh.

“Ersh…,” Shurral jelas-jelas kaget, “Jangan katakan padaku kalau yang kau bawa itu…”
Ersh mengangkat bahu, “Tebakanmu tepat,” diiringi wajah bingung Irish, gadis berambut hijau itu, “Tetapi dia bukanlah dia.”
“Keluar!” teriak Shurral pada Irish, Ersh berbisik padanya dan Irish hanya mengangguk dan pergi menjauh.

Ersh menutup pintu di depannya dan saat berbalik, mendapatkan pisau kecil Shurral melayang ke sebelahnya, hampir menusuknya.

“Kenapa dia ada di sini?”
“Karena itu adalah permintaan di tugas sebelumnya.”
“Apa kau tahu siapa dia?!”

Ersh terdiam, dalam hati ia berteriak ketakutan, tak pernah sekalipun melihat Shurral yang sedang marah, “Dia… Irish?”

“Ya! Dia Irish! Atau siapapun namanya, dia manusia!” Shurral menekannya ke tembok kayu di belakangnya, “Dan apa yang kau lakukan? Membawanya ke sini?”
“Permintaan mereka adalah untuk membawa gadis itu pergi dari Eversnork, karena itu a…”
“Karena itu kau membawanya ke sini!?” Shurral menjauhi Ersh, “Kenapa kau tidak jual saja dia di kota apalah! Kenapa kau malah membawanya ke sini?!”

Ersh terdiam. Perkataan Shurral tidak sepenuhnya salah. Dia pernah beberapa kali mendapatkan pekerjaan yang sama, membawa seseorang pergi dari suatu tempat, tetapi ia tidak membawanya ke sana. Ia menjual mereka di kota yang berbeda.

Shurral kembali duduk di kursinya, “Apa karena… Gadis itu mirip dengannya?”
“Tidak,” Ersh menundukkan kepala, “Irish tidak mirip dengannya.”
“Lalu?”
“Irish adalah orang yang sama dengannya.”

BUK!

Shurral meninju wajah Ersh, “Sama? ORANG YANG SAMA? Apa kau sudah gila? Sylvia sudah mati! Apa ini bentuk pelarianmu setelah sekian lama?!”
“Tidak,” Ersh mengelus pipinya, tidak melawan, “Dia adalah Sylvia. Yang terbunuh karena aku.”
Shurral sekali lagi menampar Ersh, “Orang yang sudah mati tak akan mungkin kembali! Sadarlah!”
Ersh menahan tangan Shurral, “Shurral… Tolong, dengarkan aku.”
Shurral terdiam menenangkan diri dan menjauhi Ersh, “Bicaralah”
Ersh menghela napas, “Dia… Irish adalah dia-yang-tak-ada-dalam-takdir…,” Shurral terkejut mendengarnya, “takdir telah memilih Sylvia.”
“Darimana kau tahu dia itu Sylvia?”
“Bekas luka di punggungnya,” ujar Ersh, “Bekas luka saat dia terjatuh dari tebing karena aku mengajaknya bermain di sana. Saat aku—”
“Aku tidak ingin mendengarnya,” Shurral memalingkan muka, “Sisi kemanusiaanmu kembali karenanya.”
“Kumohon,” Ersh menunduk dalam-dalam, “Kali ini saja… ya?”
“Sampai kapan?”
“Sampai ia menghilang.”

PLAK!

Sekali lagi Shurral menampar Ersh, membuat pipinya memerah, “Ha… sampai ia menghilang? Seseorang yang tak ada dalam takdir itu akan menghilang apabila sesuatu yang ia inginkan ia dapatkan, yang di kehidupannya sebelumnya tak dapat terpenuhi! Dan kau…,” ia kembali menahan Ersh di tembok di belakangnya, “Dan kau bahkan tak tahu itu apa! Sampai kapan?!”

“Itu…”
“Sudah! Aku pergi!”

Shurral menghilang tanpa meninggalkan jejak. Ersh menghela napas, terduduk lemas di lantai bersandarkan tembok kayu pondoknya.

“Ummm, aku sudah boleh masuk?” Tanya Irish. Ersh mengangguk.
“Dia… ummm, tuan Shurral marah?”
“Ya.”
“Ummm, kenapa?”
“Karena aku membawamu ke sini.”
“Bukankah sebelumnya sudah kukatakan aku akan tinggal di Edel saja?” Irish menyeka pipi Ersh dengan sapu tangan basah.
“Tidak, jangan.”
“Kenapa?”

Ersh terdiam. Tidak menjawab sementara Irish berusaha mengobatinya, “Ummm… juga… Sylvia itu siapa? Aku ketiduran semalam tanpa kamu sempat menjelaskannya padaku.”

“Bukan siapa-siapa,” Ersh bangkit dan merebahkan diri di kasurnya, “hanya kenalan waktu aku kecil.” Ersh menghela napas, “Tak kusangka Shurral akan semarah itu,” Ersh mengelus lembut pipi Irish yang duduk di pinggir kasurnya.

Shurral kembali lagi, memasuki pondok kecil itu, “Ada permintaan lagi, kota Luke Barat.”

“Baiklah,” tanpa membantah Ersh bangkit, mengambil senjatanya, dan pergi. Irish mencoba mengikutinya, tetapi, “Kau, jangan coba-coba mengikutinya!” bentak Shurral, membuat Irish kembali duduk di kasur Ersh. Sambil mendengus ia pun keluar, meninggalkan Irish sendiri.

*****

Malam telah tiba, Ersh belum juga pulang sementara Shurral sudah kembali sedari tadi, membaca buku. Irish yang seruangan bersamanya hanya terdiam, tak berani mengatakan apa-apa, tanpa menyadari sekali-kali Shurral meliriknya.

Tampak jelas di wajah Irish ia mengkhawatirkan Ersh, berkali-kali ia memandangi jendela kecil di atas kasur, berharap menemukan sosok Ersh yang telah kembali.

“Dia tidak akan pulang malam ini,” kata Shurral, “Dia butuh waktu yang cukup lama untuk mengerjakan satu permintaan, sekitar satu sampai tujuh hari, atau bahkan lebih,” Irish kecewa mendengarnya, “Wajarlah, dia dahulu manusia, punya banyak keterbatasan.”

Irish bingung, “Dia… ‘dahulu’ manusia? Sekarang?”

“Entah,” jawab Shurral acuh tak acuh, “Yang pasti, sejak ia memilih untuk mengikuti jalan yang sama denganku, ia tak lagi manusia. Darah hitam mengalir di tubuhnya dan dia tak akan dapat terlepas darinya.”

“Bagaimana denganmu… eh, dengan Tuan Shurral…?”

“Aku sama saja dengannya,” Shurral memandangi telapak tangannya, “Darah hitam dan dinyatakan terkutuk itu juga mengalir di dalam tubuhku, hanya saja… aku sebelumnya bukan manusia. Jadi sejak awal aku hidup aku memang sudah dianggap terkutuk, darah ini hanya menambah kekuatanku saja.”

“Tuan Shurral… sebelumnya apa?”
“Aku juga sudah berdarah campuran sejak awal,” Shurral menguap, “Pastinya, mereka berdua bukan manusia.”
“Ummm… Lalu—”
“Jangan banyak tanya!”
“Ma… maaf!”
“Kenapa aku malah berbicara sesantai ini denganmu! Sudah, tidur sana!”

Tak lama kemudian, ruangan kembali sepi, hanya suara halus tarikan napas dan suara kertas bergesekan yang terdengar.

*****

“Oi,” sapa Shurral saat mereka sedang sarapan di luar pondok. Irish mendongak memandang ke arah Shurral yang sedang duduk di batang sebuah pohon, “Apa yang kau pikirkan tentang Ersh?”

Irish berpikir sejenak, “Dia baik, memikirkan orang lain walau agak kasar, tapi kadang juga bisa cuek, lalu… hmm, yah… sangat mirip dengan seseorang yang kuke… eh? Kukenal?”

“Siapa nama orang yang kau kenal itu?”
“A… aku tidak ingat.”
“Oh,” Shurral kembali ketus, lalu turun dari pohon dan kembali memasuki pondok.

Tak berapa lama ia kembali dengan peralatan ‘kerja’nya, “Jaga rumah!”
“Umm… Sebelumnya, Tuan Shurral… ummm…”
“Apa? Cepat katakan!”
“Apa tuan… cemburu?”
“Huh,” Shurral kembali menghilang, tak menjawab pertanyaan Irish. Irish hanya tersenum, dan terkekeh pelan seiring menghilangnya Shurral.

Matahari sudah tinggi, Shurral menghela napas memandangi langit. Jauh dari tempat ia dan Ersh tinggal.

Semilir angin memainkan rambut ivorynya. Shurral memejamkan mata, mencari ketenangan setelah berkali-kali mengeluarkan teriakannya di rumah.

Dia tak mengerti kenapa dia bisa semarah itu, itu hanya masalah perempuan, kan? Urusan para manusia yang seharusnya tak ia ganggu, ia juga tak tertarik. Tetapi kenapa ia jadi seperti ini?

Irish… bukan, Sylvia. Nama itu tidaklah asing baginya. Membuatnya teringat lagi kilasan-kilasan masa lalu saat ia pertama kali bertemu Ersh.

Shurral menutup matanya. Diperhatikannya baik-baik kilasan masa lalu yang bermain dalam pelupuk matanya. Ketika Ersh kecil berkenalan dengan Sylvia. Saat Ersh kecil menghampiri rumahnya. Hingga saat kejadian itu terjadi, dan Ersh memutuskan untuk ‘mengikuti’nya. Membiarkan darah kutukan ini mengalir dalam dirinya.

“Ersh Bevod…,” gumamnya, “Aku ingin tahu apa yang membuatmu ingin menjadi sepertiku.” Ia berdiri dan menatap seseorang di bawahnya tajam.

“Haruskah kau tahu?”

“Secara teori, aku memberikan ‘darahku’ padamu sehingga aku ‘memiliki’mu. Aku punya hak untuk tahu.”

“Bukankah kau pun dapat menebaknya, hal semudah itu…”
“Pelarian?”

Ersh terdiam.

“Aku baru saja dari kota Einail,” ucap Ersh, “mereka masih mengenaliku.”

“Tentu saja mereka mengenalimu, Shoui Einail,” Ersh memalingkan muka, “Tuan muda dari kerajaan Einail. Pewaris sah dari raja Arran Einail,” Shurral memandang Ersh tajam, “yang melarikan diri lebih dari sepuluh tahun lalu.”

“Jangan ingatkan aku pada hal itu!”

”Yang ingin kuketahui, Shou,” Shurral turun dari pohonnya tanpa mempedulikan permintaan Ersh, “adalah mengapa kamu pergi dari sana, Yang Mulia?” Shurral mengelus pipi Ersh.

Ersh menepis tangan Shurral, “Sudah kukatakan jangan panggil aku dengan nama itu!”

“Kau tidak punya hak untuk menolak,” ujar Shurral, menggenggam tangan Ersh erat dan mengacungkannya tinggi-tinggi, meremuknya, “Jawab sebelum aku menghancurkan seluruh lenganmu!”

Ersh meringis kesakitan, “Lepaskan aku,” tubuhnya gemetar, “Kumohon.”

Dijatuhkannya Ersh yang langsung terduduk di tempat berumput itu. Shurral menunggu jawaban seraya Ersh mencoba membetulkan lengannya.

“Karena… Sylvia… meninggal karena aku.”
“Gara-gara kamu? Mereka yang membakarnya.”
“Tapi itu tetap saja gara-gara aku! Kalau aku tidak pernah bertemu dengannya, dia masih akan hidup hingga sekarang.”
“Silakan salahkan dirimu sendiri, salahkan semua orang kalau itu membuatmu merasa lebih baik,” Shurral berbalik, mengambil langkah menjauhi Ersh, “tetapi kau sudah tahu, itu tak akan merubah apa-apa,” dan pergi.

*****

“Selamat datang!” Sambut Irish riang saat Shurral kembali.

“Apa yang terjadi padamu? Kau tak lagi meringsut di pojokan menghindariku?”

“Kejaam!” Lalu Irish tertawa, membuat Shurral ikut terkekeh pelan. Shurral lalu mengibaskan tangannya dan kembali berkutat dengan bukunya.

Ketukan kedua terdengar di pintu. Irish membukanya dan memeluk Ersh yang baru saja datang, mesra. Tetapi ia terlonjak melihat tangan Ersh yang tersangga, segera mengobatinya.

“Ersh…,” kata Shurral pelan saat Irish mengobati Ersh, “Aku melepasmu.”

Ersh membatu mendengarnya, “Melepas…?”

“Silakan lakukan apa yang kau mau,” Shurral terus berkata dengan tenang sambil membelakangi Ersh dan Irish, masih berkutat dengan bukunya, “asalkan kau tidak mendekati tempat ini lagi.”

Ersh dan Irish memandangi punggung Shurral tak percaya, “Apa kau yakin… dengan ucapanmu?”

Shurral tiba-tiba sudah berada di ambang pintu, “Tentu saja,” suaranya bergetar, “Tapi apabila kau datang lagi ke tempat ini… kuanggap kau sudah kembali. Meninggalkan Sylvia,” lalu Shurral menghilang meninggalkan sunyi.

Ersh masih melongo tak percaya. Shurral bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah melepas sesuatu yang ia ‘miliki’. Tapi sekarang? Bukankah baru saja ia menegaskan bahwa Ersh adalah ‘milik’nya? Ersh tak habis pikir.

“Ummm, Ersh?” Irish melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ersh, “Jadi, apa yang akan kita lakukan?”

“Hmmm,” Ersh menggerakkan tangannya yang sudah diobati Irish, persis seperti sediakala, “Kita akan pergi.”

—bersambung (lagi? =_=) ke part 4—

3 responses

  1. whoa,masi diterusin toh ?

    1 June 2009 at 4:22 pm

  2. ……adalah dia yang tak ada dalam takdir…
    hmm, aku suka bagian dialog itu, sangat universal.
    Salam sejahtera mbak Reina.

    8 June 2009 at 1:16 pm

  3. @icang :
    gatau nih –a
    aku aja udah bingung mau gimana lanjutinnya.

    @Pambudi Nugroho :
    thanks🙂

    18 August 2009 at 7:00 am

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s