The forgotten snow dust…

The One in Here

Malam sudah larut, pintu apartemenku terkunci dan aku tak dapat membukanya!

Hal tersebut tentu saja mengganggu pikiranku, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Sudah cukup lama aku tinggal di sana dan aku tak ingat pernah meminta seseorang untuk mengganti kuncinya. Lalu aku berbalik, menopangkan tubuh di atas teralis seraya mencari-cari telepon genggamku di tas.

Lelah mencari tanpa hasil, aku berbalik untuk kembali mencoba kunciku pada pintu tersebut. Kuncinya memang tak dapat kuputar, tetapi pintu tersebut tak lagi terkunci.

Apartemen berkamar dua tersebut cukup luas. Pintu masuknya terhubung pada suatu ruangan besar dengan sofa dan televisi di dalamnya, disana terletak pula sebuah grand piano tua yang terlihat mendominasi. Di satu sisi terdapat dua pintu kamar, sementara di sisi lainnya terdapat pintu ke kamar mandi dan dapur yang menjadi satu dengan ruang makan.

Aku berjalan ke dapur, membuka kulkas—bahan makanan sudah hampir habis! Sepertinya aku harus berbelanja lagi—lalu mengambil segelas air dingin dari dalamnya. Setelah menghabiskan minumanku dalam satu tegukan, aku berjalan menyusuri tembok menuju kamarku. Alisku mengernyit heran melihat stiker-stiker tambahan di pintu kamar yang lainnya—sebelah kiri, tetapi aku sangat lelah untuk peduli sehingga aku langsung membuka pintu kamarku—pintu yang kanan—dan menjatuhkan diriku ke kasur, yang entah kenapa terasa berdebu. Saking lelahnya, tak sampai lima menit aku sudah terbuai dalam rengkuhan malam.

Matahari sudah cukup tinggi ketika aku terbangun, dengan berat hati kutinggalkan kasur yang terasa begitu nyaman itu untuk mandi dan mencuci muka. Setelahnya terbesit dalam pikiranku tentang keluargaku, mereka pasti khawatir karena aku sudah cukup lama tidak member kabar. Maka aku mengangkat telepon di meja sebelah kasurku dan mulai menekan nomor rumahku.

Ketika ‘halo’ pertama terucap, aku langsung mengatakan siapa aku dan bahwa keadaanku baik-baik saja, agar keluargaku tidak khawatir. Biasanya ibuku,yang sedang mengangkat telepon, akan langsung histeris dan menasehatiku agar selalu berhati-hati dan sering-sering memberi kabar ke rumah. Tetapi kali ini hal itu tidak terjadi, kalimat pertama yang ia katakan hanyalah namaku, dengan nada kaget hampir berbisik, kemudian suara gedebuk yang cukup keras hingga aku dapat mendengarnya dengan jelas, dan telepon di seberang yang terjatuh sebelum sambungan terputus tak lama kemudian.

Khawatir, aku mencoba menelpon rumah lagi, telepon tersambung, tetapi tak satupun diangkat.

Aku jelas heran, tetapi kuputuskan bahwa itu bukan apa-apa, mungkin ibunya hanya teringat pada masakannya yang mulai gosong, lalu berlari dengan terburu-buru tanpa sempat menutup telepon, begitu terburu-burunya sampai ia menyenggol sesuatu hingga terjatuh.

Baru saat ini aku menyadari betapa aku sangat lapar. Maka aku berjalan menuju dapur dan membuka kulkas. Betapa kagetnya aku mendapati kulkas tersebut sudah penuh, sehingga aku berpikir bahwa yang kulihat kemarin hanyalah karena aku terlalu lelah hingga melihat halusinasi.

Aku menikmati makananku dan menyalakan TV, betapa aku sangat menikmati hari liburku, karena pada Sabtu dan Minggu tak kubiarkan satupun pekerjaan sekolah mengganggu. Kuambil salah satu novel yang terletak di atas meja—walau aku tak ingat kapan aku membelinya—lalu melangkah menuju kamarku, ketika kemudian pintu kamar sebelah kiri terbuka dan seorang lelaki keluar dari dalamnya.

Baik aku maupun dia terpaku pada posisi kami masing-masing, tak ada yang bergerak selama mungkin semenit, hingga aku teringat pada gossip yang mengatakan bahwa apartemen ini berhantu, spontan aku berteriak sekeras mungkin lalu mengunci diri di kamarku.

Entah sejak kapan aku tertidur, kusingkirkan novel yang tergeletak di mukaku dan kusadari kegelapan malam sudah menyelimuti kamarku. Aku bergidik melihat jam yang menunjukkan pukul 12 malam dan, setelah mengingat kejadian tadi siang, mengutuk diriku sendiri yang terbangun di tengah malam seperti ini.

Aku sedang kembali berusaha untuk tidur ketika suara manis tersebut dapat kudengar. Alunan nada teratur yang begitu indah menggugah minatnya untuk mengintip siapa yang memainkan grand piano itu, karena terakhir kali yang kuingat, grand piano itu sudah tak terawat, bahkan tak dapat berbunyi dengan baik, jadi keberadaannya di ruangan itu hanya sebagai pajangan saja.

Seperti yang kuduga, lelaki itu ada di sana. Pintu kaca menuju beranda dibiarkannya terbuka, membiarkan angin malam yang membuat tarian aneh pada tirai besar disana menyejukkan ruangan. Bulan purnama menggantung rendah, cahaya biru pucatnya cukup untuk menerangi ruangan yang lampunya dipadamkan dengan sengaja, menambah mistik suasana.

Lelaki itu seolah transparan, ia tenggelam dalam permainan pianonya sehingga tidak menyadari kedatanganku, tiap denting piano itu seolah berisi jiwanya, berat, dalam, namun lembut dan memabukkan. Angin ikut memainkan rambutnya yang cukup panjang. Baru setelah sekian lama aku menyadari bahwa rambutnya tidak berwarna gelap.

“Orang luar ternyata…,” pikirku.

Permainan piano terhenti. Angin berhenti bertiup. Lelaki itu masih terpaku pada posisinya. Suasana tiba-tiba menjadi sunyi. Aku menciut…

Dalam satu gerakan yang tidak kusadari, ia telah berada di dekatku. Aku terdiam, tak berani bergerak, semuanya menjadi begitu mencengkam.

Aku menutup mata, kurasakan sentuhannya di sekitar leherku.

Satu menit…

Dua menit…

Tiga menit…

Lima menit…

Tak ada yang terjadi.

Kuberanikan diriku untuk membuka mata, dan disanalah ia, berusaha menahan tawa.

Aku masih terdiam melihatnya, menunggu tawanya mereda, menunggu kata pertama yang akan terlontar dari mulutnya, semoga aku bisa mengerti bahasanya…

Dan untunglah, saat itu tak berlangsung lama, “Ya, aku memang tidak berasal dari sini,” ucapnya seraya kembali melangkah ke balik piano. Aku mengikutinya dan menempelkan tubuhku pada sisi piano tersebut, memperhatikan tiap dawainya memukul senar tiap lelaki itu menekan tutsnya dengan lembut.

Lalu aku mengalihkan perhatianku pada lelaki itu. Ia kembali terlarut dalam permainannya seperti tadi, yang berbeda hanyalah seutas senyum yang terselip di bibirnya.

Lagu itu berakhir, semua kembali diam, membuatku dapat mendengar bisikan kecil darinya, “Aku tak menyangka… dapat terlihat,” setidaknya itulah yang kudengar.

“Aku juga,” apapun itu, walaupun mungkin saja aku salah dengar atau bagaimanapun, akan lebih baik jika suasana tak lagi sepi, “sudah berapa lama kamu tinggal disini?”

“Dua minggu.”

“Dua minggu? Itu bukanlah waktu yang lama, berarti yang dulu itu bukan kamu ya? Beberapa bulan yang lalu aku terkadang terbangun mendengar piano ini dimainkan. Tapi ah… itu tak mungkin kamu, yang membuatku terbangun dulu memainkan piano ini tanpa nada, benar-benar mengerikan!” aku tak menyangka diriku bisa berbicara selancar ini padanya, “Ngomong-ngomong kenapa kamu pindah kesini?”

Lelaki itu terlihat enggan menjawabku, “yah… ada urusan…,” tangannya kembali menari-nari di atas tuts-tuts tersebut, memainkan lagu lainnya.

“Aku baru tahu hantu juga punya urusan.”

Dia tidak menjawab. Kini kembali hanya lagunya yang mengalun memenuhi apartemenku.

Dengan alasan penasaran, mulutku berkhianat pada pikiranku yang memerintahkan untuk diam, “Kenapa kamu memutuskan untuk tinggal di sini? Kenapa tidak di tempat lain?”

Permainannya terhenti, ia memandangku lekat, cahaya dari belakang tubuhnya membuat wajahnya terlihat gelap, aku tak dapat melihat ekspresinya… Aku membatu, lagi.

“Ma… maaf menyinggungmu!” Aku berlari ke kamarku, masuk ke dalam selimut dan kembali tertidur dalam buaian merdu nina bobo yang dimainkannya.

~ * ~

Aku bangun agak lebih pagi keesokan harinya, tak seperti jadwal tubuhku yang biasa di hari libur. Kejadian semalam mungkin hanya mimpi… atau mungkin memang terjadi.

Penasaran, kini aku berdiri di depan pintu kamarku, yang juga tepat berada di pintu kamar lainnya, memandangi satu per satu stiker yang ada di sana. Tak ada yang istimewa, kebanyakan adalah stiker-stiker yang sama seperti yang kutempel dulu, tapi jelas jumlahnya bertambah, dan aku berani bertaruh aku tidak pernah memiliki satupun stiker dari produk-produk asing.

Aku mencoba membuka pintu kamar itu, terkunci.

Keanehan lainnya, karena tak sekalipun pintu kamar ini pernah terkunci sebelumnya.

Aku semakin penasaran, aku terus mencoba untuk membuka pintu kamar itu. Bukannya tidak mungkin pintu ini rusak sehingga sulit dibuka atau apalah sejenisnya kan? Tapi sepertinya usahaku sia-sia, pintu kamar ini benar-benar terkunci.

Aku merebahkan diriku di sofa empuk favoritku, memikirkan bagaimana mungkin keanehan-keanehan ini bisa terjadi. Sudah lebih dari tiga tahun aku tinggal disini, aku tidak pernah mengalami hal seperti ini. Memang ada yang berkata bahwa apartemen ini berhantu, tapi tak sekalipun aku pernah bertemu hantu yang sering disebut-sebut itu. Hanya permainan piano bernada kacau yang kerap kali menghancurkan tidurku, tanpa wujud, tanpa terkuncinya pintu kamar sebelah, tanpa bertambahnya satu stiker pun. Apakah hantu yang satu ini—yang semalam kah?—bertambah kuat seiringnya waktu? Apakah…. Yah sudahlah, aku benci hal-hal mistik dan otakku ada bukan untuk memikirkan hal-hal seperti itu.

Perutku mulai protes minta diisi, sehingga aku menyerah dan berjalan menuju dapur untuk mulai membuat sarapan.

“PRANG!”

Kepingan-kepingan kaca berhamburan, salah satunya hampir mengenai kakiku. Aku kaget. Lelaki itu ada di sana dengan posisi tangan yang masih memegang gelas yang terjatuh itu sebelum aku datang, berdiri diam dengan pandangan tertuju ke arahku, wajahnya jelas menunjukkan kekagetannya, kekagetan dan…ketakutan? Kenapa?

Ah! Peduli apa? Keadaan saat ini lebih penting. Warna merah di sudut mataku menyatakan dengan jelas bahwa kaki lelaki itu terluka.

“Astaga! Kamu kenapa? Kakimu berdarah! Apa yang terjadi?”

Aku begitu panik dan tak menyadari bahwa dia hanya diam. Dengan begitu tergesa-gesa aku menggapai kain bersih terdekat dan mendekatinya untuk membersihkan lukanya. Begitu panik hingga aku berjalan menginjak pecahan-pecahan gelas itu, tanpa kusadari, tanpa rasa sakit.

Butuh waktu cukup lama bagiku untuk menyadari dimana aku berdiri sekarang. Ketika tersadar aku spontan melompat menjauh, untunglah aku tidak terluka sama sekali. Kemudian aku berlutut untuk menyeka kakinya yang masih mengeluarkan darah.

Namun sesuatu terlintas dalam pandanganku ketika ujung jariku menyentuh setitik darahnya. Aku terjatuh, tubuhku berbaring terlentang. Dapur berubah menjadi jalanan dengan mobil berlalu lalang dengan cepat dan mendadak menginjak rem, berhenti tepat di depanku. Sesuatu yang hangat terasa mengalir di keningku. Pandanganku seolah dilapisi lensa berwarna merah. Aku mati rasa… lumpuh. Tiap senti badanku menjadi seberat besi. Bahkan aku tak lagi dapat menegakkan punggungku, menyeka sesuatu yang mengalir menggelitik di keningku. Ada apa ini…?

Pandanganku pun menjadi gelap.

~ * ~

Aku hanya samar-samar mengingat mimpi tersebut ketika aku terbagun keesokan paginya, yang kurasakan hanya panik mendapati seragam sekolahku yang tak dapat kutemukan di lemari kamarku. Terpaksa aku memakai seragam yang kupakai jumat lalu yang tergantung di hanger kamar tanpa sempat kucuci dan bergegas menuju sekolah.

Ketika berada di perempatan yang selalu penuh dengan kendaraan berlalu lalang, aku menemukan handphoneku di jalan. Kuraba-raba tasku yang ternyata memang berlubang. Sial! Kenapa aku bisa tidak menyadarinya?

Aku menggapai handphone itu, sms memenuhi inboxku dan belasan missed call ditunjukan oleh layarnya, lalu handphone itu berbunyi, panggilan dari kakakku.

Sambil berjalan menyebrangi zebra cross, aku menjawab teleponnya, “Halo? Maaf kak aku terburu-buru pagi ini dan aku akan terlambat! Ah aku tak menyangka aku akan…”

“Hei…,” kakak memutus kalimatku, “…kamu masih hidup?”

Darahku serasa membeku, serbuan ingatan akan kecelakaan tiga minggu lalu itu mulai menerpa, aku menyadari bahwa lampu lalu lintas bagi kendaraan sudah berubah menjadi hijau sejak tadi dan mobil-mobil mulai berlalu lalang, menembus diriku. Terjawablah sudah segala misteri yang ada dalam benakku.

Aku sudah mati…

To Leave Your Mark:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s