The forgotten snow dust…

The Green-Haired Girl – part 5

Teriakan itu berasal dari halaman belakang istana megah itu. Dimana Elline, ibu Erkia, berteriak histeris memecah keheningan.

Di depannya, sebuah bayangan perak transparan berdiri, wajah tirusnya menatap tajam Elline yang ada di hadapannya. Orang-orang di sekitarnya berkerumun, para pengawal, pelayan, bahkan anggota keluarga raja. Tapi tak seorang pun berani mendekat. Bayangan itu seolah mengunci gerakan mereka semua. Semua, kecuali Ersh, yang sedang memasang topeng kagetnya.

Bayangan itu tak bisa dibilang tidak cantik. Wajahnya sama persis dengan wajah Ersh, kecuali rambutnya yang tergerah indah melewati pinggangnya. Bayangan itu tidak menjejak tanah. Ia melayang, di sekitarnya kunang-kunang kecil putih mengelilinginya.

Kembali dengan suara histeris yang melengking merusak telinga, Elline berteriak, “Rikka! Kenapa kamu di sini! Kembali sana! Pergi! Pergi sana! Jangan ikuti aku! Jangan hantui aku! Jangan–”
“Kau…” suara alto dari bayangan itu menggema, entah terdengar sampai mana, “…harus bertanggung jawab… untuk ini…”

Bisikan-bisikan kecil terdengar,  teriakan Elline kembali menggema, “Apa yang pernah kulakukan padamu!? Apa!? Coba–”
“Kau… yang membunuhku kan?” suara itu seolah mendominasi, lengkingan keras Elline seolah tak berarti, terendam sepenuhnya oleh bayangan Rikka.
“Tidak! Bukan aku yang membunuhmu! Tapi DIA!” Elline  menunjuk Irish, yang kaget dan segera bersembunyi di balik Ersh, “Dia yang memasukkan racun di tehmu! Dia yang–”
“Sylvia anak manis…” katanya kemudian. bayangan itu bergerak mendekati Irish, membuat orang-orang di sekitarnya menjauh, kecuali Ersh yang  memandangnya tenang, “Sylvia tidak salah… Sylvia hanya mengikuti kata-kataMU,” dengan penekanan pada kata ‘mu’ bayangan itu kembali menatap Elline, “kaulah yang memerintahnya untuk memberikan buah yang kau sebut ‘gula’ itu untuk diberikan padaku…” Bayangan itu kembali melayang ke arah Elline. Pandangannya mengancam. Seolah membunuhnya perlahan.

“Ada apa ini?”
Arran memasuki kerumunan dan menemukan kedua istrinya, yang salah satunya hanya berupa bayangan. Elline yang melihatnya berdiri dan berlari ke arahnya, meminta perlindungan. Tetapi Arran yang terpana melihat bayangan Rikka tidak mempedulikannya.
“Rikka…?”

Arran melepas Elline dan berlari ke arah Rikka, berusaha memeluknya dan itu benar terjadi, seolah Rikka adalah suatu benda yang padat, bukan hanya sekedar bayangan.

“Apa yang terjadi?” tanya Arran lembut. Ersh memalingkan muka, tak ingin melihatnya.
“Aku… hanya ‘datang’ sejenak untuk meluruskan sebuah kesalah pahaman…” balasnya, masih dalam pelukan Arran, “Sylvia… dia tidak salah… Dia tidak tahu apa-apa,” ditatapnya Sylvia–Irish–lembut. Irish tersenyum kecil, entah kenapa.
“Dan kau  menuduh Elline untuk ini?” tanya Arran kemudian, melepasnya.
“sejenis Choke Cherry atau Nightshade…” Jawab bayangan Rikka, “Belladonna atau entah apa namanya, aku tak begitu mengenal tumbuhan,” Rikka menggelengkan kepala, “Dia menyuruh Sylvia untuk memasukkannya dalam tehku, tak mengherankan mengapa teh itu jadi terasa amat manis.”
“Mana buktimu?” jerit Elline, “Kau tak bisa menuduhku tanpa bukti!”

“Satu,” perkataan Rikka membungkam Elline, “Tanaman yang kau tanam dalam pot di kamarmu, yang kau tak biarkan seorangpun menyentuhnya.”
“Dua,” semua mata tertuju padanya, “noda hitam keunguan yang ada di tanganmu.”
“Tiga,” semua orang memperhatikan tangan Elline, yang memang terlihat jelas noda hitam yang ditutup-tutupi, “Reaksimu yang selalu terkaget-kaget melihat Shoui karena teringat akan diriku, itu menunjukkan rasa bersalahmu.”

Arran memerintahkan para pengawal untuk memeriksa kamar Elline. Seketika keadaan menjadi kacau. Teriakan di sana sini dan orang-orang yang berlarian. Erkia yang mematung tak berdaya, Irish yang bersembunyi di belakang Ersh, Rikka yang tetap pada mata tenang nan dinginnya, dan Ersh yang berwajah persis sama.

Semua menjadi lebih ribut ketika tanaman itu benar ditemukan. Bayangan perak Rikka makin transparan. Erkia makin memucat dan Arran mulai terbakar amarah.

“Kuharap…,” tetapi satu kata dari Rikka meredakan keributan itu, “Kalian tidak menyalahkan Erkia…” ditatapnya Erkia iba, Ersh merangkul pundak saudaranya itu.
Arran mengangguk pelan, dan sosok Rikka menghilang, berubah menjari kelopak-kelopak bunga yang berpendar redup.

Erkia terjatuh. Pingsan.

*****

“Kau tidak apa-apa?” tanya Ersh saat Erkia kembali membuka matanya. Sylvia meletakkan nampan berisi bubur hangat di meja dekat Erkia. Erkia menggeleng pelan, “Maaf, Sho… eh, Ersh…. Aku tak pernah menyangka…”
“Sudahlah,” Ersh menghela napas, “Aku juga tak menyangka akan jadi seperti ini. Padahal aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi…”

“Tanaman apa yang kau letakkan di sana?”
Ersh terdiam sejenak, disandarkannya dirinya ke dinding di sebelahnya, “Aku tak tahu bagaimana orang-orang disini menyebutnya,” Ersh terdiam sejenak, “Tapi aku mengenalnya sebagai Tadawp ntefuz en czicq, bahasa Riirea, kira-kira itu berarti Living flower of truth. Aku menemukannya di pedalaman gunung Lizz.  Aku tak pernah menggunakannya, tak kusangka tanaman itu bisa… begitu mengerikan.”

“Jangan dipikirkan,” ujar Erkia, “itu bukan salahmu… mungkin…”

Semua terdiam.

Menit demi menit berlalu, hingga pintu diketuk dan Arran memasuki ruangan itu.

“Apakah kita akan berbicara soal tahta dan blablabla?” tanya Ersh malas sambil memutar matanya.
“Sayangnya ya, aku mengembalikan hak itu padamu,” ujar Arran pada Ersh.
“Dan aku memberikan hak itu pada Erkia,” Ersh mengangkat bahu, “Masalah selesai, tidak ada tawar-menawar.”
“Baiklah, kalau itu maumu…,” Ersh dan Erkia melotot kaget bercampur bingung, merupakan hal yang langka apabila seorang Arran Einail menerima pendapat orang lain.

“Dan kamu…,” Arran menatap sedih pada Irish, “Aku tak mengerti bagaimana caramu bisa selamat dari kebakaran itu. Tapi… aku mohon maaf. Aku tak tahu… akan…”
“Tak apa,” Irish mencoba mendekatinya, “Aku bahkan tak dapat mengingat apapun tentang itu…”

Arran membungkuk pada mereka bertiga, dan pergi. Sekali lagi meninggalakan kesunyian, dengan tambahan rasa heran di benak Ersh dan Erkia. Mereka saling berpandangan, dan tertawa… tanpa alasan.

*****

“Irish…,” erang Ersh, “kumohon… kembalilah. Aku punya firasat tidak enak mengenai ini…”
“Tapi aku tidak, ayolah!” Irish memohon.
Masih dengan enggan, ia mengantar Irish ke kuburan Sylvia.

“Ups…”

Irish melonjak kaget melihat Shurral berdiri di depan makam itu. Tangannya yang terbungkus sarung tangan menggenggam sebuah botol yang setengah kosong. Cahaya matahari yang menembus sela-sela pepohonan memantul di rumput dan bunga yang basah di atas makam.

Sosok Shurral tersebut lalu menuangkan sisa air dalam botol itu pada nisan sederhananya, dan botol itu diletakkannya di sebelahnya dengan hati-hati.

“Holywater,” ujarnya, “Kau tahu sendiri aku tak dapat menyentuhnya.” Ia menoleh pada Ersh dan Irish dan menghela napas, “jangan tanya kenapa aku ada di sini, ada entah apa yang memanggilku. Aku hanya menurutinya.”

Lalu ia berjalan menjauhi makam itu, berpindah ke belakang Ersh dan Irish, “Silakan…,” dan menghilang.

Irish memasuki reruntuhan bangunan itu, memberi tanda pada Ersh untuk mengikutinya.

“Kita kembali saja ya?”

Sekali lagi, pertanyaan enggan Ersh dijawab dengan gelengan oleh Irish. Berdua mereka menyusuri bangunan yang tinggal setengahnya itu. Irish lalu berlari ke satu ruangan yang masih utuh, walaupun barang-barang di dalamnya telah berubah menjadi abu yang bercampur dengan debu. Ersh memperhatikannya dengan was-was, sambil melihat noda darah yang berbekas di lantai, berawal dari tempat ia dulu menemukan potongan tangan Sylvia, berlanjut ke tempat yang tidak ia ketahui.

Ersh terkejut melihat noda darah itu berlanjut ke ruangan bawah tanah. Sering ia bermain-main di sana dulu, tapi tak sedikitpun ia menyadari adanya ruangan bawah tanah dalam bangunan itu. Suara Irish memanggilnya dari dalam.

Ersh masih membatu. Tak bergerak. Hingga akhirnya Irish kembali ke atas dan menarik Ersh bersamanya.

Hingga mereka tiba di sebuah ruangan dimana cahaya matahari merambatdari langit-langit ruangan yang hancur, tertutupi sulur tanaman merambat dan akar-akar rerumputan. Cahaya itu bagaikan spotlight yang terfokus pada sebuah meja yang juga terlilit tumbuhan merambat, dan sebuah sosok yang bertumpu padanya. Kedua tangannya menyangga kepalanya yang tergeletak lemas, seolah tertidur. Tangan kanannya terpotong hingga siku, tapi potongannya tergeletak di depannya, membuatnya seolah menyambung. Rambut hijaunya dan sedikit bajunya yang basah berkilauan memantulkan cahaya matahari yang mengenainya.

Ersh memandangi Irish yang sekarang berada di belakangnya, berubah perlahan menjadi cahaya transparan, dan tersenyum, hingga ia benar-benar menghilang. Meninggalkan Ersh sendiri.

Ersh terpaku tak bergerak. Setetes air mata mengalir tanpa kuasanya. Didekatinya sosok yang dikethuinya tak lagi bernyawa itu. Dan diangkatnya perlahan.
Mata gadis kecil yang digendongnya terbuka, “Shoui?”
Tangis Ersh semakin meledak, “… ya…?”
“Jangan menangis…,” tangan kecilnya mengelus lembut pipi Ersh yang basah lalu terdiam sejenak, dan kembali menggantung lemas. Matanya kembali tertutup.

Ersh keluar perlahan. Mengusap air matanya pada baju Sylvia yang sedikit terbakar.

“Ersh?” Erkia melihatnya dan berlari ke arahnya, “Syl… Irish kenapa?” Erkia tertegun melihat gadis kecil yang berada dalam tangan Ersh. Gadis kecil berambut hijau, tetapi bukan Irish yang dikenalnya. Gadis itu lebih muda, seperti Sylvia… sepuluh tahun yang lalu, sebelum kebakaran itu.

“Katakan pada Arran…,” ujar Ersh tertahan, “Aku ingin dia membangun kembali bangunan ini… Rumah Sylvia dulu…”
Erkia mengangguk dan berbalik membelakangi Ersh,  tetapi ia tak beranjak dari tempatnya, “Ersh…,” ujarnya tanpa menoleh, “Kau… akan pergi lagi?”

“Ya.”
“Hati-hati…”

Erkia berlari ke arah istana. Sementara Ersh, terdiam di tempatnya. Peri-peri hutan mengerubungi tubuh kecil dalam dekapannya. Lalu ia berjalan, menjauhi istana, mendatangi rumah pohon mini yang ada tak jauh di belakang reruntuhan bangunan itu. Rumah pohon itu menghadap langsung ke danau. Dimana matahari terbenam perlahan. Didudukkannya Sylvia di sana, masih dengan peri-peri hutan mengerubunginya, terbang mengelilinginya.

Pada saat matahari terbenam sepenuhnya, tubuh Sylvia tak lagi dilihatnya. Tetapi kumpulan peri hutan–lebih banyak bahkan–berterbangan di sekitarnya.

Shurral berdiri di belakangnya. Menunggu.

Ersh mengangkat wajahnya.
“Aku akan kembali,” senyum tak berperasaan kembali terlintas di wajahnya. Ia lalu mengambil kartu-sayap-nya dan terbang, menghilang dalam kegelapan malam.

Sementara Shurral memandanginya menghilang di langit, menghela napas.
“Untunglah dia tidak tahu bahwa tanaman yang diambilnya di gunung Lizz adalah tanaman milik keluargaku,” dilebarkannya sayap kelelawar alaminya yang lama tak ia keluarkan, “dan untunglah tanaman itu tak berkhianat pada tuannya dengan menyebutkan diriku sebagai subjek yang memberi Elline tanaman belladonna itu, sepuluh tahun yang lalu…”

“Yah…,” dijejakkan kakinya ke tanah, dan mulai melayang, melesat di udara, “Sudahlah…”

3 responses

  1. jadi semua ini permainannya shurral?
    astaga
    sudah kubilang padanya jangan bermain2 dengan nyawa makhluk lain lagi
    *menghilang*

    15 September 2009 at 2:22 pm

    • Shurral pun berkata, “Memangnya kau siapaku?”

      17 September 2009 at 11:58 am

  2. aku bukan siapa siapa untukmu~
    *d’massiv mode on*

    29 September 2009 at 11:38 am

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s