The forgotten snow dust…

The Green Haired Girl – part 4

Einail…
Kota yang lalu…

Bangunan-bangunan batu nan suram menyambut Ersh dan Irish, atau bagi penduduk kota ini, Shoui dan Sylvia.

Penjaga gerbang kota itu berdiri dan memberi hormat melihat pemuda yang sangat di kenalnya itu, tetapi ia melotot kaget melihat gadis berambut hijau yang dibawanya.

Ia lalu memanggil temannya untuk memberitahu penguasa daerah itu, Arran Einail, bahwa tuan muda yang menghilang telah kembali…
…dengan membawa wanita pembawa kutukan yang tidak mati setelah kejadian sepuluh tahun yang lalu.

Irish yang tak nyaman dengan pandangan orang-orang sekitar hanya berjalan panik mengimbangi langkah Ersh, yang sudah memelankan langkahnya, berusaha tak jauh dari Irish yang jelas-jelas diincar para pengawal di sekitarnya.

Hingga akhirnya kediaman sang penguasa hanya berjarak tak lebih dari sepuluh langkah, para pengawal melepasnya. Membiarkan sang penguasa kota itu sendiri menyambutnya.

Sambil membawa Irish yang masih kewalahan mengimbangi langkahnya, Ersh memandang Arran Einail dingin. Dibalas dengan tatapan yang sama oleh Arran. Tak seorangpun bicara, tak seekor burung pun berkicau. Bahkan angin enggan bertiup, menantikan apa yang akan terjadi setelahnya.

Arran lalu tersenyum, mulai mengenakan topengnya, “Ah, Shoui, mantan pewaris tahtaku yang kubanggakan… kemana saja dirimu selama ini?” ia mendekati Ersh, memeluknya, dan membawanya masuk, menghilang dari pandangan massa. Ersh tetap menggandeng Irish erat, dan tanpa kata-kata mengikuti orang yang secara biologis adalah ayahnya.

Hingga sampailah mereka di sebuah ruang dengan meja dan kursi berderet di tengahnya. Arran mengusir semua pelayan dan pengawal yang mengiringi mereka dan mengunci pintu, seraya mempersilakan Ersh dan Irish duduk.

“Aku tidak ingin berbasa-basi,” Ujar Arran memulai, “Untuk apa kau kembali?”
Iris terdiam mendengarnya, kaget, tapi tetap menjaga mulutnya untuk tak memperburuk keadaan. Dan Ersh berujar mantap, “Anda pikir ini apa?” dikeluarkannya sepucuk surat dari tas yang dibawanya, dilemparkannya ke Arran yang dengan sigap menangkapnya, “bukankah itu bisa menjadi alasanku untuk kembali?”

Ruangan kembali sunyi saat Arran membaca surat itu, surat yang ia tulis sendiri bertahun-tahun lalu.

“Baiklah,” ditutupnya surat itu, “Memang aku yang menulis surat itu dan memintaku untuk kembali. Tetapi tidak pada saat orang yang akan menggantikanku selanjutnya telah ditentukan!” ia menunjuk satu gambar yang ada di sana, terbingkai dalam bingkai emas yang sebelumnya memperindah gambar Ersh, “Lihat? Dialah orang yang berada di posisimu sekarang, dan kau tak berhak untuk mengambil posisinya. Dia anak dari istriku yang kedua. Ah, kau pasti mengenalnya, dia juga seumuran denganmu, Erkia Einail, dialah yang…”
“Aku tak peduli dengan itu,” potong Ersh ringan.

Arran terdiam.
Irish bergidik mendengarnya, merasakan aura permusuhan yang sangat kental di sekitarnya.

“Lalu, apa maumu?”
“Aku hanya datang untuk mengunjungi makamnya. Tak lebih dan tak kurang. Aku bahkan tidak berharap untuk bertemu denganmu,” Ersh bangkit, diikuti oleh Irish, “Apa itu cukup jelas untukmu untuk dapat membiarkanku pergi?”

Arran tertawa. Lantang. Membuat Irish kembali bergidik ngeri.

“Kau? Membawa seorang penyihir ke makam orang yang dibunuhnya?” ia kembali tertawa keras. Membuat Irish yang ketakutan bersembunyi di balik punggung Ersh, membisikkan sebuah kalimat tanya. Ersh membalasnya dengan belaian lembut di kepalanya, lalu menariknya pergi.
“Walaupun kau tidak membiarkanku mendatangi makamnya, aku akan tetap pergi,” dan ia berlalu, meninggalkan Arran yang masih terlarut dalam tawanya.

“Ersh… apa yang dia maksud?” Irish mengulang pertanyaannya yang tadi, masih dalam bentuk sebuah bisikan. Ersh tidak menjawab dan malah mendekatkan Irish ke dirinya, saat dua orang disertai dua pengawalnya berada di hadapan mereka, berjalan ke arah yang berbeda.

Salah satu dari dua orang itu wanita, ia melompat kaget melihat Ersh seolah ia melihat hantu, tetapi kemudian anak sebaya Ersh di sebelahnya menenangkannya, hingga wanita itu menghela napas dan berkata pelan, “Oh, Shoui… kukira kau ibumu…”

Pemuda di sebelahnya, Erkia, memandang ibunya bingung, lalu ia memandang Ersh dengan wajah penuh tanya, yang dibalas Ersh dengan menangkat bahu, “Salam, nyonya Elline, Erkia.”
“Salam Shoui,” Erkia mengulurkan tangan, ramah, “Lama tidak bertemu,” Erkia melihat orang yang dibawa Ersh, “dan eh? Sylvia?”

Wanita bernama Elline sekali lagi melompat kaget melihat Irish yang tersebunyi di balik Ersh. Erkia dengan panik kembali mencoba menenangkannya, lalu meminta kedua pengawal yang ada untuk membawanya beristirahat di kamar. Hingga tinggalah mereka bertida di tempat itu.

Ersh tertawa kecil, “Dia tak berubah sejak sebelum aku pergi,” ia kembali melanjutkan perjalanannya ke halaman belakang bengungan megah itu, “selalu melompat kaget melihatku, seperti melihat hantu saja.”
“Ya,” jawab Erkia, “Kepergian nyonya Rikka pasti sangat membuatnya terpukul, dia jadi selalu seperti itu saat melihatmu, melompat kaget dan berkata kamu mengingatkannya pada nyonya Rikka. Kuakui, kalian berdua sangat mirip. Aku sangat ingat wajah takutmu saat melihatnya melompat kaget di hadapanmu,” Erkia ikut tertawa, kemudian bertanya, “Kau mau kemana?”

Pertanyaan itu dilayangkan tepat pada saat mereka tiba di halaman belakang, Erkia yang sudah paham langsung diam, berduka.

Ersh melangkah maju ke salah satu makam putih yang ada dan mengelus lembut nisannya yang berlimpah permata. Erkia dan Irish terdiam di hadapan makam itu. Tas Ersh terbuka, diambilnya bunga putih yang bergerombol dan diletakkannya di atas makamnya. Lalu ia pergi, membawa Irish serta dan meninggalkan Erkia yang kembali menatapnya bingung.

“Kau tidak berdoa?” tanya Erkia setelah mereka keluar dari areal pemakaman, masih dengan wajah bingungnya yang menular ke Irish.
“Berdoa tak harus selalu di makam kan?” Ersh menghela napas, “lagipula, apa yang bisa mereka, yang tak lagi bernyawa, lakukan untuk kita?”
“Pemikiranmu memang tidak salah…,” ucap Erkia ragu, “tapi bukankah itu sudah seperti… tradisi di keluarga kita bahwa tiap mengunjungi makam seseorang kita harus, berdoa dan menghiburnya?”
“Mereka tak lagi bisa mendengar,” ujar Ersh dingin, “seperti apapun kita menghiburnya, dia tak akan kembali hidup. Tradisi yang aneh… Lagipula aku tak lagi menggunakan nama Einail, jadi aku tak wajib melakukannya kan?” Ersh mengangkat alisnya.

Erkia mengangguk mengerti, kini hanya Irish yang berwajah penuh tanya. Ersh kemudian berkata lagi, “Namaku Ersh Bevod, salam kenal!” Tawa Erkia menyambut perkataannya, Ersh ikut tertawa dan Irish tersenyum walau masih tidak mengerti. “Kau mau ikut?” Tanya Ersh kemudian.
“Kemana?”
“Keluar istana,” Ersh berpikir sejenak, memilih kata-kata, “ke tempat Sylvia… dulu tinggal.”

Erkia terdiam dan mengangguk, lalu mereka berjalan dalam sunyi. Tak seorangpun ada di hadapan maupun di belakang mereka. Jalanan itu memang tak lagi pernah dilalui, sejak sepuluh tahun yang lalu.

Mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Reruntuhan bangunan kecil yang terbakar. Di sampingnya ada gundukan kecil tanah dan sebatang kayu yang tertulis dengan tulisan berantakan “Sylvia”. Terlintas kembali dalam benaknya ingatan sepuluh tahun yang lalu, di tengah puing-puing sisa kebakaran itu, tangannya mencakar-cakar tanah, menggali untuk menguburkan tangan Sylvia. Satu-satunya anggota tubuhnya yang dapat ia selamatkan dari kebakaran itu.

Gundukan tanah itu berlapiskan rumput dan bunga. Bahkan sulur-sulur tanaman merambati nisan sederhana itu dan berbunga di atasnya. Dari tasnya yang masih terbuka, Ersh mengambil bunga-bunga kecil dan melemparkannya, membuat cahaya-cahaya kecil bersayap mengelilinginya. Membuat Erkia dan Irish terpana.

“Apa itu?” tanya Irish.
“Apa kau tidak pernah menemukannya di Eversnork?”
Irish menggeleng, Erkia mencoba menyentuh salah satu cahaya itu dengan penuh keingintahuan.
“Peri hutan cahaya,” jelas Ersh, “Tak aneh kalau jarang ada yang menemukannya, mereka dapat mendeteksi bahaya, dan tinggal sejauh mungkin darinya, orang-orang yang melihat mereka pun sering menganggap mereka kunang-kunang, atau lebih sering melihat penyamaran mereka menjadi bunga,” Ersh menunjukan bunga-bunga kecil yang tersisa di kantung dalam tasnya dan kembali melemparkannya, membuat mereka kembali menjadi bunga di atas makam kecil itu.

“Kau juga memberi bunga yang sama di makam ibumu?” tanya Irish.
“Hmmm,” Ersh berpikir sejenak, “tidak juga. Yang tadi… agak berbeda.”
Jawaban itu kembali membuat tanda tanya di dalam pikiran Irish dan Erkia, tapi tak seorang pun dari mereka ingin bertanya.

“Sejak awal melihatnya aku ingin bertanya,” Erkia angkat bicara sambil memandangi salah satu peri hutan yang hinggap di jarinya, “Siapa gadis yang kau bawa? Aku mengenalinya sebagai Sylvia…”

“Dulu… Dia adalah Sylvia,” Ersh terdiam sejenak, memandang Irish, “Tapi sekarang… dia Irish.”
Irish dan Erkia berpandangan tak mengerti, meminta penjelasan lebih. Dan Erkia menyadari bahwa Irish bahkan tak tahu siapa dirinya.
“Sudahlah, dijelaskan pun kalian tak akan mengerti.”

“Tapi…”
Sebuah teriakan melengking memutus pembicaraan mereka.  Dengan cepat Erkia mengenali bahwa itu adalah teriakan ibunya, mereka bertiga sontak berlari menuju istana. Mencari asal dari suara itu.

— masih bersambung… duh… janji, part setelahnya yang terakhir! =_= —

7 responses

  1. iya ternyata, sudah selesai
    *cek tanggal*
    astaga, waktu komen disini sebelumnya, nggak nyadar udah ada part 5-nya

    16 September 2009 at 9:32 am

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s