The forgotten snow dust…

Percaya

Ketika percaya adalah sebuah kata yang mudah dilupa.
Kesal dan curiga mendampingi kemana-mana.
Kepercayaan itu dibutuhkan, namun juga terlalu mudah dihancurkan.

Melindungi diri dengan sisik-sisik yang bergemerisik, bukankah itu hal baik?
Tak perlu ada yang tahu siapa aku, tidak juga kau.

Aku yakin kita cukup dekat walaupun masih berada dalam sekat, namun aku percaya kamu tidak akan berbuat nekat.
Tapi apa?
Terasa begitu sakit ketika kau melempar arit dengan mulutmu yang terus mencicit.
Tak bisa kah kamu tetap sunyi bila tak dapat mengatakan satu pun hal yang tak membuat iri dengan lidahmu yang hina ini?
Sungguh, sendiri dalam sepi pun terasa jauh lebih menyenangkan dibanding bersamamu yang tanpa hati.

Aku yakin kau memiliki mata dan telinga untuk melihat dan mendengar apa yang kurasa.
Tapi apa?
Benarkah dugaanku bahwa kau terlalu batu hingga selalu membuat diriku diam dan terpaku dalam kaku?
Salahkah aku kalau merasa kita cukup dekat, hingga merasa asal bersama, pahit pun akan cepat melumat dan menjadi nikmat?
Mungkin aku juga yang terlalu berharap, hingga gagap dan tak bisa menangkap apa yang kenyataan telah garap.
Mungkin aku juga yang terlalu terlena, terlalu lama berada dalam dusta hingga membuat pikiranku buta.

Melindungi diri dengan duri yang bergerigi, apapun asal tidak perlu merasa iri.
Orang luar biarlah tetap orang luar, tak perlu melebarkan pagar hanya agar menjadi tenar.
Yang sudah di dalam pun belum tentu benar, untuk apa membuat hatimu semakin memar dengan mengundang orang luar walaupun ia terang bersinar?

Bagaimana cara seseorang yakin bahwa hubungan yang mereka jalin sudah pasti terjamin dan bukan karena gin?
Bagaimana cara seseorang yakin bahwa hubungan yang mereka jalin bukanlah terbuat dari parafin ataupun hanyalah cermin?
Aku ingin tahu, namun tak ingin tahu, terlalu malu untuk mengaku bahwa aku takut jika orang terlalu dekat denganku.
Mungkin inilah mengapa aku lebih suka berada dalam dunia milikku yang fana dan maya, ada asa yang hanya dapat dirasa di sana.
Karena terlalu banyak yang tersembunyi, berkecamuk dalam hati yang kemudian menjadi tak terkendali.

Katakan saja aku gila. Aku menikmatinya.
Bila dengan gila aku tak perlu merasa apa yang orang lain ingin aku rasa, bukannya itu kirana?
Hatiku milikku, tak seorang pun boleh mengaturnya untukku.

Katakan saja aku menipu, aku sudah terlalu muak untuk menunggu kenyataan yang terlalu membelenggu.
Karena ada kebahagiaan tersendiri dalam kesunyian, dan aku bisa mendapatkan itu tanpa bantuan dari seorang pun kenalan.

At A rof se al qx dxkuct, nwx kweics A qu nalw lwu elwujk?
A od tafu nalw dxkuct ocefu. Se fel umuf ljx le qelwuj du.
Xei womu qu’thf nojfus.

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s