The forgotten snow dust…

Parallel Tales

The Beginning of Year

Hmm… Sudah tahun baru lagi…
“Hari ini hari ulang tahunnya”, gumamku pelan.

Apa dia sudah membuka hadiah dariku ya?
Bagaimana reaksinya ya?
Ah, harusnya aku tinggal sebentar lagi di kamarnya kemarin.

Dasar aku…

Advertisements

The End of Year

Akhir tahun…

Apa ini akan menjadi akhirku juga?

Belasan tahun sudah kulalui.
Tapi, apakah aku sudah melakukan satu hal… satu hal saja yang berarti?

Aku hanya bisa diam di sini, terbaring lemah di atas ranjang putih rumah sakit yang dipenuhi aroma obat.
Tiang infus adalah pendampingku, obat adalah teman sehari-hariku.

Membosankan…


Behind the Sakura Tree

Anak kembar…
Apabila yang satu “pergi”..
Yang lainnya pun akan segera mengikuti

Sayangnya mitos itu tidak benar…
Mungkin…

Sekali lagi aku datang ke sini.
Untuk menjenguk adik kembarku, yang entah sejak kapan jadi terlihat lebih tua dariku.

Tinggi badannya bahkan sudah melebihiku, entah kenapa, dia terlihat gagah seperti itu, padahal makin lama dia terlihat makin pucat.

Sayangnya, dia tak akan pernah keluar dari area rumah sakit ini.

Membuatku sedih saat melihatnya.


Beneath the Sakura Tree

Dengan susah payah, aku berjalan menuju kamarku.

Sebenarnya tidak bisa dikatakan ‘berjalan’, sebab aku hanya duduk di kursi roda dan menjalankannya. Ya, sudah beberapa hari sejak kecelakaan itu terjadi. Aku melihat seseorang yang tiba-tiba menerobos ke tengah jalan dan berhenti di sana pada saat mobil-mobil melaju kencang. Aku mencoba menyelamatkannya, tetapi gagal. Dia malah meninggal karena terdorong olehku ke depan sebuah truk sementara aku kehilangan kemampuanku untuk berdiri. Aku benar-benar merasa bersalah karenanya.

(more…)


Waktu Terakhir – another story

Cepat-cepat aku turun dari kereta, dan berjalan cepat menuju apartemen’nya’.

Sudah sekitar tiga minggu kami tidak bertemu. Masalah keluarga’nya’ cukup rumit untuk bisa cepat diselesaikan. Sehingga ‘dia’ terpaksa pindah ke kota ini, jauh dari tempat tinggal’nya’ dulu.

Sebelum berjalan menuju gedung apartemen’nya’, aku mampir sebentar ke sebuah toko 24 jam untuk membeli bahan-bahan untuk membuat hot chocolate, minuman kesukaan’nya’.

Hari sudah malam, jalan-jalan pun dipenuhi oleh terangnya lampu dari bangunan-bangunan sekitar. Cahaya yang tidak begitu ‘dia’ sukai.

Aku melihat ke langit, tak ada satupun bintang yang tampak. Hanya bulan yang termenung sendiri di langit gelap.

(more…)


Waktu Terakhir – a story

Aku terdiam didepan layar laptopku yang sedari tadi kubiarkan menyala.

Kubaca ulang cerita karanganku yang belum terselesaikan. Walaupun entah kenapa ku merasa ku tak perlu menyelesaikannya, dan tidak akan pernah bisa menyelesaikannya. Padahal catatan dari editorku telah tergantung di pintu kulkas sejak enam hari yang lalu, ‘deadline 1 minggu lagi.’.

Aku meneguk sedikit hot chocolate yang baru saja dikirim oleh ‘dia’ dan ku berjalan ke balkon, seraya mengamati langit malam yang gelap dan polos tanpa bintang.

(more…)