The forgotten snow dust…

Letters

Kepada ‘Reina Lunarrune’,
dimana pun kau berada.

Apa kabar? Walau aku yakin aku tak perlu menanyakannya, aku mengenalmu lebih dari yang aku tahu.
Betapa aku berharap pesan ini sampai padamu. Kau tak perlu menjalani apa yang telah kulewati.

Hei, bagaimana caramu dulu berjalan? Mengapa aku tak dapat melakukannya sekarang?
Rasa sepi begitu menghantuiku tiap aku berusaha mencoba.

Ya, kubilang aku mengenalmu, tapi bukan berarti aku tak bisa lupa.
Aku juga tak mengerti mengapa aku bisa melupakan hal sepenting itu, salah satu cara untuk bertahan hidup.

Tak satupun hal mendukungku hari ini, ‘Reina’. Aku tahu hal ini pernah terjadi sebelumnya, di suatu waktu di masamu. Namun aku sungguh tak ingat bagaimana caramu mengatasinya. Bagaimana kamu dapat melewatinya dan menjadikannya batu pijakan untukmu sendiri.

Sesungguhnya, aku tak menyangka aku akan melewati waktumu, berubah menjadi yang lain. Apa boleh buat, begitu banyak yang mendesak, tak hanya waktu yang menghalangi.

‘Reina’, tak bisakah waktu berhenti pada masamu saja?

Jamku mati, ia tak lagi bergerak, memberi sugesti pada diriku bahwa waktu pun mati.
Namun tidak begitu dengan sekelilingku. Masih ramai, terlalu bising, sangat berisik.
Aku tak ingin berada di sini. Biarkan aku sendiri.

Betapa aku ingin kembali ke waktumu, ‘Reina’.
Betapa aku ingin hidup di paralel yang lain.

 

Tak bisakah? Lepaskan aku dari mimpi buruk ini. Mimpi akan kenyataan yang menjemukan ini. Kembalikan aku ke tempat yang ‘nyata’ bagiku, walau hanya aku yang menganggapnya nyata.

I miss you.

 

Aerenn.

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s