The forgotten snow dust…

Khayal

“Jangan terlalu tinggi berkhayal, akan terasa semakin sakit bila kau jatuh.”

Aku hanya dapat memiringkan kepala dengan heran membacanya, kemudian menatap tulisan itu dengan pandangan sinis.
Siapa kamu? Apa perlunya aku mengikuti katamu?

Duniaku adalah milikku untuk kuatur sendiri. Apa yang kupikirkan, apa yang kukhayalkan, bukanlah urusan siapapun.
Aku lanjut menutup mata, melihat pemandangan lain dalam gelap. Memutuskan untuk tidak mempedulikan apa atau siapapun yang ada di sekitarku.

Selamat datang di duniaku, dimana aku tak perlu merasakan apa yang tak ingin aku rasakan, dimana aku bisa menjadi yang aku inginkan, dimana aku melupakan yang ingin aku lupakan.

Sepi. Malam ini aku sendiri lagi.

Seraya menggulingkan mata dan menghela napas pasrah, aku kembali pindah ke duniaku, dengan seorang temanku menemani, hingga kalimat itu muncul dan mengusikku.
Ingin rasanya aku membantah, ingin rasanya membuat orang itu berpikir sama denganku.

Tetapi aku sudah terlalu asik dengan dunia ini dan aku terlalu malas untuk meladeninya lebih jauh. Biarkan saja dia.

Sudah terlalu sering aku terjatuh karena tingginya khayalanku, bahkan hingga aku dapat mengatur seberapa tinggi aku harus terbang dan bagaimana cara mendarat dengan mulus. Khayalan berbeda dengan mimpi, impian, ataupun harapan, sayangnya aku hanya dapat melakukannya pada khayalan. Tapi ya sudahlah, bukannya aku merasa harus peduli juga.

Berkhayal itu gratis, dan tak akan ada seorang pun yang tahu apa yang kau khayalkan bila kau tetap membiarkan topeng itu ada di wajahmu. Jadi mengapa harus menahan diri agar tidak mengkhayal?

Ada kalanya aku tenggelam cukup jauh, hingga nyaris tak dapat membedakan dunia khayal dengan nyataku. Tapi aku tak keberatan. Hal tersebut membuat hari-hari lebih menyenangkan, terasa bagaikan kenyataan inilah yang tak nyata, dan yang khayal itulah yang bukan khayal, jelas itu membuat segalanya menjadi menyenangkan.

Terkadang dunia khayal ini bertabrakan dengan dunia mimpi. Menyajikan pemandangan yang begitu indah yang kuyakin tak kan pernah dapat kurasakan di dunia yang menyebalkan ini. Aku hanya ingin melompat keluar rumah menyambut hangatnya mentari dengan pakaian one piece putihku yang berkibar diterpa angin sejuk dan menghirup hanya aroma wangi bunga yang menentramkan. Dimana lagi aku bisa merasakan hal seperti itu di dunia nyata? Itu terlalu jauh!

Dan inilah aku yang baru kembali dari dunia yang lain itu, dimana aku bertemu dengan dia yang tersenyum pedih padaku, membuatku merasa sama.

Suoj tirbafv nejcs, nwx kweics A womu le qu wuju?

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s