The forgotten snow dust…

Fear

09 November 2012, 13:08
Codename: Kanatsuki
Realm: Seiki

Napasku benar-benar tak terkendali, atau bahkan aku sampai lupa bernapas?

Aku tak lagi ingat. Yang dapat kupikirkan sekarang hanyalah bagaimana cara agar tetap hidup.

Dari yang kurasakan, aku sudah nyaris mencapai batasku, nyaris “itu”.

Kumohon….

Ia menyerang. Aku berusaha sebisa mungkin menghindar, walau sihir es itu tetap mengenaiku walau sedikit, membuatku bergerak lebih lambat karena dingin yang mendadak menyengat.

Aku berusaha bergerak sejauh mungkin dari makhluk itu, tetapi gerakanku yang diperlambat olehnya membuat diriku tak lagi bisa menghindari cakar besar yang berada tepat di belakangku, yang dengan sukses membuatku terpelanting jauh ke depan.

Dengan sigap aku kembali mencoba berdiri dan berusaha menyembuhkan luka yang ada. Namun aku hanya dapat mendecakkan lidah dengan kesal menyadari healing spell-ku belum dapat kembali digunakan. Peluh mulai membasahi wajahku, mengalir di ujung mataku yang menatap makhluk raksasa itu dengan kesal bercampur ngeri.

Makhluk batu itu berlari sprint ke arahku, spontan aku menggunakan skill-ku untuk berlari ke arah lainnya. Sejenak, aku sempat menghela napas lega saat tahu aku kembali keluar dari daerah jangkauannya. Tetapi apa yang ia lakukan di sana membuatku semakin terbelalak.

Ia memanggil minion-nya, kubus-kubus berukuran nyaris setinggiku yang mengeluarkan laser-laser dengan jarak yang cukup jauh, salah satunya nyaris mengenaiku. Aku kembali mendecakkan lidah.

Seperti aku tak kesulitan mengurus yang satu ini saja, erangku dalam hati.

Seraya memaki-maki, aku menggunakan seluruh skill jarak jauhku untuk menyerangnya sembari menghibur diri yang semakin putus asa melihat seranganku seolah tak membuatnya tergores sedikit pun.

Begitu healing spell-ku tak lagi cooldown, aku lekas merapalkannya dan membiarkan cahaya menyelimuti diriku. Namun belum sempat aku bernapas lega, makhluk itu telah menggunakan skill lainnya yang mengenaiku tanpa kusadari, membuat luka-luka yang baru saja disembuhkan kembali terbuka.

Bedebah sialan!

Seraya berdoa agar perisaiku tidak rusak karena terlalu lama menahan serangannya, aku nekat maju dan menyerangnya. Putus asa dan ngeri kembali menghantuiku, membuat tubuhku bergerak hanya berdasarkan insting. Makhluk itu sudah terlihat kewalahan, tubuh batunya sudah mulai retak-retak dan terlihat akan langsung hancur walau hanya disentuh bulu, namun semua seranganku seolah tak memberi efek apapun padanya.

Ayolah…. Kumohon… Ayolah…

Seiring semakin rapuhnya makhluk batu itu, semakin banyak pula luka di tubuhku. Membuatku kian panik memikirkan “itu”. Dengan sisa tenaga aku berusaha melompat ke belakang, mengambil jarak darinya dan merapal ultimate skill-ku.

Palu raksasa perlahan muncul dalam genggamanku, nyaris lebih besar dari ukuran makhluk itu. Awalnya samar, kemudian menjadi padat dan siap digunakan untuk menyerang. Aku hanya bisa melakukan tiga pukulan dengan ini, dan mengangkat benda sebesar ini jelas tidak membutuhkan waktu sedikit untuk mengayunkannya. Sementara beberapa kali serangan lagi, aku tamat.

Dengan doa dalam hati dan tubuh gemetar, aku mengerahkan seluruh tenaga untuk mengayunkan palu itu.

Satu.

Harimau batu raksasa tersebut mulai menyadari lokasiku dan kembali berlari mendekat. Aku menahan napas.

Dua.

Figur tersebut semakin besar seiring dengan langkah-langkah lincahnya ke arahku. Aku menutup mata dan kembali mengayunkan palu tersebut sekuat mungkin.

TIGA!

Semua mendadak sepi, aku memberanikan diri untuk membuka mata.

Cakar besar itu hanya berjarak kurang dari setengah meter dariku, namun makhluk itu tak bergerak. Batu-batu yang menyusun tubuhnya satu per satu terjatuh ke tanah batu berbahan sama dan terpecah menjadi kepingan koin, material, senjata, dan kristal, diikuti dengan pecahnya kubus-kubus batu yang berada jauh di ujung ruangan.

Lagu kemenangan terngiang di telingaku dan daftar unlocked achievement muncul di udara, sementara aku hanya terduduk lemas dan menghembuskan napas yang sedari tadi kutahan dengan lega, kemudian merebahkan diri kelelahan.

Berhasil… pandanganku kabur, aku menggerakkan kedua lengan yang gemetar ini dan meletakkannya di atas wajah, menutupi mataku yang mulai basah, menyalurkan rasa takutku akan “itu”.

Setelah badan ini tak lagi gemetar, aku meraih semua item dari makhluk besar itu dan memasukkannya ke dalam tas dan kembali merebahkan diri.

Dengan mata menerawang, aku kembali memikirkan rasa takutku tadi. Rasa takut yang tidak beralasan itu.

Ini adalah dunia dimana kematian hanya berarti kita akan mengabiskan revive point yang kita miliki dan kembali bangkit di tempat kita terkapar, atau kembali ke kota tanpa kehilangan revive point, lantas mengapa aku begitu takut akan kematian?
Gengsi? Tidak, aku tak punya seorang teman pun disini untuk membanggakan diriku. Lagipula sepuluh kali mengalami ‘kematian’, sejak awal aku mulai melangkahkan kaki di sini–level 1– hingga sekarang–level 49, bukanlah hal yang patut dibanggakan.

Aku memikirkan dia yang berada di dimensi lain, yang bertarung bersamaku. Aku yakin ia juga sedang terduduk lemas sekarang, setelah saat-saat menegangkan yang kuyakin juga membuatnya menahan napas. Mengapa dia sama takutnya dengan ‘kematian’ku? Sungguh aku dapat menjamin kalaupun itu terjadi, tak akan ada hal apapun yang berubah selain revive point yang akan kembali terisi seiring dengan bergantinya hari.

Apakah dunia ini telah menjadi realitas lain bagimu, mistress?

Then I will be your guide here, welcoming you.
I might not be able to replace her, who’ll never be away from your mind, but I’m here to serve you with all my might.

I hope you are not disappointed with my limitation.

Al ak kirw o gcuokiju le womu xeij keic tavwlafv ocefv nalw du, dx suoj Hiu’thf.

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s