The forgotten snow dust…

Ersh Tales

The Green-Haired Girl – part 5

Teriakan itu berasal dari halaman belakang istana megah itu. Dimana Elline, ibu Erkia, berteriak histeris memecah keheningan.

(more…)


The Green Haired Girl – part 4

Einail…
Kota yang lalu…

Bangunan-bangunan batu nan suram menyambut Ersh dan Irish, atau bagi penduduk kota ini, Shoui dan Sylvia.

(more…)


The Green-Haired Girl – part 3

“Aku kembali,” ujar Ersh dengan malas sambil membuka pintu pondoknya.

(more…)


The Green-Haired Girl – part 2

Suara itu terdengar makin keras, cukup untuk membuat seseorang tak sadarkan diri. Tapi tak akan ada yang menyadarinya, mungkin.

Sejak awal Ersh memasuki hutan itu, tak satupun suara lain selain teriakan itu terdengar olehnya. Binatang-binatang hutan mungkin sudah sejak lama menghilang, menghindari teriakan itu. Ersh membuat perkiraan-perkiraan yang mungkin terjadi antara Irish, desa, dan Lilith.

Ersh berhenti di depan sosok seseorang bersayap kelelawar….


The Green-Haired Girl – part 1

Seekor elang terbang berputar-putar di atasnya, segera ia mengangkat satu tangannya, membuat elang berbulu keabuan tersebut melesat turun, mendekati jendela dan hinggap dengan patuh. Diambilnya kartu kecil yang dililitkan di kakinya, dan elang tersebut sontak pergi, kembali menuju pemiliknya.

Seseorang di belakangnya tiba-tiba muncul dan angkat bicara…


Searching for A Follower

Ina duduk terpaku di pojokan, memandangi mobil-mobil yang berlalu lalang di bawahnya.

Dia menikmati keberadaannya di atap gedung itu, menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya. Hanya saja, dia membenci saat-saat itu, saat kamera-kamera yang diarahkan padanya memancarkan cahaya, menangkap sosoknya diantara 39 anak lainnya.

Tak sekalipun dia suka difoto, atau memandangi sosoknya dalam selembar kertas yang membekukan memori saat itu. Tak sekalipun dia suka saat sang fotografer menyuruhnya mengulang-ulang pose, lagi, lagi, dan lagi.

Dari kejauhan, sepasang mata mengintainya…


The Bloody Show

Ersh mengerjapkan mata, melihat langit-langit kayu di atasnya. Otaknya mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Dengan lemas dia bangkit dan duduk, masih di kasurnya, hingga seseorang membuka pintu ruangan itu dengan kasar, membuat debu-debu berterbangan dari tempatnya.

Orang itu mengangkat kerah baju Ersh dan melemparkannya ke dinding, membuat suara berdebum nyaring. Ersh tidak melawan, dibiarkannya orang itu membanting dirinya sementara dia masih mencoba menyadarkan diri.

(more…)