The forgotten snow dust…

Do Not Enter, Or Else…

“Rumah apa itu?” Aku menunjuk suatu rumah yang menghadap ke barat dan berdiri sendiri di tengah tanah kosong yang luas.

“Jangan dekati rumah itu!” Karin memperingatkan, “katanya sebelumnya pernah ada rumah-rumah lain di sekitarnya, tetapi dalam semalam semuanya mendadak hilang! Bahkan orang-orang yang tinggal di sana juga tak diketahui lagi keberadaannya!”

“Memangnya di dalam sana ada apa?” tanyaku lagi.

“Yah… tak ada yang tahu… tak ada yang bedani mendekati tempat itu sejak malam lenyapnya rumah-rumah di sekitarnya,” ujar Ernest.

“Aku bahkan kadang mendengar suara-suara aneh saat malam, dan asalnya dari rumah ini! Pokoknya mengerikan…,” Eilde menambahkan.

Perkumpulan kecil ini pun menjadi ramai membahas rumah itu. Setiap hal engerikan yang diketahui masing-masing kami tertuang di dalamnya.

“Tapi tidakkah kalian malah menjadi penasaran? Ada misteri begitu dekat dengan kita! Mengapa tidak kita coba periksa saja?”

Celia spontan memperingati, “Nekat! Jangan pernah dekati rumah itu, Sara. Kamu memang baru pindah ke daerah ini, jadi mungkin kamu tidak tahu banyak, tetapi orang tua kami selalu melarang kami mendekati rumah itu, bahkan sejak kami dapat mengingat!”

“Bukankah malah menjadi makin penasaran ya?” aku makin bersemangat mendengarnya, ini pasti menarik!

“Sara… Tolonglah… Aku tak akan ikut jika kamu kesana”
“Aku juga”
“Umm… ya, aku sama…”
“Jangan ke sana yah Sara?”

“Penakut! Kalau begitu biar aku sendiri saja yang memasuki rumah itu!”  aku melangkah mendekati rumah itu sementara yang lain terdiam, berbisik antar sesamanya. Celia mulai maju mendekatiku, lalu Karin dan Eilde, menyisakan Ernest yang masih berdiri di tempatnya.

“Aku punya perasaan tidak enak tentang rumah ini, mengapa tidak kita kembali saja?” ujarnya.

“Jadi kamu tidak mau ikut? Ya sudah, biar kami saja yang pergi,” jawabku arogan, aku berbalik menuju rumah itu seraya melirik ke arah Ernest yang masih di belakangku, ia menggeleng perlahan kemudian mengikuti kami. Ah, seperti biasa!

Kupandangi rumah itu lekat-lekat, sekilas aku melihat siluet seseorang di jendela lantai atasnya, tersenyum menyeringai. Aku terdiam. Pikiranku terpanggil. Perasaanku merespon senyumnya walau tubuhku gemetar, ketakutan.

“Sara…? Kamu kenapa? Kita kembali saja yuk?” Karin menawarkan, aku menggeleng kuat, “Tidak… Aku HARUS masuk…”
Mereka kebingungan melihat responku, tapi tak ada yang protes, mereka tahu aku tak akan berhenti bila sudah menentukan sesuatu.

Kami kini sudah berada di pintu rumah itu, terpukau pada kemewahannya. Tegang merasuki, tak seorangpun dari kamu bicara, tak seorangpun menyentuh gagang pintu.

Kutatap satu persatu wajah temanku, ketakutan jelas terpancar di wajah mereka, menggelegak bertempur dengan rasa penasaran.

“Shraaaaaaaa!!”

Semua terkejut, semua melompat, desisan itu menghancurkan lamunan kami masing-masing, dan ketika kami sadar, kami telah berada di dalam rumah itu. Tak ada jendela, tak ada yang dapat menebak makhluk apa yang sebelumnya mendesis di belakang kami.

Semua kembali sunyi, belum ada yang pulih dari syok beberapa menit yang begitu menyesakkan. Tak lama kemudian, semua menghela napas, lega.

Kini kami berbalik membelakangi pintu dan kembali terperangah. Rumah ini begitu mewah! Lampu-lampunya menyala terang, menggantikan celah jendela yang seharusnya ada. Furnitur-furnitur bergaya klasik mewah tertata rapi. Dan tanpa debu! Aku itu itu, seseorang pasti tinggal di sini hingga sekarang!

“Ke… Keren! Ayo kita coba berkeliling!” ajakku.

“A… Aku mau pulang saja!” Jerit Karin, wajahnya pucat pasi, yang lainnya pun tak tampak berbeda”

“Tapi…  bagaimana bila makhluk itu masih berada di luar?” tanya Celia.

Mereka berempat menempelkan telinga mereka ke pintu masuk dan mempertajam pendengaran, lalu mereka terlonjak bersama, pasti desisan itu masih terdengar.

“Kalian masih berniat keluar?” tanyaku tak sabar.

Ernest berjalan ke sampingku, “kurasa aku lebih baik berada di sini dulu, aku tak punya bayangan akan apa yang menanti kita di balik pintu.”

“Bagaimana dengan kalian?”

Akhirnya semua mengikutiku, aku tersenyumm puas. Memang ini yang kuinginkan! Mana seru kalau harus menjelajah sendiri. Lagipula aku ingin tahu siapa orang yang kulihat tadi, jantungku berdebar keras, tubuhku terasa panas saat aku mengingatnya, badanku bergetar begitu kuat. Perasaan macam apa ini?

‘Kruyuuuuk…’

Lamunanku terpecah dikarenakan perut entah siapa yang berbunyi nyaring, protes minta diisi. Aku melirik jam tanganku, wajar saja, sudah jam 2 siang dan kami belum makan sejak sarapan!

“Kita cari dapurnya yuk!” Aku langsung berlari menyebrangi lorong yang terhubung dengan ruang tamu mewah itu. Lorong yang kulalui ini tak kalah mewah dengan ruang sebelumnya. Tetapi lapar membuatku tidak begitu memperhatikan ada apa saja di sana, bahkan aku tak menyadari adanya sepasang mata yang melirik mengikuti. Teman-temanku berteriak menyuruhku berhenti seraya mengejarku, “Ayolah! Lagipula kan kalian sendiri yang berkata–”

*Brukk*

Aku membentur sebuah pintu besar berdaun dua di hadapanku. yang tak terlihat olehku karena aku sedang menoleh ke arah teman-temanku di belakang saat aku berbicara sebelumnya, “aduuuuh…”

“Karena itu kami menyuruhmu berhenti,” Eilde menggaruk pipi, yang lainnya membantuku berdiri sambil tertawa. Karin lalu membuka pintu itu dan kami menemukan sebuah meja besar dengan taplak cantik, dikelilingi oleh kursi-kursi elegan yang ditata rapi. Sebuah kursi di salah satu ujung meja berukuran lebih besar daripada yang lain. Tak hanya itu, semuanya berwarna emas, apakah itu asli? Tetapi… ada sesuatu… seseorang… tergetak terlentang di meja itu.

Celia memberanikan diri untuk mendekati sosok itu, dan ia langsung bergidik ngeri. Sosok itu terlihan seperti manusia, 2 lengan, 5 jari, 2 kaki, tetapi ia terlalu megnerikan. Seperti zombie!

Ernest dan yang lainnya melangkah mundur sementara aku, yang malah semakin penasaran, mendekatinya. Kugeser kursi-kursi yang menghalangiku agar aku dapat menyentuhnya. Aku mendengar deru napas-napas pendek teman-temanku, yang jelas makin mundur dan mengaharapkanku kembali. Tapi ini terlalu menggelitik untuk tidak dicek!

Kuraih tangan orang di meja itu, tak ada reaksi. Kucoba menekannya sekuat tenaga, tapi masih tak ada sedikit pun respon. Sempat terpikir untuk mengecek nadinya, tapi lendir lengket dari kulit makhluk itu–yang langsung kuseka ke taplak meja–membuatku mengurungkan niat. Aku pun berbalik menghadap teman-temanku. Tetapi mereka malah makin ketakutan dan berteriak histeris sambil menunjuk-nunjuk belakangku.

Aku pun berbalik lagi ke aarah meja, tak ada yang berubah, kenapa mereka berteriak? Aku mencoba mundur sambil menatap lekat tubuh di atas meja yang mungkin menjadi penyebab mereka begitu ketakutan, tapi memang tak ada yang berubah, aku pun berbalik lagi menghadap teman-temanku, “lihat? Tak ada apa-apa kan?”

Namun semua kembali berteriak, membuatku terdiam membatu, terlebih melihat bayangan entah siapa di lantai yang menutupi bayanganku, ia jauh lebih besar! Kucoba untuk berbalik, dan wajah manusia zombie itu menyambutku, tepat beberapa senti di depan hidungku. Aku menahan napas. Menggigit lidah. Melotot kaget.

Dan zombie itu terjatuh.

Tanpa dikomando, aku berbalik dan menarik tangan teman-temanku pergi dari ruangan itu, menuju pintu terdekat–entah itu pintu tempat kami masuk atau bukan–dan menutup pintunya serapat mungkin.

Kami semua terengah-engah. Takut, lelah, dan lapar sedang menggelayuti pikiran kami ketika aroma lezat itu tercium.

Di hadapan kami berjejer piring-piring dengan banyak makanan tersaji dengan penampulan dan aroma yang begitu menggoda. Air liur kami menetes, seolah sudah entah berapa hari kami tidak makan. Ketegangan kami telah meleleh, ketegangan kami terbang menjauh.  Makanan itu bagai menghipnotis kami, sop daging yang hangat dan begitu gurih, hidangan yang renyah dan memanjakan lidah, makanan penutup yang manis dan menyegarkan. Tak ada lagi tata krama, dengan kalap kami saling berebut melahap semua yang tersedia tanpa banyak tanya.

Kesadaran kami baru pulih ketika semua hampir habis dan kami baru menyadari keanehan-keanehan pada apa yang kami makan.

Ernest memandangi jari yang mengapung dalam supnya, Eilde menatap pekatnya sirup merah kami, Aku menemukan entah apa yang meliuk-liuk mencurigakan dalam mie-ku, Karin memandangi mata dengan tusukan kecil yang ia kira ceri, dan Celia menyadari barisan rapi tulang yang terlihat seperti rahang.

Kami terdiam di hadapan suguhan yang sebelumnya terlihat begitu menggiurkan di mata kami, kini tanpa nafsu. Mual mulai melanda.

“Mungkin… lebih baik kita pulang saja…,” usul Ernest diikuti anggukan lemah kami, termasuk aku.

Kami beranjak dari kursi kami dan mengintip pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan tempat zombie tadi berada. Setelah merasa aman, perlahan, kami membuka pintunya.

Zombie itu tak lagi berada di meja, di lantai pun tidak. Tetapi kami tidak ingin memikirkannya. Cepat-cepat kami melewati ruangan itu dan melesat menuju koridor yang tadi kami lewati.

Menit demi menit berlalu ketika kami menyusuri koridor tersebut, dan kami tak kunjung menemukan ruangan tempat kami pertama masuk tadi. Tiap pintu di koridor telah kami buka, tiap ruangan yang terlihat kami masuki. Tapi tak ada satupun ruangan yang kami kenal, seperti berada di rumah lain saja!

Kami makin lelah, koridor ini serasa tak berujung, selalu ada satu pintu dan pintu lainnya, padahal ketika kami berlalik, pintu besar menuju ruangan zombie tadi selalu terlihat jelas. Tapi kami tak ingin pergi ke sana lagi. Ernest yang biasanya kuat pun terlihat begitu kelelahan.

“Shraaaaaa”

Desisan itu terdengar lagi di depan kami, membuat kami semua terdiam. Sosok hitam berkaki empat muncul di hadapan kami, entah dari mana. Kucing hitam berkuku macan dengan lidah bercabang dua yang menjulur itu berjalan santai melewati kami serasa melirik misterius. Di belakangnya, sebuah sepeda berukuran sedang dengan empat roda mengikutinya, bergerak sendiri tanpa menumpang.

Kami masih membatu hingga terdengar suara meongan, pintu terbuka, lalu tertutup kembali. Kami mulai bernapas lega.

“Tak pernah kusangka desisan itu hanyalah kucing!” jerit Eilde.

“Tapi itu memang bukan kucing biasa kan? Lihat saja taringnya, sampai terlihat keluar begitu,” ujarku. Claire menambahkan, “dan lidahnya… seperti ular!”

Karin ikut berkata, “dan sepeda apa itu tadi di belakangnya? Masa bergerak sendiri? Ditarik tali pun tidak kan?”

“Rumah ini benar-benar mengerikan! Seharusnya aku tadi mengikuti nasihat kalian tadi! Ernest juga…harusnya aku mengikutinya saat dia malah terdiam itu,” aku memeluk ketiga orang di depanku. Eh? Tiga orang? “Hei, Ernest kemana?”

“Hah?” terlihat jelas bahwa mereka tidak menyadari Ernest menghilang,”Ernest… masih berada di belakangku tadi saat kucing aneh itu lewat,” ujar Karin.

Kami semua terdiam, suasanya menjadi begitu sunyi sampai suara detak jam tanganku pun terdengar.

Tiba-tiba Celia menjerit, “aku tidak kuat lagi! Aku ingin keluar dari sini! Aku takut!”

“Aku juga ingin pulang… sudah berapa lama kita di sini…” Karin mulai menangis.

kami berempat mulai lepas kendali. Ernest adalah satu-satunya orang yang paling bisa bertindak dewasa dan bisa memecahkan masalah seperti ini dengan tenang. Dengan tak adanya dia di sini, tak ada lagi satu pun dari kami yang dapat menahan rasa takutnya.

“Teman-teman,” aku memutus tangis mereka, “kita harus lanjut berjalan… kalau tidak kita tidak akan pernah bisa pulang…”

Mereka mengangguk lemas, kami kembali mengumpulkan keberanian dan tenaga kami untuk berjalan menyusuri koridor ini, hingga akhirnya ujungnya terlihat. kamu merasa begitu merindukan ruangan ini. Akhirnya kami bisa pulang!

Karin berlari menuju pintu tempat kami pertama masuk secepat yang ia bisa dan langsung membukanya dengan dua tangan, berharap dapat merasakan matahari senja menerpa dirinya.

Tetapi sekali lagi kami terpaku, kami tak melihat dunia luar yang kami kira akan kami lihat. Dibalik pintu itu terdapat satu ruangan, sebuah kamar dengan kasur besar bertirai. Di atas kasur tersebut, lelaki yang kulihat dari luar jendela tadi duduk dengan Ernest di pangkuannya. Kepalanya terkulai lemas dan ia terlihat tak sadarkan diri. Darah segar menetes dari lehernya.

Kami melangkah ke belakang, menjauh ketakutan, tetapi lelaki itu hanya tersenyum, memasang wajah semanis mungkin dan dengan sukses ia membuat pipi kami bersemu merah dengan pesonanya.

Tetapi tubuh kami mengingatkan, tubuh kami menyadari bahwa lelaki itu berbahaya, entah kenapa. kami gemetar hebat seolah memang sedang terjadi gempa bumi besar. Ketakutan kami menang, mengambil kendali atas tubuh kami.

Lelaki itu berdiri, senyum masih di wajahnya, menjatuhkan Ernest yang sebelumnya berada di pangkuannya. Makhluk-makhluk lain–entah apa–mengerumuni badan Ernest yang tak bergerak, dan aku tak ingin membayangkan apa yang mereka lakukan padanya.

“Selamat pagi, anak-anak,” lelaki itu berjalan mendekat, “atau tepatnya, selamat malam bila mengikuti waktu kalian,” ia menyeringai lebar hingga taringnya terlihat jelas.

Teriakan kami pecah, kami berlari, menghambur ke segala arah, berusaha berlari sejauh-jauhnya, membuka pintu terdekat yang dapat kami raih berharap menemukan tempat untuk sembunyi, tapi yang dapat kami temukan hanyalah zombie dan lebih banyak zombie!

Jeritan Celia terdengar makin nyaring, ia tertangkap, tapi tak seorang pun dari kami terpikir untuk menolongnya, kami tak akan dapat melawan mereka yang sebanyak itu, terlebih ketika melihatnya saja kami sudah merasa ngeri! Aku sudah tidak tahu dimana Eilde dan Karin, kami semua sudah terpencar dan yang terpikir olehku saat ini hanyalah untuk bertahan hidup.

Aku memasuki salah satu ruangan yang entah mengapa begitu sepi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku mamesuki lemari besar di ruangan itu, meringkuk dan menjadikan diriku sekecil mungkin, berharap dapat tersamar di tumpukan pakaian yang ada. Napasku tertahan, aku menangis, hatiku menjerit.

Andai aku tak pernah mengajak mereka memasuki rumah ini… Andai aku tak mengabaikan peringatan mereka…

Aku masih dapat mendengar teriakan Celia dari sini, yang langsung terhenti setelah suara entah apa yang patah. Kegaduhan dari luar lemari bagian kananku membuatku tahu bahwa Eilde sedang berada di sana, memohon ampun pada makhluk yang entah melakukan apa padanya. Dari tangisan Karin kuketahui bahwa ia sekarang ada berada di sebelah kiri lemari ini. Aku tak berani membayangkan apa yang terjadi pada mereka.

Setelah beberapa menit yang terasa bagai setahun lamanya, semua kegaduhan terhenti, dan kuyakin, semua temanku pasti telah tiada, menyisakan derap langkah tegas yang pasti milik lelaki itu, diikuti langkah-langkah ringan dan desisan, pasti kucing itu!

“Shaaaa, sepertinya sudah semuanya… sudah lama yah kita tidak mendapat makanan segar seperti mereka, tuan,” desisnya terdengar tak jauh dari lemari ini. Semoga mereka tidak mendekat.

“Ya, sungguh menyenangkan,” lelaki itu! Aku menahan napas lagi, “rasa manusia-manusia muda seusia mereka memang yang paling menyenangkan, untung saja gadis itu mengajak mereka semua datang, dan tentunya terimakasih pada kucing manisku yang membuat mereka masuk kemari,” suara dengkuran kucing itu terdengar, “aku yakin pasti akan ada beberapa orang lagi yang datang kemari mencari mereka. Kamu persiapkan saja sambutan untuk tamu kita selanjutnya.”

“Krrrrr,” kucing itu mendengkur setuju, bersamaan dengan suara langkah mereka yang mendekat.

“Tapi sayang, dugaanmu salah, masih ada satu anak lagi di sini, tapi dimana ya dia?” lelaki itu bertanya dengan entengnya, “hmmmm,” suarang langkah mereka terhenti, tepat di depan lemari ini. Jantungku berdegup kencang, aku berdoa, tangisanku kuredam, kutahan sekuat mungkin napasku.

Pintu lemari terbuka lebar, senyuman lelaki itu terlihat lagi, matanya merah menyala-nyala walau cahaya di sini begitu redup, “selamat pagi, gadis kecil, bagaimana harimu?” ia menarik lembut tanganku, membantuku berdiri, kucing itu menempelkan dirinya di kakiku. Lelaki itu memegang daguku dan mendekatkan muka kami, lalu berkata lembut, “nyanyian jantungmu indah sekali, bagaimana kalau kau kubiarkan saja seterusnya bernyanyi untukku sebagai rasa terimakasihku telah membawa hidangan lezat untukku? Atau….”

Apa yang dapat kulakukan?

4 responses

  1. Vayth

    walah… keren dan edan seperti biasa….
    aku suka first person nya.. dulu pernah coba bikin first hasilnya malah amburadul..orz
    perasaannya bener2 keliatan…
    ceritanya juga.. horor😄
    kukira endingnya bakal keluar, mungkin tipe holiwood yg nyisain hero dan heroin sementara smua mati.
    tp aku lupa, seorang reina mana mungkin gitu😄

    9 November 2011 at 8:54 am

    • ‘seorang reina’…
      kesannya gimana gitu =))
      karena membiarkan charnya keluar itu terlalu mainstream(?)

      liat yang dulu coba bikin!

      5 October 2012 at 5:33 pm

  2. Ini endingnya miris sekali -_- ahaha oh iya, ajarin dong gimana caranya bisa bikin home kayak gitu….. Cara bikin link link cerita biar tersusun rapi seperti itu -_-

    20 November 2011 at 8:45 am

    • Aku bikin 1 page khusus sendiri sih untuk itu, ada settingnya kok mau tampilin page yang mana yang muncul kalo ada yang masuk ke blog :3
      Itu beneran dari mimpi sih *gelinding

      5 October 2012 at 5:34 pm

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s